"Masa yang telah lewat akan tergurat dengan indah,tiap kamu membuka lembar yang lain".
***
Lagu Yummi yang dinyanyikan oleh Justin Bieber mengalun di dalam kamar berukuran sedang itu.
Seorang gadis berambut sebahu dengan mata hazel duduk di kursi kayu, sambil ikut bersenandung kecil.
Kursi itu terletak di dekat jendela yang terbuka hingga menampilkan bintang gemintang di atas sana. Senyuman terus menghiasi bibirnya yang mungil, di depannya terdapat meja belajar dengan laptop yang menyala.
Gadis itu menyelipkan anak rambut ke belakang kala angin malam menyapu lembut wajahnya. Sementara tangan yang satunya sibuk pada kursor laptop.
Tiba-tiba matanya terarah,pada sebuah file bertuliskan memories of SMA. Entah mengapa ada rasa yang menyeruak kala ia mengingat kenangan yang terselip di dalamnya.
Lima menit berfikir,akhirnya ia memutuskan membukanya setelah meneguk greentea yang terletak di dekat laptopnya.
Gadis itu Ercila Anna Pratista,atau dikenal dengan Anna tersenyum kecil ketika melihat foto bersamanya dengan teman sekelasnya dahulu. Berseragam putih abu-abu. Dengan barisan yang rapi,dimana perempuan yang duduk di kursi lalu di belakangnya ada siswa laki-laki dengan lengan yang saling merangkul.
Matanya tertuju pada sosok cowok yang berdiri tepat di belakangnya.
Bagas.
Mengingat nama itu entah mengapa membuatnya muak. Apalagi di semester tiga ini mereka kembali di pertemukan. Karena cowok itu mengambil jurusan yang sama dengannya. Teknik lingkungan,dan besok rencanya mereka akan mengadakan studi lapangan mata kuliah hidrologi.
Anna menghela nafas, mengalihkan pandangan sejenak pada ransel yang telah di persiapkannya untuk besok. Tidak terlalu banyak karena hanya sepuluh hari,dan semua sudah lengkap.
Gadis itu kembali fokus ke laptop,menekan next pada gambar yang tadi dibukanya. Hingga sekarang terlihat, barisan yang tadi rapi sekarang acak-acakan. Ada yang tertawa, kesal, bahkan duduk sambil melamun tapi masih dalam posisi yang sama.
Lain halnya dengan Bagas,cowok itu menjitak kepalanya hingga Anna terlihat meringis dengan menatap tajam ke arah cowok menyebalkan yang sering mengganggunya itu. Bibir mungilnya mengerucut, kekesalannya bertambah hanya karena foto yang di ambil tiga tahun yang lalu.
Apalagi mengingat momen dimana ia mendapati Bagas tiap pagi datang awal ke sekolah hanya untuk tiduran di kelas. Lalu setelah bangun ia akan mengganggu Anna habis-habisan. Huhhh!!!memuakkan.
Anna heran,tiap ada kesempatan waktu SMA Bagas selalu megganggu dirinya. Baik itu belajar,jam istirahat,atau bahkan jam pulang. Bagas suka menyebut dirinya ciliata. Hal itu karena nama depannya. Kadang pula protista,atau justru yang paling memuakkan yang ia dengar adalah Tuti(tukang tidur). Tanpa mengingat diri jika ia dan Bagas memiliki hal sama di bagian ini.
Anna mengepalkan tangan, mengingat cowok menyebalkan itu. Andainya ia tak mengingat sekarang berada di kamar kost ia sudah berteriak saking kuatnya efek kebenciannya pada Bagas.
Jika ada yang bertanya hubungannya dengan Bagas maka dengan senang hati ia akan menjawab musuh bebuyutan. Dan selamanya akan seperti itu.
Sebenarnya ada sebuah hal yang menyebabkan kebencian Anna berlipat-lipat, dimana saat itu Bagas meminta temannya untuk membawakan ponselnya pada cowok itu. Dan di situ Anna berdiri tepat di depan pintu.
Dan dengan entengnya cowok itu berkata padanya"Jangan biarkan dia nyentuh barang gue. Karena apapun yang dia sentuh akan membawa sial". Dengan tatapan yang sinis.
