Pada saat itu hari cerah seperti biasanya, tampak seorang pemuda berlari mengenakan seragam sekolah.
"Huff, huff, aku akan terlambat." Katanya dengan terengah-engah.
Saat dia sedang menyebrang jalan sambil berlari, pemuda tersebut tidak memperhatikan kalau ada mobil yang melaju ke arahnya.
Cittt!!
Beruntung pengemudi mobil tersebut dengan cepat menginjak rem, akhirnya mobilnya berhenti dan tidak mengenai pemuda tersebut.
Pengemudi mobil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan berteriak dengan marah, "Hei, Berhati-hatilah jika menyebrang!"
Pemuda itu membungkuk sedikit dan meminta maaf dengan sopan, "Maafkan saya tuan, saya sedang terburu-buru."
Pemuda tersebut segera berlari setelah meminta maaf. Melihat itu, pengemudi mobil bergumam dengan marah, "Dasar anak-anak zaman sekarang!" Kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
Pemuda tersebut sudah berlari sangat jauh, dan sekarang dia tiba disebuah bangunan yang sangat besar. Didepan gerbang bangunan itu tertulis [Maestro Highscool].
Ya, bangunan itu adalah sekolah menengah atas yang paling terkenal dan bergengsi di kota tersebut.
Banyak anak-anak dari berbagai kalangan ingin masuk sekolah tersebut, namun banyak juga dari mereka yang gagal.
Bagaimana tidak, sekolah itu hanya menerima murid yang berbakat saja. Tidak peduli murid itu orang kaya atau miskin sekalipun, jika murid itu bisa menyelesaikan ujian masuk yang diadakan oleh sekolah tersebut, maka dia lulus dan bisa menjadi murid di Maestro Highschool.
Dan pemuda yang tadi berlari bernama Rio, dia merupakan murid tahun ke-3 dan akan segera lulus dalam satu semester kedepan.
Rio adalah anak dari orang biasa, orang tuanya adalah petani di desa. Dan dia tinggal sendiri di kota untuk menempuh pendidikan.
Dia mengontrak di sebuah kos-kosan sederhana tidak jauh dari sekolah.
Rio berjalan dengan santai menuju ke gerbang sekolah sambil menyapu keringatnya dengan tisu.
Di depan gerbang dia menyapa penjaga gerbang dengan senyum ramah, "Selamat pagi."
"Pagi!" Penjaga gerbang tersebut juga menyapanya kembali.
Rio kemudian berjalan menuju ke ruang kelasnya. Begitu tiba di kelas, dia segera duduk dan membaca buku.
Teng!! Teng!!
Tidak lama setelah Rio membaca, bel sekolah berbunyi yang menandakan kalau saatnya jam pelajaran dimulai.
Tak lama setelah itu, seorang guru pria paruh baya masuk ke kelasnya dan menyapa semua murid, "Selamat pagi murid-murid!"
"Pagi Pak!" Semua murid di kelas Rio juga menyapa guru tersebut dengan penuh semangat.
Setelah itu guru tersebut memulai pembelajarannya.
Teng!! Teng!!
Setelah beberapa jam, akhirnya sekolah selesai dan semua murid dipersilahkan untuk kembali.
Rio segera berlari dengan cepat meninggalkan ruang kelasnya. Teman-temannya mencoba untuk mengajaknya berma2in ke tempat karaoke, "Rio, apakah kamu ingin ikut bersama kami ke tempat karaoke?"
"Maaf, aku tidak bisa!" Rio menjawabnya dengan meminta dan berlari meninggalkan mereka.
Salah satu teman Rio bertanya dengan yang lainnya, "Kenapa dia selalu pulang dengan tergesa-gesa?"
Yang lainnya hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala mereka karena mereka juga tidak tau.
Sementara itu di sisi lain, Rio tiba di sebuah bukit yang cukup tinggi. Di sana dia menegeluarkan peralatan melukisnya.
"Pemandangan matahari terbenam di sini sangat indah dan itu sangat cocok untuk diabadikan ke dalam sebuah lukisan." Gumam Rio sambil membuat sketsa.
Setiap harinya Rio selalu mampir di bukit itu untuk melukis pemandangan yang dilihatnya dari atas bukit tersebut.
Dan kali ini dia berniat untuk melukis matahari terbenam, yang mana menurutnya itu sangat cocok di abadikan ke dalam sebuah lukisan.
