Namanya Athaya Nurpati. Keluarga konglomerat Indonesia yang menguasai pertambangan intan di Kalimantan, Migas di Sumatera Selatan, perintis usaha property Indonesia, pemilik hotel bintang lima yang tersebar di seluruh kota besar negara ini dan beberapa usaha telewaralaba. Jika dikalkulasikan, Tsani tak tahu berapa totalnya. Yang ia tahu, saat ini ia menikahi lelaki itu demi menyelamatkan pesantren ayahnya.
"Baiklah, aku mau tubuhmu sebagai ganti tanah itu." Suara dingin ditambah mata sayu yang tajam, membuat Tsani bergidik ketakutan. Awalnya, Athaya menyuruhnya datang ke kantornya untuk memperjelas sertifikat tanah namun lobi yang dilakukan gadis berkulit cokelat langsat itu berakhir dengan hal seperti itu.
Tsani merasa harga dirinya sudah hancur. Di sisi lain hatinya, ia tak mungkin berpangku tangan dan pura-pura tak mendengar keluhan-keluhan santri serta ketakutan mereka jika bangunan pesantren itu dirobohkan oleh kecongkakan keluarga Nurpati. Jika ia harus menjual dirinya, ia berharap Tuhan yang Maha Penyayang mengampuninya. Di pesantren itu ada ratusan santri yatim yang ingin mengenyam pendidikan dan ada ratusan santri anak kaum dhuafa yang ingin menikmati pendidikan agama.
Jika seandainya, tubuhnya dijadikan jaminan, ia ikhlas melakukan itu. Tsani percaya pengorbanannya tak berarti apa-apa dibanding ghirah belajar santri di pesantren ayahnya.
"Aku bersedia asal kau menikahiku," dengan suara bergetar gadis itu menjawab. Seakan terlalu banyak mendapat cahaya, Athaya menyipitkan mata. Manik hitam layaknya jelaga itu memandangi gadis yang nampak anggun dalam balutan jilbab biru laut.
Lihatlah, gadis itu benar-benar simbol ketenangan yang diciptakan untuk menghancurkannya. Athaya menggeleng, ia tersenyum kecil, meremehkan dan mencoba menangkis pernyataan yang menyelinap dalam hatinya.
"Jika kau menginginkan tubuhku, tolong hargai aku. Sekalipun dengan nikah siri." Tsani melanjutkan.
Athaya tambah tercengang. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana jalan pikiran gadis itu. Di saat para wanita menginginkan perjanjian hitam di atas putih, gadis itu malah memilih nikah di bawah tangan. Apa gadis itu tak tahu kekayaaan yang ia miliki? Atau ini adalah cara menjebak si gadis?
"Kau hanya perlu tidur di ranjangku. Setelah itu, kau bebas memilih suamimu." Tolaknya, nada dingin dan tegas tersirat jelas di suaranya.
"Dan kau hanya perlu mengucapkan ijab qabul untuk tidur denganku." Balas si gadis keras kepala, matanya balas menatap Athaya, membuat lelaki itu merindukan musim semi yang tak pernah ada di Indonesia.
"Jika kau berpikir, nikah siri yang kutawarkan adalah trik untuk menjebakmu, kau bisa membuat perjanjian. Silakan panggil pengacara pribadimu untuk membicarakan ini." Tsani mengedip, mencoba menurunkan ketegangan dalam dirinya.
Okay, kali ini Athaya tak mampu menembus pikiran Tsani. Otaknya yang jenius dibuat macet hanya karena pernyataan gadis berjilbab yang tepat sasaran.
***
Sekarang, di sinilah Tsani berada. Di kamar berornamen hijau muda. dengan semerbak mawar yang hangat ditambah lilin-lilin aromaterapi. Sudah lama sekali ia menundukkan wajah. Airmata yang sedari tadi ia tahan benar-benar menetes. Bukan menyesal sudah mempertaruhkan kehormatannya untuk kelangsungan pendidikan pesantren. Ia takut, jika pernikahannya ini hanya membawa mudharat. Tsani menikah dengan Athaya karena Allah demi santri-santri ayahnya lalu bagaimana dengan Athaya? Pemuda sombong itu menikahinya hanya sebatas nafsu.