Anna tersenyum kecut mengingat kejadian itu.
Gadis itu menghela nafas, mematikan laptop lalu menutup jendela.
Dia benci cowok itu
Ataya Fakhri Bagaskara....
Sangat
***
_Opposite_
Bus telah terparkir rapi di halaman Universitas Pahlawan. Mahasiswa yang akan mengikuti kuliah lapangan selama sepuluh hari ke depan sudah berdatangan mengambil barisan sesuai dengan kelompok yang di sebutkan oleh Pak Yaya dosen pembimbing mata kuliah hidrologi.
Anna berada di kelompok lima barisan paling belakang menguap lebar untuk kesekian kalinya. Entah mengapa tiap pagi ia selalu mengantuk, dan hal itu di maklumi teman sekelompoknya yang memang cukup dekat dengan Anna.
Seperti Raya gadis pirang dengan mata bulat,Aan cowok pintar yang dikenal hampir seangkatan,Rey cowok kalem tapi ganteng hingga banyak dari kelompok lain yang mendelik iri pada mereka. Tiga teman lainnya yang Anna lupa namanya siapa.
Mata hazelnya ia kucek beberapa kali, berharap cara itu mempan untuk menghilangkan kantuknya dan rasanya ia menyadari sesuatu saat melihat kelompok lain ternyata berjumlah delapan orang sedangkan mereka masih tujuh orang.
Anna melirik jam tangan, jam 09.45 bukannya seharusnya mereka berangkat sejak 45 menit yang lalu.
Anna tak terlalu peduli,dia memutuskan duduk berjongkok sembari mengistirahatkan kakinya yang pegal karena berdiri terlalu lama.
Beberapa menit kemudian terdengar ceramah Pak Yaya pada seseorang,yang Anna yakini orang yang menghambat perjalanan pagi ini. Ingatkan Anna nantinya untuk memberi pelajaran pada orang itu.
Beberapa gerutuan dari mahasiswa laki-laki serta kekaguman dari perempuan juga terekam jelas oleh telinga Anna. Tapi gadis berusia 19 tahun itu tak berniat mencari tahu. Terlalu malas jika hanya untuk mengutuk orang yang gak berguna itu.
Pekikan kesenangan dapat Anna dengar dari mulut Raya. Karena beberapa detik berikutnya orang itu dapat Anna rasakan berdiri di belakangnya. Dan ia bisa melihat mata teman-temannya mengarah padanya.
Anna memutuskan mendongak, hingga mata hazelnya bertemu dengan mata hitam yang tak asing lagi untuknya.
Sontak saat mereka menyadarinya, secara bersamaan mereka berucap "LO?".
Senyuman kecil menghiasi bibir Raya melihat reaksi berlebihan antara Anna dan cowok berkemeja kotak kotak itu.
"Lo kenapa masuk kelompok gue sih?" tanya Anna frustasi,rasa ngantuknya entah menguap kemana tak peduli jika masih terdengar bisik-bisik dari mahasiswi.
"Hei!!! Cewek pengganggu, tukang tidur. Yang harusnya bertanya itu gue" Bagas,cowok itu sudah tak terlihat santai hendak protes kepada Pak Yaya, tapi melihat tatapan tegas dari dosen paruhbaya itu ia urung.
"Hussshhh!kalian jangan bertengkar terus dong! Kan jadi liat drama live jadinya" Ujar Raya dengan cengiran khasnya,yang membuat Anna rasanya ingin menabok temannya itu.
"Diam" ucapnya bersamaan dengan suara lain yang lebih berat. Anna refleks melirik Bagas,dan anehnya cowok itu juga sedang menatapnya kesal.
"Cieee!tuh kan jodoh" kembali Raya meledek. Membuat suasana tenang seketika berubah,seakan atmosfir semakin memanas.
Bagas membuang muka.
"Hhh..."Anna menggeram frustasi bersamaan dengan instruksi dari Pak Yaya agar segera memasuki bus dan tak jauh-jauh dari kelompoknya.
