***
BRUKKK!
Vanda tidak sengaja menabrak Martin yang berdiri di sana membuat beberapa berkas yang berada ditangannya berjatuh di lantai, bercampur dengan beberapa berkas yang dibawa Martin.
"Maaf, aku tidak sengaja." Vanda berjongkok membereskan berkas-berkasnya.
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf. Ini salahku juga," sahut Martin ikut berjongkok membereskan beberapa berkasnya. "Ng, ini… kau juga suka memecahkan teka-teki?" Martin menatap buku berisi teka-teki yang di bawa Vanda. Buku itu sama persis dengan buku yang baru saja dibelinya.
"Ah… sebenarnya tidak terlalu, tapi karena anak-anak di kelas yang ku ajar suka dengan teka-teki jadi aku membelinya." Vanda tersenyum.
"Anak-anak?"
"Ng. Aku bekerja sebagai guru."
"Ooh…" Martin mengangguk-anggukkan kepalanya.
Vanda beranjak bangun bersamaan dengan Martin. "Ini bukumu." Martin menyodorkan satu buku teka-teki ditangannya pada Vanda, kemudian memasukkan satu buku lain yang sama persis ke dalam tas yang dibawanya.
"Terima kasih telah membantuku."
"Bukan masalah."
*
"Bagaimana, kau membawanya?" Tanya Maxime begitu mendapati Martin tiba.
"Ya, aku membawanya."
"Kalau begitu mana? Aku harus mengecek kodenya."
"Tenang saja, aku membawanya di dalam sini." Martin membuka tas kerjanya mengeluarkan sebuah buku teka-teki yang tadi dimasukannya.
"Apa ini? Kau menaruhnya dibuku itu? Bagaimana kalau kode itu sampai jatuh dan ditemukan oleh polisi? Kau ingin membuat sindikat kita dalam masalah?"
"Tenang saja, aku sudah memastikan semuanya aman. Tidak akan ada orang yang mengerti dan bisa memecahkan kode itu selain kita." Martin menjawab santai, tangannya sibuk membuka lembaran demi lembaran buku teka-teki di tangannya. Tapi kertas yang dicarinya raib entah kemana, ia melotot begitu sadar yang dicarinya tidak ada.
"Apa-apaan ekspresi wajahmu itu, cepat berikan kertas kodenya!"
"Kertasnya hilang," gumam Martin pelan.
"Apa? Kau bicara apa?" Maxime tak dapat mendengar gumamannya dengan jelas.
"Hilang! Kertas berisi kodenya hilang!!!" Martin panik, menekan kalimatnya dengan sedikit berteriak.
"APA?!" Maxime melongo mendengarnya. "Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau menyimpan kertas penting seperti itu di dalam sebuah buku? Dan yang paling parah, buku teka-teki? Oh astaga yang benar saja!"
"Aku juga tidak tahu kalau buku itu akan hilang!"
"Bagus, sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita pasti dimarahi habis-habisan oleh pimpinan."
"Diamlah, biarkan aku berpikir sejenak!" Martin terdiam berusaha untuk memikirkan ide lain. "Oh! Aku tahu, jangan-jangan bukuku tertukar dengannya!"
"Tertukar? Siapa yang kau maksud?"
"Tadi saat di bus aku secara tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang juga membawa buku yang sama persis denganku, sepertinya buku kami tertukar."
"Apa? Gawat, ini akan jadi masalah besar! Kalau wanita itu melihat isi kertasnya dan penasaran dengan arti dari angka-angka dan huruf itu, dia pasti akan berusaha untuk memecahkannya. Dan kalau dia sampai berhasil memecahkannya, sindikat kita benar-benar akan tamat."
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat."
"Apa yang akan kita lakukan? Kau tahu dimana wanita itu bekerja?"
"Aku dengar dia bekerja sebagai seorang guru. Tapi, bukankah kertas itu dibuat dengan kertas khusus oleh Timmy? Dia bilang kalau dia merancangnya dengan chip berisi GPS kan?"
"Oh kau benar! Kita bisa melacaknya!"
