Angin berhembus dari jendala kayu tertutup kain. Udara saat ini cukup panas sehingga pemilik kamar menyalakan kipas. Sang pemilik tiduran di kasur bersantai sambil membaca buku komik kesukaannya. Terdengar ketokan dari jendela membuat pemilik kamar menoleh ke asal suara tersebut. Kemudian pemilik kamar beranjak untuk melihat siapa yang mengetok jendelanya.
"Fajar. Iseng banget sih padahal kan rumah aku ada pintunya. Sukanya ngetok jendela". Ucap pemilik kamar tersebut.
"Hehehehe kebiasaan Nja. Oh iya ini aku bawain jambu air udara panas gini seger nih makan yang berair". Ucap Fajar sambil menyerahkan sekantong jambu air.
"Wah...pas banget ni. Makasih ya Jar. Kamu emang temen yang paling pengertian deh". Sahut Senja dengan mata binar menerima jambu air tersebut.
"Yaudah kalau gitu aku pulang dulu. Salam ya buat bapak sama ibu kamu". Pamit Fajar
"Oke-oke. Btw makasih ya jambu airnya". Ucap Senja mengunyah jambu tersebut. Fajar berjalan meninggalkan Senja memberikan jempolan ke arah Senja.
Senja melanjutkan membaca komiknya sambil memakan jambu air pemberian dari Fajar. Usia Fajar lebih tua tiga tahun dari Senja. Senja menganggap Fajar adalah kakak sekaligus sahabatnya. Namun sebaliknya Fajar menaruh perasaan lebih terhadap Senja. Fajar tak berani mengungkapkan perasaannya karena takut cintanya bertepuk sebelah tangan dan membuat hubungan mereka menjauh. Fajar lebih memilih memendam perasaannya agar tetap bisa bersama Senja.
Senja tak menyadari sikap Fajar terhadapnya yang terkadang rela berbuat apapun demi Senja. Senja pikir itu adalah sikap seorang kakak dengan adik. Senja belum pernah merasakan jatuh cinta padahal anak seusianya sudah merasakan cinta bahkan berpacaran.
Senja berada di mushola sekolah menunaikan sholat dhuhur berjamaah. Setelah selesai Senja menunggu temannya keluar.
Brukkkkk
"Aduh". Ucap Senja tertabrak seseorang hingga membuat dirinya tersungkur ke lantai.
"Eh maaf nggak sengaja. Sini aku bantuin". Ucap Andre kakak kelas yang menabrak Senja. Senja pun menerima uluran tangan dari Andre. Selepas itu Andre pergi meninggalkan Senja. Senja tak henti-hentinya menatap kepergian Andre.
"Nja. Lihatin apa nglamun gitu?". Tanya Tera menepuk bahu Senja. Membuat Senja terperanjat kaget.
"Nggak lihatin apa-apa. Ayo ke kelas". Ajak Senja
Pikiran Senja tak lepas dari kejadian saat di depan mushola. Senja terus memikirkan sosok Andre yang tersenyum kepadanya. Hingga tanpa sadar Senja dan Tera sampai di depan kelas. Senja tak menyadari berjalan lurus hingga Tera menepuk bahu Senja.
"Nglamun lagi. Kita udah sampai di kelas. Kamu malah jalan terus mau nyamperin siapa sih?". Tanya Tera kepo
"Eh, udah sampai ya". Ucap Senja meninggalkan Tera masih mematung menunggu jawaban dari Senja.
Malam hari diiringi angin begitu dingin. Senja berada di depan rumah duduk di kursi. Dengan di temani kacang asin dan kuaci sebagai cemilan. Senja terus membayangkan wajah Andre tidak henti-hentinya hilang dari benaknya. Ya, semenjak kejadian waktu lalu membuat Senja mencuri pandang dari Andre. Konyol memang namun Senja kini menjadi pujangga baru mengenal cinta. Senja kadang berpikir apakah ini "cinta" atau hanya sekedar kagum saja. Pasalnya Andre cukup terkenal di sekolah karena Andre seorang ketua OSIS tampangnya tampan pula.
