Kembali kepada Inayah, perempuan bersuami yang sedang mendapatkan perhatian dari Bayu, pria tetangganya yang juga beristri dab beranak dua.
Siapa yang sangka, cobaan cinta bisa mengobrak-abrik LOGIKA CINTA.
Suami yang pulang kerjanya dua hari sekali, keuangan ekonomi yang tak kunjung membaik seiring kebutuhan hidup semakin membludak.
Biaya sekolah anak, meskipun hanya seorang namun cukup membuat pusing kepala.
Sedangkan baginya percuma juga berdiskusi bersama suami mencari solusi. Suaminya, Taufik Hidayat telah bekerja semaksimal mungkin.
Toh memang rezekinya tuk saat ini ya sedemikian itu. Mau bagaimana lagi. Mau apa lagi.
Hanya pasrah pada Illahi, berdoa dan selalu berdoa...esok lusa rezeki besar mendatanginya dan suami serta anaknya.
Sejak kejadian Bayu memberinya hadiah sekotak alat-alat make up dan dia menolaknya,... Inayah lebih banyak menghindar agar tak terjadi lagi pertemuan diantara mereka.
Tapi ya namanya hidup bertetangga, tatap muka tanpa sengaja adalah hal biasa.
Seperti hari ini,... Inayah mendapatkan selebaran undangan pertemuan warga dari salah satu aparat keamanan di lingkungan tempat tinggalnya.
Pak Husein Hansip mengetuk rumah Bayu berkali-kali namun tiada jawaban. Alhasil, ia mendatangi lagi rumah Inayah dan meminta bantuan untuk menyampaikan selebaran undangan atas nama Bayu tetangga Inayah.
Sebenarnya Inayah ingin menolak, tapi sebagai tetangga yang baik... rasanya tidak sopan menolak permintaan dari pak Hansip itu. Apalagi hanya sekedar menyampaikan selebaran undangan.
Inayah pun berinisiatif menyuruh anak perempuannya yang berumur sepuluh tahun itu untuk memberikan 'amanah' pak Husen ketika Bayu dan keluarganya kembali ke rumah.
Saat itu pukul empat sore. Inayah menyuruh Nara tuk mengantarkannya.
Tapi sudah setengah jam, putri tunggalnya itu belum juga kembali pulang dari rumah Bayu. Tentu saja Inayah galau.
Ada apa hingga putrinya masih belum juga pulang? Apakah ada masalah? Begitu fikirnya.
Akhirnya Inayah memberanikan diri untuk mendatangi kediaman tetangganya tersebut.
Rumahnya terlihat sepi. Hanya ada kucing Persia peliharaan putra Bayu yang hilir mudik di teras rumah.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum... Permisi! Mama Raffa, assalamualaikum...!"
Berkali-kali Inayah mengucapkan salam. Ia juga memanggil nama istrinya Bayu dengan sebutan 'Mama Raffa', Raffa adalah nama putra pertama Bayu dan Niken istrinya.
"Bundanya Nara?"
"Raya,... apa Niken ada disini?" tanyanya ketika Raya putri kedua Bayu keluar dan membukakan pintu.
"Ada. Maaf, Papa Raya muntah-muntah di kamar mandi. Jadi Nara bantu abang Raffa dan Raya urus papa dulu!"
Aku terkesima. Banyak muntahan berceceran di sepanjang ruangan tengah rumah mereka.
"Hati-hati Bun, banyak muntahan Papa!"
"Papa Raya sakit?"
Inayah agak ragu tuk memasuki area pribadi keluarga Bayu Niken. Rasanya tak elok jika ia sembarang masuk kamar orang.
"Bun!"
Panggil Nara putrinya dari balik kamar membuatnya langsung masuk juga tanpa fikir panjang.
"Papanya Raya muntah-muntah terus! Kami bantu gantikan pakaiannya yang basah!" cerita Nara pada Inayah yang masih bengong sedikit bingung.
