Hari ini Gibran kembali ke tempat itu, sebuah taman yang berdekatan dengan rumah sakit. Pemuda itu kembali ke sana saat hari sudah menjelang sore, berdiri di balik pohon maple sembari membenarkan lensa kamera. Beberapa menit berkutat dengan lensa, akhirnya Gibran dapat menghela napas puas karena ia berhasil membenarkannya.
Kemudian, ia kembali mengangkat kamera sebatas wajah dan mengarahkannya ke suatu sudut taman.
Sudut bibirnya refleks terangkat, membentuk seulas senyum tipis saat lensanya menangkap potret seorang gadis berambut cokelat kemerahan, sepertinya gadis itu sudah duduk di sana selama berjam-jam, di salah satu kursi di sudut taman sibuk mencabut satu persatu kelopak bunga yang semula dikemas dalam buket cantik di pangkuannya.
Senyum Gibran perlahan memudar. Saat kelopak yang dicabut paksa itu meluruh dan jatuh ke atas tanah. Tanpa sadar ia menurunkan kamera dan menatap dengan kening berkerut pada sosok tersebut.
Beberapa minggu yang lalu, Gibran sudah pernah melihat sosok itu duduk di sana dengan senyum manis di bibirnya dengan kostum pasien yang membalut tubuhnya yang ringkih. Awalnya Gibran tidak sengaja menemukan potret gadis itu pada salah satu gambar yang diambilnya, hingga ia memutuskan untuk kembali ke tempat ini demi menemukannya.
Gadis itu tampak cantik dengan senyum segaris, meski bibirnya kering dan pucat. Sosok itu tampak sangat manis, meski tanpa rona di kedua pipinya.
Apakah Gibran tertarik? Entahlah. Dia bahkan baru beberapa kali melihat sosok itu di taman dan memutuskan untuk memotretnya diam-diam. Koleksi photoshoot-nya jadi lebih berwarna saat salah satu potret sosok itu terselip dalam albumnya.
Sebelumnya, Gibran tak pernah berniat untuk menghampiri sosok itu sekadar untuk mengajaknya berkenalan. Ia terlalu pengecut. Tidak, sebenarnya ia terlalu pemalu untuk melakukan hal-hal semacam itu. Pemuda sepertinya bukan seseorang yang mudah akrab dengan orang asing. Gibran memiliki masalah dengan cara berkomunikasi, seringkali ia merasa kesulitan menyusun kalimat untuk memulai sebuah percakapan. Hingga ia lebih memilih untuk menatapnya dari jauh seperti ini dan memotretnya diam-diam.
Awalnya, Gibran tidak pernah tahu bahwa kakinya sanggup melangkah tanpa sekehendak hati. Saat kelopak bunga itu terus berjatuhan, langkah kakinya semakin cepat pula datang mendekati.
Menghancurkan sesuatu yang indah hingga menjadi sampah, Gibran tidak menyukai pada bagaimana cara sosok itu memperlakukan bunga. Sampai jarak antara dirinya dan sosok itu tinggal beberapa langkah, mulutnya reflek bersuara.
“Kenapa?” pemuda itu bertanya dan segera terjeda.
Gibran tercekat pada pertanyaannya sendiri, lalu pada sosok gadis berwajah pucat yang kini mendongak menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
Gibran terpaku, pada iris gelap tanpa binar yang kini memetanya dengan raut wajah bingung. Mungkin sosok itu sedang berpikir, apakah orang asing ini sedang berbicara dengannya?
Gibran terdiam beberapa saat dan sosok itu sudah kembali pada kegiatannya–mencabut kelopak bunga.
“Bunga itu indah, mengapa kau tega melakukannya?” Gibran kembali bertanya, ia tetap merasa tidak tega padahal ia sadar betul bahwa itu sama sekali bukan urusannya.
Terserah gadis itu mau melakukan apapun pada bunga miliknya. Tapi, entah mengapa Gibran jadi begitu berani bersikap lancang dan ikut campur urusan orang. Tiba-tiba saja ia merasa kesulitan mengendalikan diri.
Lantas gadis itu mendongak, berkedip sekali dan menatap tepat ke dalam mata pemuda asing di hadapannya itu tanpa minat.
