Kanaya, si gadis bertubuh bongsor masih berada di kantor saat kekasih nya menelfon.
"Ya, Romeo, kau di mana? "
"Kanaya, kita putus. "
"Romeo...? "
Tut... tut... tut...
Percakapan terputus, Kanaya segera membereskan pekerjaan nya, menumpuk laporan yang belum rampung di samping laptop. Ia berpamitan pada teman di samping dan bergegas pergi.
Tujuan nya hanya satu, Romeo, ia harus segera bertemu dengannya dan meminta penjelasan.
Kanaya naik Taksi online menuju rumah kekasih nya, karena jam istirahat seperti sekarang biasanya lelaki itu pulang ke rumah nya.
Dunia terasa hancur, saat ia melihat Romeo dan Juliet bermesraan di depan rumah. Juliet sahabat Kanaya, orang yang selalu ada saat suka dan duka, sahabat semenjak mereka sama-sama berpakaian putih-abu.
Kanaya memutuskan untuk pulang berjalan kaki, memikirkan saat dulu semasa sekolah, ia adalah Dewi pujaan para siswa, termasuk Romeo.
Pernyataan cinta sang idola sekolah pun ia terima, jadilah ia dan Romeo sepasang kekasih yang sangat serasi.
Namun, kecintaan Kanaya terhadap makanan membuat ia berubah menjadi subur, pola makan yang sembarangan, gaya hidup yang gila kerja, membuat Kanaya berubah menjadi si gendut yang tidak mampu memperhatikan kondisi diri sendiri.
Akhirnya, ia tersadar saat semua nya sudah terlambat.
Kanaya sakit hati, mulai berhenti makan, dan meminum obat penurun berat badan.
Minggu pagi, Kanaya joging di taman kota, ia terus berlari meski didera rasa lelah, lapar dan pusing. Tujuan nya ingin menjadi langsing seperti dulu semasa masih sekolah.
Namun, Kanaya berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan akhirnya ia ambruk.
Gadis berambut panjang itu, terjerembab tak sadarkan diri.
Saat sadar, ia berada di sebuah kamar yang luas dan mewah.
"Hai, kau berada di kamarku, namaku, Joe, oh ya, tadi kau pingsan di depanku, karena tak ada yang mengenalmu, makanya aku bawa kau ke sini, "
Pemuda tampan bermata minimalis, bertubuh atletis, memberi penjelasan kepada gadis yang tengah menatapnya horor.
"Apa yang kau lakukan padaku!? "
Kanaya berteriak marah, menutup tubuhnya dengan selimut.
"Oh, itu, maaf, aku terpaksa memotong bajumu, karena kau tadi kesulitan bernafas, dan ini milikmu kan? "
Sebuah korset hitam bergelantungan di depan mata Kanaya, wajahnya berubah menjadi merah, secepat kilat ia merebut benda itu.
"Itu hanya akan membuat mu sakit, kalau kau mau mengurangi berat badan bukan begitu caranya, aku bisa membantumu. "
Joe meletakkan sebuah kartu nama di atas tumpukan pakaian yang ia sediakan untuk gadis tambun yang tidak ia kenal. Joe berlalu meninggalkan gadis itu sendiri.
Sejak hari itu, Kanaya rutin berlatih di klub milik Joe, tidak hanya senam untuk pengurangan timbunan lemak, tapi pola makan juga dijaga ketat.
Rumah kontrakan Kanaya di bersihkan oleh orang suruhan Joe, lemari pendinginnya juga dibersihkan, sekarang hanya berisi sayur dan buah.
Kanaya juga di jaga ketat oleh dua orang suruhan Joe, kapan ia bangun, kapan ia tidur, mandi, makan, bekerja semua dijaga super ketat.
Tidak mudah bagi Kanaya, bahkan ia serasa menjadi orang gila. Ketika ingin makan coklat, dihadang oleh pengawalnya yang masih berondong. Ketika ingin tidur di depan tivi, diusir oleh pengawalnya yang berambut gimbal. Kanaya sangat tertekan.
Hari minggu adalah hari mereka berkumpul, melihat perkembangan Kanaya.