"Kalau begitu ayo temui Tim, hanya dia yang memiliki akses untuk melacak keberadaan kertas itu."
"Tapi kalau Tim tahu, dia pasti akan mengadukan semuanya pada pimpinan dan kita bisa-bisa habis."
"Tapi tidak ada pilihan lain, memangnya kau memiliki ide lain?"
"Sebisa mungkin aku akan mencari cara agar kita bisa selesaikan semua masalah ini. Untuk sementara jangan hubungi Tim. Lebih baik kita mulai pencarian dulu, aku akan meretas data dan mencari guru yang kita cari. Apakah kau tahu dimana dia mengajar?"
"Tidak, aku tidak bertanya sampai sejauh itu. Yang aku tahu dia hanyalah seorang guru."
"Kalau begitu jika dia naik bus yang sama denganmu, maka kita bisa cari sekolah yang mengarah ke jalan yang kau lalui dan kita akan menemukannya. Kau masih ingat dengan wajahnya kan?"
"Ng." Martin mengangguk.
"Bagus, ayo kita cari lebih dulu wanita itu."
*
"Huft~ aku benar-benar tidak tahu harus membujuknya bagaimana lagi," gumam Tiana yang kemudian berjalan keluar dari dalam kelas dengan wajah frustasi.
"Miss. Ti, are you okay?" Vanda menghampiri teman kerjanya itu.
"I'm not okay."
"Kenapa? Apakah ada masalah?"
"Kau tahu Sean? Dia itu benar-benar membuat pekerjaanku sulit, sejak tadi dia tidak mau belajar bersama dengan yang lainnya."
"Kau harus lebih sabar menghadapinya."
"Tapi itu membuatku frustasi." Tiana mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Hm… kalau begitu apakah mau aku bantu kau mengajar? Kebetulan aku tidak terlalu sibuk hari ini."
"Benarkah?"
"Ng. Jika kau mau, aku juga akan membantu membujuk Sean untuk belajar bersama yang lainnya."
"Bagus! Kalau begitu ayo masuk!" Tiana menarik tangan Vanda masuk ke dalam ruang kelasnya. Di dalam sana, Vanda segera dimintanya untuk membujuk Sean belajar bersama yang lain.
Vanda menghampiri Sean, membungkuk didekatnya. "Sean…" panggilnya lembut.
"Sean, hey… It's me Miss. Vanda." Vanda mengusap pelan puncak kepala Sean. Tapi anak laki-laki berusia tujuh tahun itu sama sekali tak menghiraukan kalimatnya dan sibuk dengan aktivitasnya sendiri. "Sean… look at me honey. Look at my eyes…" ujarnya lagi, dan kali ini berhasil membuat Sean menoleh kearahnya. Sean menatap kedua matanya.
"Nice boy. So, listen… I have a puzzle book. You like a puzzle book, right?" Vanda menyodorkan sebuah buku teka-teki yang dibawanya pada Sean.
"Miss. Vanda akan memberikan bukunya padamu jika kau mau belajar seperti teman-temanmu yang lainnya. Bagaimana?" Sean tak menjawab, sebaliknya ia langsung berjalan menghampiri salah satu kursi kosong yang ada disana.
Sean duduk disamping Nancy, seorang gadis berambut pirang yang memakai sebuah bandana berwarna putih dikepalanya.
Melihat Sean memiliki sebuah buku teka-teki membuat fokus Nancy beralih padanya.
"I want it!" Nancy merebut buku itu secara paksa dari Sean. Nancy dan Sean seketika berkelahi membuat kelas ricuh. Sean berteriak begitu pula dengan Nancy yang dengan secara brutalnya menarik paksa buku itu hingga beberapa lembaran bukunya sobek.
Vanda dan Tiana berusaha menghentikan perkelahian mereka dan memutuskan untuk memisahkan mereka.
Vanda membawa Sean keluar dan menenangkannya, sementara Tiana membuat Nancy tenang di dalam kelas.
Sean sudah mulai tenang sekarang, ia sudah tidak lagi berteriak seperti beberapa saat yang lalu. Hal itu membuat Vanda merasa lega.
