Eeuuuuu...... apa ya?
kali ini cerita tentang masalalu seseorang yang naif sampai-sampai ke naifannya ini membuat dia jatuh sendiri.
🖤🖤🖤🖤
Menginjakkan kaki disekolah menengah pertama, seorang anak gadis bernama Lyra menjalani sekolahnya dengan perasaan ringan seakan tanpa masalah.
Memiliki banyak teman dan sedikit bergaul, tidak terlalu mencolok, dan tidak terlalu pintar pula. Karena dia masih sangat muda, hal-hal berat seperti tujuan hidup, cita-cita dan pekerjaan bukanlah hal yang ia pikirkan. Hanya memikirkan bagaimana harinya harus jadi menyenangkan adalah kesenangan tersendiri baginya.
Dia anak yang gak pandai bicara, jadi terkadang lingkaran sosialnya membuatnya sedikit stress karena semua tidak selalu berjalan sesuai rencana. Belum lagi menghadapi orang² yang memang pada dasarnya hanya memikirkan keburukan orang lain. Terkadang mentalnya 'down' karena perkataan orang-orang seperti itu membuat semangatnya patah.
Teman karib? euu... itu sesuatu yang sama sekali tidak penting. Pada akhirnya sesuatu yang disebut teman karib itu akan tiba-tiba menghilang seiring waktu berputar. Dia tahu itu, jadi dia tidak terlalu memikirkannya.
Anak ini masih terlalu muda untuk urusan percintaan di usia-nya. Namun kadang pengalaman juga hal yang penting untuk seseorang agar kehidupannya terus berjalan. Dia yang begitu yakin telah menyusuri jalan mulus tanpa ada duri mengira apapun dapat diwujudkan hanya dengan sedikit usaha.
Yaa hal seperti itu kadang begitu mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan.
Pada masa kecil bahagianya, Lyra memiliki banyak kenangan berharga bersama kedua saudari perempuannya.
Kakak kedua-nya terlalu lugu namun berjiwa positif. Dia memiliki kehidupan sangat normal bahkan terlalu normal. Dia berakhir jadi budak cinta kekasihnya sampai selama beberapa tahun terus gelisah karena sang kekasih tak kunjung melamarnya. Namun penantiannya akhirnya berakhir dihari pernikahannya.
🖤🖤🖤🖤
Ketika usianya masih belum mencapai 2 digit, Lyra sering mendengar cerita tentang kehidupan asmara kakak kedua-nya. Tentang bagaimana kakak-nya itu dekat dengan anak tetangga. Karena rumahnya berjarak dekat hanya tinggal seberang jalan kita sebut itu tetangga.
Kakaknya itu mungkin bilang bahwa dia tidak memiliki hubungan seperti itu dengan 'nya' tapi dia terus membicarakannya, sedangkan Lyra yang masih kecil sama sekali tak perduli akan hal itu.
Cepat waktu berlalu, Ketika duduk dibangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama, orang yang sering disebut sebut kakaknya dulu, anak tetangga kenalannya yang sempat sering dibicarakan kakaknya itu muncul sebagai seseorang yang sama sekali berbeda dengan deskripsi sebelumnya. Ketika Kakaknya bilang dia anak yang tidak menarik sama sekali dan sering terjerat masalah, yang paling biasa diantara teman-teman sekelasnya, ketika Lyra melihatnya kala itu, benar-benar berbeda dari bayangan.
Etto... Kalian tahu sugar daddy? semacam itu. Dia terlihat seperti....
Aagh, lupakan soal sugar daddy, pokoknya dia sangat tinggi, bersih, rapi, kumis tipis, sepertinya di pakaiannya gaada noda setitik pun. Lalu potongan rambutnya juga rapi. Ketika lewat, seakan bau parfumnya bisa tercium oleh orang yang memakai masker sekalipun. Dia juga menyapa orang yang dia kenal dengan penuh sopan santun dan bahasa yang ramah. dia memakai satu tindik di telinga dan sebatang rokok ditangannya. Terlepas dari itu pesonanya membuatmu tak ingin berkedip. Walau itu deskripsi yang terkesan dilebih-lebihkan. tapi itu yang terlihat apa adanya. Kenyataan bahwa pemandangan itu tidak terlihat kotor sama sekali. Rambut yang jatuh dilehernya juga membuatmu tidak bisa memalingkan pandangan. Tatapan matanya yang tulus tetapi tidak meremehkan, Bulu matanya terlihat melanggar aturan, jari-jari tangannya bahkan mencuri pandanganmu tanpa disengaja.