Seakan tak hanya sampai di situ, Anna kembali kesal karena ternyata ia harus duduk di dekat Bagas. Ia muak dengan drama yang tiba-tiba terjadi ini. Mukanya masam tertekuk ke bawah. Dan dia yakin ini pasti ulah Rey dan Raya yang sudah cengengesan tepat dibelakang Anna.
Bahkan baru tadi malam Anna mengingat kejadian menyebalkan beberapa tahun yang lalu, tapi tiba-tiba yang menjadi pemicunya sudah berada di sini.
Tepat di dekatnya.
Mengapa dia harus terlibat dengan dia untuk yang kesekian kalinya. Anna menatap nyalang keluar jendela. Suasana kota sudah tergantikan dengan pohon-pohon rimbun yang menghiasi sisi jalan seakan membentuk terowongan. Perjalanan ke desa itu mungkin lumayan jauh, karena Anna tahu Pak Yaya sengaja memilih daerah yang benar-benar masih jauh dari teknologi. Karena mungkin dosen itu mau melihat seberapa paham mereka teradap apa yang ia ajarkan.
Anna bisa memakluminya kecuali hal ini. Anna merasa matanya memberat,bersamaan dengan sebuah kepala yang tiba-tiba terkulai lalu menyandar di bahunya.
Nafasnya tercekat, dia tahu jelas melalui dari sudut matanya. Gadis itu kemudian menyingkirkannya pelan, agar ia bisa terlelap beberapa saat. Anna kemudian bersandar ke jendela bus. Dan menit berikutnya ia sudah tak tahu apa yang terjadi. Ia tenggelam ke alam mimpi.
Samar ia mendengar tawa cekikan dari Raya.
***
Anna terbangun menyadari dirinya masih berada di dalam bus. Dia mengerjapkan mata beberapa kali begitu menyadari bus sudah berhenti. Saat ia melihat ke arah jendela, perumahan penduduk telah terlihat di depan sana.
Gadis berambut sebahu itu menyadari bus sudah sepi. Artinya hanya ia sendiri yang berada di sini. Oh dia merutuki dirinya kenapa matanya ini selalu saja tertidur. Anna merasa ada yang aneh pada bahunya, dan dia mendapati Bagas masih tertidur dengan wajah polos seperti bayi.
Dan Anna tahu itu hanya sesaat, karena jika sadar cowok itu akan berkali-kali lipat menyebalkannya. Sebuah ide untuk balas dendam terbesit di otaknya yang pas-pasan.
Dia tersenyum evil lalu tangannya terangkat untuk mencubit perut cowok super menyebalkan dengan rambut cepak itu.
"Bangun WOYYY!" teriaknya tepat di telinga cowok itu. Tangannya sudah mencubit keras perutnya.
Dan Anna jadi salfok, saat yang ia pegang adalah roti sobek cowok itu. Dan Anna hanya bisa menelan ludah saat menyadari jika itu terbentuk sempurna.
Gumaman kecil terdengar dari bibir Bagas. "Ibu...." hampir-hampir tak terdengar.
Anna tertegun sesaat,lalu menggelengkan kepalanya. Gak dia gak boleh tergoda hanya karena wajah polos itu.
Dia kali ini berteriak lebih keras.
"BANGUN. WOYY....GUE BUKAN EMAK LU". Anna tersenyum puas saat menit berikutnya Bagas berhasil membuka mata.
"Gila.." Desis cowok itu sebelum akhirnya mengambil ranselnya lalu meninggalkan Anna sendiri. Gadis itu mengerucutkan bibir,misi balas dendamnya gagal total.
***
_Opposite_
Hari pertama mereka lewati dengan berkenalan dengan penduduk setempat. Dan dilihat dari rumah panggung yang terbuat dari kayu seadanya dan atap daun rumbia membuat Anna menyimpulkan jika desa ini memang belum mengalami modernisasi. Anak-anak bertelanjang dada berlarian saat ia turun dari bus sehingga dengan cepat gadis itu melupakan kekesalannya.

Entah mengapa bagian dari dirinya ingin melakukan hal yang bermanfaat selama berada di sini. Apalagi penduduknya ramah, pantas Pak Yaya memilih desa ini.