Sementara Rio sedang asyik melukis, seorang wanita cantik yang terlihat seperti berumur 23 tahun melihatnya dari kejauhan.
"Oh, ternyata ada orang di sini!" Gumamnya.
"Hmm, sepertinya orang itu sedang melukis." Tambahnya, wanita itu kemudian berjalan mendekati Rio.
Begitu dia sampai di tempat Rio, dia dikejutkan oleh lukisan Rio yang sangat bagus.
"Woah, apakah kamu yang melukisnya?" Tanya wanita itu dengan penasaran.
Rio yang saat itu kebetulan sudah selesai melukis, berbalik dan melihat wanita cantik di depannya.
"Iya, aku yang melukisnya!" Rio menjawabnya dengan senang hati.
"Luar biasa sekali, lukisanmu terlihat sangat bagus!" Puji wanita tersebut.
"Be.. benarkah? aku senang mendengarnya!" Rio sedikit malu mendengar pujian tersebut karena ini adalah pertama kalinya dia mendengar seseorang memuji lukisannya.
"Apakah kamu seorang pelukis?" Tanya wanita itu.
Rio menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan senyum ramah, "Tidak, tapi aku memang ingin menjadi seorang pelukis yang hebat suatu hari nanti."
"Jadi begitu!" Wanita itu mengangguk, kemudian dia bertanya kembali, "Apakah kamu mempunyai lukisan yang lain?"
"Ya, aku memilikinya!" Setelah mengatakan hal tersebut, Rio segera membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lukisan yang berhasil dibuatnya dan memperlihatkannya kepada wanita tersebut.
Wanita itu mengambilnya dan kagum dengan semua lukisan Rio, "Kamu luar biasa, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi pelukis terkenal."
"Hehe, semoga saja!" Kata Rio sambil menggaruk kepalanya.
Wanita itu melihat jam tangannya dan menyadari kalau sudah saatnya pulang, jadi dia berkata kepada Rio, "Baiklah, kalau begitu aku akan pulang dulu."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut berjalan menuruni bukit dan meninggalkan Rio sendirian di sana.
Setelah itu Rio juga membereskan semua peralatan melukisnya dan kembali ke kos-kosannya.
.....
Pada sore hari setelah pulang sekolah, tepatnya pukul tiga sore. Rio kembali berada di bukit dan melukis berbagai pemandangan yang dilihatnya.
Kebetulan wanita tersebut juga ada di sana, dia dengan senang hati melihat Rio melukis dari belakangnya tanpa mengganggunya.
Setelah beberapa saat akhirnya Rio selesai dengan lukisannya dan kembali melihat wanita yang ditemuinya kemarin berada dibelakangnya.
"Oh Nona, kamu ada di sini juga!" Rio menyapa wanita tersebut.
Wanita itu mengangguk dan berkata, "Ya, aku ingin menikmati sejuknya angin di bukit ini setelah lelah bekerja."
"Jadi begitu, pasti lelah bekerja ya!" Kata Rio dengan prihatin kepada wanita tersebut.
"Ya begitulah!" Wanita itu berkata dengan suara lelah.
Kemudian dia bertanya kepada Rio dengan wajah gembira, "Bisakah kamu melukisku juga?"
Mendengar itu Rio sedikit ragu dan berkata dengan meminta maaf, "Maaf, tapi aku belum pernah melukis seseorang sebelumnya, jadi aku tidak terlalu yakin dengan hasilnya."
Wanita itu menggelengkan kepalanya dan berkata meyakinkan Rio, "Tidak apa-apa, aku yakin kamu pasti bisa jika mencobanya."
Setelah beberapa saat merenung Rio akhirnya berkata, "Baiklah, kamu bisa berpose sesuai dengan keinginanmu."
"Yeyy." Wanita itu berteriak dengan gembira dan segera berpose dengan gaya yang anggun.
Rio berkonsentrasi penuh melukisnya, dia sangat gugup saat ini. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya dia melukis seseorang, jadi dia ingin melakukan yang terbaik.
Setelah beberapa waktu akhirnya Rio selesai dengan lukisannya dan berkata kepada wanita tersebut, "Selesai, aku tidak yakin apakah kamu akan menyukainya."
Wanita itu segera berjalan melihat hasil lukisan Rio. Betapa terkejutnya dia setelah melihat wajahnya dalam lukisan itu.
