Aku tidak tau ini dimana, mungkin dihutan. Tetapi setauku tadi aku tidur dikamar. Ku lihat sekeliling dan melihat pohon pohon ditutupi kabut dan kurasa ini sedang mendukung karena kau tidak merasakan sinar matahari disini. Aku melihat ada perempuan yang berdiri didekat pohon yang tua dan aku mendekat padanya.
'hei kenapa kamu disitu?'
'aku ?'
'iya kamu, siapa lagi?'
'kowe iso nonton aku?'
Seketika aku tersadar dan melihat ke tanah dan melihat perempuan itu tidak memiliki kaki. Aku langsung merinding. Dia tersenyum tetapi lama-lama senyumnya mulai melebar membuatku sangat takut. Perempuan itu mendekatiku dan aku mundur perlahan. Tangannya berubah menjadi lebih panjang dan meruncing. Darah muncul di matanya dan matanya menjadi putih pucat. Perempuan itu masih mendekatiku. Tetapi, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dan aku langsung tersadar menengok orang disebelah kiriku saat aku menengok ke perempuan itu dia sudah menghilang. Aku menghela nafas perlahan.
"Lain kali lihatlah dengan teliti sebelum menyapa" ucap laki-laki itu langsung meninggalkanku.
Aku langsung melihatnya tetapi hanya bisa melihat punggungnya.
"Kenapa kamu selalu menolongku, siapa kamu?" Ucapku padanya dan diapun berhenti.
"Aku? Arga" ucapnya melanjutkan langkahnya.
"Makasih mas Arga" ucapku padanya tetapi dia berhenti lagi.
"Aku akan datang sesekali" ucapnya membuatku tersadar. Bukankah ini mimpi?
Saat ingin ku lihat lagi Arga menghilang. Tiba tiba aku terbangun dengan keadaan kamarku yang gelap dan hujan yang cukup deras. Aku memikirkan nama itu. Bukan 1 atau 2 kali aku memimpikan orang yang sama dan baru kali ini aku menanyakan namanya. Aku tidak pernah memiliki teman atau kenalan bernama "Arga". Aku sangat bingung dan setiap aku bermimpi buruk dia selalu datang membantuku.
Aku segera melihat handphone ku melupakan dia dan melihat sudah jam 5 pagi. Aku segera mandi dan masak makanan untukku sarapan.
Aku melihat sekeliling tiba-tiba diarah dapur terdengar suara barang pecah. Akupun segera berjalan kearah dapur dan yang kulihat hanyalah kucing hitam yang sedang mengambil sisa ayamku. Aku melihat jendelaku terbuka. Aku segera menutupnya dan mengambil kucing itu dan duduk diruang tamu. Aku melihatnya makan dan sesekali mengelus bulunya. Ya, aku berencana untuk merawatnya karena dia sangat imut. Setelah selesai makan kucing itu menghampiriku dan duduk dipangkuan ku. Aku melihat jam masih jam 6 tetapi hujan yang sangat deras. Aku memakan sereal dan susu sambil melihat kearah TV melihat berita cuaca hari ini.
Aku melihat ke arah jendela, hujan masih sederas saat aku bangun. Aku masih memikirkan perkataan laki laki itu. Hari ini kebetulan libur dan aku memutuskan untung memandikan kucing ini. Aku segera mematikan TV dan memandikan kucing yang kunamai blacky.
Kucing ini awalnya tidak mau ku mandikan tetapi entah kenapa saat dia berhasil menggores tanganku dan dia tiba tiba melihat ke arah pojok kamar mandiku dan tenang. Aku segera memakaikannya handuk dan membawanya kekamar. Di kamar aku mengeringkan bulu-bulunya dan menyiapkannya tempat tidur kecil. Aku tiba tiba mengantuk setelah memandikan si hitam itu. Saat aku kembali ke kasur aku merasa sangat mengantuk.
'apa ini karna hujan deras dan hawa dingin ?' ucapku dalam hati. Aku segera memakai selimut dan meringkuk dan entah kenapa semua menjadi gelap.
Tanpa disadari, saat Ara tertidur kucing itu menggeram melihat sosok yang sangat menakutkan dengan badan yang tinggi dengan warna mata merah, kukunya sangat tajam dan terdapat banyak darah ketika lidahnya menjulur ke lantai. Makluk itu mulai memasuki kamar tersebut dengan pelan membuat si kucing naik ke kasur untuk menghalangi makluk itu melukai tuannya.
