Disclaimer: Cardcaptor Sakura adalah serial anime buatan Clamp.
Cerita ini dibuat hanya untuk mengikuti lomba menulis fanfic anime MT.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Sakura, sudah lama kita tidak mendengar kabar dari Li. Bagaimana keadaannya ya?"
"Aku, tidak tahu, Tomoyo." Sakura menunduk.
Tomoyo menghentikan langkah Sakura dan menarik sahabatnya itu untuk duduk di sebuah bangku taman tak jauh dari sana.
Meski terkejut, Sakura mengikuti langkah Tomoyo tanpa membantah.
"Aku tahu ini sudah lama sejak Li menyatakan perasaannya. Sekarang kita sudah remaja, dan kau tidak memiliki kekasih. Apakah aku bisa beranggapan kau pun menyukai Li?"
Sakura terdiam, namun tubuhnya merespon pertanyaan Tomoyo. Rona merah muncul di wajah gadis cantik itu. Perlahan Sakura menatap Tomoyo dan dengan penuh keyakinan ia mengangguk.
Tomoyo tertawa kecil dan bertepuk tangan. "Ah, sudah kuduga."
"Tapi ini sudah sangat lama. Aku khawatir...."
"Hei, bukankah tak ada kabar pernikahannya. Jadi harapanmu masih ada." Tomoyo terlihat yakin.
"Kau sangat yakin saat mengatakannya." mata Sakura memicing, hal ini membuat Tomoyo salah tingkah.
"Aku kan hanya mengikuti firasatku." ucapnya setelah berhasil menguasai diri. "Ayo kita pulang."
Sakura mengernyit, tadi Tomoyo yang menariknya duduk di bangku itu. Sekarang ia pula yang menariknya pulang. Namun karena terlalu lelah, Sakura tak memberi komentar apapun.
Keesokan harinya.....
"Hoammmmm..." Sakura bermalas-malasan beranjak dari tempat tidurnya. Karena hari libur ia jadi betah berlama-lama berbaring.
"Sakura, aku lapar."
"Kero chan, carilah makananmu sendiri. Ok." jawab Sakura dengan mata masih tertutup sempurna.
"Tidak bisa, hari ini kau ada janji bertemu di taman bermain dengan Tomoyo."
Seketika itu juga Sakura bangun. "Ya ampun Kero, aku lupa."
Ia melesat menuju dapur untuk membuat bekal sekaligus sarapan. Satu jam kemudian ia telah siap di depan rumah menunggu Tomoyo menjemput.
Ternyata tak perlu menunggu lama, mobil berwarna hitam milik Tomoyo muncul dan berhenti di depan rumah kediaman Kinomoto.
"Hmmm, bekalmu harum. Aku tak sabar mencicipinya." ucap Tomoyo setelah Sakura memberi salam dan masuk ke dalam mobil.
"Hanya makanan alakadarnya." Sakura merendah.
"Apapun itu, aku selalu suka buatan Sakura chan."
Tomoyo dan Sakura terkekeh pelan dan bercerita banyak hal sampai akhirnya mereka tiba di taman hiburan.
"Tomoyo chan."
"Hmmm."
"Padahal ini hari libur, tapi pengunjung sangat sedikit. Bahkan terkesan sepi." ucap Sakura seraya mengamati sekeliling.
"Entahlah, mungkin mereka tak begitu tertarik ke tempat ini." jawab Tomoyo.
Mereka berjalan-jalan hingga tiba di sebuah taman yang berada di dekat danau buatan dalam taman bermain itu. Sakura segera menggelar alas dan mengatur bekal mereka.
Tiba-tiba Sakura merasakan hembusan angin yang lembut disertai kelopak-kelopak bunga mawar yang berterbangan entah dari mana.
"Wah, seperti hujan bunga." Sakura berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
"Sakura."
Sakura menoleh ke arah Tomoyo yang sedang mengarahkan kamera kepadanya. Lalu gadis itu mulai berpose diantara kelopak mawar yang berterbangan.
"Cantik."
Deg.......
Sakura terdiam, ia sontak memegangi dadanya. Di hadapannya Tomoyo tersenyum penuh arti. Perlahan Sakura memutar tubuh. Detak jantungnya semakin bergemuruh melihat sosok pemuda tampan yang bertahun-tahun diam-diam ia rindukan.
"Sya-oran." lirihnya terbata.
"Sakura chan, apa kabar?" senyum manis Li Syaoran terukir di wajah tampannya.
Karena tak kunjung mendapat respon, Syaoran mendekati Sakura.
"Sakura chan, aku merindukanmu."
Wajah Sakura semakin merona, di antara bunga-bunga yang bertebaran ia bisa merasakan kalau jiwanya ikut melambung tinggi.
"Ak-aku juga me-merindukan-mu, Syaoran." untuk pertama kalinya, Sakura berkata jujur soal perasaannya di depan Syaoran.
Syaoran mengulurkan tangan dan membelai pipi Sakura. "Jadi, apa jawabmu untuk pertanyaanku 8 tahun yang lalu?"
"Menurutmu?"
"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Sakura mengerjap, ia semakin gugup. Namun ia mengumpulkan semua keberaniannya untuk menatap wajah Syaoran.
"Aku juga menyukaimu." jawab Sakura sambil menahan malu.
Syaoran tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura perlahan-lahan. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat, hingga Sakura menahan napas dan menutup matanya.
Dan....
Brukkkkk...
"Aaa." Sakura memegangi pinggulnya yang membentur lantai dengan cukup kuat.
"Bangun, tukang tidur!" dengan tanpa perasaan Touya mendorong Sakura dari kasur hibgga adikya itu jatuh.
"Oniichan!" Sakura terlihat kesal.
"Bangun, masih SD sudah hobi bangun siang. Bagaimana kalau besar nanti."
"Oo..." Sakura menghentikan ucapannya.
SD? Sakura menatap tubuhnya sekali lagi.
Jadi, yang tadi itu........
Hhhhhhh....
😉😉😉😉😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen sebagai bentuk dukungan.
Terima kasih🙏🙏