Dalam lukisan tersebut wajah wanita itu terlihat lebih cantik daripada dirinya sendiri, dengan pemandangan yang ada di belakangnya membuat gambar itu seakan hidup.
"Luar biasa, ini sangat indah!" Wanita itu berkata dengan penuh suka cita.
"Bolehkan aku menyimpan lukisan ini?" Tanya wanita itu dengan antusias.
Rio tersenyum dan menjawab, "Kamu boleh menyimpannya, anggap saja itu hadiah dariku karena sudah memberikan semangat kepadaku."
Mendengar jawaban dari Rio, wanita itu sangat gembira dan berterima kasih pada Rio, "Terima kasih, aku akan menyimpannya dan menjaganya dengan baik."
.....
Beberapa waktu berlalu dan Rio selalu menghabiskan waktunya bersama wanita itu di bukit sambil melukis dan menceritakab tentang kehidupan masing-masing.
Dari situ Rio mengetahui kalau wanita itu bernama Dinda, dan dia merupakan guru dari sekolahnya.
Awalnya Rio tidak mengira kalau wanita yang selama ini selalu bersamanya adalah guru di sekolahnya.
Dinda mengajar murid tahun ke-2, jadi Rio tidak pernah bertemu dengannya karena kelas tahun ke-2 dan ke-3 berjauhan, juga Dinda baru masuk beberapa bulan lalu, jadi tidak heran Rio tidak pernah bertemu dengannya di sekolah.
Beberapa waktu lagi berlalu dengan cepat, dan sekarang mereka berdua masing-masing menyadari kalau rasa cinta di hati mereka mulai tumbuh.
Hingga akhirnya suatu hari Rio memberanikan dirinya untuk melamar Dinda menjadi pacarnya.
"Dinda, aku tau ini mungkin terlalu cepat atau hubungan kita mungkin dianggap tabu, tapi aku tidak ingin memendam perasaan ini terlalu dalam."
"Aku ingin kamu menjadi pacarku, apakah kamu mau menerimanya?" Rio berlutut sambil menyerahkan seikat bungan kepada Dinda.
Apa yang dikatakan Rio dengan hubungan tabu adalah tentang hubungan antara guru dan murid yang dimiliknya dengan Dinda.
Karena menurut pandangan masyarakat, guru tidak boleh berkencan dengan muridnya karena itu akan mencoreng bidang pendidikan.
Namun lain halnya jika hubungan mereka tidak diketahui oleh orang lain.
Dinda juga merasakan hal yang sama dengan Rio, jadi dia langsung menerimanya dengan senang hati, "Ehm, aku menerimanya."
Mendengar itu Rio langsung bahagia dan memeluk Dinda dengan erat, kemudian wajah mereka saling berhadapan hingga akhirnya bibir mereka berdua bersentuhan.
Tampak seorang pria dan seorang wanita sedang berciuman di atas bukit, dengan sunset yang terlihat sangat indah semakin menambah romantis suasana.
.....
Beberapa waktu lagi berlalu, sekarang hubungan Rio dan Dinda adalah pacar. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dibukit.
Mereka juga terkadang pergi ke bioskop, mall, dan tempat hiburan lainnya. Mereka berdua terlihat sangat bahagia setelah resmi menjadi pacar.
Kehidupan sehari-hari mereka menjadi semakin berwarna setelah mereka berdua menjadi kekasih.
Namun pada suatu hari Dinda mendapatkan panggilan dari pihak sekolah dan sepertinya ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengannya.
Di ruang Kepala sekolah, saat ini ada beberapa guru yang juga berada di dalam ruangan tersebut.
"Apakah kamu tau kenapa kami memanggilmu kemari?" Tanya seorang pria tua yang terlihat seperti berumur 60 tahunan.
Pria tua tersebut adalah Kepala sekolah dari Maestro Highschool.
Dinda menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saya tidak tau Kepala sekolah."
Kepala sekolah segera memberikan sebuah foto kepada Dinda, "Lihatlah ini."
Dinda mengambil foto tersebut dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Foto itu adalah foto dirinya dengan Rio yang sedang berciuman di salah satu taman bermain.
"Kamu tau apa yang akan terjadi jika foto ini menyebar bukan?" Tanya kepala sekolah dengan santai.
Dinda mengangguk, "Ya Kepala sekolah."
