Ini adalah gelas ketiga yang dia pesan malam ini. Matanya masih memburu tiap sudut kedai yang menyimpan banyak kenangan tentang kekasihnya itu. Berharap menemukan satu atau dua kenangan yang pernah dia dan kekasihnya lewati. Sebab setelah kepergian kekasihnya, rutinitas sehari-harinya menjadi begitu membosankan. Kini dia lebih sering menyendiri, sebagian waktu dia habiskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang dia dan kekasihnya pernah kunjungi. Sekedar untuk memetik ingatan yang tercecer. Agar segala kenangan tentang kekasihnya tetap hidup dan abadi. Sementara di sisa waktunya yang lain, dia habiskan untuk sebotol whisky dan obat-obatan terlarang. Dalam imajinasi di sela-sela mabuknya, dia sering melihat kekasihnya ngomel-ngomel karena kebiasaan barunya itu. Dia begitu senang dan sedih secara bersamaan. Senang karena bisa melihat kekasihnya sekali lagi meski hanya dalam bentuk halusinasi. Juga sedih karena tahu dengan betul bahwa segala yang dia lihat itu akan segera hilang begitu kesadarannya kembali. Perlahan-lahan hidupnya menjadi begitu buruk dan berantakan. Kesedihan memang gemar menyeret manusia menuju ke kehancuran.
Di kedai ini, mereka sering menghabiskan waktu seusai pulang dari pekerjaan masing-masing. Tempat yang memiliki sejarah begitu panjang. Saksi awal pertemuan, hingga akhirnya dia berani melamar kekasihnya itu, juga di tempat ini. Kenangan membuatnya makin larut dalam kehilangan.
Maut adalah teka-teki paling rumit. Skenario Tuhan agar manusia senantiasa sadar pada batasan. Sayangnya kematian kadang tiba di saat-saat yang tidak diharapkan. Begitu pula yang terjadi pada kekasih pria itu. Yang meninggal begitu tragis dengan leher tergorok, ketika dalam perjalanan menuju perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, di kedai ini. Dan malam ini adalah tepat hari jadi pernikahan mereka yg ke enam.
Di perjalanan pulangnya pada malam itu, dia merasa begitu sedih hingga tersungkur jatuh. Lalu menangis dengan keras. Orang-orang yang lewat hanya sekedar menoleh, lalu melanjutkan perjalanan. Lampu-lampu kendaraan yg berlalu lalang serupa ribuan kunang-kunang yang berterbangan, silau cahaya kuningnya sedikit mengganggu pria yang tengah dirundung kesedihan itu. Ketika semua akhirnya hening dan senyap, Ia menyeka air mata lalu segera berdoa. Berharap waktu terulang dan berharap akan hidup selamanya di masa lalu. Dia sadar doanya hanya sia-sia, tapi dia merasa sedikit lebih baik. Doa memang selalu mampu menjadi sandaran bagi mereka yang telah kehilangan harapan.
Dia terbangun di kamar tidurnya. Dia merasa aneh dan keheranan karena dia yakin semalam mabuk lalu tertidur di pinggir trotoar Stadion Mandala Krida. Dan kini dia terbangun di kamar rumahnya. Keanehan tidak hanya sampai di situ. Ketika tengah mengecek layar smartphone, dia mendapati hari itu adalah kamis tanggal dua puluh lima November, yang berarti waktu telah mundur satu hari dari malam di mana dia mabuk dan tersungkur. Dia beranjak dari tempat tidur dengan keraguan, berpikir mungkin dia masih dalam pengaruh minuman keras sehingga mabuk dan tidak bisa melihat waktu dengan benar. Dia mencuci muka, menyeka wajahnya dengan handuk lalu kembali mengecek waktu. Kali ini dia yakin bahwa waktu memang telah mundur selama satu hari.
Waktu terus berjalan mundur, berhari-hari, berbulan-bulan. Tak banyak yang berubah dari dirinya, dia masih sering menghabiskan waktu dengan mengunjungi beberapa tempat dan bermalas-malasan pada malam harinya.
Waktu kini telah mundur selama satu tahun. Di pagi itu dia terbangun dan mendapati kekasihnya tengah tertidur pulas dalam pelukannya. Betapa bahagianya dia. Dia kecup kening kekasihnhya itu lalu segera mendekapnya dengan lebih erat. Seolah tak membiarkan ada jarak di antara merka. Dia dekap dengan erat dan begitu dekat. Air matanya tak mampu lagi terbendung, dia menangis sejadi-jadinya seperti seorang anak yang akhirnya bertemu kembali dengan ibunya setelah sekian lama terpisah.
“kamu kenapa?” kata kekasihnya yang terbangun sebab dipeluk dengan begitu erat.
Pria itu tidak menjawab, justru semakin mengencangkan pelukan. Diam-diam dia bersyukur pada Tuhan yang selama ini telah ditinggalkannya.
Waktu memang berjalan mundur tapi kehidupan pria itu kini terasa bergerak maju dan berangsur-angsur menjadi lebih baik. Setiap pagi dia terbangun dengan perasaan bahagia dan rasa syukur yang berlimpah.
“kamu sekarang terasa lebih religius” kata kekasihnya itu di suatu sore.
Tidak bisa dipungkiri kehidupannya sekarang terasa lebih hidup. Dulu dia paling enggan pergi ke gereja, kini sangat rajin. Dia juga membeli seekor anak anjing agar suasana rumahnya semakin ramai katanya. Dia juga sekarang lebih sering membantu pekerjaan rumah. Menemani kekasihnya menyiram tanaman, membelikan beberapa jenis bunga, juga membantu menanam dan merawatnya. Bahkan kekasihnya sendiri juga keheranan.
Hari berganti hari, pria itu lalui dengan penuh kebahagiaan dan tawa sumringah tiap terbangun di pagi hari. kini tiap hari dia akan terbangun lebih cepat dari kekasihnya, memandanginya terus hingga matahari meninggi. Lalu tidak lama setelah itu kekasihnya akan segera terbangun dengan buru-buru, karena merasa akan terlambat berangkat kerja. Kebahagiaannya kini terasa lebih lengkap dan sempurna.
*******
Kebahagiaan memang telah kembali, namun satu yang tidak disadari pria itu adalah waktu tidak segera berhenti dan terus berjalan mundur. Sampai akhirnya hari itu dia terbangun dan tidak menemukan kekasihnya di sebelahnya. Dia bergegas mengecek kamar mandi, dapur, halaman rumah bahkan tidak melewatkan setiap jengkal sudut di rumahnya itu. Jangankan menemukan kekasihnya, barang-barang seperti baju dan aksesoris kekasihnya juga tidak dia temukan.
Dia berlari seperti orang tidak waras. Menoleh ke kanan ke kiri di antara ramainya kota Jogja. Menghentikan setiap perempuan yang tengah lewat di jalan. Tapi tetap saja dia tidak menemukan kekasihnya itu. Dalam perjalanan pulangnya dia melihat kekasihnya tengah tengah duduk di kedai itu. Sialnya kekasihnya itu sama sekali tidak mengenalinya dan menjerit ketakutan menggangapnya sebagai orang gila.
Malam itu dia merasa begitu hancur. Apa yang lebih menyakitkan daripada kehilangan untuk yang kedua kalinya?. Dia menangis dengan hebat sampai terlelap. Pagi hari ketika dia terbangun, dia melihat waktu bergerak maju seperti semestinya.