"Raffa, segera telepon Mama!" tukasnya setelah tersadar dan bergerak cepat mendekati ranjang Bayu.
Pria yang biasanya ramah, gagah dan keren dimatanya itu kini terkulai lemas, dehidrasi.
"Sudah! Kata mama, sedang rapat penting!"
Inayah segera mencari minyak angin atau apapun yang bisa menghangatkan tengkuk serta dada Bayu yang setengah sadar selepas muntah-muntah.
"Coba hubungi keluarga yang lain. Nenek, kakek atau saudara Raffa!"
"Semuanya jauh, Bun! Tapi Mama sudah mengirim taksi online buat bawa Papa ke dokter!"
Inayah menatap kedua bola mata bocah berusia sembilan tahun itu dengan pancaran kesedihan.
"Ya sudah, bunda Nara akan antar papa Raffa Raya ke dokter!... Mas, mas Bayu! Maaf, bisa bangun dan jalan sampai teras?"
Bayu membuka matanya sedikit. Mengangguk perlahan dan kembali pejamkan matanya.
"Maaf, Mbak! Itu dompetku tolong dibawa!" pintanya pada Inayah sebelum menuntunnya perlahan meninggalkan kamar.
Inayah menurut. Mengambil dompet berwarna coklat tua yang tergeletak diatas meja kerja Bayu yang masih berantakan.
Singkat cerita, Bayu di antar Inayah pergi ke dokter tak jauh dari pemukiman mereka.
Sesekali Inayah menggosokkan minyak kayu putih ke tengkuk Bayu agar tak mual dan muntah di dalam kendaraan.
Bahkan Bayu yang setengah oleng merebahkan kepalanya dibahu Inayah. Tentu Inayah gugup, grogi bahkan gemetar. Mereka bukan muhrim yang bisa saling berpegangan tangan seperti itu. Namun situasi dan kondisi Bayu membuat Inayah merapuh membiarkan semua terjadi.
Maag Bayu rupanya sudah kronis. Ditambah ia suka sekali minum kopi di pagi hari tanpa sarapan terlebih dahulu. Membuatnya collaps dan nyaris get out dari dunia ini.
Bayu segera mendapatkan perawatan dengan cairan infusan karena dehidrasi cukup serius.
Inayah juga sedikit lega, setelah Bayu harus dirawat di klinik dokter 24 jam. Hingga ia bisa pulang ke rumah segera.
Nara putrinya, Raffa dan Raya putra putri Bayu menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
Inayah hanya menjawab papa mereka kini lebih baik dan sudah mendapat perawatan dokter.
Ia memasuki rumah Bayu Niken dan membantu mengepel lantai rumah mereka yang penuh kotoran.
Inayah juga memasakkan Raffa, Raya makan siang. Mereka berempat makan dengan lahap, tapi langsung di amuk amarah oleh Niken.
Entah apa yang terjadi... Niken terlihat marah besar karena Inayah lancang memasuki rumahnya tanpa izin. Bahkan berani membuatkan masakan untuk putra putrinya tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Inayah hanya terpaku mendapati amarah Niken yang kurang pada tempatnya. Tapi ia bisa mengerti, dia dan Niken bagaikan langit dan bumi.
Jauh berbeda dan sangat bertolak belakang. Inayah hanyalah perempuan sederhana dengan pakaian murahan di pasar tradisional. Berbeda dengan Niken, wanita karier yang bahkan tasnya saja berharga ratusan ribu rupiah dan setiap hari kerja berganti model serta warna.
Inayah kembali tersadar... siapalah dirinya.
Hanya menggenggam erat jemari putrinya, dan keluar rumah Bayu Niken diiringi jerit tangis putra putri mereka yang kecewa pada kelakuan Mamanya.
Hhh...
Lagi-lagi Inayah lupa logikanya. Ia hanya menggunakan perasaan dengan berniat menolong Bayu dan menemani Raffa Raya yang hanya berdua dirumah besarnya.