Seorang gadis bername tag ‘Safira Ayu’ tengah berjalan menuju kelasnya. Gadis itu memiliki paras cantik, lesung pipi manis dan bulu mata lentik yang selalu sukses menyita perhatian Kaum Adam.Tak sedikit hati yang luluh karenanya.
Tepat saat Safira Ayu memasuki kelasnya, segerombolan pria tampan dengan mengendarai motor gede memasuki gerbang sekolah. Dipimpin oleh seorang cowok berjaket hitam bergambar elang emas dan helm berwarna orange yang menutupi sebagian matanya saja membuat siapapun bertanya-tanya siapakah dia. Bersamaan dengan itu tatapan setajam elang yang fokus menatap ke jalan menciptakan perasaan kagum juga takut beberapa murid yang melihatnya.
Tepat diparkiran sekolah cowok itu menghentikan motornya. Perlahan cowok itu membuka helmnya. Dia menglurkan tangannya menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya. Wajah tampan juga perawakan cool yang sukses membuat Kaum Hawa terkejut dan terpesona melihatnya. Dia membenarkan posisi jaketnya sebentar sebelum berjalan menghampiri teman-temannya yang berdiri tak jauh di belakangnya.
“Gue ada urusan sebentar, kalian tunggu di sini dulu.” Ujar cowok itu. Mendapat anggukan dari teman-temannya cowok itupun segera melangkah memasuki arena dalam sekolah.
Setiap langkah cowok itu menciptakan kesan keren pada dirinya. Tak jarang para kaum hawa melemparinya senyum ataupun menanyainya nama. Tak mau berurusan dengan mereka, cowok itupun hanya diam. Kaum adam yang melihatnyapun sesekali melayangkan kata cibira padanya. Mereka berkata jika cowok itu sobong, jelek ataupun banci. Jelas jika mereka mengatakan itu karena iri.
Tok..Tok..
Cowok itu mengetuk pintu ruang kelas 11 IPA 2. Mendengar ketukan pintunya seluruh penghuni kelaspun melihatnya termasuk Safir yang kebetulan tinggal di sana juga.
“Ada apa ya?” Tanya salah satu penghuni kelas.
“Yang namanya Safira Ayu bisa berdiri!” Ujar cowok itu. Safir yang mendengar namanya dipanggil dengan reflek berdiri.
“Gue Safir.” Ujar Safir. Mendengarnya cowok itu tersenyum dan berjalan menghampiri Safir.
“Gue Mars Bagas, lo bisa panggil gue Bagas. Salam kenal, gue suka lo.” Ujar cowok bernama Bagas itu dengan to the poin membuat Safir juga seisi kelas terkejut.
“Santai aja, kita sebenarnya pernah ketemu kok. Jadi gak usah heran kalau gue suka sama lo.” Sambung Bagas.
“Ehm, makasih udah suka sama gue. Tapi maaf gue gak bisa balas rasa suka lo.” Jawab Safir gugup.
“Kasih waktu gue buat bikin lo suka sama gue. Sekarang gue permisi pergi, makhlum orang sibuk. Sampai jumpa pulang sekolah, tunggu gue di depan gerbang sekolah ini ya. Kalau lo gak ada di depan gerbang gue pergi ke rumah lo.” Ujar Bagas sambil melenggang pergi keluar kelas Safir. Safir yang masih syok dengan perkataan Bagas hanya diam ditempat.
“Siapa Fir?”
“Lo kenal dia?”
“Ketemu dimana lo?”
“Gila ganteng banget. Lebih baik lo terima aja dia.”
“Ambil Fir, lumayan bisa buat teman malmingan.”
Ujar teman-teman Safir sambil mengerumuni Safir.
“Stt, diam deh. Kayak gak pernah liat cowok ganteng aja.” Ujar Safir kesal.
“Iya-iya, jangan kesal dong.”
___
Bel pulang sekolah berbunyi. Safir berjalan menuju gerbang sekolah sesuai permintaan Bagas tadi pagi.
“Sasa,” Panggil seseorang dari belakang Safir. Mendengarnya sontak Safir menoleh. Dia sudah tahu siapa yang memanggilnya itu.
“Ada apa kak?” Tanya Safir pada cowok yang tadi memanggilnya.
“Aku tadi dengar ada yang ngajak kamu pacaran, benar ya?” Tanya cowok itu.
Safir menggeleng cepat. “Nggak kok kak, mungkin Cuma iseng aja.” Jawab Safir bohong. Dia tahu betul jika perkataan Bagas tadi bukan hanya iseng-iseng saja.
“Oh, sekarang kamu mau kemana?”
“Ehm—Ma-- mau ke depan nunggu teman.” Jawab Safir gagap.