Ketika bertanya pada si kakak mengenai identitasnya, tanpa keraguan sedikitpun, Lyra mengakui bahwa itu bentuk dari cinta pada pandangan pertama baginya.
Jiwa positifnya tidak memberikan peringatan apapun. Hanya terus maju dijalan yang diyakini-nya. Bahkan walau dia tahu itu bukan sesuatu yang bisa didapatkannya hanya dengan membalikan telapak tangan, Lyra yang sudah terlanjur terobsesi dengan makhluk itu tetap berusaha dengan caranya sendiri dengan satu keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
Beberapa hari berlalu setelahnya, Lyra bertanya banyak kepada kakak keduanya hal-hal yang ingin dia tahu tentang orang itu. Soal siapa nama lengkap-nya? Bagaimana kedekatan mereka dulu? apa yang membuat kakak tidak menyukai orang seperti itu? Jika dijawabnya 'orang itu' terlalu biasa dibanding teman-teman sekelasnya yang lain maka itu akan jadi pertanyaan besar bagaimana mengenai kakak-kakak senior lain-nya dikelas itu... gila...
Pierre. Nama orang itu, dia ternyata lebih dekat dari dugaan. kau bahkan bisa melihat rumahnya jiga menengok ke jendela. Jauh namun dekat, dekat tetapi terasa jauh. Deskripsi yang cocok untuk keadaan saat itu.
Setelah banyak banyak banyak banyak stalking yang dilakukan Lyra menghasilkan beberapa jawaban memuaskan. Lyra bahkan mengetahui tempat kerja-nya, hobi-nya, bahkan fakta bahwa ketika itu Pierre sedang mencari calon istri yang serius.
Fakta itu membuat Lyra sedikit gelisah namun juga berusaha bersabar menunggu waktu berlalu agar dia melewati tahun kedewasaannya lalu mimpi rapuh nya akan jadi kenyataan. Benar-benar rapuh seperti hatinya.
Kakak kedua tidak begitu tertarik dengannya dan hampir dekat dengan tanggal pernikahannya. Tidak masalah hubungan mereka yang lalu, kali ini mereka sama sekali tidak ada ikatan apapun, kakak kedua juga tidak perduli lagi dengan hal itu dan mendukung Lyra apapun yang diinginkannya.
Lyra yang begitu terobsesi dengan Pierre bahkan untuk pertama kalinya secara terang-terangan, begitu terbuka pada ayah dan ibunya soal bagaimana dia mencintai makhluk itu. Ibunya yang berhati lembut lantas berkata,
"Ntar klo kmu udh lulus udh dewasa, biar mamak sama bapak kao yang kesana duluan lamar dia buat kmu klo gitu. Oke?"
walau tahu itu setengah candaan, tapi entah kenapa perasaannya lega mendengar ibunya mendukungnya dan tidak menghakimi-nya.
🖤🖤🖤🖤
Musim hujan datang, Lyra yang obsesif mendapatkan nomor telfon yang bisa dihubungi tentunya milik Pierre. Dengan sedikit harapan pesannya akan dibalas, Lyra mengiriminya pesan hanya beberapa patah kata yang bahkan dia lupa apa yang dia ketik. Tak selang beberapa menit kemudian, tanpa diduga Pierre menelfonnya dan mereka berbincang sedikit. Soal bagaimana Lyra mendapatkan nomor kontaknya, dan berapa usianya. Itu agak menakutkan karena setelah itu Pierre lalu ragu dan Lyra pun menutup telfonnya.
Itu baru langkah pertama, tidak penting bagaimana tanggapannya mengenai umur, seseorang akan terus dimakan waktu dan usianya akan tua walau orang itu menolak. Lyra masih tetap positif dengan kemajuan yang ia dapat lalu hampir setiap hari keluar rumah hanya untuk melihat Pierre bekerja di tempat kerja nya.
Sebenarnya Lyra pun gak tahu apakah Pierre mengenalnya atau tidak. Apakah Pierre mengenalnya sebagai adik dari mantan gebetannya dulu atau Pierre mengenalnya sebagai orang yang diam-diam menyukainya, sampai akhirpun Lyra tidak tahu. Hanya satu fakta bahwa ketika bertemu, Pierre selalu menyapanya menandakan dia mengenal Lyra.