Penduduk menyediakan dua rumah untuk mereka tempati selama berada di desa ini. Dan jujur Anna merasa bebas ketika di sini. Pohon-pohon, serta hutan yang menjadi tempat masyarakat berburu. Tapi dalam batas sewajarnya, tak ada pembakaran hutan secara semena-mena dan jangan lupakan sifat kekeluargaan dan gotong royong yang masih kental diantara mereka.
Anna dan Raya, dengan cepat bisa akarab dengan penduduk setempat begitupun dengan teman-temannya yang lain.
Anna senang melihat burung-burung beterbangan di atas sana menghiasi birunya langit. Anna bersyukur bisa melihat keindahan alami seperti ini.
Sisa hari itu Anna tak bertemu lagi dengan Bagas.
***
Hari Kedua
Anna terbangun,ketika Raya menepuk pelan pundaknya.
"Pak Yaya udah nunggu di bawah" Lalu dengan asal gadis itu memakai almameternya.
Tanpa di beritahu dua kali Anna dengan cepat bangun mencuci muka lalu mencepol rambutnya yang hitam.
Mereka bergegas,kembali membentuk kelompok seperti kemarin. Anna menghela pelan, di sana Bagas sudah berdiri dengan tatapan sinisnya.
"Jadi hari ini kita sudah mulai mengobservasi, kawasan konservasi kali bagian utara. Jadi hubungkan, dan aplikasikan apa yang selama ini saya ajarkan secara teori. Kalian akan mencari solusinya dengan terjun secara langsung ke lapangan. Paham?"
"Paham Pak!" ucap mahasiswa serempak, setelah itu mereka mengambil alat tulis,hp,dan perlengkapan lain untuk studi lapangan ini.
Pak Yaya dan kepala desa memimpin di depan sambil bercerita mengenai budaya penduduk setempat,biaya pendidikan dan lain sebagainya.
Anna tercegang mendapati sungai yang memiliki lebar sekitar 20 meter itu. Banyak batu-batu besar dengan air sungai yang mengalir jernih. Seakan memang ada yang ssngaja merawatnya. Tanaman perdu tak banyak, serta ternak penduduk yang di ikat dibawah pohon kelapa sedang makan dengan lahap. Aan antusias mencatat atau memotret hal yang perlu.
Bagas entah apa yang merasuki cowok itu, sekarang ia juga melakukan apa yang tadi di tugaskan Aan padanya selaku ketua kelompok.
Raya hanya bisa bergumam wah. Beberapa kali.
"Kali ini, menjadi pusat air penduduk. Mereka mandi,ambil air, mencuci semua di lakukannya dari air kali". Jelas Pak Kades,dan mahasiswa pun menanggapinya berbeda.
Pak Yaya tersenyum bangga melihat seluruh mahasiswa sekarang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mengamati, mempelajari ekosistem sungai secara langsung akan terasa berbeda jika itu terjadi di lapangan.
Anna memperhatikan sungai yang masih saja mengalir dari hulu ke hilir, mencoba membandingkan dengan siklus hujan yang baru di pelajarinya beberapa bulan yang lalu. Karena gadis itu memang mendapat tugas itu dari sang ketua kelompok.
Anna berjalan ke tengah sungai, merasakan aliran air yang seakan membelai kakinya dengan rasa dinginnya. Tapi tiba-tiba percikan air diwajahnya membuatnya terkesiap. Anna mendapati Bagas tengah menatapnya dengan seringaian menyebalkannya.
"Lo dapat tugas tentang hujan kan?tuh gue bantu" ujar cowok itu santai yang membuat Anna kembali frustasi.
Ia meniup anak rambut yang menghalangi pandangannya. Lalu menit berikutnya ia berteriak kesal.
"Bagasssss......" Cetusnya sambil menarik Bagasi ikut masuk ke dalam sungai. Ia balas dendam, mencipratkan air pada Bagas tanpa ampun.
Bagaimanapun, cowok itu kembali mengusiknya.
Muka gadis itu sekarang memerah menahan amarah, sementara Bagas tak berhenti mengganggunya. Yang tidak mereka sadari mereka kembali menjadi pusat perhatian. Di mana sekarang, Rey dan Raya sudah duduk diatas batu sembari menikmati pertengkaran itu.
