Namaku Sukma, aku hanyalah gadis desa dengan banyaknya problem. Keluarga ku broken home, kondisi perekonomian keluargaku cenderung mlarat.
Bapak ku menikah lagi dan kini anaknya tinggal bersama ibu kandungku. Sungguh ironis, bagaimana ibuku bisa menjalani kehidupannya saat di madu dan di tinggalkan oleh ayahku. Bahkan aku dan adik laki-lakiku masih merasakan sisa pahitnya awal kelam kehidupan keluarga ku yang retak berantakan.
Rumah terjual, begitupun juga mobil satu-satunya kendaraan keluarga ku. Kami jatuh mlarat, hingga akhirnya kami harus berpindah lagi ke rumah orangtua bapak yang berdiri sejak tahun 1949.
Rumah Jawa dengan pilar dari kayu dan ukiran di bagian atasnya masih kokoh sejak awal berdirinya. Konon, katanya sejak awal rumah kakek ku berdiri harus tersedia bunga 7 rupa dan sesajen di bagian kiri pojok sebelah utara. Tempat yang tak pernah disinggahi atau hanya duduk bersandar hingga sekarang. Bahkan, pojok sebelah kiri ini dilarang keras digunakan untuk kamar mandi dengan alasannya klasik. Sang PENGHUNI akan marah.
Kakek ku adalah dukuh pertama di desa ini, 'bondo'nya jangan di tanya. Lahan, sawah, kontrakan berceceran di kampung ini. Namun, seiring meninggalnya kakek ku yang tak pernah aku jumpai. 'Bondo'nya hilang di jual satu per satu oleh anak-anaknya yang kian dewasa dan banyak pertanggungjawaban!
Tapi bukan masalah bondo'nya kakek ku dan ke mlaratan keluarga ku dari mlaratnya kasih sayang dan uang. Problema lain yang aku ceritakan adalah problem gaib yang aku alami sejak kecil.
"Sukma, mau kemana?" Budheku menarik tubuhku dengan paksa saat aku berjalan mengikuti sosok bayangan hitam yang mengajak ku pergi saat magrib.
"Mau ikut itu budhe Siti." Jawabku singkat.
"Sopo, nduk?" Tanyanya heran sembari mencari sosok bayangan yang aku ikuti.
"Ora Ono sopo-sopo. Wes ayo Melu budhe Ning mesjid." Aku hanya bisa mengangguk pasrah saat kecil, aku lupa visual bayangan hitam.
Belakang rumah kakek ku ini memiliki lahan buah-buahan yang luas.
Si kembar pohon kelengkeng yang besarnya sudah mencapai dua lingkar pelukan laki-laki dewasa dan banyaknya pohon rambutan yang berjajar rapi berpasangan di setiap pinggir nya.
Jika kalian pernah lihat rumah yang menjorok ke dalam dengan banyaknya pohon besar seperti di film-film horor. Begitulah rumah kakek ku. Jika malam datang, suasana akan mencekam. Hanya ada 1 lampu gantung putih di depan rumah, itupun akan tertutupi dengan rindangnya dedaunan yang sebagian sudah menutup atap rumah.
Saat masih kecil juga aku pernah melihat Kuntilanak di atas pohon tepat di depan Masjid. Aku hafal betul karena setiap sore aku mengaji di masjid, tidak ada kain putih yang berada di atas pohon. Bahkan saat sebelum aku melihat wanita jelek itu bertengger di atas pohon kelengkeng. Aku merasakan hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhku, aku memaksa diri untuk terus berjalan ke serambi masjid sembari menunggu waktu isya datang, padahal hatiku berkata jangan. Naas saat itu yang ku lihat malah wanita yang membuat ku lari terbirit-birit masuk lagi ke dalam sekerumunan ibu-ibu yang sedang tertunduk membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an.
Menjelang remaja aku sudah jarang melihat penampakan nyata, hanya segelintir ciuman harum atau bulu kuduk saja yang berdiri.
Bahkan saat itu teman-teman ku datang. Sengaja aku lewatkan rumah bagian tengah, tak ada lampu yang menyala karena ruang tengah ini Jarang dipakai dan bahkan tidak ada perabot di dalamnya.
