Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika.
Berisi semua hasrat dalam hati.
Kuhanya ingin dapat memiliki.
Dirimu hanya untuk sesaat.
Begitulah... lirik lagu Agnez Mo yang kata-katanya mengandung banyak arti dan misi bagi beberapa orang 'pecandu' cinta.
Terdengar ringan lagunya ditelinga memang. Namun jika ditela'ah dan diperhatikan lebih dalam lagi lagu itu,... agak berbahaya dan nyerempet-nyerempet hal kurang baik.
Seperti Bayu Erlangga. Pria dewasa berusia 35 tahunan itu padahal memiliki istri yang sangat cantik. Boleh dibilang nyaris sempurna bernama Niken Larasati berumur 32 tahun.
Juga sepasang buah hati cantik dan tampan menambah rasa bahagia yang seharusnya ia syukuri.
Tapi... itulah hidup. Seperti pepatah mengatakan, 'Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri'.
Beberapa bulan ini, dirinya sedang gegana. Gelisah, galau, merana. Merasakan 'cinta' tumbuh kembali. Tapi bukan kepada istrinya yang sudah sebelas tahun menemani hidupnya.
Seorang tetangga baru, pasangan suami istri yang seusia dengannya dan memiliki satu orang anak perempuan.
Niken memang cantik, pintar juga dalam mencari uang. Namun kelemahan istrinya itu ialah kurang peka dan tak pandai 'menimbang rasa'nya. Kadang masa bodoh pada suami serta anak-anaknya dengan alasan sudah terlalu lelah dengan rutinitas kerja kantorannya.
Tetangga mereka, Inayah Pujiyanti. Usianya yang seumuran Bayu, sebenarnya kalah cantik dibanding Niken yang lebih muda tiga tahun.
Namun Inayah bisa di bilang nyaris sempurna sebagai istri dan ibu rumah tangga. Dia mengurus semua keperluan suami serta anak semata wayangnya.
Bahkan perempuan dewasa itu membuat Bayu 'mabuk kepayang' ingin merasakan dicinta dan disayang seperti suaminya itu.
Berawal dari seringnya Bayu melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana pelayanan Inayah pada Taufiq Hidayat suaminya karena memang teras rumah mereka berdampingan. Hanya ada tembok pembatas setengah badan yang pada akhirnya, mau tidak mau membuat Bayu sering mengamati pasutri tetangga barunya itu.
Lalu hampir setiap hari pula, Bayu yang memang seorang jurnalis online yang setiap hari kerjanya di balik laptop tak perlu masuk kerja layaknya pekerja kantoran itu sering bertemu dan bertegur sapa dengan Inayah. Bahkan bisa beberapa kali dalam sehari.
Setiap pagi ia seperti biasa sibuk menyapu halaman yang dipenuhi dedaunan pohon mangga miliknya yang berguguran. Disaat itulah, Inayah juga membersihkan tanaman hiasnya dan mereka bertegur sapa ringan meski hanya dua-tiga kalimat tanya jawab.
Siangnya, pukul sepuluh menjelang siang di depan teras rumah...menunggu tukang sayur gerobak keliling dan mereka pembelinya.
Sore terkadang mereka bertemu muka lagi diteras, dengan masing-masing kegiatan. Dan mereka hanya saling melempar senyum, mengangguk hormat satu sama lain.
Begitu saja awalnya. Tiada yang istimewa. Dan keduanya pun bukanlah insan-insan genit yang kesepian.
Hingga suatu ketika, tanpa ia sadari... bibit-bibit rasa respek Bayu ternyata berkembang lebih indah dan merekah ketika Inayah menyuapi suaminya dan memakaikan kaus kaki serta sepatu sebelum berangkat kerja.
"Makannya belum selesai, Pak!" terdengar kata-kata lembut Inayah pada Taufiq.
"Iya. Mau bagaimana lagi? Harus segera sampai di kantor secepatnya Bun! Dan gajiku bulan ini hanya turun separuh karena ada big trouble di kantor! Cukup khan uang satu juta kamu pegang?"
Inayah mengangguk, tersenyum manis pada suaminya seraya berkata, "Yang sabar ya Pak! Hehehe... namanya bawahan, mau tak mau suka tak suka harus menuruti atasan! Bunda akan berusaha menjaga pengeluaran bun agar tidak boros bulan ini!"
Bayu termangu. Uang satu juta untuk setengah bulan... Namun Inayah masih berusaha menghibur suaminya dengan kata-kata yang menyejukkan.
Sedangkan Niken istrinya, gajinya lima juta setiap bulan selalu dicibir dengan kata-kata memuakkan.
"Kapan kamu mentransfer gaji lebih dari segitu, Mas! Hhh... Biaya hidup semakin besar, pengeluaran semakin banyak, tapi gaji tetap segitu tak naik-naik! Pusing aku kalau terus-terusan begini!"
Itulah Niken. Bahkan meskipun kini istrinya itu ikut membantu keuangan rumah tangga mereka, toh tetap saja kurang dan kurang dimatanya.
"Cobalah mengerti aku, Niken! Aku sudah sangat keras berusaha mendapat lemburan agar kamu tidak lagi mengomel di setiap awal bulan!" Bayu sempat komplain pada Niken suatu ketika.
"Hilih,... lemburan tujuh ratus ribu, hanya cukup untuk beli susu anak bungsumu saja, Mas! Pampers, perlengkapan sekolah anak sulungmu masih harus ambil gaji kerjaku!"
Bayu selalu diam dan diam setiap kali perdebatan panas soal ekonomi rumah tangganya itu berlangsung. Khawatir suasana panas dan berskhir keributan saling serang kata-kata tajam setajam silet.