"Sean… bagaimana kalau kita kembali ke dalam, huh? Kita kembali belajar bersama yang lainnya," kata Vanda yang perkataannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Sean. Anak laki-laki itu kini sibuk memandangi secarik kertas yang sebagiannya robek, ia berusaha menaruh sobekan kertas itu di dalam beberapa lembar buku ditangannya yang sudah kacau.
"Okay, kalau kau tidak mau tidak apa-apa," gumam Vanda berusaha untuk mengerti.
*
BLAM!
Seamus menutup pintu ruangan Bean perlahan. Di depan pintu masuk, ia mendapati kedua rekan satu timnya yang kini berdiri dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana? Apakah Sir. Bean memberikan hukuman padamu?" Tanya Felina, satu-satunya perempuan dalam tim mereka.
"Kenapa kau terlihat murung? Apakah hukumannya berat? Ayolah katakan sesuatu jangan buat kami cemas!" Kata Devian yang kesal karena rekan satu timnya itu hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.
"Aku dalam masa percobaan," gumamnya.
"Apa?"
"Lalu bagaimana? Apa hukum yang diberikan Sir. Bean untukmu?" Tanya Felina.
"Untuk sementara waktu kalian akan menjalankan misi tanpa aku, dan aku dilarang mengambil misi apapun sampai masa percobaanku selesai. Kalau tidak, aku akan dikeluarkan dan harus menjalani pengasinganku. Pensiun lebih awal," gumamnya.
"Separah itu?" Felina terkejut dengan penjelasan rekannya itu. Seamus hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Oh yang benar saja. Pensiun lebih awal? Kita saja bahkan belum genap tiga tahun menjadi agent, dan kau terancam pensiun lebih awal?" Devian tak kalah terkejut.
"Ini kesempatan terakhirku. Sir. Bean sudah tidak ingin memberikan aku kesempatan, sudah terlalu banyak masalah yang aku buat selama aku menjalankan semua misi ku. Mungkin saja Sir. Bean sudah lelah terus memberikan aku kesempatan sedangkan aku terus membuat masalah dan membuatnya kecewa," lirihnya.
"Kita akan membantumu bicara dengan Sir. Bean." Felina angkat bicara.
"Benar, aku dan Fel tidak mungkin membiarkan kau pergi begitu saja. Kalau tanpa adanya kau, tim kita tidak akan lengkap." Devian menimpali.
"Aku belum siap untuk mendapat anggota tim baru," kata Felina.
"Sudahlah tidak perlu, lagipula seberapa keras pun kalian berusaha pada akhirnya Sir. Bean tidak akan mengubah keputusannya." Seamus pesimis.
"Felina?" Fokus mereka beralih saat mendapati Lucy tiba di sana.
"Mama? Mama sedang apa di sini?" Felina mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Lucy datang ke sindikat tempatnya berada, pasalnya mamanya—Lucy adalah mantan agent yang kini sudah pensiun dan menjalani kehidupannya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga biasa.
"Mama kemari karena ada urusan dengan Sir. Bean. Kalian sendiri kenapa ada di sini? Apakah kalian membuat masalah?"
"Aku yang membuat masalah coach." Seamus menjawab.
"Lagi?" Tanya Lucy. Ini memang bukan yang pertama kalinya Seamus membuat masalah, jadi tidak heran baginya saat mendengar Seamus membuat masalah. Entah sudah yang ke berapa belas kalinya bulan ini Seamus membuat masalah.
"Ng." Seamus menganggukkan kepalanya.
"Ma, bisakah mama membantu kami untuk berbicara dengan Sir. Bean?" Tanya Felina.
"Memangnya apa yang di berikan Sir. Bean sebagai hukumannya kali ini?"
"Aku dalam masa percobaan, tidak boleh menjalankan misi apapun. Kalau tidak, konsekuensinya adalah pensiun lebih awal," jawab Seamus.
"Huft~ baiklah, aku akan membantumu tapi jangan terlalu berharap Sir. Bean akan mengubah keputusannya," kata Lucy.