"Jadi kamu tau apa yang harus dilakukan bukan?" Kepala sekolah kembali bertanya.
"Ya!" Dinda mengangguk.
"Kalai begitu saya permisi dulu!" Setelah mengatakan hal itu, Dinda segera keluar dari ruang Kepala sekolah.
Beberapa hari berlalu sejak Dinda menemui Kepala sekolah, dan sekarang dia sudah tidak pernah terlihat lagi.
Rio juga tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu. Dia mengira kalau Dinda hanya bermain-main saja dengannya dan hal itu membuatnya sangat kecewa.
"Kukira dia memiliki perasaan yang sama denganku, namun ternyata aku hanya dijadikan badut olehnya!" Gumam Rio dengan sedih di kamarnya.
Kemudian dia menambahkan dengan penuh tekad, "Aku akan menjadi seorang pelukis terkenal dan membuatnya menyesal karena telah mempermainkanku."
Dengan begitu beberapa tahun berlalu, Rio terus berlatih melukis setiap harinya. Dia juga mendaftarkan setiap lukisan ke setiap lomba dan juga meletakannya di sebuah pameran.
Hingga akhirnya pada suatu hari lukisannya berhasil memenangkan sebuah lomba dan menjadi sangat terkenal.
"Apa yang membuat anda terpikirkan untuk membuat lukisan tersebut?" Tanya seorang wartawan.
"Aku membuat lukisan tersebut adalah karena dia merupakan orang yang sangat kucintai. Pada saat itu kami berdua saling mencintai, namun itu semua hanya aku saja yang merasakannya."
"Ternyata dia hanya menjadikanku mainan baginya, aku terus mencoba untuk melupakannya dan bahkan mencoba untuk membalas dendam pada suatu hari nanti."
"Namun hatiku tidak mengizinkannya, aku tidak akan pernah bisa melupakannya, karena dia adalah cinta pertama dan yang terakhir bagiku."
Rio menjelaskan tentang perasaannya kepada orang yang ada dilukisan tersebut. Tentu saja orang yang berada dilukisan itu adalah Dinda.
Di sisi lain Dinda melihat semua itu di TV, dia tidak bisa menahan harunya dan menangis sedih, "Aku juga tidak bisa melupakanmu, namun semua itu kulakukan agar karirmu tidak terganggu, lebih baik aku yang pergi dari sekolah dan menjauh darimu."
.....
Suatu hari seorang guru datang kepada Rio dan memberitahukan padanya tentang apa yang terjadi dengan Dinda.
Mendengar semua yang dikatakan oleh guru itu, Rio sekarang tau kenapa Dinda pergi meninggalkannya.
Dia segera pergi menuju ke kota tempat tinggal baru Dinda sesuai dengan alamat yang diberikan oleh guru tersebut.
Beberapa hari kemudian dia tiba di sebuah rumah sederhana, Rio mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok!! Tok!! Tok!!
Setelah beberapa saat pintu terbuka dan seorang wanita cantik keluar dari dalam rumah tersebut, wanita itu tentu saja Dinda.
Melihat Dinda, Rio segera memeluknya dan berkata dengan meminta maaf, "Maafkan aku karena tidak mengetahui pengorbananmu selama ini, aku selalu menyalahkanmu setiap saat tanpa mengetahui penyebabnya."
Mendengar itu Dinda segera memeluknya juga dan berkata dengan sedih, "Tidak apa-apa, aku senang sekarang cita-citamu sudah tercapai."
Rio segera mengeluarkan cincin dari kantongnya dan menyerahkannya kepada Dinda dan bertanya, "Maukah kamu menikah denganku?"
Dinda menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sebaiknya kamu mencari wanita yang lebih muda dan seumuran denganmu, aku lebih tua 5 tahun darimu, dan suatu saat nanti wajahku akan terlihat keriput, dan kamu tidak akan mencintaiku lagi."
Mendengar itu Rio segera berkata, "Bagiku wajah, bentuk tubuh, atau apapun itu boleh berubah, namun rasa cintaku padamu tidak akan pernah berubah."
Mendengar hal itu Dinda menjadi sangat tersentuh, dia akhirnya menerima lamaran dari Rio.
Mereka berdua akhirnya melangsungkan pernikahan yang cukup meriah dengan dihadiri oleh keluarga dan dari kedua belah pihak dan juga teman-teman mereka.