"Hoi, malam-malam nglamun kesambet lu ntar". Suara Fajar tiba-tiba datang duduk disamping Senja entah darimana.
"Hoby banget ya ngagetin gue".
"Malam-malam dateng ke rumah cewek. Oh atau lu rindu gue ya. Ngaku deh". Tebak Senja menatap Fajar penuh curiga.
"Kamu tahu aja Nja. Ya aku rindu kamu". Batin Fajar menatap lekat wajah teman semasa kecilnya.
"Dih gr banget yak nih anak. Gue kesini disuruh ibu nganterin ini nih". Elak Fajar menunjuk bingkisan yang dia bawa. Fajar memang disuruh ibunya untuk mengantarkan kue buatan ibunya. Dengan senang hati Fajar menurut perintah ibunya. Kesempatan buat ketemu Senja. Pikirnya.
Fajar langsung nyelonong ke dalam tanpa mendapat persetujuan dari Senja. Karena sudah terbiasa Fajar bermain ke rumah Senja. Hingga menganggap rumah itu adalah rumahnya sendiri. Fajar juga memanggil kedua orangtua Senja bapak dan ibu.
Setelah menyerahkan bingkisan tersebut ke ibu Senja. Fajar kembali duduk di samping Senja menyomot kacang milik Senja. Senja mendelik sebal menatap sinis ke Fajar. Fajar yang mendapat tatapan tersebut hanya acuh saja.
"Jar". Ucap Senja memecah keheningan di antara mereka.
"Lu kan sekelas sama Andre. Btw Andre kalau dikelas tuh gimana sih?". Tanya Senja kepo
"Ngapain nanya soal Andre. Lu suka ya?". Tebak Fajar dengan menahan rasa cemburu di hatinya. Cewek yang dia dambakan menanyakan cowok lain.
"Enggak tahu juga sih. Gue juga bingung ini cinta apa kagum aja". Curhat Senja setelah itu memasukkan kuaci kedalam mulutnya.
"Udah malem, gue pulang dulu ya". Ucap Fajar tak ingin menjawab Pertanyaan dari Senja.
"Eh lu belum jawab pertanyaan gue". Sergah Senja mencoba menahan Fajar.
"Cari tahu sendiri sana". Jawab Fajar sinis melajukan motornya. Senja masih mematung mendapati jawaban dari Fajar. Tidak seperti biasa cowok itu berbicara sinis terhadap dirinya. Senja pun tersadar kemudian masuk kedalam rumah.
Keesokannya Senja berada dikantin bersama dengan Tera. Senja meneguk es mangganya dan Tera memakan mi goreng. Pandangan senja terfokus ke salah satu orang siapa lagi kalau bukan Andre. Tapi sekarang Andre bersama cewek. Andre sama cewek. Batin Senja menggigit sedotan es nya.
Tera yang mengerti tatapan dari Senja menoleh ke objek yang sedang dilihat oleh Senja.
"Maklum mereka baru jadian. Hawanya pengen deket mulu". Ujar Tera melanjutkan acara makannya.
"Oh" jawaban singkat dari Senja.
Dua minggu berlalu Senja tak mendapat kabar Fajar. Setelah pertemuan mereka terakhit malam itu, mereka sudah tak lagi bertemu. Saat di sekolah Fajar menghindar dari Senja. Senja mencoba berpikir apakah dia ada salah dengan Fajar. Setelah mengetahui bahwa Andre sudah punya pacar, Senja mencoba melupakan sosok Andre.
Semenjak itu pula Senja menjadi rindu dengan Fajar. Ya senja rindu dengan tingkah tengil dari Fajar yang selalu menggoda dirinya. Senja mencoba untuk bertemu Fajar namun Fajar selalu saja menghindar. Senja terus berpikir apakah kesalahannya ke Fajar. Senja ingat jawaban sinis dari Fajar. Apakah karena itu dia marah kepadaku. Pikir Senja.