"Iya, baik coach. Terima kasih sebelumnya karena sudah mau membantuku."
"Bukan masalah, kalau begitu aku akan masuk," ujar Lucy seraya masuk ke dalam ruang Bean.
Tidak lama mereka menunggu, Lucy kembali dengan membawa kabar kurang bagus untuk mereka. Bean tetap berkeras pada keputusannya dan mengatakan kalau keputusannya tidak dapat di ganggu gugat.
*
Rumah, coklat panas, ibu guru, teman, ayah dan ibu, jauhi orang asing, pencet bel sebelum masuk rumah, dan jangan percaya pada orang tidak di kenal. Itulah setidaknya beberapa hal yang di tulisan Elea selaku ibu yang memiliki seorang anak seperti Sean yang notabenenya adalah seorang penyandang ASD alias Autism Spectrum Disorder yang lebih umum di kenal dengan sebutan autisme untuk membantu kehidupannya.
Sean membuka bolak-balik buku kecil yang selalu terikat dengan tali yang terhubung pada celananya, memandangi seluruh isi buku itu dan membaca setiap lembarnya. Beberapa halaman di sertai gambar untuk lebih memudahkannya mengingat semua hal yang di ajarkan ibunya.
"Baik, kita sampai Sean." Austin menghentikan bus yang dikendarainya itu di depan rumah Sean. "Kita sampai di rumah," tuturnya lagi sembari menoleh ke arah anak yang di ajaknya bicara. Sean beranjak bangun dari tempat duduknya, melangkah perlahan menuju pintu keluar bus.
"Okay, see you tomorrow Sean," tutur Austin seraya menutup pintu busnya begitu Sean keluar. Ia lalu melajukan busnya pergi dari sana.
Sean melangkah menghampiri rumahnya, tidak terlalu besar. Hanya sebuah rumah sederhana bercat putih dengan perkara yang tidak terlalu luas yang di hiasi beberapa jenis bunga.
Sean berdiri di depan pintu, ia membaca kembali isi buku kecil di tangannya. Detik berikutnya ia menekan bel pintu rumahnya.
Elea di dalam sana membuka pintu rumahnya, ia tersenyum simpul saat mendapati anak laki-lakinya itu tiba di rumah dengan selamat seperti hari-hari sebelumnya. Sean masuk, dan berdiri di ambang pintu.
"Mama Sean is home," katanya. Elea berjongkok, mengusap pelan puncak kepala Sean.
"Welcome home honey," ujarnya. "Hey, Sean. Sean dengar." Elea berusaha membuat perhatian Sean tertuju padanya. "Kau pasti lelah, ayo masuk. Apakah kau mau coklat?" Elea melepaskan tas yang tergantung di pundak Sean dan membawanya.
Sean berjalan menghampiri ruang dapur yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Elea mengikutinya dari arah belakang. Tiba di dapur Sean meraih satu cangkir kecil di sana dan menunggu sementara Elea meraih coklat dan menyeduhnya dengan air hangat.
"It's hot must be careful," tuturnya yang kemudian meraih gelas yang sudah di aduk itu dengan kedua tangannya secara perlahan.
"Yes honey, you smart." Elea tersenyum simpul.
"It's hot must be careful," ulangnya.
"Kau pasti lelah, ayo kita ke atas dan beristirahat." Sean berjalan menghampiri tangga dengan perlahan, di belakangnya Elea senantiasa mengikutinya hingga tiba di dalam kamarnya dan duduk di meja belajarnya.
Elea menaruh tas milik Sean di atas meja. "Sekarang beristirahatlah di sini sayang." Elea beranjak pergi meninggalkan Sean seorang diri di dalam kamarnya sementara ia kembali melanjutkan kegiatannya yang belum selesai.
Sean terduduk di kursinya, memegangi cangkir di hadapannya. "It's hot must be careful," ulangnya lagi.
*
Vanda tersentak kaget saat mendapati Martin tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia nyaris menjerit saking terkejutnya.
