Unik, salah satu unsur dari namanya, yang selalu membawa sisi positif. Pesanannya setiap minggu selalu sama, Mochiatto dan roti bakar. Tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang, selalu dua menu tersebut. Terkadang aku sempat berfikir apa yang membawanya kemari, dan hening selama dua jam lamanya. Kegiatan Unik selalu sama, mencoret kertas, bergumam, lalu mencoret kertas lagi. Padahal kedai ini, tidak bisa dibilang sepi, untuk apa ia bergumam di tengah keramaian ini? Memangnya tidak mengganggu apa? Sudah setahun Unik selalu singgah di kedai, sampai sekarang, aku tak tahu apapun kecuali namanya saja.
Lana.
Satu tarikan nafas yang selalu ia sebut sebagai atas namanya. Tak pernah berubah, entah menjadi Aza ataupun Ana. Senyumnya tak pernah pudar menatap segelas mochiatto, seakan-akan ia memuja minuman tersebut. Selama ini yang terdengar hanya suara seraknya ketika menyebutkan pesanan. Aku pernah berfikir bagaimana jika ia menyanyi? Tentu akan sangat indah suaranya, yang pasti, jauh lebih indah dari suara Venus. Bukan aku tak menghargai suara sekian oktafnya, tapi selera musikku dan Venus berbeda jauh. Kau pasti tahu Venus 'kan? Penyanyi rock dari band Garpu!
"Permisi, Mas." Ini suara Lana! Dia menyapaku secara eksklusif!
"Ya?" Aku berusaha Agar suaraku tak bergetar karena gugup.
"Saya Lana Azzahra boleh nanya?" Suaranya ternyata serak-serak basah.
Aku mulai membayangkan soal aku bermain gitar, dan dia bernyanyi dengan suaranya yang serak basah. Kami melakukan duet bersama di bawah bintang dan menikmati angin malam bersama. Pasti indahnya malam itu.
"Itu sudah bertanya." Dia langsung memasang wajah bingung. "Nanya apa?"
"Boleh aku nyanyi lagu ciptaanku disini? Hanya malam minggu Saja, Mas." Lana menatapku penuh harap.
Astaga Lana, tidak bisakah kau biasa saja? Kau terlalu menggemaskan jika seperti ini. Tunggu dulu, jadi selama setahun ini dia singgah di kedaiku untuk menciptakan sebuah lagu? Ah, manisnya, dia. Paket lengkap sudah sosok Lana ini, suaranya pasti merdu jika diajak bernyanyi, ditambah ia bisa menciptakan lagu sendiri. Aku tersenyum mendengarnya, daripada malam minggu hanya diisi oleh Garpu, sampai Venus suaranya serak. Aku mengangguk, lalu aku memberikan kartu nama Venus –bagaimanapun, Venus dan bandnya adalah pengisi acara tunggal di kedai ini– supaya mereka berdua bisa mengatur waktu mengisi mereka.
"Hubungi saja dia kalau kau membutuhkan band, dan mengatur kapan kau harus tampil. Dia pengisi tunggal di kedai ini, dia pasti senang kalau waktunya bernyanyi tidak selama biasanya."
"Aku boleh mengisi di sini?" Matanya berbinar-binar bahagia.
Aku mengangguk pelan. Lana langsung terpekik senang, dia meloncat kecil bahagia.
"Orang tuaku tidak pernah membolehkanku untuk terjun ke musik." Wajahnya berubah lesu.
Gadisku, hapuslah mimik lesu itu, tak suka aku melihatnya kau menekuk wajah indahmu itu. Duduklah, dan ceritakan padaku segala keresahanmu itu.
"Jadi aku tak pernah mempunyai sebuah gitar di rumah. Jangankan gitar, aku menyanyi atau membuat lagu saja tidak boleh. Jadi, kedai ini, adalah salah satu alasanku untuk menciptakan sebuah lagu dan bernyanyi. Percaya padaku, kalau suaraku bagus." Lana tersenyum kecil.
Lana, tidak perlu kau katakana begitu, baik aku atau Venus –dia juga sering menggantikan Ihya sebagai kasir disini untuk beberapa waktu– juga paham bahwa suaramu itu indah. Siapapun, sekali mendengar suaramu, akan ikut terpesona.
"Apa kau juga bisa bernyanyi beberapa lagu juga? Venus pasti senang ia punya partner. Apalagi, suaramu dan suara Venus mempunyai jenis suara yang berbeda. Dia penyanyi band rock."