“Benarkah?” gadis itu balik bertanya, seolah mengejeknya.
Gibran mengernyit, merasa tidak suka.
“Kau bilang bunga ini indah. Benarkah?” gadis itu bertanya lagi. Suaranya serak separuh tak terdengar.
Masih tak beranjak dari tempatnya berdiri, Gibran mengangguk kaku untuk membenarkan. Bunga itu memang indah, semua orang tahu itu dan semua orang tentu menyukai sesuatu yang indah.
Satu kelopak terakhir. Gadis itu mengambil napas dalam lantas menghela dengan pelan sebelum berkata, “Bunga ini indah. Ya, aku tahu bunga ini indah. Tapi bunga ini sedang sekarat. Kau tahu? Dia hanya sedang menunggu waktu untuk mati, lalu orang-orang yang pernah menganggapnya indah akan melupakannya begitu saja.”
Jemari ramping itu kembali terangkat, mencabut kelopak terakhir dengan gerakan lambat dan menepis tangkainya hingga jatuh ke atas tanah.
Gibran bungkam, baru kali ini mendengar seseorang yang mengartikan satu buket keindahan itu merupakan sesuatu yang tragis.
Sosok itu berkedip sekali lagi setelah berbicara mengenai nasib bunga yang menurutnya sangat menyedihkan. Namun, kali ini dia tersenyum, senyum yang membuat sepasang mata itu jadi tampak segaris. Senyum lemah yang masih terkesan indah.
Gibran sadar bahwa ia telah melewatkan sesuatu yang menarik untuk ia abadikan dengan lensanya.
Pemuda itu melangkah lebih dekat lalu sedikit menunduk untuk mempersempit jarak di antara mereka. Jemarinya yang panjang dan tampak kekar terangkat hingga membuat gadis itu terkesiap saat Gibran tiba-tiba menyapu ringan permukaan bibirnya yang sedang tersenyum.
Raut khawatir tercetak jelas dalam pandangan mata Gibran saat ini. Gadis itu mengerjap sekali lagi saat pemuda tersebut tiba-tiba menekan bibirnya yang kini basah oleh cairan kental berwarna merah.
“Siapa namamu?” Gibran bertanya, menatap lekat sosok di hadapannya dengan sorot sayu penuh iba ketika gadis itu berusaha menjawab dengan terbata-bata.
“Ja–Jasmine,” ucapnya, dan cairan itu mengalir semakin banyak. Ia refleks mengangkat tangan untuk menyentuh hidung, akan tetapi Gibran bergerak lebih cepat untuk menahan jemari itu.
“Kau mimisan, Jasmine. Kembalilah ke rumah sakit sekarang, aku akan mengantarmu.”
Gibran bersiap menyeret Jasmine pergi dari sana saat tiba-tiba sosok itu kembali terduduk dengan mata yang terpejam. Gadis itu tak mendengar suara Gibran yang memanggil-manggil namanya, dia jatuh pingsan dengan darah yang mengalir lebih deras lagi.
Jasmine adalah gadis yang kesepian, itu adalah kesan yang Gibran dapatkan setelah kejadian yang mencubit sudut kecil hatinya saat di taman waktu itu.
Tiga hari gadis itu tertidur setelah Gibran membawanya ke rumah sakit dengan cara menggendongnya. Sampai pada hari ke empat, penantian pemuda itu berakhir saat kelopak mata Jasmine mulai bergerak pelan dan Gibran dengan sigap berlari ke luar ruangan untuk memanggil petugas rumah sakit.
Gibran hanya menatap sosok itu dalam diam, saat beberapa perawat tampak sibuk mencatat rekam medisnya bersama dengan dokter yang fokus memeriksa denyut nadinya. Sejujurnya Gibran sudah cukup penasaran dari hari pertama ia membawa sosok itu ke rumah sakit ini. Banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan raut yang tidak dapat ia mengerti.
Tiga hari Gibran memutuskan untuk menunggu sosok itu terbangun dari lelapnya yang panjang, tetapi tak ada seorang pun dari sanak saudara yang datang menjenguknya. Ia jelas merasa bingung dan bertanya-tanya, apakah Jasmine sebatang kara?
