Usiaku sudah tidak muda lagi.
Garis tipis-tipis ke keriputan di sekitar mata sudah mulai terlihat. Nafas yang ngos-ngosan berlari rebutan masuk ke pintu grand opening mall masih memenuhi relung dadaku. Untungnya, sisa tenaga mudaku masih sanggup mendorong pingsan ibu-ibu gemuk yang masuk bersamaan denganku.
Aku tinggal di Atico. Distrik kecil di negara bagian Alicad States yang terkenal dengan jeruknya yang manis.
Aku sudah menikah. Belum punya anak dan bekerja sebagai promotor online di sebuah perusahaan teknologi multinasional.
Kehidupan rumah tanggaku tidak berjalan dengan mulus. Setelah tiga bulan menikahi Jim, tepat di malam natal, aku memergoki suamiku selingkuh. Diam-diam, di dalam ruang kerja, dia sedang menggobrol video dengan seorang model negara tetangga yang seksi. Wajahnya cantik, suaranya lembut dan tubuhnya masih indah melekuk patah seperti gitar spanyol.
"Mark!"
Lelaki dewasa yang berwajah malu-malu di depan layar komputer itu langsung memucat. Tombol power di tekan dan komputer pun mati.
"Sally, sedang apa kamu disini, sayang?" Mark berdiri dari kursinya. Pura-pura membersihkan buku yang berserakan di depan keyboard komputernya.
"Mengecek keadaanmu, Mark Sayang," jawabku.
Senyum lebar terlukis indah di wajah perseginya. Penuh percaya diri, dia membalikkan punggungnya, menghampiriku nan hendak memelukku erat. Aku menolaknya.
Setelah mengetahui kejadian tadi, aku malas untuk memberinya kehangatan. Meski ini malam penuh dengan cinta dan kasih sayang. Aku masih sangat kesal mengutuk kelakuan Mark.
"Sally, ayolah..," bujuknya mesra. Kedua lengan tangannya masih memaksakan kehendak memeluk tubuhku.
"Cukup, Mark!" menepis dua tangan lancang itu.
"Kenapa, Sal?" Mark menatap heran dengan sikap dinginku. Tidak biasanya, aku mengacuhkannya di malam perayaan.
"Ibu dan keluarga besarmu akan datang beberapa menit lagi ke rumah. Kalau kita habiskan waktu berlama-lama di kamar, siapa yang akan menyajikan kue jahe dan sirup maple bagi mereka?" tersenyum ke arahnya dengan semangat.
"Kamu sangat benar, sayang."
Mark benar-benar serius soal perselingkuhannya. Mendorongku keluar dari kamar, menutup pintunya rapat dan memutar instrumental menenangkan bertema malam natal dari youtube. Pikirnya, aku tidak dengar suara mesranya merayu model asing yang cantik itu? Salah besar.
Kupasang dua tangkai earphone ponselku bergantian di kedua lubang telinga. Kuputar aplikasi dengarkan aku dan, Bom! aku mengetahui semua isi pembicaraan Mark dan selingkuhannya.
TING!
TONG!
Suara bel rumah berdering dengan keras sampai ke lantai dua. Mertua, para keponakan dan pasukan cucu kecilnya sudah menunggu di depan pintu dengan bahagia. Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan menantunya yang baru menjalani pernikahan seumur jagung ini.
"Selamat natal, Sally!" Ayah mertua membuka kedua tangannya lebar-lebar. Penuh senyum lebar dan semangat natal yang tinggi. Ia memelukku dengan erat di depan pintu rumah.
"Selamat natal juga, ayah mertua," jawabku menahan eratnya pelukan yang membuat nafasku sesak.
"Sudah cukup, Carl!" Ibu mertua menepuk punggung suaminya dengan keras. Pelukan semangat natal yang diberikan padaku itu langsung meregang.
Ayah mertua langsung mengganti topik sambutannya. Para pasukan anak kecil yang berbaris di belakangnya seperti kawanan anak anjing, melesat cepat memasuki rumahku dengan ricuh seperti penjualan barang diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan.
Kotak kado yang tertata rapi di bawah pohon natal di ruang tamu hangus tak tersisa. Anak-anak belasan tahun itu merobek kertas kadonya dengan liar, menyobek-nyobek kertasnya menjadi kecil dan membakar kotak kadonya ke perapian sampai rumahku menjadi panas.
