Hari ini adalah hari ke-2 kamp pelatihan Karasuno. Setelah keributan yang disebabkan Hinata tadi malam, tim Karasuno berlatih seperti biasa sejak pagi tadi. Jam telah menunjukkan pukul 2 siang, namun mereka masih bersemangat untuk melakukan receive dari spike pelatih Ukai.
“Yosh, seluruh putaran selesai. Selanjutnya, lari!” perintah pelatih Ukai kepada anggota voli Karasuno.
“Ya!”
Para anggota voli pun bersiap berganti sepatu. Sementara itu, Shimizu yang telah membantu pelatih Ukai dalam latihan receive mendekati Rui, gadis yang berdiri di sisi lapangan dengan buku catatan ditangannya.
“Bagaimana, Rui-chan?”
“Um, aku sudah mencatat dan membuat kesimpulan di akhir catatan tiap pemain.”
Shimizu mengangguk mengerti, “Kalau begitu, kamu boleh istirahat sekarang. Sambil menunggu mereka kembali dari lari.”
“Ano, Shimizu-senpai.”
Shimizu yang hendak keluar dari gymnasium menoleh ke arah Rui, “Ya?”
“Apa aku boleh mengawasi mereka berlari? Karena…”
“Ah, Hinata, ya?” Shimizu langsung bisa menebak kekhawatiran Rui, “Boleh, tapi jangan sampai kamu ikut tersesat ya Rui-chan.”
“Mo… Shimizu-senpai,” Rui cemberut kesal karena ucapan senpainya. Merasa gemas dengan tingkah Rui, Shimizu mengusap kepala Rui yang lebih pendek darinya. Ia pun melangkah keluar dari gymnasium untuk mengambil minum.
Rui yang ditinggalkan, segera keluar dari gymnasium saat mendengar pelatih Ukai dan Takeda-sensi sedang berbincang.
Ia berlari untuk menyusul para anggota voli dengan rasa khawatir di benaknya. Pasalnya, pertandingan dengan Nekoma telah di depan mata. Mengingat sifat saudaranya, Hinata Shouyo, ia yakin laki-laki itu akan berlari berlebihan dan tersesat seperti biasanya.
Yah, tidak salah jika bersemangat. Hanya saja Shouyou tidak bisa menahan diri untuk tidak berlebihan.
Karena itu juga bibinya menitipkan Shouyou padanya. Rui menghela napas saat menjumpai sekelompok anggota voli yang sedang berlari menuju ke arahnya.
Benar saja, Shouyou tidak ada bersama mereka.
“Rui-chan?” Sugawara yang berada di barisan paling depan itu terkejut saat melihat Rui berdiri dengan napas menderu di depan gerbang sekolah, “Kenapa kamu disini?”
“Itu… nanti kujelaskan,” Rui menarik napas panjang sebelum bertanya, “omong-omong, dimana Shouyou?”
“Hinata?”
“Dia belum kembali?”
“Bukannya tadi dia berlari paling cepat?”
“Hinata-boge!”
Rui menghela napas pasrah, “Sepertinya dia tersesat,” gadis itu segera mulai berlari seraya berteriak “tolong hubungi aku jika kalian melihat Shouyou, ya!”
“Tunggu, Rui-chan, aku ikut!” Ujar Sugawara seraya berlari mengikuti gadis ramping itu.
Mereka berdua berlari beriringan, Sugawara berlari disisi yang berdekatan dengan jalan sementara Rui berada di samping pembatas jalan. Tidak lama mereka berhadapan dengan persimpangan.
“Suga-senpai, mari berpencar,” ujar Rui seraya mengatur napasnya, “aku akan mencari lewat jalur sebelah kanan.”
Sugawara mengangguk setuju, kemudian mereka pun berpencar.
“Shouyou!” teriak Rui sambil menoleh ke kanan kiri, mencari keberadaan saudaranya. Namun setelah berkeliling beberapa menit, Rui tidak kunjung menemukan laki-laki berambut orange itu.