Namun, satu kalimat bernada tanya yang meluncur dari mulut sosok itu saat ia pertama kali membuka mata dan menatap ke arahnya, mendadak membuat Gibran merasa begitu terenyuh sekaligus miris.
“Hai.” Jasmine tersenyum lemah sembari menyapanya. “Apa kau melihat ibuku datang?”
Gibran tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia menjawab tidak? Karena memang itulah kenyataannya. Tidak ada seorang pun yang datang ke ruangan ini selain dirinya.
Tapi, sosok itu semakin menunjukkan senyumnya yang manis meski terlihat tak bernyawa.
“Oh, mungkinkah kau tidak melihatnya? Pasti kau baru datang ke sini untuk menjengukku setelah menolongku kemarin karena tiba-tiba pingsan. Maaf, aku pasti merepotkanmu.” Gadis itu berceloteh panjang.
Gibran masih diam, jarak mereka cukup dekat dengan dirinya yang berdiri tegak di sisi ranjang. Satu pot bunga hidup sudah ia taruh di atas lantai dekat dengan jendela. Sebenernya ia ingin memberikan bunga itu sebagai hadiah menjelang natal tiba. Tapi kalimat selanjutnya yang diucapkan Jasmine membuat Gibran sontak terpaku di tempatnya.
“Aku tahu, setelah aku pingsan kemarin ibuku datang menjengukku. Bahkan aku dapat mendengar suaranya yang berbicara, beliau berpesan sembari mengelus kepalaku, bahwa Ibu akan kembali besok untuk menjemputku pulang.” Senyum Jasmine semakin merekah, hingga membuat pemuda itu khawatir, takut jika bibir kering gadis itu pecah dan mengeluarkan darah.
Gibran tidak sanggup sekadar memberitahu bahwa tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya. Tidak ada ibunya yang datang kemarin, bahwa gadis itu sudah tertidur selama tiga hari.
Kerongkongannya terasa tercekat. Hingga saat ia memaksa merespon sekalipun dengan berdengung singkat, suaranya jadi terdengar serak. “ Hm ...”
“Teman, aku lapar dan ingin menghirup udara segar. Maukah kau membawaku keluar dari ruangan ini?” suaranya terdengar sarat akan permohonan, dan binar itu pasti akan terlihat sangat menggemaskan jika saja gadis itu tidak sedang berbaring di atas ranjang putih dengan baju putih yang membalut tubuhnya. Rona wajah gadis itu pun terlihat semakin pucat.
“Baik, aku akan membawamu ke taman,” sahut pemuda itu setuju.
Gibran mengerjap setelah terdiam beberapa detik dengan raut wajah pias. Meraih kursi roda karena ia yakin jika Jasmine tak akan sanggup berjalan menggunakan kakinya.
Sosok itu terlihat sangat lemah dan rapuh hingga membuat Gibran khawatir di setiap detiknya.
Gibran memapahnya dengan sangat hati-hati. Khawatir jika sentuhannya dapat menyakiti tubuh kurus kecil itu.
“Maaf.” Gibran meminta maaf karena harus menyentuhnya.
Jasmine hanya tersenyum sekilas menanggapinya.
“Ah, aku lapar sekali,” ujar gadis itu kemudian.
Gibran menyembunyikan senyumnya. Tahu jika Jasmine sengaja bersuara keras agar ia mendengarnya. Jadi, gadis ini ingin ia traktir makan?
“Kau ingin makan sesuatu?” tanya Gibran seraya mendorong kursi roda menuju taman. Mereka melewati koridor dan beberapa perawat tersenyum dan menyapa saat mereka saling berpapasan.
“Apa kau akan mentraktirku?” gadis itu mendongak, berusaha melihat wajah teman barunya sambil berkedip beberapa kali. Gibran mencoba menahan diri untuk tidak refleks menarik hidung mungil itu, karenanya ia terpaksa berdeham kaku.
Tidak menunggu jawaban setelah bertanya, Jasmine langsung saja menyebutkan sederet daftar nama-nama makanan dan cemilan dengan raut wajah ceria dan suara yang terdengar lebih antusias dari sebelumnya.