"Sorry Miss. Are you remember me?" Tanya Martin. Vanda mengerutkan keningnya berusaha mengingat sampai kemudian Martin menunjukkan buku tipis berisi teka-teki yang sama persis dengan yang ia berikan pada Sean.
"O-oh, yes…"
"Tampaknya buku kita tertukar saat di bus. Bisakah kita menukarnya kembali? Di dalamnya ada barang penting milikku yang terselip di antara beberapa lembar bukunya."
"Ah… sepertinya tidak bisa, karena bukunya sudah aku berikan pada salah satu murid di kelasku…" Vanda menggaruk pelan pipinya dengan telunjuk, ia merasa tidak enak dengan apa yang terjadi.
"Apa?" Martin tertohok, matanya terbelalak mendengar penjelasan wanita itu. "Lalu dimana sekarang? Bisakah aku mendapatkannya kembali?"
"Memangnya seberapa penting barang itu? Dan, barang apa yang sebenarnya kau cari?"
"Kau tidak perlu tahu karena ini bukan urusanmu. Yang pasti aku ingin buku itu kembali." Martin menekankan. Vanda mulai merasa curiga, ia merasa ada yang tidak beres dengan Martin. Pasalnya ia tiba-tiba saja muncul dan berkata bahwa ingin menukar kembali buku mereka yang tertukar di bus, yang lebih anehnya lagi darimana Martin tahu kalau ia bekerja di sekolah ini? Dan seberapa pentingnya barang itu sampai-sampai ia begitu ngotot?
"Maaf sayangnya tidak bisa. Karena aku tidak mungkin mengambil apa yang telah aku berikan."
"Miss, tolong kerja samanya. Aku tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit."
"Tapi sudah aku bilang aku tidak bisa mengambil apa yang telah aku berikan, apakah kau tidak mengerti? Lagipula salah siapa kau menaruh benda penting di dalam sebuah buku teka-teki? Jangan salahkan aku kalau buku kita tertukar dan aku tidak sengaja memberikan bukunya pada anak muridku. Sekarang aku permisi, aku masih memiliki urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan." Vanda melangkah melewati Martin berjalan menghampiri gerbang keluar agar bisa tiba di pemberhentian bus. Tapi belum sempat jaraknya tiba di dekat pintu gerbang, Martin lebih dulu bertindak. Ia mengeluarkan pistolnya menembakkan peluru itu tepat ke arah kakinya, membuat Vanda seketika tersungkur jatuh dalam keadaan kakinya yang terluka.
Ia meringis kesakitan, Vanda tidak dapat bergerak.
"Listen!" Martin mendekatkan posisinya ke arah Vanda. "Aku tidak ingin membuat semuanya semakin rumit, lebih baik cepat kau beritahu dimana buku itu sebelum aku habisi nyawamu sekarang juga."
Vanda gemetar ketakutan, matanya berkaca-kaca menatap Martin yang saat ini menodongkan pistol di tangannya tepat ke arah keningnya.
"Beritahu aku! Sekarang!" Tukasnya lagi penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"A-aku tidak akan memberitahumu." Vanda berucap dengan suara bergetar.
"Kau memberikanku pilihan yang sulit. Jadi kau lebih memilih untuk mati daripada memberitahukannya padaku?"
"Aku tidak akan memberitahumu!" Vanda berkeras. Baginya untuk saat ini ia harus melindungi anak-anak muridnya, terutama Sean.
"Akan aku hitung sampai tiga. Jika kau tidak ingin memberitahu ku, maka kau habis hari ini juga," ancamnya. "Satu…" Martin mulai menghitung sementara Vanda masih bungkam.
"Dua…" Martin menyiapkan jari telunjuknya untuk menarik pelatuk di pistolnya. Vanda semakin berdebar, tapi ia masih memutuskan untuk bungkam.
"…Tiga," bisiknya pelan bersamaan dengan itu ia menarik pelatuknya dan…
"Nancy." Vanda menyerah, tapi saat ia berbicara saat itu juga timah panas itu sudah menembus keningnya.
