Karya: Aditya Prajana Putri (Tya Prajana)
Hubungan mereka sudah berakhir, namun bagi Relia masih terasa sulit untuk melangkah dan meninggalkan semua kenangan antara dirinya dan Rehan. Sudah satu bulan sejak mereka putus dan Rehan seolah sudah melupakannya dan kini dia sudah memiliki seorang kekasih. Relia tidak tahu kenapa Rehan bisa begitu mudah melupakannya.
Berada di kelas yang sama dengan Rehan membuat perasaan Relia semakin sulit, saat pandangannya terarah pada Rehan, perasaan Relia tida berubah. Debaran yang selalu dia rasakan seperti saat pertama kali melihat Rehan. Rasa cintanya pada Rehan terlalu dalam hingga dia sulit untuk menghapus perasaannya, walaupun Rehan mengkhianatinya tapi Relia tidak bisa melepasnya.
Sempat terlintas dalam pikiran Relia untuk mendekati Rehan kembali, merebut nya dari gadis itu seperti yang gadis itu lakukan padanya dulu, tapi dia tidak setega itu dan dia tidak yakin apakah perasan Rehan akan kembali padanya atau tidak. Semua memang kesalahannya yang tidak pernah memiliki waktu untuk Rehan hingga membuat pria itu berpaling.
Relia menyibukkan dirinya dengan membaca buku, beraharap setidaknya pikirannya teralihahkan dari Rehan walau hanya sebentar, Relia mengambil sebuah buku lain, namun sebuah buku terjatuh. Relia mengambil buku itu yang terlihat seperti album foto, di halaman depan tertulis ‘ Kenangan Kita RR Couple’ , Relia membuka lembar demi lembar yang berisi foto-fotonya dan Rehan. Beberapa foto diambil saat mereka melakukan studi banding, foto saat kencan pertama mereka, foto saat ulang tahun Rehan sebulan yang lalu.
Tanpa sadar air mata Relia mulai mengalir keluar. Ponsel Relia berdering beberapa kali namun gadis itu seolah tenggelam dalam dunianya sendiri sehingga tidak mendengar deringan ponsel yang cukup keras. Di layar ponselnya tertulis nama ‘Rehan’.
***
Relia terbangun dan dia menyadari semalam dia menangis hingga tertidur di lantai. Relia melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Relia terkejut melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 . Dia pasti sudah sangat terlambat, Relia segera bersiap, biasanya Relia membutuhkan waktu 30 menit untuk berdandan, tapi gadis itu kini seolah tidak menghiraukan penampilannya dan berlari keluar.
“Relia, kamu mau kemana? Sarapan dulu sebelum pergi “
“Nanti saja di sekolah, Relia sudah terlambat “
“Terlambat ?”
Ibu Relia memandang kepergian Relia dengan heran.
Relia mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba di sekolah. Relia menghentikan sepedanya, pintu gerbang sudah tertutup, tapi anehnya gembok pintu itu berada di luar dan bukan di dalam .
“Relia”
Suara itu
Relia sangat mengenali suara yang sebelumnya selalu memenuhi hari- harinya, dengan ragu Relia menoleh dan memandang Rehan yang berdiri di belakangnya.
“Oh, hai Rehan. Kamu terlambat juga ya ?”
Relia mencoba bersikap biasa, walau dia merasa gugup ini pertama kalinya dia berbicara pada Rehan sejak hari terakhir perpisahan mereka.
“Terlambat ? apa kau tidak melihat kalender? Hari ini kan tanggal merah “
“Eh ? benarkah ? pantas saja jalanan begitu ramai”
“Tapi, kamu ngapain disini ?” lanjut Relia
Belum sempat Rehan menjawab seorang gadis datang dan merangkul lengan Rehan dengan manja.
“Sayang, maaf membuatmu menunggu lama. Ayo kita pergi”
Rehan hanya diam dan membiarkan gadis itu menariknya pergi. Relia hanya bisa memandang mereka dengan tatapan sedih. Dia merasa cemburu melihat gadis itu dengan bebas bergelayut manja di lengan Rehan, Hal yang tidak pernah Relia lakukan sebelumnya.
***
Relia melangkahkan kakinya di sebuah taman belakang sekolah. Setiap langkahnya menyusuri taman ini seolah membawanya kembali ke masa lalunya. Terlalu banyak kenangan di Taman ini , tempat inilah terakhir mereka menjadi sepasang kekasih dan Saat Relia mengetahui perselingkuhan yang terjadi antara Rehan dan wanita yang kini menjadi pacarnya. Relia seharusnya membenci Rehan dan melupakannya dengan mudah tapi itu sulit untuknya,perasaannya kembali saat Rehan mengajaknya berbicara tadi. Namun dia juga membuatnya terluka lagi saat melihat nya bersama dengan wanita itu.
“Kau sedang mengenang masa lalumu dan Rehan? “
Relia menoleh dan melihat seorang gadis yang tidak lain adalah sahabat baiknya, Sinta.
“Sinta, apa yang kau lakukan disini?”
“Aku diminta ibumu untuk kesini menyusulmu, dia khawatir kamu akan teriak- teriak memanggil satpan sekolah kita untuk membuka pintu dan aku justru melihatmu disini “
Relia tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya.
“Aku heran, apa kau terlalu semangat belajar hingga tidak menyadari tanggal merah di kalender “
“Ya, mungkin seperti itu atau lebih tepatnya aku selalu melupakan tanggal merah , aku ingin setiap hari berada disekolah agar aku bisa melihatnya”
Sinta menghela nafas.