“Aku ingin kentaki, mie, aku ingin sup rumput laut, pizza, ice cream, eung ... ah! aku juga ingin makan pasta! Plus cheeseburger, plus plus creamy caramel mocha.”
Gibran terkekeh geli, pada akhirnya pemuda itu benar-benar terawa sampai memperlihatkan giginya yang mirip kelinci, saat gadis itu terus berceloteh dengan kepala yang ia telengkan ke kanan dan ke kiri. Bertingkah seolah dia tidak pernah makan selama berhari-hari.
Mereka berhenti di bawah pohon maple. Cahaya matahari hari pagi merengsek melewati celah ranting dan daunnya yang mulai berguguran.
“Tunggu di sini dan aku akan kembali,” beritahu Gibran sebelum berlalu dari sana, menuju seven eleven yang berada tak jauh dari taman itu.
Tak lama, ia kembali dengan membawa sekantung belanjaan. Meletakkannya ke pangkuan Jasmine dan gadis itu seketika menarik senyum ceria, tak lupa mengucapkan terima kasih. “Thanks, Bro!”
“Jangan tersenyum seperti itu. Kau harus membayarnya suatu hari nanti. Kau berhutang padaku untuk semua makanan ini,” ketus Gibran yang sama sekali tak terlihat seperti candaan.
Tapi Jasmine cukup berani untuk menanggapinya dengan sebuah kekehan.
“yeah! aku pasti akan membayarnya. Besok ibuku datang. Berjanjilah untuk kembali berkunjung! Kalau kau ingin berkenalan dengan ibuku dan jika kau masih ingin mengambil uangmu juga. Hehehe!” Gadis itu terkekeh ringan seolah tanpa beban.
“Ya, tentu. Besok aku akan kembali ke sini.”
Jasmine tersenyum lagi.
Selanjutnya, dia terus berceloteh dengan mulut penuh pizza.
Berbicara tentang musim gugur yang mulai merindukan musim salju. Berbicara tentang dirinya yang sudah tak sabar bertemu ibu. Sementara Gibran tetap bertahan di sana menjadi pendengar yang setia. Bahkan gadis itu tidak sadar saat Gibran mulai bermain-main dengan lensa kameranya. Memotret sosok itu dari berbagai sisi yang lagi-lagi membuatnya terpesona. Jasmine masih terlihat indah bahkan dengan tubuh ringkihnya.
“Dulu, ibu senang mengajakku pergi bermain salju. Kami membuat boneka salju dan berperang dengan bola-bola salju. Dulu ....” masih banyak kenangan yang ia ceritakan. Sementara Gibran masih berada di sana, menjadi sosok pendengar yang setia.
Memperhatikan bagaimana gadis itu bercerita. Tentang masa lalu dengan ibunya, seolah tak sabar menunggu musim salju yang akan datang segera setelah musim gugur.
.
.
.
.
Gibran datang berkunjung keesokan paginya. Dia menepati janji untuk datang menemui gadis itu, meski ia harus terlambat macet dan harus berdebat dengan kakaknya terlebih dulu.
Dia melangkah dengan cepat ke arah taman dan melihat Jasmine sedang memejamkan mata, tergolek di atas kursi roda. Gibran berpikir, mungkin gadis itu meminta bantuan suster untuk membawanya ke sini.
Pemuda itu sempat cemas setengah mati. Dia berpikir bahwa Jasmine benar-benar telah pergi meninggalkannya. Namun, sosok itu kemudian tiba-tiba membuka mata dan menatap Gibran dengan raut bingung yang kentara.
Sementara Gibran reflek memeluk tubuh kurus gadis itu sambil bernapas dengan lega. Bersyukur karena perkiraannya meleset. Jasmine tertawa canggung dan menepuk punggung bidang Gibran dengan gerakannya yang lemah sekaligus kaku.
Lalu Jasmine mulai bercerita tentang ibunya yang kembali mampir saat ia tertidur tadi. Gadis itu bilang bahwa ibu akan datang menjemputnya sebentar lagi.
Jasmine mengatakan hal itu dengan riang. Berbeda dengan Gibran yang tanpa sadar mengeratkan rahang, tangannya mengepal, berusaha mengabaikan emosi yang tertahan.