Sore yang sejuk karena hujan baru saja turun menyisakan gerimis kecil. Tanaman kembali segar tertimpa hujan yang mengirim energi ke tanaman. Senja sedang rebahan di kamar membaca buku komiknya. Karena bosan Senja bangun berjalan ke jendela kamarnya. Dibukanya jendela tersebut karena sebelumnya ditutup agar air hujan tak masuk ke dalam. Senja menghirup segar menatap langit kembali cerah secerah hatinya. Saat akan kembali membaca komik senja mendapati sepucuk surat dibungkus platik. Supaya tidak basah tertimpa hujan tadi.
Senja mengambil surat tersebut dibawanya kedalam. Senja duduk dipinggiran kasur. Perlahan Senja membuka surat itu. Senja bertanya-tanya dalam dirinya. Siapa yang mengirim surat ini?. Apakah ini untukku?. Dibukanya surat tersebut benar saja surat itu untuk Senja. Terbukti ada nama Senja disurat tersebut.
Untuk Senja
Sudah lama aku memendam perasaan ini terhadap kamu.
Ingin rasanya aku mengutarakan ini.
Tapi aku takut jika penolakan yang ku terima.
Hubunga kita menjadi menjauh dan aku tidak sanggup akan hal itu.
Aku sudah berusaha menepis perasaan ini namun semakin aku ingin melupakan semakin bertambah pula rasa ini terhadap mu.
Aku semakin yakin aku benar-benar mencintaimu.
Setelah aku tahu kamu cinta dengan Andre aku berusaha menjauh darimu.
Namu hal itu malah membuatku dilema.
Mungkin kamu menganggap aku sebagai seorang kakak tidak lebih.
Dan mungkin kamu menganggap aku ini laki-laki pengecut
Karena mengutarakan semua ini lewat surat.
Aku hanya belum siap dengan semua hal yang terjadi jika penolakan yang ku terima.
Setelah membaca surat ini dan hujannya sudah reda tolong temui aku di lapangan.
Salam hangat
Fajar
Senja melipat surat itu dan menaruh di meja belajarnya. Senja kemudian bersiap pergi ke lapangan. Dengan menggunakan sepedanya Senja menggayuh dengan cepat tidak peduli dengan keadaan jalannya. Sesampainya di lapangan nafas Senja terengah-engah, Senja melihat kesana kemari mencari keberadaan Fajar.
Senja berlari memanggil Fajar, Fajar menoleh mendengar teriakan dari Senja.
"Sampai segitunya ya. Buat nyamperin aku sampai kaki penuh lumpur. Nafas nggak aturan pula". Ujar Fajar menggoda Senja. Kata-kata yang sangat ia rindukan kini dapat ia dengar lagi.
"Dasar cowok bego. Berani-beraninya nyuruh cewek buat nyamperin duluan. Biasanya kan cowok yang nyamperin cewek". Sahut Senja menabok keras lengan Fajar.
"Lah lu sendiri kenapa mau gue suruh-suruh". Jawab Fajar membuat Senja merutuki dirinya. Benar saja yang dikatakan oleh Fajar.
"Gue takut aja. Kalau gue nggak dateng nanti lu nggak pulang". Elak Senja selogis mungkin.
Hening seketika dari keduanya. Fajar dan Senja duduk di kursi pinggir lapangan.
"Jar". Panggil Senja lembut
"Apa lu yakin kalau jodoh pasti tidak akan kemana-mana?". Tanya Senja memandang kedepan
"Gue sih yakin aja. Nama jodoh sudah ditulis". Jawab Fajar
"Kalau begitu apa lu siap nunggu gue. Kalau kita jodoh suatu saat pasti kita akan bersatu". Ucap Senja mantap. Diangguki oleh Fajar.
"Senja akan tiba. Kita pulang yuk". Ajak Fajar
"Lu boncengin capek gue gayuh sepeda". Adu Senja seperti anak kecil
"Siap laksanakan tuan putri". Sahut Fajar memberi hormat kepada Senja selayaknya prajurit patuh dengan tuan putrinya.
Fajar dan Senja berjalan beriringan ditemani tawa riang dari mereka. Walau mereka tidak bisa bersama mereka akan tetap selalu menjadi sahabat yang baik. Fajar berjanji dalam dirinya dia akan menjaga Senja tidak akan ada seorangpun yang bisa menyakiti sahabat sekaligus adiknya.