Tidak berapa lama aku harus tahan melihat semua ini?!Ah iya, kenapa aku harus marah? Karena seberapa b*jingan nya dirimu aku sadar jika kau bukan milik ku...
.
.
.
Sebuah hubungan harus di dasari dengan saling mencintai. Namun bagaimana jika salah satu di antara nya tidak memiliki perasaan yang sama? Marah? Sedih? Tidak, tidak bisa, karena aku...hanya perempuan yang ingin mendampingi mu.
"Jam 21.00 jangan lupa datang di tempat biasanya"
Ucap pria ber jas yang ada di depan ku. Pandangan yang dingin, wajah nya yang tampan, dan aroma parfum yang kuat. Benar-benar pria yang membuat wanita ingin dekat dengan nya. Termasuk aku, teman semasa kecil nya. Berasal dari keluarga kaya kami tak kekurangan apapun. Setiap apa yang kami mau kami akan mendapatkan nya. Begitu juga dengan...cinta.
"Baiklah"
Makan malam kali ini membuat ku tak nyaman. Sedari tadi dia hanya fokus ke handphone tanpa menatap diri ku.
"Hei Hans, jika kau kesini karena paksaan lebih baik tak usah datang"
"Ini perintah ayah mu, bagaimana aku menolak nya?"
Jawab Hans sambil mengernyitkan alis nya. Aku tau jika dia datang terpaksa, namun cobalah berpura-pura memberi perhatian kepada ku. Seperti pasangan...lainnya.
"Hans, kau begitu mencintai wanita itu ya?"
Tanya ku dengan tatapan kosong. Penyebab Hans selalu acuh kepada ku...karena dia punya wanita yang ia sukai.
"Sepertinya sudah terlalu larut, lebih baik kita pulang"
"Hans! Jangan mengalihkan perhatian dan jawablah pertanyaan ku!" *marah
Dia berdiri dan memanggil seorang pelayan. Memberi tips kepada pelayan dan segera meninggalkan tempat ini. Aku yang sedari tadi mengikuti nya dari belakang. Hanya dengan bisa selalu dekat nya saja sudah membuat ku senang.
Hans mengantarkan ku sampai rumah. Rumah besar nan mewah tempat pemberhentian kami. Yah aku hanya bisa melambaikan tangan. Sampai mobil Hans jauh dari pandangan. Haah, bagaimana cara agar kau bisa mencintai ku? Apakah harta ini tak bisa membuat mu berpaling dari ku?
.
.
.
Dan besok nya pagi-pagi sekali aku pergi ke kantor. Mengambil dokumen-dokumen yang perlu, tak lupa di dampingi oleh secangkir kopi yang ku beli saat perjalanan tadi.
"Selamat pagi Bu"
Ucap salah satu pegawai ku.
"Ah iya, selamat pagi"
Aku segera duduk di meja ku dan mengerjakan semua pekerjaan. Sudah 3 jam berlalu, tapi sedari tadi aku tidak melihat Hans, dimana dia? Pria itu gila bekerja, tidak mungkin ia bangun kesiangan dan sebagainya. Atau karena...wanita itu lagi? Sial! Tidak bisa, tidak, dia sudah di jadikan pemimpin perusahaan ini karena ayah. Tak seharusnya dia melakukan itu. Namun, apakah aku memiliki hak untuk ini? Benar-benar menyebalkan.
Tak lama setelah itu Hans datang. Berjalan menuju ruangan nya tanpa menyapa ku. Sebelum dia masuk keruangan aku segera memegang erat tangan Hans.
"Ada apa?"
"Kemana saja kau tadi? Apakah seperti ini sikap seorang pemimpin perusahaan?" *mengernyitkan alis
Hans menepis tangan ku dengan pandangan dingin nya.
"Aku ada urusan tadi, toh apa hak mu dengan segala urusan ku?"
"Kau...pergi dengan wanita lain bukan?"
Dia diam dan menatap ku dengan pandangan serius. Walau samar, tercium bau parfum wanita di jas nya.
"Ya, kami bertemu karena ada urusan pekerjaan. Apakah ada yang salah?Kau cemburu?"