Merasa haus, Rui berhenti di depan mesin minuman. Ia membeli jus buah dan meminumnya hingga tak bersisa.
Di sisi lain, terdapat dua laki-laki yang berjalan santai.
“Siapa tadi, Kenma?”
“Hinata Shouyou.”
“Kenalanmu?”
“--Ano, sumimasen.”
Percakapan keduanya terputus saat Rui menyapa mereka. Gadis itu tersenyum lembut membuat Kuroo merasa terpana sesaat. Namun laki-laki itu segera mengendalikan diri, “Ya, ada yang bisa kubantu?”
“Maaf ya, tadi aku menguping pembicaraan kalian. Apa Hinata Shouyou yang kalian bicarakan itu laki-laki berambut orange dengan tinggi yang sama sepertiku?”
Kuroo melirik Kenma, ia tidak sempat mengamati ciri-ciri fisik laki-laki yang bersama Kenma tadi. Oleh karena itu, ia menunggu Kenma menjawab.
Kenma segera mengerti arti lirikan Kuroo kemudian menjawab “Sepertinya… begitu.”
“Benarkah?” Ekspresi Rui menjadi lebih cerah, “Apa kalian melihatnya?”
“Um,” Kenma menunjuk arahnya datang, “dia disana tadi.”
“Woahh, terimakasih banyak!” Gadis itu menundukkan kepala kemudian teringat bahwa ia membawa permen di saku jaketnya, “Ini untuk kalian, terimakasih sekali lagi!”
Setelah memberi permen kepada Kenma dan Kuroo masing-masing satu, Rui segera berlari menuju arah yang ditunjuk Kenma.
Kenma terdiam melihat permen di tangannya. “Dia terasa seperti matahari,” gumamnya pelan.
Kuroo menatap punggung Rui yang kian menjauh, “Sangat cerah, kan?” senyuman tercetak di wajah laki-laki itu. “Aku penasaran bagaimana reaksinya saat melihatku lagi.”
Kenma menatap Kuroo heran, namun ia tidak memikirkannya lebih lanjut dan kembali melangkah.
***
Hari ini adalah hari pertandingan Karasuno melawan Nekoma. Para anggota tim yang bertemu pun saling berbincang ataupun memancarkan aura permusuhan. Begitu pula dengan kapten mereka masing-masing. Kuroo Tetsurou dan Sawamura Daichi.
“Kami menantikan pertandingan hari ini,” ujar Kuroo dengan senyum formalitas.
“Kami juga menantikannya,” balas Daichi juga dengan senyuman formalitas.
Mereka bersalaman seolah berteman baik, padahal dalam hati mereka saling memaki. “Ah, orang ini tipenya licik.”
Setelah bersalaman, Kuroo mengamati orang-orang dari Karasuno. Ia merasa bingung, karena jelas-jelas kemarin ia melihat gadis itu memakai jaket tim voli bertuliskan Karasuno. Tapi kenapa dia tidak ada disini?
“Apa kalian memiliki manajer wanita berambut coklat?”
Daichi agak bingung saat ditanya seperti itu oleh Kuroo, “Bagaimana kamu tahu?” Melihat hal itu, Kuroo segera menjelaskan.
“Kemarin aku bertemu dengannya saat dia mencari Hinata, kupikir dia seorang manajer. Tapi… sepertinya dia tidak datang?”
Daichi pun mengangguk mengerti. Ia baru ingat cerita Rui bahwa ia dibantu dua laki-laki untuk menemukan Hinata. Ternyata itu adalah Kuroo. “Iya, Rui sedang sakit jadi dia tidak bisa datang membantu.”
“Begitu rupanya…”
Semoga dia cepat sembuh. Pikir Kuroo dalam hati.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa beberapa bulan telah berlalu. Hari ini adalah hari pertama tim Karasuno berada di Tokyo. Satu persatu dari mereka turun dari bus dan disambut oleh beberapa orang dari Nekoma.
