"Apa kau belum bisa melupakannya, Fingkan?" Tanya seorang pria pada gadis yang tengah menikmati desiran ombak di pinggir pantai.
Fingkan menoleh ke arah pria yang menatap sendu dirinya. "Melupakan siapa? Lelaki brengsek itu? Untuk apa aku mengingat seseorang yang telah mengkhianatiku. Dia sudah tak ada artinya lagi untukku, bahkan aku menganggap dirinya hanya orang asing yang sekedar singgah lalu pergi dengan menitipkan sebuah luka."
"Lalu kenapa kau masih belum bisa menerima kehadiranku? Apa kau takut untuk membuka lembaran baru sebab luka itu masih tersimpan di dalam hatimu?" Pria itu mencoba bersabar tiap kali membahas hal ini hanya ingin mendapatkan kepastian dari pujaan hatinya.
Sambil menghela nafasnya, kini mata itu tertuju pada langit senja. "Kau salah jika berfikir aku terluka hanya karena lelaki itu, Raka. Tapi, karena masa laluku lah yang membuat aku enggan untuk melangkah lebih jauh lagi." Lirih Fingkan mengingat kejadian masa lalunya.
Raka mengambil jemari gadis itu dan menggenggamnya. "Bukankah masa lalu itu untuk ditinggalkan dan masa depanlah yang harus dilalui. Jika kau masih mengingat kenangan pahit di masa lalumu, kau akan terus menyimpan luka itu dan tidak bisa membuka pintu hatimu untuk membiarkan aku masuk ke dalamnya menyembuhkan luka itu."
Perkataan pria di sampingnya kini membuat Fingkan termenung dalam pikirannya. Ia sadar karena telah mengabaikan seseorang yang telah berusaha memberikan perhatian untuk dirinya. Raka selalu ada untuknya, menjaga dan melindunginya bagaikan seorang ratu. Selalu menyempatkan diri untuk menemani kemanapun ia pergi, dan terkadang mampu membuatnya tersenyum hingga tertawa lepas, sejenak melupakan kesedihannya.
Tapi hingga saat ini Fingkan tetap pada pendiriannya untuk tidak ingin membuka celah pada pria yang berusaha masuk ke dalam hidupnya lebih jauh lagi.
Memiliki kenangan pahit di masa lalu membuatnya tak percaya akan cinta hingga trauma untuk menjalin hubungan pada siapapun. Terutama Raka yang baru beberapa bulan mengenalnya.
Raka adalah pria yang dijodohkan dengannya. Siapa lagi jika bukan karena ayahnya yang memaksa, walaupun Fingkan sama sekali tak ada niat untuk berumah tangga apalagi pada saat itu ia baru saja mengalami patah hati kesekian kalinya, dan beberapa kali ia membantah perintah ayahnya jika ia belum siap untuk menikah, tapi rasanya percuma karena sang ayah tak pernah mendengar apa yang diucapkan.
Suatu malam, Fingkan tengah menikmati waktu santainya di rumah. Hingga notifikasi pesan masuk di ponselnya, seseorang mengirimkan sebuah foto seorang pria bergandengan tangan dengan wanita yang ia yakini adalah kekasih dan sahabat baiknya. Sungguh tak dapat dipercaya, otaknya berusaha mencerna apa yang ia lihat, tak mungkin jika hanya suatu kebetulan mereka bertemu, sedangkan di dalam foto terlihat sangat mesra.
Dengan perasaan kecewanya Fingkan bergegas menuju tempat di mana kekasih dan sahabatnya itu berada. Kini ia berada di sebuah mall, matanya menelusuri setiap sudut, berharap bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri dan mengetahui yang sebenarnya terjadi.
Hingga matanya menangkap dua sejoli yang sedang makan bersama dengan saling menyuapi, terdengar suara tawa dari mereka.
"Oh ya, sampai kapan hubungan kita akan terus bersembunyi seperti ini, Ammar?" Tanya Nayya, yang tak lain adalah sahabatnya Fingkan sendiri.
"Entahlah Nay, aku masih mencari waktu yang tepat untuk memutuskan hubunganku dengan Fingkan. Setelah itu kita akan segera menikah, tenanglah." Jawab Ammar sambil menyeka sisa makanan di bibir Nayya dengan tangannya.
/deg/
Seperti ada ribuan jarum yang tertusuk di hati Fingkan setelah apa yang baru saja ia dengar. Perasaan kecewa, marah dan benci telah menjadi satu ketika ia berjalan ke arah dua orang yang tengah dimabuk cinta itu.
/brak/
"Pengkhianat!" Gebrakan meja itu berhasil membuat dua orang di hadapannya tersentak kaget.
"Fingkan!" Pekik kedua orang itu.
"Cih! Sungguh sulit dipercaya dua orang yang kukira menyayangiku dengan tulus ternyata berkhianat di belakangku." Tangannya meraih dua gelas berisi jus kemudian menyiramnya pada dua pengkhianat itu.
"Kau!" Ucap Ammar dan Nayya bersamaan.
"Tak perlu kau menunggu waktu yang tepat untuk memutuskanku, Ammar. Saat inilah waktu yang tepat, biar aku saja yang mengucapkannya. Sekarang kita putus! Dan kau Nayya, kurasa hubungan kita tidak cocok disebut sahabat, jadi kuharap kau tidak datang padaku lagi disaat sedang membutuhkan uangku. Setelah ini kalian tak perlu bersembunyi lagi, silahkan nikmati waktu kalian dan maaf telah membuat kekacauan ini. Semoga kalian bahagia."