"Kamu tidak perlu melawannya, biar aku saja yang menjaga tuan barumu" ucap laki laki yang entah darimana muncul dan duduk disebelah Ara. Dia mengelus kepala Ara dengan sayang dan melihat ke arah makluk itu dengan tatapan tajam. Makluk itu semakin menjadi dengan cepat menyerang laki laki itu dengan kekuatan penuhnya tetapi laki-laki itu langsung menarik lidah makluk itu hingga putus membuat makluk itu pergi menembus tembok. Kucing itu masih menggeram ke arah laki-laki itu.
"Tenang aku bukan lawanmu, aku melindunginya sejak kecil. Aku akan mengunjungi tuan barumu kamu tidurlah disampingnya" ucapnya pada kucing tersebut dan ajaibnya kucing itu menuruti perkataan laki-laki itu.
-Di mimpi
'hah?!, Bukannya ini di hutan yang sama seperti kemarin?' ucapku kaget.
Aku melihat sekeliling berjalan dengan hati-hati takut melihat seperti yang kemarin. Hutan ini sering sekali aku impikan. Aku tidak tau kenapa seperti itu, aku melihat beberapa anak kecil sedang bermain. Kali ini aku tidak menyapanya. Aku sangat trauma karena kemarin.
"Bagus, dia mengingat kata-kataku" ucap laki laki itu masih memperhatikan Ara yang terdiam mematung karena takut dibalik pohon.
Ggrrrr ggrrr
'kenapa kamu tidak menemuinya' laki laki itu masih melihat ke arah Ara.
'aku tidak ingin dia melihatku untuk saat ini' ucapnya pada hewan disampingnya yaitu harimau bercorak hitam dan putih.
'kamu menjaganya dari dulu' ucap harimau itu membuat laki laki itu menatap padanya. Harimau itu tertunduk karena takut.
'Ya memang aku menjaganya semenjak kejadian itu' ucapnya pada harimau itu.
Laki laki itu meletakkan tangannya ke pohon membuat harimau itu bertanya dalam hati.
'belum saatnya dia melihat wajahku' ucapnya pada harimau itu.
'sampai kapan kamu membawanya ke dunia ini? Bukankah kalian bisa bertemu didunia kalian?' ucapnya membuat laki laki itu menatap Ara dengan tatapan sayu.
Laki laki itu mengacuhkan makluk di sampingnya.
Arga masih mengawasi Ara dari jarak jauh. Ara yang terlihat capek duduk didekat pohon yang lumayan besar.
'capek sekali, masa mimpi bisa bikin orang kek gini si' ucap Ara masih mengelap wajahnya yang berkeringat. Arga yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Dia masih melihat Ara diatas pohon.
Ssrkk sssrrkk
Pergerakan aneh dari balik rumput yang tinggi itu membuat Ara siaga. Dia sangat takut jika makluk aneh itu yang muncul lagi. Suara itu semakin mendekat kearahnya diikuti dengan rumput yang ikut bergoyang membelah rerumputan itu dan muncullah seekor ular putih. Ara mengela nafas lega yang keluar bukan makluk menyeramkan dan hanya ular kecil. Dia mencoba memegang ular itu dengan perlahan. Tidak ada perlawanan dari ular itu malah ular itu mendekat kearahnya dan melingkarkan badannya ke tangan Ara. Ara mengelus tubuh ular putih itu. Ular putih tanpa noda dan memiliki mata emas unik sekali dia duduk kembali masih memegangi ular itu dengan senang.
"Kalau dipikir-pikir jika aku memang ular didunia nyata mungkin tidak akan sejinak ini dan akan menyerangku bukan" ucap Ara masih mengelus kepala ular itu.
"Tapi mimpi macam apa ini yang membuatku berkeringat dan capek dan tempat yang sama terus" ucap Ara lagi sedikit mengeluh ketika melihat sekeliling hanya ada pohon yang tampak menyeramkan dan ditutupi kabut. Bahkan tidak ada sinar matahari hampir seperti warna sephia.
Sssrrrkk srrrkkk
Ada pergerakan lagi membuat Ara terduduk kali ini dia melihat bayangan hitam dibalik pohon itu.
Ara mengambil ranting kayu untuk berjaga-jaga. Bayangan itu mendekatinya dengan langkah normal. Semakin mendekat semakin terlihat postur tubuh mirip manusia atau mungkin memang manusia sepertinya?