*
"Dia bicara?" Tanya Maxime begitu Martin tiba di dalam mobilnya.
"Nancy."
"Nancy?" Maxime mengulang, ia kemudian di sibukkan berkutat dengan layar laptopnya mencari nama yang di maksud lewat data sekolah yang telah diretasnya.
*
Nancy menjerit saat secara tiba-tiba dua orang tamu tidak diundang menerobos masuk kedalam rumahnya dan membunuh kedua orangtuanya dengan pistol ditangan mereka.
Gadis kecil berambut pirang itu bersembunyi dibawah tempat tidurnya didalam kamarnya, tangannya gemetar dengan mata yang berderai membasahi kedua pipinya. Ia membulatkan kedua bola matanya saat mendengar suara langkah kaki pria itu menghampiri kamarnya, lewat kolong tempatnya berada, ia mengintip dan mereka semakin dekat ke arahnya.
"Aku tidak bisa menemukannya dimanapun," kata Martin setelah mengobrak-abrik seluruh meja belajarnya Nancy tapi tidak ada satupun kertas yang di carinya.
"Cari lebih teliti!" Kesal Maxime. Martin kembali mencari, sampai kemudian menemukan kertas yang mereka cari. "Ada!" Tuturnya seraya menunjuk robekan kertas yang mereka cari.
"Kertasnya sobek?"
"Iya. Tapi aku tidak bisa menemukan robekannya dimana pun. Dan robekannya yang hilang adalah bagian yang dimana terdapat logo GPS yang dipasang Timmy."
"Kau sudah memastikannya di semua tempat?"
"Ng. Tapi tidak ada. Aku tidak menemukannya dimanapun."
"Lebih baik kita kembali dulu, untuk saat ini biarkan robekannya tapi ambil yang itu. Setidaknya masih ada sebagian kode yang tertera di sana."
"Kalau begitu ayo pergi." Martin melangkah menghampiri pintu keluar.
"Tunggu, sebelum pergi ada yang harus kita bereskan lebih dulu." Maxime berjongkok perlahan, menyibak seprei diranjang tidurnya Nancy dan mendapati anak perempuan itu tengah bersembunyi dengan ketakutan layaknya kucing pengecut.
"Ketemu," gumamnya yang spontan menarik pelatuk ditangannya dan… selesai. Tugasnya selesai.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Maxime dan Martin memutuskan untuk segera pergi dari sana dan kembali ke markas.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Dimana sebenarnya gadis itu menyembunyikan potongannya?"
"Sepertinya dia tidak memilikinya."
"Kalau seperti ini, tidak ada cara lain. Kita harus meminta bantuan Timmy," gumam Martin.
"Tapi kalau kita meminta bantuannya, semua ini akan terbongkar dan kita bukan hanya mendapatkan masalah, tapi nyawa kita juga terancam!"
"Memangnya kau memiliki pilihan lain?"
"Lagipula salah siapa aku jadi terseret dalam semua ini?"
"Maaf, aku tahu ini salahku. Aku yang bodoh menyelipkan kertas itu di dalam sana."
"Sudahlah. Sekarang yang terpenting kita sembunyikan semuanya dulu dari Timmy dan pimpinan. Kita cari cara untuk menemukan potongan lainnya," ujar Maxime yang memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan kembali fokus pada jalan yang mereka lalui.
***
*Binbin Talk
Karena kepanjangan jadi aku bakalan lanjut di part 2. Ini masih belum selesai ya, guys. Soalnya ini udah mencapai 3000 kata, kalo dilanjut di satu part aku takut kalian pusing bacanya.
FYI/ Cerita ini berlatar di London , Inggris pada tahun setelah Lucy (karakter dari novel SGLS ku) udah selesain semua tugasnya sebagai agent dan mutusin buat pensiun. Jadi ini cerita SGLS Gen berikutnya setelah Lucy pensiun.
Buat yang bingung sama tokoh utamanya siapa, kalian akan tahu di part berikutnya.
So stay tune, and see you in the next part.
Jangan lupa tinggalin jejak, love dan komen selalu paling di tunggu.
Next »