Setelah mengucapkan itu, Fingkan kembali ke rumahnya dengan dengan perasaan tak menentu. Sahabat yang telah lama bersama membagi suka dan duka kini menusuknya dari belakang. Kekasih yang diharapkan bisa mencintainya dengan tulus ternyata malah membuatnya sulit untuk mempercayai cinta kembali.
"Ck. Cinta? Bullshit!"
Sesampainya di rumah terlihat sang ayah tengah menunggu kehadirannya.
"Ayah ingin bicara denganmu, Fingkan."
"Bicaralah!"
"Kau akan ayah jodohkan dengan anak rekan bisnis ayah. Terima dan tak ada penolakan!" Titahnya.
"Kenapa aku selalu diharuskan menuruti perintahmu?! Kenapa kau tak memberikanku sebuah kebebasan, ayah?! Kenapa?!!! Kenapa aku tak boleh menentukan pilihanku sendiri?" Teriak Fingkan pada ayahnya.
"Ayah tak ingin mendengar bantahanmu, Fingkan!" Bentak ayah lalu berjalan pergi meninggalkan Fingkan yang kini tengah frustasi.
Di dalam kamarnya gadis itu menangis meratapi nasibnya, merasa takdir sedang mempermainkan dirinya. Bukan tentang perjodohan yang ia takutkan, melainkan tentang pengkhianatan apa yang akan ia dapatkan kelak. Ya, Fingkan tak dapat mempercayai lelaki kembali. Baginya semua lelaki akan merasa bosan pada satu wanita dan berpaling pada wanita lain. Semua berawal dari masa lalu kedua orang tuanya. Pada saat itu...
"Jika kau sudah tidak mencintaiku lebih baik jujurlah, bilang padaku apa yang telah berkurang dari diriku supaya aku bisa memperbaikinya dan membuatmu kembali mencintaiku, kenapa kau harus mengkhianatiku dengan selingkuhanmu itu!" Suara sang ibu melengking hingga ke telinga Fingkan yang berada di balik pintu kamar.
"Aku sudah bosan denganmu, Kila. Aku sudah tak mencintaimu lagi dan tak akan bisa kembali mencintaimu karena aku mencintai wanitaku sekarang." Ucapan sang ayah yang sangat menyakiti perasaan ibu dan anaknya.
"Baiklah, lebih baik kita bercerai!" Perkataan ibundanya mampu membuat air mata Fingkan luruh seketika.
Akibat perbuatan ayahnya inilah yang membuat wanita itu takut menjalani hubungan dengan pria. Sang ayah telah membuat seorang anaknya trauma akan pengkhianatan, perlakuannya pada ibu membuat Fingkan benci kepadanya. Ayah Fingkan sendiri menjadi penyebab dirinya tak percaya pada cinta. Hari yang ia lalui begitu biasa, hanya bekerja, berkumpul dengan teman atau liburan. Tak peduli dengan asmara, memikirkannya saja enggan.
Hingga kehadiran seorang pria merubah segalanya. Merubah perspektif dirinya terhadap pria, walaupun saat itu masih merasa khawatir akan pengkhianatan cinta, tapi pria itu mampu membuat diri Fingkan percaya untuk menjalin sebuah hubungan.
Tapi nyatanya, lagi dan lagi Fingkan harus menerima pengkhianatan itu. Ammar, pria yang ia percaya mampu membahagiakannya, selalu bisa mencintai dan memahami dirinya. Justru sebaliknya, pria itulah yang mematahkannya, menghancurkan kepercayaan yang telah ia bangun. Berkhianat bersama sahabatnya sendiri, yaitu Nayya yang sudah dianggap sebagai teman baiknya. Entah sudah berapa lama mereka merahasiakan hubungan itu. Ah, Fingkan sudah tak peduli, ia sungguh muak dengan drama mereka.
Tentang sebuah pengkhianatan, mengajarkan Fingkan untuk tidak mudah percaya pada orang lain. Sungguh menyakitkan dikecewakan oleh orang yang dipikir tidak akan pernah menyakitinya. Rasa sakit akan pengkhianatan tak akan pernah terlupakan.
Ketika sang ayah memutuskan untuk mempertemukan dirinya dengan anak rekan bisnisnya, saat itu Raka mencoba menerima dengan ikhlas dan akan berusaha mencintai dirinya. Tapi tidak dengan Fingkan, ia memilih berteman saja dan mengundur waktu untuk menikah dengan dalih ingin saling mengenal lebih dekat.
Di saat Raka sudah tumbuh perasaan dengannya hingga mengungkapkan isi hatinya, tapi tak ada jawaban pasti yang keluar dari bibir gadis itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Raka mencoba membuat Fingkan nyaman dan terbiasa dengan dirinya. Memberi perhatian dan selalu menghibur sang pujaan hati berharap suatu hari nanti wanitanya akan membuka hati untuk dirinya.
"Maafkan aku, Raka. Bukannya aku tak percaya padamu, tapi pengalaman pahit itu membuatku tak mudah untuk mengenal cinta kembali." Kalimat terakhir Fingkan sebelum pergi meninggalkan Raka yang terpaku mendengarnya.