Duduk termenung dengan kelakuan gila anak-anak, aku menatap ke samping kanan, ayah dan ibu mertua sedang adu rayu di depan kulkas. Mereka tak peduli dengan keadaan sekitar kecuali beredebat bagaimana rasa kue jahe buatanku.
Melihat kemesraan yang erat di malam natal, aku jadi iri.
Kutatap bintang natal terang yang bertengger di puncak pohon. Aku memohon setulus hati pada santa agar aku bisa mendapat kesempatan kedua menjalani kehidupanku. Entah itu berubah haluan karir atau memilih lagi keluarga mertua baru yang lebih baik lagi. Aku mau santa mendengarkan hati seorang istri.
Tepat jam dua belas malam, jam berdentang, malam perayaan natal berada di puncaknya, aku terbangun di sebuah ruang kamar besar. Gaun piyama satin warna hitam menempel di tubuhku. Dua gelas sampanye di samping tempat tidurku dan seorang laki-laki baru saja masuk membawakan dua mangkuk ramen hangat ke atas tempat tidur.
Laki-laki berkemeja putih, celana hitam panjang dan bersepatu fantofel itu begitu asing. Raut wajah ceria, antusiasnya menyambut kebangunanku dan hangatnya pelukan erat yang dia berikan malam ini, aku secara singkat teringat pada perlakuan ayah mertua yang terkesan berlebihan.
"Selamat natal, Merilin!"
Merilin?
Aku kira nama itu adalah nama ibu mertuaku. Ibu Mark yang dengan penuh kesabaran mengantarkanku di program kehamilan dua minggu yang lalu di rumah sakit.
Mengapa tiba-tiba laki-laki ini memelukku dan memanggilku dengan nama Merilin? Apakah kepalanya baru saja terbentur.
Memandangnya penuh kebingungan, aku menyantap satu mangkok ramenku dengan semangat. Berusaha mendengarkan ceritanya, namun tak berusaha menyela ceritanya, aku mencoba untuk memahami siapa laki-laki ini.
"Merilin, setengah jam lagi, puncak natal tiba. Bagaimana kalau kita pergi ke alun-alun sekarang?" Dia meringkus mangkok kosong yang kupangku. Meletakkannya di meja. Kemudian, bersigap mengambil jas yang menggantung di samping lemari.
"Untuk apa kita ke alun-alun untuk merayakan natal?" Aku bertanya penuh rasa penasaran padanya.
"Kamu lupa ya? Malam ini 'kan malam kencan kelima kita. Kamu sendiri yang bilang begitu."
"Aku?!" menunjuk diriku sendiri.
"Iya, Marilin."
Berpakaian seadanya, aku keluar dari kamar hotel dengan coat panjang merah selutut yang elegan. Rambut panjang tergerai sepunggung, anting-anting mutiara emas di kedua telingaku dan sepatu merah yang indah. Aku pergi menemani laki-laki asing ini ke alun-alun kota.
Katanya, di malam natal, kota akan penuh dengan keceriaan. Orang-orang akan memeriahkan suasana dengan kembang api, anak-anak mengelilingi santa dan penjual makanan ramai di kerubuti warga kota yang lapar.
Seseorang tak sengaja memberiku iklan kertas kedai makannya di sekitar alun-alun kota. Tertulis di sana, kedai O'Real milik Pak Ray yang menjual pancake dan aneka menu sarapan di Atico akan melakukan Grand opening esok hari tanggal 26 Desember 1986. Itu tahun dimana ayah dan ibu mertua mendapatkan momen mereka.
Jangan bilang lelaki hangat di sampingku ini adalah, "Carl! Apa kabar?! Lama tak jumpa, Bro." Seorang laki-laki bertopi musim dingin yang berpapasan dengannya menyapanya dengan akrab. Mendengar namanya disebut, aku langsung paham kalau dia adalah ayah mertuaku. Ayah Mark. Si lelaki buaya yang kunikahi tiga bulan lalu.
Usai berbincang dengan temannya, Carl membawaku duduk bersantai di bawah pohon miatletoe. Kata mitos di daerah sekitar Atico, jika ada sepasang kekasih duduk berdua di bawah naungannya, mereka harus berciuman.