Tapi Inayah, ibu rumah tangga yang gaji suaminya dua juta rupiah itu... membuat respeknya perlahan menjadi rasa penasaran.
"Maaf, boleh aku tanya Mbak?"
"Tanya apa, Mas?"
"Pendapatan mas Taufiq, apakah ada tambahan lain selain gaji pokok?"
Inayah tertawa kecil. Menggelengkan kepala sambil menunduk. Dia tersipu tapi tak mau buka suara lebih banyak tentang ekonomi keluarganya.
"Mbak cukup dengan gaji mas Taufiq yang segitu?"
"InshaaAllah cukup, Mas! Hehehe... Kalau aku bilang kurang terus, ya akan Allah kurangkan terus dan terus. Tapi kalau aku bilang cukup, Allah selalu mencukupi kami meski kenyataannya kadang pusing juga mengatur keuangan ditengah kebutuhan yang besar!"
"Nah itu, maksudku Mbak! Istriku sampai bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup kami yang tinggi."
"Berarti istri mas adalah istri hebat! Ingat mas, pepatah mengatakan... Dibalik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Dan mas harus bersyukur punya istri yang mau ikut berperan cari tambahan!"
Bayu mengakui itu. Memang benar kata-kata Inayah. Sejak istrinya bekerja, taraf hidupnya menaik dua kali lipat. Gaya hidup serta barang-barang sekunder mereka, kini lebih lux dan lebih wah harganya.
Bahkan untuk pengeluaran Niken perbulannya saja mencapai nominal dua juta rupiah. Segitu belum termasuk creambath, manicure-pedicure setiap bulan yang wajib hukumnya bagi Niken untuk mempercantik penampilannya sebagai wanita karier.
"Mbak Inay wajahnya mulus. Pakai skincare apa? Perawatan dimana?"
"Hehehe... mas Bayu jangan bikin aku malu! Darimana uang untuk beli semua itu? Daripada perawatan dan beli skincare mahal, saya lebih suka pakai bedak tabur viva saja yang kemasan plastik itu. Selain murah, awet juga tak harus beli tiap bulan."
Bayu semakin termangu. Wajah istrinya walaupun tanpa make up tetaplah yang tercantik. Namun setiap hari pagi dan sore, Niken selalu mendempul wajahnya dengan berbagai lapisan hingga terlihat ketebalan wajahnya.
Bayu semakin dalam memperhatikan Inayah. Istri tetangganya yang hanyalah seorang sekuriti pabrik kecil di luar kota dan pulang dua hari sekali itu.
Hingga saking gandrungnya Bayu memperhatikan Inayah, ia lupa... ada hati istri dan anak-anaknya yang harus dijaga.
"Mbak Nay! Aku punya sesuatu untukmu! Tolong diterima ya?"
"Apa ini Mas?"
"Buka saja, semoga kamu suka!"
Setelah Inayah buka bungkusnya, ternyata satu set make up seperti bedak, lengkap dengan alas bedak dan consilernya. Juga serum, pelembab juga lipstiknya.
"Mas Bayu?..."
"Untukmu!"
"Dalam rangka apa? Aku tidak sedang ulang tahun, mas! Maaf... ambillah kembali! Istri mas pasti lebih bahagia mendapatkan kado mahal dari mas!"
"Istriku tidak pernah menghargai apapun pencapaianku, Mbak! Buktinya,... dia tak pernah puas dan menerima dengan senyuman tulus dibibir. Hanya cibiran dan makian saja!"
Inayah menunduk. Memainkan jari jemarinya yang sudah tak lagi lentik seperti gadis-gadis belia yang suka merias kuku.
"Boleh saya sarankan sesuatu? Curhatlah masalah hati mas ini pada istri mas! Cobalah bicara dari hati kehati, soal kesedihan mas dan juga kekecewaan mas! Jangan curhat kepada perempuan lain, yang berimbas beresiko tinggi jika istri mas mengetahui!"
Bayu terdiam.
Kata-kata Inayah menohok hatinya, tajam tapi mengandung kebenaran. Sementara Inayah pamit, masuk rumahnya dan bergegas mengunci pintu rumah dengan perasaan kurang lebih sama dengan Bayu.
(POV Inayah :
Hhh...
Mas Bayu..., aku harus menekan perasaanku. Sebagai wanita normal, aku juga merasakan bahagia yang luar biasa.
Diusiaku yang telah 35 tahun, seorang pria sebaya tapi status suami orang memperhatikanku diam-diam.
Wanita bodoh namanya jika tak bangga sedangkan dirinya tak punya nilai lebih.
Sedangkan pasanganmu memiliki dua kali lipat kesempurnaan dari aku.
Bisa jadi ini hanyalah cobaan hidup yang Tuhan beri padaku. Apakah aku sanggup menahan gejolak hati ini.
Dan mungkin saja kamu hanya ingin 'mencoba'. Ingin 'mencicipi' hidangan lain selain masakan rumahmu sendiri.
Aku... hampir lengah dan terpesona oleh perhatian yang kamu beri.
Tapi maaf,... aku berusaha menggetok kepalaku agar bisa berfikir normal. Aku tak ingin rumah tanggaku hancur karena terpukau oleh keindahan semu yang engkau beri.
Aku dan kamu tak mungkin bisa memiliki perasaan lebih. Karena logikanya kau dan aku sudah ada yang punya.
Ini hanyalah ujian kehidupan tentang cinta dan perasaan. Sepertimu, mungkin kau hanya sedang jenuh dan bosan pada pasanganmu. Tapi dihatimu pasti, istrimu lebih berkuasa segalanya dan diatas segalanya. Bukan aku.)
-End-