Allah, ighfirliy... lirihnya dalam tangis yang pecah. Gadis itu terisak-isak dan bahunya mengkerut.
"Masih menangis?" suara bariton menyapanya. Masih bernada dingin dan rupanya suara itu berhasil menambah kesedihan. Tsani mengusap airmata lalu berdiri.
"Tunggulah sebentar biar kupersiapkan diri untuk melayanimu malam ini,"
"Jangan lupa, pakai lingerie yang sudah kusiapkan di gantungan kamar mandi. Yang aku tahu, ketika kau keluar kau sudah mengenakannya." Athaya tersenyum, ia melirik istrinya dengan sudut mata.
***
Udara yang keluar dari hidung Tsani sangat berat. Ia memandangi bayangan dirinya di cermin, lingerie merah dengan tali di bagian leher begitu pas di tubuhnya. Ia menghela napas. Disambarnya jubah berwarna putih. Ketika membuka pintu jari-jarinya bergetar. Berkali-kali, Tsani mengambil napas. Berharap ketenangan itu menyelimuti hatinya.
'Dia suamiku, suamiku. Aku tak boleh takut.' Bisiknya menguatkan diri.
Ia melangkah dan kakinya langsung membeku begitu melihat Athaya duduk di ranjang membolak-balikkan majalah-namun sekarang, mata lelaki itu menatapnya. Fokus, dingin, tajam dan kelaparan.
Ingin rasanya Tsani menjerit sekuat tenaga. Berlari jauh-jauh dari pria yang duduk tenang itu. Lalu, ia menjumpai dirinya makin menggigil saat keinginan tinggal keinginan. Pria itu mendekat, tangannya terulur ke wajah. Tsani memejamkan mata, tak berani memandang Athaya. Lelaki itu menyibak beberapa anak rambut yang menutupi keningnya, membuatnya setengah mati menahan detakan jantung yang luar biasa memenuhi seantero dadanya. Kali ini, Tsani dibuat heran akan keadaan dirinya. Bukankah cinta tak ada? Lantas kenapa jantungnya bekerja sedemikian keras hanya karena sentuhan kulit seperti ini? Atau memang begini sindrom yang dialami wanita ketika malam pertama?
Malam pertama apa? Runtuk Tsani dalam hati, menyadari kebodohan yang menjejali otaknya secara tiba-tiba.
"Sudah kubilang, hanya memakai lingerie, kenapa ada jubah?"
Tsani memekik saat Athaya menarik tali jubah dan menyibak kain tebal itu dari tubuhnya. Oke, sekarang hanya lingerie transparan membalut tubuhnya. Mengekspos paha, bahu dan lengan secara sempurna serta menciptakan siluit tubuh tanpa cela, yang membuat lelaki manapun bertekuk lutut tak berdaya.
"Kenapa, Sayang?" lelaki itu meniupkan udara pada daun telinga Tsani, membuat gadis itu memejamkan mata. "Halus...." Pujinya saat lengan kokohnya memeluk Tsani. Tangannya mengelus bahu, turun ke lengan dan menyelip di pinggang. Dihirupnya aroma segar yang menguar dari tubuh Tsani. Bau tubuhnya mirip dengan bau-bau bunga yang merekah dan pas untuk dihisap madunya. Manis, wangi dan menggairahkan.
Sebuah kecupan mendarat sukses di kening Tsani. Langsung saja, udara panas membara menyebar hingga ke pusat tubuh. Gadis itu bergetar. Ia sama sekali tak berani menatap Athaya bahkan tulang dan ototnya seakan disulap jadi benda mati yang tak bisa bergerak.
Bibir Athaya turun, ia mengecup kelopak mata istrinya penuh kelembutan. Tangan Tsani mencengkram ujung lingerie yang ia kenakan.
"Santailah," Athaya menarik diri, "aku akan memperlakukan barang milikku sebaik-baiknya. Aku juga tak berkeinginan merusakmu. Mungkin hanya mengambil apa yang harus jadi milikku."