Benar saja, ayah mertua versi mudaku langsung menciumku mesra. Tanpa ijin dan pembukaan yang bertele-tele, dia mencium mesra pipi kananku dan berkata, "Marilin, aku tau aku tak pantas. Kita sudah lama bersama-sama. Aku merasa cocok dan tak mau berpisah denganmu. Jika kamu tak keberatan, maukah kamu menikah denganku, Marilin?"
Aku ingin menampar wajah mertuaku yang tampan. Kelakuan ini begitu sangat menyulitkanku, disamping masih berstatus menjadi istri Mark, di samping itu pula, aku menjadi calon istri dari ayah mertua.
Karena tak sanggup menghadapi situasi ini, aku berlari menuju ke pohon natal terbesar di tengah alun-alun. Berdoa se tulus mungkin agar santa mendengarkan doaku lagi.
"Oh, santa!" Kulipat kedua tangaku menjadi satu di depan mulutku. Kedua kakiku berlutut di depan pohon natal sembari memanjatkan doa-doaku. "Aku tidak menginkan ini. Memang benar, aku ingin kehidupan yang lebih baik dari hidupku sebelumnya agar aku bisa melupakan rasa sakit hatiku dari terkuaknya perselingkuhan Mark. Oh, Santa! Tolong kembalikan aku ke masa itu. Aku masih mencintai Mark."
Dalam lirnangan air mata dan penyesalan, kututup kedua mataku perlahan-lahan. Berharap agar doa ini terkabul dan menjadi nyata.
"Sally!"
"Sally!"
"Bangun, sayang!"
Sayup-sayup, kudengar suara memanggil namaku pelan. Nadanya terdengar khawatir. Sangat cemas hingga saat kubuka kedua mataku, Mark ada di sana, menatapku cemas bersama dengan ayah dan ibu mertua yang mengerumuniku dengan belasan anak-anak yang ikut-ikutan melihatku.
"Oh, Sally. Syukurlah, kamu tidak apa-apa, sayang!"
Dengan hati-hati, Mark membantuku berdiri. Ia memapahku dengan hati-hati ke sofa. Kepala belakangku terasa ngilu. Pusingnya masih terasa hebat sampai ke depan. Seperti baru saja terjatuh dari tempat yang tinggi.
"Marky, apa yang baru saja terjadi padaku?" meletakkan kompres es di belakang kepalaku. Ibu mertua baru saja bergabung sambil membawa minyak gosok dan kompres es dari dapur.
"Kamu terjatuh dari tangga, sayang. Kakimu terpeleset selai dan, aku kira sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kalau itu sampai terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Dengan sedih dan bercampur malu, Mark mengatakan tentang ketertarikannya dengan wanita lain. Mereka kenal satu sama lain lewat media sosial.
Aku memergoki perselingkuhannya di ruang kerja tepat di hari jadi peringatan lamaran ayah ibunya. Hari natal dan hari bahagia ayah ibu mertua.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Mark?!" Ibu mertua memukuli anaknya membabi buta.
"Maaf, bu," meringkuk membentuk sangkar perlindungan. "Aku melakukannya untuk Sally."
Beberapa menit kemudian, pintu rumahku didobrak belasan orang. Semuanya adalah sahabat dan teman kerjaku. Salah satunya ada wanita selingkuhan Mark. Dia datang menghampiriku dengan sebuah surat.
Tertulis di sana, hasil tes dari rumah sakit kota, Dokter Wayne secara resmi memberitahukan tentang kehamilanku. Positif. Usia kandungannya sudah tiga minggu. Di bawahnya ada catatan agar aku tidak curiga pada tingkah laku suamiku, terutama pada wanita cantik yang memberikan surat ini padaku. Sebab, bagaimana pun juga, ia adalah dokter kandungan, istri Dokter Wayne yang akan mengontrol dan menjaga kesehatan kandunganku sampai melahirkan.
"Apa ini benar, Mark?"
"Itu benar, sayang."
Pelukan erat darinya menghujaniku dengan semangat. Sontak dan dengan begitu saja, aku mendapat kebahagian lagi. Berlipat ganda dan lebih terasa hangat dari hari biasanya.
Terima kasih, Santa!
Aku menatap gambar gantungan santa di pohon natal rumahku.
------ SELESAI ------
Notes:
Selamat natal bagi teman-teman yang menjalankan!