Tak terasa air mata Zidan menetes tiada henti,sejatinya laki-laki pantang untung menangis,namun kali ini,Zidan tak mampu menahan pantangan nya untuk tidak menangis melihat kekasih yang sangat dia cintai tertidur sudah tak bernyawa lagi,
Ya ,Raina kekasih Zidan meninggal usai melakukan operasi transparasi ginjal yang di lalui nya,
Raina gadis cantik dan baik hati yang selalu Zidan cintai kini telah berpulang ke pangkuan ilahi,
Raina sosok wanita yang tangguh,sopan dan anggun,dia yang berhasil merubah Zidan yang tadinya seorang laki-laki liar dan bringas, kini menjadi pria yang baik dan agamis,
Dengan tutur kata Raina yang selalu mengajak tanpa menghina,membuat Zidan mengerti akan indah nya berbuat baik,
Sejak saat itu pula Zidan terketuk hatinya untuk bisa merubah dirinya menjadi lebih baik dengan bantuan Raina,
tapi kini,sosok yang akan membantunya berubah telah pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya,
Zidan coba merelakan kepergian Raina,
****
Saat jenazah Raina hendak di bawa pulang dari rumah sakit,kegaduhan sempat terjadi di lorong kamar Raina,
Pertengkaran antar keluarga pasien membuat suasana di lorong RS itu menjadi mencekam tatkala,seorang bapak menodongkan pistol kepada ibunya Raina,
bapak itu menjadikan ibu Raina sebagai tawanannya agar keluarga si bapak yang menginginkan pengobatan putri nya di teruskan,
di lansir dari cerita,ternyata si bapak itu frustasi karena anaknya tak kunjung di tangani pihak RS karena terkendala biaya, jadi kini dia mulai berontak,
pihak rumah sakit coba meredam amarah si bapak dengan mengajaknya berdamai dan melepaskan ibu Rania,
Zidan yang saat itu sedang berdiri tepat di sisi jenazah Rania,tetap berdiri tegak menemaninya,meski ia tau Rania sudah tidak bernyawa,
Naas saat salah seorang satpam mencoba melawan si bapak,ibu Rania terlempar ke lantai dan peluru pistol tepat mengenai dada Zidan yang sedang berdiri di samping Rania,
seketika suasana semakin tegang,
Zidan seolah tak percaya dirinya menjadi sasaran tembakan si bapak frustasi akan anaknya,
pandangan Zidan mulai gelap,
tangannya memegang dada yang tertembak,dan saat itu pun ceceran darah yang ada di tangan Zidan mengenai tangan jasad Rania,
Zidan pun terkapar tak sadarkan diri,
napasnya mulai pengap,
Zidan pun menutup matanya,seolah menerima takdirnya dengan lapang dan penuh senyuman kepada orang yang melihatnya,
mereka seperti sepasang kekasih romeo dan Juliet,sehidup semati di waktu yang bersamaan,