“Kau masih mengharapkan pria seperti dia,apa karena dia baru saja mengajakmu bicara hingga kau berharap kembali padanya?”
Relia memandang Sinta dengan tatapan heran, sebelum Relia bertanya Sinta lebih dahulu menjawabnya.
“Aku melihatmu kalian tadi saat aku tiba di sekolah “
Relia hanya mengangguk.
“Bahkan walaupun Rendi tidak mengajakku bicara sekalipun aku masih mengharapkannya”
“Relia, dia sudah mengkhianatimu dan dia juga sudah punya pacar kenapa kau masih mengharapkannya?”
“Aku tahu, seharusnya aku membencinya dan tidak berharap lagi padanya, tapi aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Rehan , hingga aku tidak bisa memandang orang lain selain Rehan”
“Kalau begitu kenapa kau tidak merebutnya saja dari gadis itu”
“Aku bisa saja melakukannya, tapi mungkinkah Rendi mau kembali padaku, gadis itu lebih mendekati tipe Rehan daripada aku”
“Kau sudah tahu hal itu, tapi kenapa kau masih mengharapkannya”
Relia menghela nafas.
“Relia, sudah saatnya kau belajar melepas Rehan. Kau harus move on”
“Aku tidak bisa, Sinta. Sekeras apapun aku mencoba melupakannya, pandanganku akan selalu mengarah padanya dan walaupun ada rasa sakit saat melihatnya tapi aku tidak bisa jika tidak melihatnya”
“Relia”
Sinta memandang Relia dengan tatapan iba.
Mereka tidak menyadari seseorang mendengarkan pembicaraan diantara mereka, pria bertopi itu memandang Relia dengan tatapan bersalah.Pria itu lalu pergi setelah mengetik sesuatu di ponselnya dan setelah pria itu pergi tidak lama ponsel Relia bergetar. Relia melihat pesan masuk, senyum terukir dibibirnya.
“Relia, ayo kita bertemu di cafe dekat sekolah jam setengah 11“
“Dari Rehan ? “
“Ya”
Relia memandang notifikasi panggilan di ponselnya dan dia baru menyadari kemarin Rehan menelponnya, mungkinkah Rehan akhirnya menyadari jika dia masih mencintai Relia.
“Aku harus pergi, bye “
Relia menaiki sepedanya dan mengayuh nya menuju ke sebuah Cafe. Cafe itu masih sepi mungkin karena baru saja buka.Sebenarnya masih ada waktu 30 menit sebelum waktu janjian yang di tentukan Rehan, tapi Relia tidak sabar untuk cepat bertemu dengan Rehan. Relia memilih tempat duduk dan saat itu seorang waiters datang, Relia memesan minuman dan menunggu Rehan .
30 menit berlalu tapi Rehan belum juga datang,Pelanggan cafe sudah banyak berdatangan dan Relia hanya memandang setiap orang yang masuk ke cafe, hingga akhirnya seseorang yang di tunggunya datang. Relia tersenyum dan melambaikan tangan pada Rehan saat melihat pria itu mengedarkan pandangannya.
“Kau sudah lama menunggu “ ucap Rehan
Relia menyadari suara Rehan menjadi lebih dingin padanya saat inu berbeda dari beberapa jam yang lalu.
“Ya, apa kau baru saja mengantar Grase?”
“Dia sudah pulang dari tadi, kami tidak jadi pergi tadi karena grace harus menemani ibunya”
Relia hanya mengangguk.
“Oh ya, kenapa kau menelponku kemarin?”
“Menelpon ? aku tidak menelponmu?”
“Tapi, ini nomer kamu kan?”
Relia mengambil ponselnya dan menunjukkan daftar telponnya
“Mungkin kakakku yang melakukannya, dia meminjam ponselku semalam”
“Tapi, kenapa kakakmu menelponku ?”
“Entahlah, mungkin dia ingin bicara padamu”
Relia hanya mengangguk. Dia memang cukup akrab dengan kakak Rendi, namun Relia heran kenapa Rehan masih menyimpan nomernya.
“Apa kau belum menghapus nomerku? “
Rehan hanya mengangguk.
“Kenapa?”
“Aku belum sempat menghapusnya”
“Tapi, aku akan segera menghapusnya setelah ini “ lanjut Rehan
Relia hanya terdiam dan rasa nyeri kembali dirasakannya.
“Relia, apa kau masih mencintaiku? Apa kau masih mengharapkanku ?”
Relia terdiam sesaat, dia tidak menyangka Rendi akan menanyakannya.
“Ya, aku masih mencintaimu dan aku masih berharap kau kembali padaku”
“Relia, itu semua tidak mungkin. Lupakan aku dan seharusnya kau membenciku “
“Aku tidak bisa membencimu Rehan , walaupun kau menyakitiku pun aku tidak akan bisa membencimu”
“Relia, kau pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku, seharusnya kau melepasku dan mencoba melangkah maju . lupakan aku”
Relia hanya menggeleng.
“Jangan memaksaku, Rehan . Aku tidak bisa dan tidak akan melupakanmu”
“Kenapa aku begitu keras kepala?”
“Baiklah, terserah padamu . Setidaknya aku sudah memberi tahu aku tidak akan memberimu harapan”
Rehan pergi meninggalkan Relia begitu saja. Relia masih terdiam dan memandang kepergian Rehan
“Biarkan aku masih mencintaimu dan mengharapkan mu hingga perasaanku padamu hilang sepenuhnya. Memaksa hatiku untuk melupakanmu dan menghapus perasaan ini akan semakin membuatku terluka. Biarkan aku masih tertinggal dalam kenangan kita” ucap Relia dalam hati.
Selesai.