“Kamu sembunyiin sesuatu ya dari aku?” Tanya cowok itu dengan tatapan menyelidik.
“Gak kok kak, masa aku bohong sama Kak Ryan.” Jawab Safir mencoba meyakinkan cowok dengan nama Ryan yang saat ini menjabat sebagai kakak kelas dan teman dekatnya.
“Anggap aja aku percaya.” Ujar Ryan masih dengan tatapan menyelidiknya.
“Yaudah kak, aku pergi dulu ya.” Pamit Safir sebelum berlari meninggalkan Ryan sendiri. Dia takut jika terus di sana akan membuat Ryan semakin curiga padanya.
“Dasar aneh, tapi aku suka.” Gumam Ryan gemas melihat tingkah Safir.
___
Saat ini Safir tengah dibonceng Bagas menaiki motor gede milik Bagas sendiri. Sebelumnya dia kena marah oleh Bagas karena berbicara dengan Ryan sehingga datang terlambat. Walau bingung juga kesal dengan tingkah Bagas yang pemaksa dan pengatur Safir hanya bisa diam. Dia sudah bersiap siaga jika nanti Bagas mau macam-macam dengannya.
“Katanya mau ngantar gue pulang, tapi ini bukan jalan ke alamat yang gue sebutin. Kita mau kemana? Jangan macam-macam ya?! Lo kira gue takut sama lo?” Ujar Safir serius untuk menakut-nakuti Bagas. Tapi bukannya merespon perkataan Safir, Bagas hanya diam dan semakin menambah kecepatan laju motornya. Takut jatuh reflek Safirpun merangkul erat pinggang Bagas. Sedangkan Bagas yang merasa pelukan Safir hanya tersenyum senang.
Beberapa menit perjalanan mereka sampai di sebuah pantai. Bagas menyuruh Safir turun dari motornya lalu dia sendiri yang turun.
“Kita nunggu sunset di sini.” Ujar Bagas sambil mendaratkan pantatnya di pasir putih pinggiran laut.
“Buat apa sih nunggu sunset segala, gue capek mau pulang.” Protes Safir.
“Udah diam, nanti gue pasti antar lo pulang.” Jawab Bagas.
Dengan berat hati akhirnya Safir mendaratkan pantatnya di ruang kosong samping Bagas.
Beberapa jam berlalu mereka duduk di sana dengan diam hingga akhirnya sesuatu yang sangat mereka tunggu-tunggu muncul juga. Sunset terlihat jelas di depan mata mereka. Mata safir berbinar. Tanpa dia sadari mulutnya menganga kagum. Bagas tersenyum, cowok itu bahagia melihat kebahagiaan diwajah Safir.
“Lo tahu, sejak dulu gue mau lihat sunset, tapi karena ada satu masalah jadinya gak bisa.” Cerita Safir dengan wajah sedihnya.
“Yang dulu biarlah berlalu.” Ujar Bagas sambil mengelus punggung Safir mencoba menenangkan.
Safir salah tingkah. Pipinya tiba-tiba memerah malu dengan perlakuan Bagas padanya.
“Ayo pulang, mama pasti udah nyariin.” Ujar Safir sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Yaudah, ayo.” Jawab Bagas.
Keduanya lalu pergi meninggalkan arena pantai.
___
Satu minggu sejak pertemuan Bagas dan Safir, keduanya sering mengobrol lewat SMS. Dilihat dari setiap obrolan mereka dapat disimpulkan jika hubungan keduanya semakin dekat.
Saat ini adalah malam minggu. Bagas sengaja mengajak Safir untuk pergi ke pasar malam bersamanya dengan alasan ‘jalan-jalan biar gak bosan di rumah’.
“Kita mau naik apa aja?” Tanya Safir.
“Kita beli ice cream terus naik bianglala.” Jawab Bagas sambil menarik lengan Safir pergi ke tukang ice cream terdekat.
Bagas memesan ice cream rasa vanilla untuk Safir dan memesan ice cream rasa stroberry untuknya sendiri.
“Lo suka rasa stroberry?” Tanya Safir dengan nada mengejek.
“Udah gak usah dipikir, mending kita naik bianglala aja.” Ajak Bagas setelah memberikan ice cream vanilla pada Safir.
Saat menaiki bianglala Safir terlihat sangat senang. Dia sama sekali tidak terlihat takut pada kentinggian. Bahkan sesekali dia menunjuk ke bawan memberitahu pada Bagas tempat mana saja yang ingin mereka kunjungi nanti. Bagas hanya tersenyum menyetujui permintaan Safir.