Gibran menggeram dan memeluk Jasmine sekali lagi, memeluknya dengan erat dan berbisik pada gadis itu.
“Jangan pergi, Jasmine. Kumohon jangan pergi.”
Namun, kali ini gadis itu tidak lagi menjawabnya. Gadis itu tidak lagi tertawa atau mendorong tubuhnya menjauh seperti biasa. Jasmine tidak lagi bergerak, sementara Gibran merasakan jantungnya mulai sesak. Pemuda itu menangis.
Air matanya keluar begitu saja, saat dadanya sudah tidak lagi merasakan detak jantung Jasmine yang sempat berdenyut lemah dalam dekapannya.
Gibran tersadar, bahwa kali ini gadis itu benar-benar telah pergi meninggalkannya. Jasmine sudah dijemput oleh ibunya tanpa meninggalkan sepatah kata pun yang berharga.
Gibran menatap hampa pada satu pot bunga tulip berwarna putih yang ia taruh di dekat pohon natal, tepat di depan perapian yang menyala menghangatkan seisi ruang keluarga.
Musim salju telah datang dan Jasmine telah pergi tepat 13 minggu yang lalu.
Pemuda itu meraih kamera yang berada di atas meja sofa, lalu mulai mengamati satu persatu potret gadis itu di sana.
Sesekali Gibran dapat merasa denyu menyakitkan itu kembali hadir menusuk dadanya bersamaan dengan cairan kental merah yang ikut merembes keluar dari rongga hidungnya. Ia buru-buru mengusap cairan tersebut menggunakan sapu tangan sebelum ia simpan kembali ke saku celana.
“Merindukan gadis itu lagi?”
Mario, kakaknya yang berprofesi sebagai dokter datang dari arah dapur sembari membawa dua cangkir cokelat panas.
Gibran hanya diam, juga tak mengangguk untuk mengiyakan. Mario tahu dengan jelas bagaimana adiknya yang begitu terpukul sekaligus merasa terpuruk atas kepergian sosok gadis itu.
Bahkan Gibran baru tahu tentang penyakit lupus yang diderita Jasmine selama empat tahun terakhir dari kakaknya yang ternyata pernah menjadi dokter yang ikut serta menangani gadis itu.
Mario sempat bercerita tentang sosok Jasmine yang sendirian. Sosok Jasmine yang selalu merindukan ibunya, memimpikan ibunya yang sudah lebih dulu pergi ke alam yang berbeda, karena kecelakaan yang merenggut nyawanya dalam perjalanan hendak menjenguknya.
Tentang sosok Jasmine yang dibenci oleh ayahnya sendiri karena dianggap sebagai pembawa sial dalam keluarga mereka.
Jasmine yang malang. Sementara Gibran masih menyesali takdir yang membuatnya terlambat bertemu dengan sosok itu. Terlambat menyadari bahwa ia telah jatuh cinta, pada Jasmine yang kerap memanggilnya dengan sebutan ‘Teman.’ Sosok yang bahkan lupa untuk menanyakan siapa namanya.
Gibran menatap lurus ke arah perapian, pada api yang mulai mengecil dan menyisakan arang yang menyala merah. Mario menepuk bahu adiknya sekali lalu berkata,
“Berhentilah berduka, gadismu pasti sudah bahagia di atas sana.”
Ya, memang sudah seharusnya seperti itu. Jasmine memang pantas untuk bahagia. Gibran ingin terus bersama gadis itu, hanya Jasmine yang mampu membuatnya tersenyum juga dapat merasakan bahagia. Karena itu pula, Gibran sudah tak sabar ingin menyusulnya.
Suara Mario samar-samar terdengar di pendengaran. Kuncup bunga tulip putih yang sedang ia tatap juga tampak mengabur di penglihatan.
“Kita ke rumah sakit sekarang! Ya Tuhan!”
Gibran tak lagi menanggapinya. Hanya denyut jantung yang perlahan melemah dan kelopak mata yang perlahan menutup. Terakhir, ia dapat merasakan lengan kokoh Mario yang mengangkatnya dengan panik ke dalam gendongan.
‘Jasmine, tunggu aku datang.’
.
.
.
.
.
.
End.
7 Desember 2021
Remake dari cerita saya sendiri yang berjudul Still With You