Aku dan keluargaku tinggal di bagian belakang rumah, sedangkan anak-anak kakek ku yang lain pergi menjadi TKW dan buruh bangunan. Bapak ku jarang pulang, hanya ada aku, ibu, adik, nenek dan kedua om ku yang menempati rumah bagian depan.
Kedua temanku menjerit takut, menggengam erat tanganku dan berjalan berhimpitan. Bahkan ini belum malam. Masih sore. Aku tertawa, aku bilang aku sudah biasa jangan takut. Tidak di ganggu, paling cuma kenalan. "Sukma!!!" Kedua sahabatku menjerit.
Aku yang terlahir dari keluarga mlarat namun Kakek ku yang bondo'nya tajir ini harus terpaksa bekerja saat baru lulus SMA , umurku masih 17 tahun. Bergegas mencari KTP untuk melamar kerja.
Dapat! Aku bekerja sebagai penjaga konter hp. Di seberang desaku, pulang pergi setiap hari melewati hari jalan yang sama. Jalan yang sepi dan memiliki tumbuhan besar yang berjajar rapi menjulang rimbun di bagain kirinya. Rumah yang jaraknya jauh satu sama lain.
Berkali-kali aku melewati jalanan ini pukul 9 malam lebih, sendiri. Kadang aku takut, tapi juga berani. "Apa harus begini,anak mlarat yang mencari uang jajan." Aku menghembuskan nafasku pelan, tapi hatiku berkomat-kamit membaca doa. Aku tahu jika aku takut, energiku akan di makan oleh makhluk tak kasat mata yang asik menunggu aku melewatinya. Jangan di tanya, jika sekerumunan pohon bambu yang lebat itu slalu membuatku berfikir. "Rumah Kunti!"
Aku slalu harap-harap cemas saat melewatinya berharap ada orang yang keluar dari rumah atau pengendara motor yang melewati jalan yang sama.
Desas desus yang ku dengar jika pos kamling yang di buat di atas sungai itu juga angker. Pikirku siapa coba yang mau Ngronda di dekat pohon bambu dan di atas sungai. Duduk saja pasti sudah malas.
Aku sudah melewatinya, tatapan ku menatap pos ronda itu. Tak ada siapa-siapa hanya berdebu, lalu dimana 'pria' yang gempar di bicarakan warga desa.
Langkahku berjalan lagi, ini baru setangah dari jalan ini. Belum di ujung sana, pohon sawo tempatnya si pocong yang katanya dilihat si pemilik kos yang letaknya tak jauh dari pohon itu.
"Aku takut, sekaligus penasaran." Aku melihat pohon sawo itu setiap hari setahun dalam hidupku pulang pergi, siang malam. tak ada apa-apa.
Hingga dalam setahun itu aku benar-benar tahu bagaimana Kuntilanak tertawa tepat dibelakang ku. Suaranya keras dan dekat. Tapi itu artinya dia berada jauh dariku.
Aku tahu karena aku penggemar duo Saraswati ( Risa & Sara Wijayanto )
Aku memang suka dunia gaib, tapi dengan ketawanya kuntilanak ini tepat di setelah magrib berkumandang, hujan yang gerimis rrata. Dan lampu jalan yang sengaja dimatikan.
Benar-benar menambah kesan angker di jalan ini. Aku pulang saat habis magrib, langkahku terhenti di pertigaan. Aku gelisah, kedua kalinya aku mendapati situasi getir, kehujanan, takut, lapar, dan harus memilih jalanan mana yang harus ku lewati. Ke selatan, rumah tua itu!!! kembali lewati jalan utama tapi aku lelah, atau melewati jalan di depanku.
Deal!! aku menghela nafas panjang, menghidupkan senter lampu di hp nokia dan berjalan menunduk. Tepat di sekerumunan pohon bambu di samping kanan dan kiri ku. Dia tertawa!! Tawanya jelek! Sial aku tak berani menoleh ke belakang aku terus lurus sambil berkomat-kamit, bukan doa. Tapi siapa yang tertawa di jalanan ini. "Kunti! Kunti!! Sudah pasti dia. Dia mengejek ku! Dia tahu aku slalu melewati jalan ini!