Aan sendiri sibuk mencoba berbagai metode perhitungan banyaknya hujan di daerah aliran sungai.
Karena mereka tahu mungkin jika terjadi luapan sungai bisa jadi desa kecil ini akan ikut terkena imbas banjir melihat besarnya DAS.
Pertengkaran mereka berakhir karena Anna memilih mengalah, merasa percuma melawan cowok keras kepala itu.
Hari ketiga, keempat, dan kelima mereka masih mengamati keadaan di sekitar sungai. Hingga apapun yang mereka temukan mungkin akan bermanfaat di keadaan yang akan datang.
Barulah pada hari ke enam dan ketujuh. Pak Yaya memberikan pengandaian jika ada masalah seperti pencemaran air.
Anna mendapat tugas dari Aan mencari dampak-dampak yang di timbulkan dari pencemaran air. Dan Anna dengan cepat mengerti karena memang sangat mudah dibandingkan antara sungai yang berada di desa ini dengan di kota.
Hari ke delapan, mereka memutuskan membantu penduduk membuat tanggul, dan sebagian membantu penduduk memperbaiki saluran irigasi yang rusak. Selama tiga hari terakhir mereka sibuk membantu penduduk membenahi kampung.
Termasuk Bagas,cowok itu setiap selesai bekerja tak hentinya membuat Anna kesal. Hingga ia rasanya ingin mencabik-cabiknya lalu di buang ke sungai. Kebenciannya pada Bagas bertambah berkali-kali lipat saat cowok itu pernah sengaja menyuruh teman-teman ceweknya meninggalkannya sendiri saat tak sengaja tertidur di dekat batu besar.
Pernah juga Bagas menjahilinya di dekat sapi,apalagi Anna agak takut dengan hewan mamalia itu.
Rey dan Bagas mendekatkan sapi pada Anna, lalat yang beterbangan di atas bulu berwarna coklat itu membuat Anna merinding.
Bagas tersenyum puas sementara Rey seperti biasa. Anna berteriak ketakutan saat sapi itu semakin mendekatinya seperti hendak mennyundulnya. Lapangan luas itu penuh suaranya yang ketakutan. Sementara Bagas tertawa penuh kemenangan.
Walaupun tanpa ia sadari,air mengalir dari sudut mata Bagas karena tertawa. Dan Anna juga melihat itu ia merasa aneh pada cowok yang bernama lengkap Ataya Fakhri Bagaskara itu.
Dia menyadari jika cowok itu selama ini jarang terlihat tertawa selepas itu. Tapi hari ini di hari terakhir berada di kegiatan ini, cowok super menyebalkan itu untuk pertama kalinya tertawa lepas. Karena Anna,setelah melalui banyak hal dengannya entah mengapa ia untuk pertama kalinya merasa senang.
Anak-anak bertelanjang dada berlarian mendekati mereka ikut bergabung membuat Anna kembali kesal. Karena Bagas, sekarang telah memasang wajah culasnya seperti biasa.
Anna bingung seberapa banyak wajah yang ia miliki. Apalagi baru saja ia membantu penduduk dengan tulus, kembali menjadi musuh abadi, lalu sekarang tertawa, lalu kembali bermusuhan.
Ini hubungan teraneh yang ada....
Akal bulus Anna kembali muncul begitu melihat banyaknya kotoran sapi yang berwarna hijau itu bertebaran.
"Hmmm..."gadis itu memulai aksinya dengan terseyum tips.
***
"Sebenarnya kata itu berlawanan dengan apa yang ia miliki".
***
Dan jelas pembalasan dendamnya kali ini akan berjalan dengan mulus. Tinggal memancingnya sedikit maka apa yang di inginkan Anna akan tercapai.
Memikirkannya saja sudah membuat Anna berhasil tertawa kesetanan.
Hari ini hari terakhir jadi apa salahnya ia melakukannya sebelum mengucapkan selamat tinggal kepada cowok yang bernama Bagas itu. Cowok yang ingin ia lenyapkan dari muka bumi ini sejak pertama kali mengenalnya. Cowok yang pernah berkali-kali merasakan cubitan Anna di pahanya karena terlalu menyebalkan semasa SMA saat sebangku di mapel mtk.