“Sebenarnya, oi.” Ujar Kuroo kepada Daichi yang berada disampingnya, mengamati orang-orang dari Karasuno turun dari bus, “Sepertinya kalian kekurangan beberapa orang?”
“Sebenarnya,” Daichi pun menceritakan hal dibalik absennya beberapa orang dari tim mereka.
“Jadi duo pemain hebat itu sedang melaksanakan ujian tambahan?” tanya Kuroo mencoba memastikan.
“Ya… begitulah…”
Percakapan mereka terputus karena teriakan histeris Yamamoto. Laki-laki itu menangis karena melihat manajer Karasuno bertambah satu.
Melihat hal itu, Kuroo teringat dengan gadis yang memberinya permen beberapa bulan yang lalu. “Bagaimana dengan Rui? Apa dia baik-baik saja?”
“Rui? Sebenarnya dia tidak diizinkan pergi oleh orang tuanya. Namun dia dibolehkan pergi jika Hinata ikut, jadi yaa begitulah...”
“Begitu rupanya,” ujar Kuroo dengan perasaan aneh muncul di benaknya. Kenapa sulit sekali bertemu dengan gadis itu, pikirnya dalam hati.
Di sisi lain, Rui, Hinata, dan Kageyama sedang berada di dalam mobil yang dikendarai oleh kakak Tanaka, Saeko-Neesan. Rui berada disamping Saeko-neesan duduk dengan disposal bag ditangannya. Gadis itu terlihat kelelahan setelah mengeluarkan isi dalam perutnya akibat cara berkendara Saeko-neesan yang luar biasa.
Sementara itu, Hinata duduk di belakang bersama Kageyama, keduanya sedang memakan nasi kepal yang telah disiapkan oleh Rui.
Berada di antara sadar dan tidak sadar, Rui tidak memperhatikan percakapan Hinata dengan Saeko-neesan tentang ‘Raksasa Kecil’. Ia masih fokus pada perutnya dan memastikan dirinya tidak akan muntah lagi.
Rui menyesal tidak ikut dengan yang lainnya, bukannya menunggu Hinata selesai ujian. Tapi yah, semua sudah terjadi. Ia pasrah. Saat sampai disana, ia tidak tau apakah dirinya bisa membantu beberapa hal atau malah menjadi beban.
Benar kata ibunya, seharusnya dia tidak ikut pergi ke Tokyo.
Tapi, Rui merasa tidak enak dengan Shimizu-senpai. Dia bahkan harus merekrut Hitoka-chan menjadi manajer karena dirinya yang sering absen karena masalah kesehatan.
Dia benar-benar, menyusahkan.
‘Tidak tidak, aku pasti bisa. Aku tidak boleh menjadi beban.’ Pikir Rui dengan penuh tekad.
Akhirnya mereka sampai di tempat kamp pertandingan Tokyo. Kageyama dan Hinata sudah berlari lebih dahulu, sementara Rui berjalan di belakang mereka.
“Rui-chan, apa kamu bisa berjalan sendiri?” Saeko-neesan terlihat khawatir akan keadaan Rui. Namun, gadis itu tersenyum lembut dan menolak dengan sopan. Oleh karena itu, Saeko-neesan tidak lagi bertanya mengenai keadaan Rui.
Kedatangan Hinata dan Kageyama menarik perhatian orang-orang yang berada di dalam gedung.
“Jadi bintangnya muncul terakhir?” komentar Kuroo saat melihat kedatangan mereka. “Menyebalkan sekali.”
Kemudian, matanya terpaku pada gadis ramping dengan rambut coklat sepinggang yang baru saja muncul di belakang mereka. Jantungnya berdegup lebih kencang. Entah karena dirinya baru saja berlari kesana kemari karena bermain voli, atau karena akhirnya dia dapat melihat gadis itu lagi. Kuroo tidak yakin. Tapi senyuman lebar mengembang di wajah Kuroo saat ia melihat senyuman gadis itu yang secerah mentari.