🖤🖤🖤🖤
Sudah cukup soal itu, dihari dimana semua orang berkumpul menonton pertunjukkan (gatau pertunjukkan apa, lupa), Lyra melihat Pierre menonton pertunjukkan dengan wanita disampingnya. Tak lama dia menggandengnya, lalu merangkulnya, mereka terlihat sangat akrab untuk berpelukan di tempat umum. Sekali lihat siapapun tahu mereka itu pasangan. Lyra dengan jengkel lalu pergi.
Hal itu sama sekali tidak membuat perasaannya berubah. Mereka hanya pasangan setengah jadi, belum menikah dan tidak ada ikatan berarti. Masih belum terlambat untuk terus berusaha sampai muntah darah. Itu yang Lyra pikirkan.
🖤🖤🖤🖤
Tak terasa waktu sudah setahun berlalu sejak pertemuan pertama kala itu.
Tentu saja sesuai dugaan, Pierre dan perempuan itu tak terdengar kabarnya dan ternyata mereka sudah selesai.
Lyra pikir itu kabar baik, namun terdengar kabar lain yang lebih menyakitkan dari tempat kerja kakak keduanya.
Kau tahu? perusahaan-perusahaan seperti itu kadang isinya hanya makhluk tukang gosip yang gak terlalu pandai bekerja. Mereka bergosip sepanjang waktu menunggu bos nya marah. Tapi kali ini kenyataan itu justru cukup efektif agar tidak tertinggal berita penting.
Kenyataan menyakitkan mengatakan Pierre akan segera menikah dengan sepupu teman kerja kakak keduanya. Sulit dimengerti? pahami sendiri!
Lyra tentu tak termakan omongan orang begitu saja, lanjut aktivitas stalking nya dan mengetahui bahwa rumor itu benar.
Walau tidak dipublikasi secara terang-terangan, salah satu teman dekat Lyra membagikan foto pernikahan Pierre dan istrinya karena kebetulan teman dekat Lyra itu juga berteman dengan pengantin wanitanya.... Konyol tapi nyata
Berakhir
Semuanya sudah berakhir karena satu potret di bulan april yang sangat jelas dengan latar belakang pelaminan dan dua pengantin berdiri sejajar begitu mesra.
Anak ini, Lyra.... Tidak pernah sekalipun berpikir akan menangis hanya karena satu hal konyol terjadi dalam hidupnya, tapi air matanya mengalir tanpa peringatan. Semua tahu itu. Ibu, kau tak perlu repot-repot melamarkan seorang pria untuk anak gadismu. Kakak, benar katamu dia terlalu biasa....
Seharusnya begitu. Ketika janur kuning membusuk, maka perjuanganmu berakhir. Tapi itu akan jadi awal untuk perjalanan baru.
Pierre mungkin bahagia dengan istrinya,,, atau mungkin pula tidak bahagia. Setelah mereka menikah, bahkan walaupun sering bertemu tanpa disengaja, Lyra sengaja menunduk atau memalingkan pandangannya berpura-pura tidak mengenal Pierre. Disisi lain entah apa yang Pierre pikirkan mengenai tindakan Lyra, mungkin Pierre menganggap Lyra sombong? Lyra hanya berharap Pierre mengerti bahwa tindakannya itu bukan untuk memusuhi, tetapi salah satu upaya mengubur perasaannya. Entahlah yaa Pierre mengerti atau tidak? Hanya langit yang tahu.
🖤🖤🖤🖤
Setelah itu apa yang terjadi? ya gak terjadi apa-apa gais. Ceritanya udah End.
notes:
Jadi nih yaa disini tuh klo upacara pernikahan tu diadakannya di kediaman si cewek kan, otomatis si Lyra gatau klo Pierre lagi nikah. Kecuali fakta klo walaupun tetangga seberang rumah, karna beda rt rw, dan emng gak sedeket yang dikira, gaada undangan yang dikirim samsek.
ini cerita bedasarkan kisah nyata. Jangan pikir ini pengalaman pribadi. Kenyataan konyol bahwa lu naksir mantan gebetan kakak lu sendiri aja udah aneh, gak mungkin itu aku☺️
Sekian, Wassalam