Demi Tuhan yang menggenggam hidupnya, Tsani malah merasa itu sebagai ucapan cinta paling romantis sekaligus menyakitkan untuknya. Gadis itu memberanikan diri menatap Athaya.
Ada kejujuran di sana. Ada pendaran emosi yang tak diketahui Tsani. Sekarang, gadis itu berharap tak mendapat kekerasan dari Athaya di pengalaman pertamanya.
"Aku... aku hanya bingung kenapa... kau menerima syaratku?" napasnya tertahan di dada.
"Lalu apa aku harus menyakiti psikologismu? Meniduri gadis yang menganggap keperawanan sebagai sesuatu yang harus diberikan pada suami?" alis sebelah kanan Athaya naik, menanyakan hal yang tak perlu dipertanyakan. Kali ini, Tsani megap-megap dibuatnya. "Lalu kenapa kau menginginkan aku menikahimu secara siri? Kau tak tahu seberapa kayanya aku?"
Gadis itu tersenyum, manis dan anggun, sangat menenangkan melihat wajah itu. "Apakah hartamu bisa mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati? Aku memang memerlukan harta secukupnya, untuk bertahan hidup, namun harta bukan orientasiku. Buat apa menumpuk harta jika kelak di akhirat, harta-harta itu tidak mampu menolongku? Jadi, aku sudah memutuskan untuk hidup sesuai keyakinanku. Hanya itu."
"Lalu kenapa kau sampai tega mengorbankan dirimu?" Athaya menyipitkan mata. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia ingin tahu lebih banyak.
"Aku...." Sudut matanya melirik Athaya. Lelaki itu tersenyum misterius.
"Kau kenapa?" suaranya serak. Dan berhasil membuat Tsani bergidik ngeri.
"Aku hanya... hanya bisakah... tanganmu... pergi dari situ?" dengan terbata-bata, ia memejamkan mata.
"Tidak."
Athaya mendudukkan Tsani di sofa. Lelaki itu menarik tali lingerie di belakang leher Tsani kemudian menurunkan kain pembatas yang menutup tubuh Tsani dengan tangan kirinya.
Lama sekali, Athaya memandangi Tsani yang tampak ranum berada dalam pelukannya. Dilihatnya rambut berantakan Tsani, bibir memerah, mata sayu dan dadanya naik turun; semua itu mengundangnya mendekat.
"Baiklah, Tsani. Malam ini kau tak akan terselamatkan." Desis Athaya dengan nada menggoda.
Tsani tak bisa lagi berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Athaya mendorongnya rebah dan berguling-guling di ranjang king size.
"Oh!" tsani menjerit saat melihat keadaannya.
'Bisakah kau bersabar, Tsani? Aku memang akan mengambil milikku. Tapi, jangan kau bakar gairahku dan membuatku seperti laki-laki amatir.' Gerutu Athaya meneruskan permainannya.
"Apa-yang-kau-lakukaan...?"
Alih-alih menjawab, Athaya hanya tersenyum paling iblis.
"Berhenti. Kumohon." Tsani tersengal.
"Kenapa harus berhenti, Sayang? Mendesahlah, itu sudah cukup untuk membalasku."
"Bisakah kita shalat 2 rakaat dulu lalu kau mendoakanku?"
Athaya tertegun. Ia menarik diri dan segera melempar jubah Tsani. Laki-laki itu diam lalu mengambil kaos yang tadi tercecer di lantai, memakainya kemudian keluar kamar dengan gusar. Tsani menelan ludah. Di sisi lain hatinya, ia sangat bersyukur, Athaya tak jadi menyentuhnya. Namun, kejadian seperti ini akan segera terulang, cepat atau lambat.
Tsani hanya ingin menjalani kehidupan berdasarkan keyakinannya. Kalaupun Athaya menyentuhnya, ia tak terlalu mempermasalahkan, asal hubungan badan mereka dilakukan dengan cara islami, sesuai keyakinannya.
( semoga suka ya guyssss) hargai karya orang