"Aku lelah, " Kanaya menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Berapa timbanganmu hari ini? " Joe memeriksa buku catatan yang sudah tersedia.
"Bos, nona ini sangat nakal, semalam hampir saja memakan sepotong coklat, " si berondong mengadukan kelakuan Kanaya.
"Waktumu tinggal satu bulan, turunkan dua puluh kilo lagi, " Joe membanting buku catatan ke atas meja, menatap tajam pada Kanaya.
Joe berlalu meninggalkan Kanaya dengan dua orang pengawalnya yang tidak bisa di ajak kompromi oleh Kanaya.
"Hei, Bos sombong, kalau aku bisa menurunkan berat badanku, dua puluh kilo dalam waktu satu bulan ke depan, aku minta satu hari kalian semua ikuti cara hidupku yang dulu! " teriak Kanaya menghentikan langkah Joe.
"Ok, siapa takut, " Joe menyeringai mengejek Kanaya dan iapun melanjutkan langkah panjangnya.
Kanaya melakukan semua arahan dari dua orang pengawalnya, ia tidak lagi melakukan perlawanan, ia lakukan semuanya dengan penuh kesadaran.
Hingga hari itu tiba, satu bulan dari kedatangan Joe terakhir, lelaki itu sangat sibuk, sehingga tidak bisa mengunjungi Kanaya setiap minggu.
Kanaya melompat kegirangan, ia berhasil menurunkan berat badannya dua puluh kilo dalam sebulan.
Joe pun kaget, ia tidak mengira si kepala batu bisa melakukan hal gila seperti itu.
"Baiklah, Teman-teman semua, acara kita mulai sekarang, " Kanaya memberi arahan kepada ketiga lelaki yang saat ini duduk di hadapannya.
"Aku tidak mau, " Joe bergerak hendak pergi, tetapi ia ditahan oleh kedua temannya yang selama ini bertugas menjaga Kanaya.
"Jangan ingkar janji bos, " Si berondong menahan Joe agar tidak pergi, sepiring makanan siap saji ia berikan pada Joe.
"Ayo bos, habiskan, oh ya, ini semua harus habis menjelang tengah malam, oke? " Kanaya tertawa senang menatap tiga orang yang hidup penuh dengan kekangan, hari ini akan ikut dengan gaya hidupnya yang dulu, bebas merdeka.
Awalnya Joe dan dua temannya merasa sangat canggung, tetapi setelah dimulai, mereka mulai menikmati.
Ruangan yang semula bersih, sekarang menjadi berantakan bagai kapal perang habis digempur musuh.
Mereka juga tiduran di ruang tengah, dengan tivi yang masih menyala.
Hampir tengah malam, ketika mereka sudah kekenyangan dan kelelahan.
"Joe, kenapa kau mau membantuku? " Kanaya menanyakan hal yang selama ini mengganjal.
"Aku ingin mengembalikan mu menjadi angsa yang cantik seperti dulu," jawab Joe dengan mata mulai berat.
"Kau kenal aku dulu? " tanya Kanaya heran.
"Aku adik kelas yang tak pernah kau lirik, padahal aku selalu membuntuti mu dulu, " Joe mulai tertidur.
Kanaya tak pernah ingat, karena dulu ia sangat sibuk dengan kekasih yang sekarang sudah menjadi mantan.
Pagi sekali Kanaya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, semangat empat lima, angsa yang cantik sekarang telah kembali.
"Happy Birthday sayang, semoga panjang umur. "
Tart mungil dengan dua 🕯di atasnya menyambut Kanaya saat ia berada di depan kantor.
"Romeo? "
"Sayang, aku minta maaf, aku khilaf, kita bisa mulai lagi dari awal, kamu setuju kan? "
Kanaya menatap Romeo, ia kehilangan kata-kata, ingin berlari namun tak tau kemana.
Romeo masih menunggu dengan senyuman termanisnya, untuk Kanaya yang kembali bersinar.
Kanaya berpaling ke arah seberang jalan dan di sana, berdiri menunggu dengan tatapan teduhnya, Joe.
Tanpa pikir panjang, Kanaya berlari mengembangkan kedua tangannya, ia ingin memeluk orang yang mengangkatnya ketika ia terjatuh.
Tamat.