Lana langsung mengangguk-angguk senang, matanya berbinar-binar membayangkan itu semua.
"Nama masnya siapa?" Dia menatapku sambil berusaha mencari name tag.
"Abdi," jawabku pelan.
"Itulah kenapa namanya 'Kedai Saya'?" Lana sambil melirik papan menu.
"Pintar sekali!" Aku langsung tertawa kecil.
Pada akhirnya kami sedikit berbincang-bincang mengenai lagu dan drama. Lana terkejut ketika mengetahuiku bisa bermain gitar, Lana langsung mengajakku tampil bersamanya. Astaga, Lana! Kau ini, sungguh tidak sopan! Dengar jantungku, ia berdegup lebih cepat saat kau mengatakan hal tersebut. Tapi, aku berusaha menyenangkan diri, mencoba mengatur nafasku yang memburu. Aku mengatakan bahwa aku tak bisa menemaninya minggu depan, karena aku akan tetap bekerja disini. Lana terus memaksaku agar aku yang membantunya hanya satu lagu, padahal Lana juga belum pernah mendengarkanku memetik gitar. Tetapi, dia seakan-akan tahu bahwa permainan gitarku apik. Akhirnya dia pamit pulang, aku hanya mampu tersenyum menatap punggungnya yang menjauh.
"Hati-hati di jalan, Lana." Aku baru berani mengucapkan saat ia benar-benar pergi.
***
Venus mulai mengatai mataku yang mulai memerah, bagaimanapun aku harus menyelesaikan tugasku di detik-detik terakhir. Kalian jangan tiru caraku yang sengaja mepet deadline sungguh, tidak enak sama sekali. Bahkan, tugas yang ku-unggah setengah jam lalu saja penuh kesalahan. Persetan dengan itu! Yang penting untuk UAS bulan depan, nilaiku harus bagus.
"Lana jadi kesini?" Venus mengeluarkan gitarnya.
"Jadi."
Aku mulai membuat pesanan Garpu. Kalau mereka berlima, memiliki satu menu yang sama. Coklat panas. Selalu itu, sejak lima bulan mereka rajin mengisi di sini, tak pernah berubah sedikitpun.
"Kasian Lana, dilarang bermusik di rumahnya." Ini suara gitaris Garpu.
"Tahu dari mana?" Padahal bocah ini belum kuberi tahu apa-apa.
"Lana Azzahra, dia temen satu kampus gua. Dia lahir di keluarga yang cukup kaku. Akademik dan IPA segalanya."
Ah sekarang aku paham, kenapa ia tak memiliki gitar bahkan bernyanyi saja tak boleh. Tapi, bukankah artinya Lana akan mengambil resiko besar? Ah Lana, memang tipe wanita jaman sekarang. Semakin dilarang, maka semakin jadi dia. Itulah mengapa aku tak pernah mengurung hewan peliharanku. Takut-takut, sekalinya mereka bebas, mereka akan lebih liar dari hewan liar.
"Sorry, aku telat." Lana datang dengan setengah berlari. "Orang tuaku sempat menahanku, aku harus membuat beberapa alasan."
Lana mulai naik ke atas panggung, dia memperkenalkan diri dan mulai bernyanyi. Aku tak terkejut suaranya bagus begitu ia mulai bernyanyi. Tapi belum sampai akhir ia bernyanyi, seseorang yang memiliki wajah Persis dengan Lana muncul dengan santainya. Lana berhenti bernyanyi, wajahnya pucat pasi melihat lelaki dihadapannya.
"Lana." Cowok itu bersuara, nada ya mengintimidasi.
Lana langsung turun dari panggung dan mengekor lelaki tersebut keluar kedai.
***
Setidaknya itu yang dapat kuingat terakhir kali, semenjak itu batang hidungnya tidak pernah terlihat. Tak ada lagi suara serak basah menyebutkan nama Lana, tak ada mochiatto di setiap minggu pagi. Semuanya kembali seakan Lana tak pernah datang. Venus bilang, bahwa itu adalah konsekuensi Lana ketika melanggar peraturan keluarga yang sudah melekat. Venus bukan tak membela Lana, hanya saja semua tahu, bahwa itu terlalu beresiko. Absennya Lana dari kedai, membuatku kehilangan sesuatu.