Yang pertama kali nampak adalah kaki orang itu yang menempel pada tanah dan dedaunan yang kering. Kali yang terlihat keriput sedikit kotor karena tanah dan tangan yang membawa tongkat kayu dan mulai nampak pakaian adat Jawa kuno yaitu kemben yang sangat kuno yang menutupi dari bagian dada hingga kakinya. Tidak ada perhiasan dan hanya sanggul tunggal kecil dengan rambut yang memutih. Tangannya keriput membawa tongkat semakin mendekat ke arah Ara. Kali ini wajahnya terlihat keriput tetapi masih terlihat cantik. Nenek itu tersenyum ke arah Ara membuat Ara tersenyum canggung.
"Walah, kok ana gadis ayu nang kene. Sapa jenengmu nduk?(wah, kok ada gadis cantik disini. Siapa namamu nak?)" Ucap nenek itu mendekat ke arah Ara.
"Nami kulo Ara Mbah ( nama ku Ara nek)" ucap Ara membuat nenek itu kaget.
"Ati-ati nduk neng kene. Ojo asal nyekel kan njipuk barang nang kene. Ula seng kok cekel kui udu ula biasa lan iso njagani kowe nang kene, tapi tetep Ati-ati (hati-hati ya nak, jangan asal megang barang disini ular yang kamu pegang itu bukan ular biasa dan bisa menjaga kamu disini, tapi tetap hati hati" ucapnya sambil tersenyum.
Nenek tersebut meninggalkan Ara dan pergi meninggalkan Ara. Ara melihat ular tadi masih tertidur di tangannya.
Kemudian tanpa ada aba-aba, Arga sudah dibelakang Ara membuat Ara kaget.
'jangan menengok kebelakang' ucapnya membuat Ara semakin kesal.
"Tapi kenapa, kamu Arga?" Ucap Ara membuat Arga sedikit tertawa.
"Ya, apa kamu merindukanku ?" Ucapannya membuat Ara memutar bola matanya. Ara masih mengelus kepala ular itu dengan sayang. Merasa didiamkan Arga mendekat hingga punggung Ara menyentuh dada bidangnya. Ara langsung merinding merasakan aura gelap dibelakangnya.
'apa kamu takut?' ucapnya dipikiran Ara. Tangan Arga menyentuh tangan Ara yang memegang ular itu. Tanpa aba-aba ular itu menjatuhkan diri dan badannya tiba-tiba membesar. Mulanya besar se lengan tangan Ara kemudian semakin membesar hingga sampai ukuran pohon kelapa ular itu semakin membesar hingga kepalanya sebesar tinggi badan Ara yang hanya 169cm. Ara syok karena mata ular itu melebihi tangannya. Keringat mulai nampak di seluruh tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat melihat ular raksasa yang bisa saja langsung memakannya ketika dia membuka mulutnya. Tetapi ular itu hanya bergerak. Matanya melihat kearah ara dan mencoba mendekat ke arah tangan Ara. Ara memberanikan diri menyentuh kepala ular itu dia berjinjit dengan kaki gemetaran. Saat memegang ular itu dia merasakan kenyal dibagian kepala ular itu. Ular itu menggoyangkan kepalanya seperti memberi isyarat agar Ara mengelusnya tanpa takut. Dengan sisa keberaniannya dia mulai mengelus kepala ular itu walaupun dengan degub jantung yang sangat kencang.
Arga yang melihatnya hanya tersenyum.
'kamu harus terbiasa' ucapnya dalam batin Ara membuat Ara menoleh ke arah Arga dengan tatapan beringas.
"Apa maksudmu" ucap Ara dengan kesal. Dia masih mengelus kepala ular raksasa tadi dengan tangan gemetar.
"Cepat lambat kamu akan sering kesini denganku" ucapnya membuat Ara semakin takut.
"Hei jangan bercanda, kamu kenapa menyuruhku ke tempat menyeramkan ini" ucapnya membuat ular dan Arga sedikit kaget. Tetapi Arga menormalkan lagi wajahnya dan tersenyum.
"Apakah kamu tidak suka disini?" Ucapnya membuat Ara langsung menjawab.
"Aku tidak suka disini. Kalau bukan karna ular ini aku tidak akan mau kesini disini sangat mengerikan aku benci tempat ini" ucapnya membuat Arga memasang wajah tajam.
"Baiklah" ucapnya membuat Ara bingung tetapi kemudian Ara terbangun dengan jantung yang sakit. Dia merasa kehilangan sesuatu yang berharga baginya tapi dia tidak tau apa itu. Dia melihat kucing hitamnya tertidur di atas tubuhnya.
Ara mendengar getaran handphonenya .