***
Keesokkan harinya, Rui akhirnya diperbolehkan Shimizu-senpai untuk membantu di lapangan menggantikan Hitoka-chan. Rui tidak sabar untuk kegiatan hari ini. Karena kemarin, ia dimarahi oleh Shimizu-senpai karena memaksakan diri untuk membantu padahal ia masih terlihat akan muntah kapan saja. Sehingga ia beristirahat seharian tanpa bisa membantu apapun kemarin.
Rui membulatkan tekad untuk membantu semaksimal mungkin hari ini. Ia juga merasa lebih sehat dan bersemangat.
“Berkumpul!” seru Daichi untuk mengumpulkan para pemain di sekitar pelatih Ukai.
“Pertandingan pertama kita adalah dengan Nekoma. Bagaimana kita melakukannya, kemarin?” tanya pelatih Ukai kepada manajer.
Shimizu yang memegang buku catatan segera menjawab seraya membuka buku ditangannya. Rui yang berada di sisinya melirik buku catatan kemudian akhirnya memperhatikan lawan mereka kali ini. Ia begitu sibuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan pemain, seperti handuk, botol minuman, dan bola. Oleh karena itu, ia baru bisa bernapas lega dan memperhatikan keadaan sekitar.
“Ini akan menjadi set ketiga kita dengan Nekoma secara keseluruhan. Kemarin, kita memainkan dua set dengan mereka. Skornya 17-25 dan 19-25, dua-duanya kita kalah.”
“Artinya, kita belum memenangkan satu set pun.” Pelatih Ukai melirik tim Nekoma yang juga sedang berdiskusi, “tapi jika kita tenang dan pergi ke sana dengan kekuatan penuh, mereka bisa kita lawan.”
Rui pun mengikuti arah tatapan pelatih Ukai. Saat memperhatikan orang-orang dari Nekoma, gadis itu terpaku pada dua orang yang berdiri berdampingan di sana. Ia merasa tidak asing dengan laki-laki tinggi berambut hitam dan laki-laki dengan tubuh yang lebih pendek disampingnya.
Ia mengingat-ingat dimana Rui pernah melihatnya, namun ia tidak bisa menemukan hal itu. Mungkin perasaanku saja, pikir Rui mencoba mengabaikan perasaan itu.
Saat Rui menarik tatapannya dari tim Nekoma, kali ini Kuroo yang melirik ke arah tim Karasuno, lebih tepatnya pada Rui.
Padahal, Kuroo menantikan reaksi gadis itu saat melihatnya. Dia agak sedih saat gadis itu terlihat biasa-biasa saja ketika tim mereka melewati Karasuno saat memasuki gym. Apa Kuroo tidak semenarik itu sehingga gadis itu tidak melirik ke arahnya sedikitpun?
“Kuroo?”
Kenma yang melihat ada yang tidak beres dengan Kuroo segera memanggilnya, “? Kenapa?”
Laki-laki itu tahu Kuroo sering melirik ke arah Rui, gadis yang sering ditanyakan oleh Kuroo saat mereka bertemu dengan Karasuno. Sepertinya gadis itu memiliki kesan yang mendalam pada benak Kuroo.
“Bicaralah dengannya setelah latihan.”
“Apa? Siapa?” Kuroo pura-pura tidak mengerti apa yang Kenma bicarakan, lebih tepatnya ia malu mengakui bahwa ia memperhatikan Rui sejak tadi.
“Semoga beruntung,” tukas Kenma seraya memasuki lapangan, tidak ingin berbicara dengan Kuroo yang terlihat menyedihkan karena tidak berani mendekati Rui dan hanya bisa menatapnya dari jauh.
“Oi, apa maksudnya tatapan itu? Oi, Kenma.”
***
Kamp pelatihan hari itu berakhir. Para pemain Karasuno bersiap untuk pulang ke Miyagi sebelum mereka kembali ke Tokyo minggu depan. Beberapa orang perwakilan dari tim lain datang untuk melihat mereka pergi dan salah satu dari mereka adalah Kuroo.