Turun dari bianglala mereka mengunjungi rumah hantu. Di dalam rumah hantu itu, Safir terus saja menggenggam tangan Bagas takut sambil sesekali berteriak saat hantu muncul di depannya. Bagas tak melewatkan kesempatan itu. Dia menggunakan kesempatan itu dengan merangkul pundak Safir.
“Aku sangat takut.” Bisik Safir dengan mulut gemetar takut.
“Tidak apa-apa.” Jawab Bagas.
Tak lama setelah itu mereka keluar dari rumah hantu itu dan berganti pergi melihat tong setan. Melihat atraksi di dalamnya membuat Safir menggidik ngeri juga terkagum-kagum. Selesai pertunjukkan merekapun pergi.
Saat ini Safir dan Bagas tengah duduk santai di bangku kosong yang masih di kawasan pasar malam. Mereka duduk diam sambil memakan agung bakar dan ice yang mereka beli saat dalam perjalanan ke sana.
“Apa sekarang kau sudah mengingatku?” Tanya Bagas tiab-tiba. Safirpun menghentikan makannya dan melihat Bagas.
“Entah, bisa kau memberiku petunjuk? Aku benar-benar lupa jika pernah mengenalmu.” Jawab Safir.
“Wajahmu saat masih kecil dan dewasa sedikit sama karena itulah aku bisa mengenalimu walau memakan waktu sedikit lama.”
“Kita pernah bertemu saat kecil?” Tanya Safir terkejut. Ada sesuatu di masa kecilnya yang membuatnya tidak ingin siapapun tahu.
“Saat kau menginap di Rumah Sakit X karena kecelekaan kita tinggal satu kamar. Waktu itu kau,”
“Buta.” Potong Safir. Bagas mengangguk.
“Jadi kau anak laki-laki yang selalu berbicara bersamaku sepanjang waktu. Mengajakku mengobrol dan memberiku beberapa janji. Lalu saat kau akan pergi dari rumah sakit itu, kau berkata saat besar akan—,” Ujar Safir terhenti karena menangis.
“Aku akan mencintaimu.” Sambung Bagas sambil memeluk Safir.
“Kau benar-benar kembali.” Ujar Safir tanpa menghentikan tangisannya.
“Tentu aku harus kembali demi kamu.” Jawab Bagas.
“APA-APAAN INI?” Teriak seseorang sambil menarik Bagas menjauh dari Safir.
“Kak Ryan?” Tanya Safir terkejut melihat Ryan berada di depannya.
“Lo siapa berani-beraninya bikin Safir nangis?” Teriak Ryan lagi sambil menghantap pipi Bagas dengan kepalan tangannya. Tak mau kalah Bagaspun balas memukul Ryan.
“BERHENTI!” Teriak Safir. Bagas dan Ryanpun menghentikan pukulan mereka.
“Kak Ryan, dia gak bikin Safir nangis. Asal Kak Ryan tahu saja, dia adalah orang yang sering aku ceritakan pada Kak Ryan.” Ujar Safir membuat Bagas terkejut seketika.
“Perkenalkan namaku Mars Bagas, teman masa kecil Safir.” Ujar Bagas sambil mengulurkan tangannya di depan Ryan.
“Dia mungkin bohongin kamu Sa, dia gak punya bukti apa-apa selain omongan. Omangan juga gak bisa jadi bukti.” Ujar Ryan sambil menatap tajam Bagas. Bagas hanya tersenyum lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Dia membuka aplikasi galeri lalu memperlihatkan fotonya bersama Safir yang dia ambil beberapa tahun yang lalu. Melihatnya Ryan terdiam.
“Kamu masih menyimpannya?” Tanya Safir melihat foto itu.
“Ini adalah harta berharga untukku.” Jawab Bagas dengan tersenyum.
“Terimakasih.” Ujar Safir.
“Sama-sama.”
“Permisi.” Pamit Ryan sebelum berlalu meninggalkan Safir dan Bagas berdua di sana.
“Maaf kak.” Teriak Safir pada Ryan. Ryan hanya diam tak membalasnya.
“Udah jangan minta maaf, dia juga yang salah.”
Safir mendengus kesal. “Dia sudah seperti kakakku.”
“Iya-iya, lebih baik kita pulang. Hari sudah malam.” Ajak Bagas sambil menggandeng Safir mengajaknya keluar arena pasar malam.
“Ini masih seperti mimpi.” Ujar Safir disela-sela perjalanan mereka.
“Ini terlalu indah untuk mimpi Safir. Bangun dan sadarlah, teman masa kecilmu ini telah kembali.” Jawab Bagas. Dengan senyum yang mengembang dibibirnya Safir mengeratkan genggaman tangannya dan Bagas. Dia benar-benar bahagia telah menemukan teman masa kecil yang selama ini ditunggunya.