26 panggilan tak terjawab
50 pesan masuk
Ara melihat satu persatu pesannya. Keluarganya panik Ara tidak menjawab panggilannya sejak 2 hari lalu.
Awalnya Ara hanya biasa tetapi dia mengernyitkan dahinya. Hah?
Dia melihat kalender handphonenya dan melihat ini hari Rabu. Sedangkan kemarin baru hari Minggu.
"Masa iya aku tidur 2 hari lebih?" Ucapnya sendiri. Kucingnya juga terlihat kelaparan tetapi dia masih setia menunggu Ara untuk bangun.
Dia membawa kucingnya kearah dapur dan memasak makanan untuknya dan kucingnya. Ara mencoba menelfon keluarganya dan begitu keluarganya mengangkat telfon nya Ara hanya terheran.
"Kamu kemana, 2 hari yang lalu kamu tidak ada dirumah loh. Ibu ayah dan adek kamu nyariin. Kamu dimana si nak?" Ucap mama Ara dengan panik.
"Loh mah, mama ngga cek kamarku?" Ucap Ara membuatnya makin dimarahi oleh mamanya.
"Rumahmu kosong hanya ada kucing hitam tidur di kasurnya. Sudah mama usir berapa kali tapi dia masih disitu" ucapnya membuatku semakin aneh.
"Loh tapi, " ucap Ara langsung dihentikan mamanya.
"Kamu sekarang sudah dirumah kan? Mama , papa dan adek kamu akan datang. Jangan kemana mana" ucapnya membuat Ara semakin mengernyit.
Dia melihat chat yang lainnya teman kantornya menanyakan kenapa Ara absen 2 hari. Dia semakin bingung.
'bukannya aku tidur? Dan bermimpi dihutan itu?' ucapnya tetapi dia masih positif thinking mamanya hanya prank dia dan dia hanya tertidur 2 hari.
Setelah kejadian yang membuatnya sedikit takut dan mamanya yang memarahinya habis habisan karena dia menghilang bahkan dirumahnya sendiri cukup membingungkannya hingga saat ini. Teman temannya bahkan tidak percaya ceritanya dan lebih memilih mengabaikannya karena Ara dianggap pembohong. Keluarganya pun menganggapnya aneh ketika dia bercerita tentang itu.
Ara semakin hari semakin takut karena setiap dia bermimpi buruk tidak ada lagi Arga yang membantunya. Dan setelah mimpi itu Ara merasa rumahnya tidak senyaman dulu. Memang dulu sedikit menyeramkan tetapi ini berbeda, semakin hari semakin banyak hal yang tidak bisa dipikir dengan logika. Kucingnya sering sekali saat malam mengeong sangat kencang dan sampai berlindung ke dekapan Ara karna ketakutan. Ara tidak bisa melihat apa apa tetapi dia juga merasakan aura jahat dirumahnya. Bahkan disiang hari rumah Ara yang dulunya tenang dan damai malah berubah 180°. Barang-barang seperti piring dan gelas tiba-tiba jatuh tanpa ada angin. Kompor menyala dimalam hari bahkan TVnya kadang menyala hingga mengganti saluran sendiri padahal remote dipegang oleh Ara dan dia tidak menyentuh apapun. Dia semakin takut tetapi dia mulai mengingat perkataan Arga padanya sebelum ini terjadi 2 bulan yang lalu.
"Baiklah"
Kata terakhir dari Arga sebelum semuanya menghilang dan juga suara yang sedih membuatnya semakin bersalah, dia sangat merindukan Arga walaupun Ara tidak pernah tau siapa dia. Tapi Ara masih mengingat aroma badan dari Arga.
Prang
Bunyi barang jatuh dari dapur dan kali ini Ara hanya mendiamkannya, apa benar Arga yang selama ini ikut melindunginya?
Suara semakin menjadi ketika tv kembali menyala sendiri. Dia disofa hanya diam karena takut sedangkan ini masih siang hari tetapi lagi lagi cuaca sedang tidak mendukung dengan hujan yang deras dan tidak ada matahari. Kucingnya hanya meringkuk di pangkuannya karena takut. Dia menyadari bahkan rumahnya jauh dari rumah lainnya. Dibelakang rumahnya sudah masuk ke hutan.