Dia sedang berbincang dengan Daichi di sampingnya sambil memperhatikan satu demi satu tim Karasuno bolak-balik di sekitar bus.
“Kalian akhirnya melawan juara tahun lalu di hari kedua, kan? Selama penyisihan Inter-High,” tanya Daichi kepada Kuroo, “aku mendengarnya dari Hinata.”
“Ya, kami terhenti di perempat final.”
“Perempat final Tokyo menakjubkan.”
“Tak ada gunanya jika kita tidak menang.”
“Kau benar.”
Tatapan Kuroo teralihkan pada Rui yang sedang membantu Hitoka di samping bus. Daichi yang mengikuti arah pandang Kuroo pun berkomentar, “Kamu terus bertanya tentang Rui, tidak ingin berbicara dengannya sebelum kami pergi?”
“Ma…” Kuroo menggaruk bagian belakang kepalanya, “aku rasa akan canggung, karena sepertinya dia tidak mengingatku.”
“Kalian kalah di Inter-High, apa kau akan kalah dalam hal ini juga?”
Mendapat provokasi dari Daichi, Kuroo segera merasa kesal. “Bukan begituuuu, untuk hal ini aku hanya mencoba berhati-hati, kau mengerti?”
Daichi menatap Kuroo dengan pandangan tidak percaya. Hal itu membuat Kuroo semakin kesal sehingga memberanikan diri mendekati Rui.
“Halo,” sapa Kuroo saat mendekati kedua gadis itu.
Hitoka terlihat ketakutan saat menghadapi Kuroo yang tinggi besar, “Hiik!”
Sementara itu, Rui yang membelakangi Kuroo pun melirik ke belakang dan mendongak menatap wajah yang tidak asing. “Oh, halo senpai.” Rui segera membalikkan tubuhnya, menundukkan kepala kemudian tersenyum lembut.
“Um, kudengar, kemarin kamu mabuk perjalanan, jadi…” Kuroo memberikan minuman yang dapat meredakan rasa mual akibat mabuk perjalanan. Rui terlihat bingung saat menerima minuman dari Kuroo. “Ini untuk membalas permen yang kau berikan kepadaku beberapa bulan yang lalu.”
Rui memiringkan kepalanya, mencoba mengingat permen yang ia berikan kepada senpai dihadapannya. “Ah, terimakasih! Ternyata senpai orang yang membantuku mencari Shouyou, ya?” tanya Rui memastikan.
Mendapat anggukan dari Kuroo, Rui tersenyum lega. “Pantas saja aku merasa pernah melihat senpai, maaf ya senpai aku tidak langsung ingat.” Ujar Rui merasa tidak enak.
“Tidak, tidak apa-apa. Itu wajar, kan. Kita hanya bertemu sekilas.”
Kuroo agak bingung harus berkata apa lagi, lalu teringat bahwa mereka belum berkenalan dengan benar. “Oh iya, aku Kuroo Tetsurou, kelas 3, kapten Nekoma,” ujar Kuroo seraya mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati, Rui menjabat tangan kuat milik Kuroo. Gadis itu terkekeh pelan dan mengenalkan diri sama seperti Kuroo, “Aku Akira Rui, kelas 2, manajer Karasuno, senpai bisa memanggilku Rui.”
Kuroo tersentak saat bersalaman dengan Rui, tangannya terasa hangat dan lembut. Ia lebih terkejut saat mengetahui bahwa 'Rui' bukan marganya, melainkan namanya. Jadi selama ini, ia memanggil namanya langsung?!
“Kalau begitu,” Kuroo mengalihkan pandangannya karena merasa malu, “kamu juga bisa memanggilku Tetsu.”
“Ya, Tetsu-senpai!”
Malam itu, suara Rui yang memanggil namanya terus terngiang di benak Kuroo. Dia bahkan tidak percaya, dirinya bisa mendapatkan email Rui sehingga bisa berbincang dengannya walau tidak bertemu.
***