Ya sekarang dia akan membalasnya.
Bagas membalas tatapannya dengan malas.
"Lo!!!kenapa selalu menganggap gue anak sial?" tanya Anna dengan tatapan sendunya. Membuat teman-temannya yang tertawa tiba-tiba terdiam demi mendengar ucapan Anna.
Bagas juga, mata hitamnya menatap mata hazel Anna dengan tatapan tak terbaca. Sepuluh hari mereka berada di tempat ini. Selama itu pula Anna tak pernah terlepas dari cowok super menyebalkan itu. Anak-anak itu masih sibuk berlarian di tengah terik matahari. Rumput lapangan setinggi anak kaki ini menambah kenyamanan mereka.
"Kenapa diam?" tanya Anna kembali mata hazelnya mulai berkaca-kaca karena mengingat seseorang.
Ibunya.....
"Kenapa?Apa karena orang tua gue udah meninggal dan gue selalu berada di sekitar lo hingga lo nganggap gue pembawa sial!" Bahu Anna mulai bergetar menyadari tak ada respon dari cowok di hadapannya ini.
Tawa lepasnya tadi hilang tak berbekas. Anna dapat melihat tangannya yang mengepal.
"Apa karena gue selalu ngebuat lo sial. Tiap lo ada di sekitar gue?" pekik Anna,udara di sekitar mereka terasa panas. Kasak-kusuk teman-temannya termasuk Raya dan Rey meninggalkan lapangan memberi ruang agar mereka bicara leluasa.
"Jawab!!!jawab Bagas?" teriak Anna kesal,entah mengapa Bagas kali ini terlihat seperti batu berdiri. Seakan Anna bicara sendirian.
Tanpa gadis itu sadari air mata sudah menguncur melalui celah pipinya yang tirus.
Bagas memghela nafas, saat Anna mulai menyerah.
"Gue mohon, jangan ganggu gue lagi. Gue emang anak sial,karena orang tua gue udah meninggal. Gue emang sial karena semasa SMA hanya bisa menumpang di rumah orang. Dan dengan gak tahu dirinya gue gak belajar, hanya tiduran di kelas", Cewek itu menjambak rambut hitamnya, sekarang terlihat kacau.
"Lo mau tahu,kenapa gue suka tidur Bagas. Itu karena tiap malam waktu SMA gue kerja sampai jam satu baru bisa tidur. Tapi dengan mudahnya lo bilang gue gak tahu malu. Gak punya kasur di rumah" Sekarang Anna menangis,kepalanya tertunduk berlutut menatap tanah.
"Alasannya karena gue emang gak punya rumah" gadis itu tertawa pedih mengingat nasibnya yang miris.
Bagas tertegun,lalu detik berikutnya mulai berbicara.
"Gue tahu. Maaf,gue tahu semua itu dari orang suruhan gue" cowok itu menghela nafas,angin menerbangkan baju kaos yang melekat di tubuhnya.
Dia melangkah pelan ke arah Anna.
"Maaf,gue dahulu udah memata-matai lo karena gue ngerasa lo memiliki nasib hampir sama kayak gue,makanya gue ganggu lo", dan demi mendengar itu mata Anna membulat. Gadis itu mendongak menatap cowok berkaos abu-abu itu.
Menelisik matanya berusaha mencari kebohongan namun tak menemukannya sama sekali.
"Gue hanya mau ngehibur lo,sama kayak gue ngehibur diri gue saat lihat lo kesal" akunya ia menarik tangan Anna agar gadis itu berdiri.
"Ann...gue mohon lo jangan sedih, karena bukan cuma lo yang memiliki nasib sial di dunia ini". Ujar Bagas pelan lalu menarik Anna ke dalam pelukannya.
Anna sadar sepuluh hari itu berhasil mengubah pandangannya pada seorang Ataya Fakhri Bagaskara. Seseorang yang selama ini yang ia anggap membencinya nyatanya adalah hal yang berlawanan dari kenyataannya.
Ia membenci Bagas tapi itu dulu,sebelum ia kenal kata Opposite.
~THE END~