Ara tersadar akan sesuatu, dia segera kekamar dan mengemas barangnya dengan terburu buru. Dia memasukkan kucingnya kedalam tas khusus kucing dan berlari ke luar rumah. Saat dia sudah didepan pintu tiba-tiba pintu terkunci dan kucingnya didalam tas mengeong sangat keras. Dia memberanikan menatap belakangnya. Perempuan yang dia mimpikan dan banyak makluk-makluk yang menyerangnya ada didepannya. Ara ketakutan pintu tidak bisa dibuka dan makluk itu mulai mendekat padanya seketika pikirannya teralih pada Arga. Sudah terlambat karena dia tidak akan kembali padanya. Makluk itu mendekatinya dan perlahan-lahan membesar. Wujud aslinya perlahan nampak dengan mata merah dan kuku tajam, muka nya koyak dan lidah yang menjulur ke lantai dengan banyak darah diseluruh tubuhnya. Bahkan ada makluk yang besar bertubuh hijau dengan tangan yang besar membuatnya takut giginya sangat runcing.
Ara memejamkan matanya, dia Tidka berani melihat ke depan. Dia sudah merasakan disampingnya sudah ada makluk tersebut. Telinganya sudah mendengung dari tadi diiringi dengan suara makluk itu yang nyaring.
'hihihi'
'tidak
Akan
Ada
Yang
Menolongmu
Lagi' ucap perempuan itu terdengar jelas di telinga Ara. Jantungnya semakin berdegup dikelilingi oleh makhluk itu. Kupingnya semakin berdengung, oksigen mulai menipis diganti dengan hawa panas dan jantungnya semakin cepat berpacu. Tubuhnya seperti disayat oleh makhluk itu, lengan dan kakinya mulai terasa perih. Kepalanya sudah sangat pusing dan oksigen semakin menipis. Tetapi
'aku sudah lama tidak kesini dan kalian berani mengganggunya' ucap seseorang dengan suara serak membuat semua yang ada disana menoleh kecuali Ara. Dia sangat takut hingga tidak menyadari ada suara lirih dari seseorang.
Telinganya masih berdengung hebat. Tetapi seketika menjadi sepi setelah ada teriakan dari perempuan yang dia yakini perempuan yang tadi. Dia masih Tidak berani membuka matanya dan tiba tiba ada yang menariknya dan memeluknya.
Perasaan hangat ini seperti saat rumahnya dulu. Pelukan itu sangat nyaman hingga dia lupa siapa yang tengah memeluknya saat ini. Laki laki itu mengelus rambut Ara dengan perlahan membuat Ara tersadar dan mendorong laki-laki itu menjauh.
Ara melihat laki laki itu, wajahnya sangat dekat dengan Ara hingga Ara dapat merasakan hembusan nafas laki-laki itu. Sekarang giliran laki laki itu yang mendorong Ara perlahan. Ara sekarang melihat jelas laki-laki yang memeluknya tadi.
Kulitnya sawo matang dan rambutnya panjang se bahu, Dadanya bidang dan bulu matanya sangat lentik. Ara tertarik dengan alisnya yang sangat tebal dan juga bibirnya yang tipis itu.
Tanpa sadar Ara menyentuh alis laki laki itu dan laki laki itu hanya tersenyum.
Dia menarik Ara dan mendudukannya dipangkuan ya. Ara masih tersihir oleh alisnya dan masih menyentuhnya membuat laki laki itu tersenyum dan menarik pinggang Ara mendekat kearah wajahnya.
"Sudah puas hmm?" Ucapnya membuat Ara tersadar dan menggelengkan kepalanya.
Dia sangat malu wajahnya memerah dan akhirnya menundukkan wajahnya karena ditatap oleh orang itu.
Perasaan familiar dan tenang ini dia peroleh dari Arga, tetapi mana mungkin laki laki itu bisa disini. Bukannya dia hanya datang saat dimimpi?
"Hmm, kamu memikirkan dunia itu?" Ucapnya membuat Ara terkaget dan melihat kearah laki laki itu. Bagaimana dia tau, Ara hanya memikirkannya dalam hatinya saja.
"Kamu siapa?" Ucap Ara
Laki-laki itu mengelus wajah Ara dengan pelan. Melihat mata gadis itu.
"Arga" ucapnya pelan dengan suara serak membuat Ara yang duduk di pangkuannya tiba-tiba melongo. Bulu kuduknya merinding, dia menatap laki laki itu yang masih memegang wajahnya dan pinggangnya.
"Arga?" Ucap Ara membeo. Otaknya tidak bisa berfikir lagi, bukankah Arga hanya datang dimimpi? Dia kembali memikirkan apakah dia sekarang ada dimimpinya?
