“TIDAAAAKKK” teriakku saat melihat nilai-nilai yang tercetak rapi di raporku. Ku telusuri satu-persatu nilai yang tercetak disana namun tidak ada nilai A tercetak di rapor yang kupegang ini. Sangat buruk. Benarkah ini rapor milikku? Atau rapor milikku tertukar dengan orang lain. Tapi yang tercetak disana adalah namaku. Jadi ini benar rapor milikku? Nilai yang tercetak disana sungguh buruk, hanya nilai B dan lagi ada nilai C nya. Tidak, tidak mungkin ini terjadi! Astaga tidak mungkin, bisa gila aku kalau ini benar terjadi.
“Hei, ada apasih sampai teriak-teriak begitu?” ucap abang yang melongok dibalik pintu kamarku dengan wajah bingung.
“Abang, cepat liat ini!” aku menarik lengan abang, dan menyuruhnya melihat rapor yang kupegang dengan seksama.
“Emang kenapa dengan rapornya?” ucap abang dengan wajah polosnya yang sangat menyebalkan. Jari-jarinya yang panjang membolak-balikan halaman buku bersampul biru gelap itu tanpa tahu krisis yang dapat menghancurkan dunia sedang terjadi. “Tidak ada apa-apa kok. Emang apa yang aneh dengan rapormu ini?” lanjut abang yang bodoh ini setelah puas membolak-balikan buku rapor yang dianggapnya tidak ada masalahnya.
“Abang ini ya! Coba dong dilihat baik-baik. Lihat nilai yang tercetak disini, nilai nya B bang apalagi ini ada C nya. Ini pasti bukan rapor milik Ara, ini pasti punya orang lain” ucapku sambil meneriaki abang. Masa abang tidak bisa melihat ini, bukankah ini sungguh buruk. Masa rapor milikku ada nilai C nya, padahal selama ini tidak pernah ada nilai C tercetak di buku bersampul biru gelap dengan namaku tercetak di sampulnya ini.
“Huh…itu memang rapormu kok, Ra. Emang kenapa sih kalau ada nilai C nya, engga buruk kok. Lagian nilai C yang kamu punya itu tidak buruk, 84 lho. Masih bagus kan, engga jelek kok nilainya” abang mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Abang memang dari dulu tidak berubah, padahal aku sudah kelas 3 SMP namun masih saja ia mengelus-elus kepalaku seperti saat melakukannya kepada Coco kucing peliharaan kami.
“Engga bisa gitu bang! Emang nya aku abang yang dapat nilai pas-pasan sudah senang. Abang cuman wajahnya saja yang tampan. Harusnya cowok tampan tuh juga pinter biar makin banyak cewek kepincut sama abang. Lagian masa aku hanya dapat 84, padahal Ciara yang menyontekku saja dapat 90. Ma- masa aku cuma dapat 84. Ini tidak adil, padahal aku sudah mati-matian belajar, tapi kenapa Ciara yang dapat nilai bagus, kenapa bukan Ara bang! Kenapa bukan Ara yang dapat nilai bagus!” air mata terjun menuruni pipiku, aku tidak bisa menerima ini. Padahal aku sudah berusaha tapi kenapa begini.
“Sudah, sudah. Emang kadang seperti itu kok, besok kalau tes kamu jangan kasih contekan lagi, biar temanmu itu berusaha sendiri. Lagian pasti suatu saat akan ada ganjarannya kok. Ingat Allah tidak tidur, Zahra. Pasti Allah akan memberi ganjaran yang setimpal atas perbuatan temanmu kok” ucap abang sambil menenangkan diriku yang semakin terlarut dalam tangisanku. “Dan ingat ya, Ra. Abang tuh bukannya dapat nilai pas-pasan sudah senang. Abang itu kalau belajar susah banget, setiap mau belajar ada sms dari cewek-cewek di kelas abang ‘Semangat ya Valdy belajarnya, Hwaiting!’ gitu katanya, capek abang bahkan kakak kelas yang engga abang kenal semuanya sms kayak gitu. Bukannya abang fokus belajar malah bikin gabisa belajar. Engga mau abang berurusan sama cewek-cewek, cape abang engga kuat” lanjut abang sambil menunjukan ekspresinya yang seperti habis melihat hantu. Tanpa sadar aku tertawa mendengar cerita abang, mungkin abang sengaja agar aku tidak sedih lagi.
Namaku Alita Zahrani kelas 3 SMP, aku sedang frustasi dengan nilai raporku yang turun drastis. Aku bertanya-tanya kenapa orang yang mencontek biasanya dapat nilai yang lebih tinggi dari pada nilai orang yang memberinya contekan. Sungguh aku tidak tahu tapi ini sangat menyayat hatiku, temanku yang mencontek dengan bangganya berkoar-koar kepada semua orang bahwa nilai yang didapatnya hasil dari usahanya yang belajar sampai harus begadang. Dusta. Bagaimana dia bisa berkata begitu, padahal dia menyontek tidak hanya satu nomer saja. Padahal aku menahan diri untuk tidak mencontek dikala teman-teman lainnya sedang mencontek sambil bersembunyi-sembunyi menanyakan jawaban nomer sekian dan sekian. Padahal aku bertanya jawaban kepada temanku hanya untuk memastikan jawabanku, jika jawabannya berbeda aku tidak mengganti jawabanku dan tidak memperdulikan jawabanku salah atau benar. Kenapa nilaiku lebih rendah dari mereka yang menyontek. Apa ini karma karena memberikan contekan, kalau benar kenapa orang yang menyontek tidak dapat juga. Kenapa hanya aku yang menanggung rasa sakit ini.
Aku sudah muak dengan hal ini, di tes semester dua nanti aku tidak akan menjadi pihak yang dimakan. Mau memohon sampai berlutut pun tidak akan kuberikan satupun jawaban milikku. Mencontek atau diconteki, dimakan atau memakan. Aku tidak akan membiarkan diriku terjerumus kedalam lubang hitam yang menyakitkan ini, tidak akan pernah lagi!. Dan nilaiku pasti akan lebih baik di semeseter dua nanti. Jangan sampai aku menjadi seperti abang yang dapat nilai pas-pasan saja sudah senang. Tidak, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Sungguh aku tidak ingin merasakannya lagi.
Terkadang kejadian seperti kisah 'Zahra' diatas sering terjadi di kehidupan nyata. Maaf jika menyinggung perasaan, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun yang membaca kisah ini. So have fun😁