"Aku hanya ingin kau mengetahui perasaan ku. Aku benar-benar mencintai mu...apakah selama kita bersama tidak ada perasaan cinta pada diri mu?Kau mau kontrak kita berakhir sekarang juga?!" *marah
Hans hanya diam dan memegang pundak ku.Ia mendekat dan berbisik...
"Aku sudah memberi semua cinta ku pada mu.Tak ada gunanya kau cemburu. Gunakan aku sepuasnya"
"Hans...kau..."
Dia menjauh dan menepuk pundak ku. Tatapan nya begitu kosong seakan terpaksa melakukan semua ini. Apa ini yang ku inginkan?Tidak, biarkan aku sedikit egois.
"Cintai aku sepenuh hati!"
Ucapku dengan serius. Menahan air mata dan pergi dari hadapan nya. Sial sial sial! Kenapa aku menangis? Tidak ada yang perlu kau tangisi...Kiran...
Waktu berlalu dan kini Hans sudah bisa tersenyum kepada ku. Kami selalu menghabiskan waktu berdua. Bergandengan sudah menjadi kegiatan kami sehari-hari. Selalu menyempatkan waktu untuk pergi berlibur berdua.
Ya bersikaplah bahwa kau mencintai ku...walau itu semua palsu namun aku senang.
"Buka mulut mu Hans, Aaa"
Aku menyuapi Hans sesendok kue. Ia menuruti perintah ku dan membuka mulut nya.
"Hm, lumayan"
"Hehehe"
Ia selalu saja memalingkan wajah nya dan menghadap ke arah lain. Menutup mata dan menikmati hembusan angin.
"Hans, apakah kau bahagia bersama ku?"
Ia diam beberapa saat...kemudian mengatakan...
"Entah, mungkin aku sudah terbiasa dengan hubungan ini"
"Oh...okey"
Aku diam beberapa saat, menghela nafas panjang dan memegang tangan Hans.
"Hans kau tidak berbohong bukan?" *tersenyum
Ia kembali diam, tak lama ia menjawab...
"Jujur, aku merasa terkekang dengan semua ini"
Ucap Hans dengan tatapan kosong nya. Hahaha aku mengerti, aku selalu mengancam Hans dengan kekayaan dan reputasi yang akan kerenggut kembali. Semua yang ayah ku berikan, takut di renggut. Jika bukan karena aku Hans tidak menjadi apa-apa. Bagai melihat rantai di tangan kami berdua dan takkan pernah terlepas tanpa kunci yang ada.
Di satu sisi aku bahagia namun di satu sisi aku merasa bersalah. Yah, keinginan egois dan bodoh yang ku pikirkan dulu. Di butakan oleh cinta tak terbalaskan. Hahaha, cinta dapat di beli dengan uang, benar-benar dunia kejam.
"Hans, kontrak kita berakhir" *senyum
Wajah nya menjadi panik, berbagai macam pertanyaan terlihat di mata nya.
"Tenanglah bukan kontrak perusahaan, namun kontrak cinta yang mengekang mu"
"Kau serius?"
Tanya nya yang tidak percaya.
"Tentu, selama 1 tahun ini aku sudah menjadi wanita yang jahat, maaf ya. Dan untuk kerjamu kau sangat hebat dan pantas menjadi pemimpin di kantor kita"
Dia terdiam dengan wajah tak percaya. Ya, aku mempunyai kunci untuk melepas rantai ini.
"Kiran...terimakasih" *tersenyum
Senyuman yang tak pernah kulihat. Pria dingin yang ada di hadapan ku ternyata bisa menunjukan ekspresi seperti ini.
"Jangan senang dulu, jika ada 1 kesalahan saja yang melibatkan kantor kita, ku turunkan jabatan mu!"
Ucapku dengan serius. Ia hanya tertawa kecil dan mengangguk mengiyakan. Ya aku tau kau bukan milik ku, namun aku dengan kejam nya mengekang mu. Seharusnya aku yang berterima kasih, terima kasih telah bersama dengan gadis egois ini.
"Apakah sekarang kau bahagia Hans?"
"Ya..aku bahagia"
Hahaha, syukurlah. Sebisa mungkin aku harus bisa melupakan mu.