"Hei hei jangan berfikir begitu keras" ucap Arga langsung memeluk Ara dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku hingga membuatmu kebingungan seperti ini. Memang benar harusnya aku tidak pernah datang untukmu" ucapnya membuat Ara langsung reflek menutup mulut Arga.
"Tidak, jangan katakan itu lagi. Aku hanya tidak mengerti selama ini aku hanya dimimpi?" Ucap Ara membuat Arga tersenyum.
"Mungkin" ucapnya lagi.
"Tapi, " ucapan Ara kembali dikentikan oleh Arga.
"Kamu akan tau nanti ketika kamu membuka pintu rumahmu" ucapnya membuat Ara semakin mengernyit.
"Kamu akan ikut aku?" Ucap Ara membuat Arga menggeleng.
"Tidak ada yang bisa keluar dari sini Ara" ujarnya lagi.
"Ini dimana?" Ucap Ara dengan takut.
"Kamu akan tau nanti" ucap Arga membuat Ara semakin penasaran. Dia memeluk Arga dengan sangat kencang.
"Ada yang harus aku katakan padamu sebelum kamu pergi ke pintu itu.
Ara melirik pintu itu dengan kaget. Tiba-tiba pintu itu menjadi warna putih terang. Dia kembali melihat ke arah Arga.
"Tugasku sudah selesai Ara, kamu tidak akan sakit lagi" ucapnya membuat Ara semakin bingung.
"Aku akan datang menghampirimu kelak, jangan lupakan aku" ucapnya menggendong Ara sampai ke pintu dan mendorongnya pelan. Ara melihat Arga yang tersenyum melambaikan tangannya merasa sedih sekaligus senang.
Pintu tertutup
"Tuan, Ara sudah pergi" ucap harimau itu yang tiba tiba berubah menjadi manusia.
"Akhirnya dia bisa sadar" ucapnya pada orang itu.
"Tapi tuan, anda bukannya sangat mencintainya?" Ucap laki-laki itu dengan khawatir.
"Ya aku dan Ara memang tidak akan bisa bersatu, kami berbeda" ucap Arga pada orang itu.
"Tapi tuan, " ucap laki laki itu terpotong ketika Arga sudah
" Dia tidak akan merasakan sakit lagi sekarang" ucapnya pad alami laki itu dan pergi menuju bayangan gelap. diikuti dengan hancurnya rumah itu secara perlahan.
ditempat lain.
Suara monitor jantung sudah nyaring dengan grafik yang lurus menandakan orang yang ada di ruangan itu meninggal dunia. orang disekitarnya mulai panik, disana terlihat suster dan dokter berlarian panik. salah satu dokter sudah lemas dia membuka maskernya. dia melihat tubuh itu, tubuh Ara pasien yang sangat ceria dulunya. laki laki itu menangis dalam diam melihat teman-temannya mencoba menolong Ara. ya laki laki itu mirip dengan wajah ayah Ara didalam mimpi dan disusul oleh wanita yaitu suster senior yang mirip dengan ibu Ara dalam mimpi dan yang lainnya seperti adik laki laki Ara. mereka menangis dalam diam mencoba menyelamatkan Ara berharap dia akan bertahan. tetapi Tuhan berkehendak lain. dia tidak selamat.
berita muncul dari TV menampilkan anak yang selamat karena dianiaya keluarganya sendiri telah meninggal dunia. begitu melihat tv yang ada didalam ruangan itu, pasangan suami istri itu terduduk lemas bersalah atas kematian anaknya.
pintu dibuka dan mereka bersiap untuk di hukum mati karena mencoba membunuh anak kandung mereka dan melakukan tindakan yang melawan hukum dengan menjual anaknya sendiri.
dilain tempat.
para dokter dan suster akhirnya melakukan pemakaman. mereka sangat kehilangan karena kehilangan anak itu. dia harusnya berusia 20 tahun sekarang m, tetapi semenjak 5 bulan lalu dia sudah koma. padahal dulu dia masih bisa tertawa dengan para dokter dan suster dan seperti tidak ada masalah yang terjadi.
dan disinilah batu nisan yang bernama Tiara Sukmajaya dengan foto dirinya yang tersenyum bahagia tertidur dikasur pasien yang sedang membawa kue ulang tahunnya.
setelah semuanya pergi, ada seorang laki-laki membawa payung hitam. dia meletakkan bunga Lily putih dan tersenyum menatap bingkai foto itu.
"kamu sekarang sudah tidak sakit lagi Ara" ucap laki laki itu dan pergi meninggalkan pemakaman itu menggunakan mobil hitam.