"Pangeran tidak berguna! Apa jadinya negeri ini jika tahta jatuh di tangan mu?!"
Aku juga tidak mau...terlahir seperti ini ibu...
.
.
.
Seorang pemimpin tentu saja harus seorang yang bijaksana, kuat, dan dapat di andalkan. Di segani oleh para rakyat sampai ke negeri seberang. Namun tidak dengan ku, seorang Pangeran yang tak dapat melihat dunia luar. Terlahir tanpa ada sifat pemimpin.
Bagaimana aku mengetahui kondisi rakyat ku? Bagaimana aku bisa melihat mereka? Selalu di cemooh, di anggap lemah, dan juga selalu di banding-banding kan dengan saudari ku. Hanya saja ada satu hal yang membuat ku sedih...
"Jika saja Yang Mulia Putri dapat bertukar nasib dengan Pangeran"
"Hahaha kami tidak memerlukan Pangeran Buta,jika saja Putri bersedia menjadi mata pengganti Pangeran"
"Lebih baik Putri saja yang terlahir Buta sungguh di sayangkan"
Adik ku...selalu mendengar hal seperti ini. Walau aku tak dapat melihat wajah nya, namun aku sangat yakin bila ia merasa marah dan sedih. Menyumpahkan seseorang untuk terlahir cacat, sangat menyebalkan! Jika saja...jika saja aku dapat melihat, aku akan mengambil pedang dan menebas kepala mereka yang menyakiti adik ku!
Gadis kecil yang sedari takut dengan gelap nya malam, sekarang dapat melangkah di tumpukan sampah. Berusaha membalikan takdir walau tak mau menjadi pemimpin. Menghadap kedepan berusaha mengapai cahaya. Bagus, jangan lihat kebelakang, duri ini...kita pasti dapat bertahan. Kakak mu ini tak dapat melangkah, jadi biarlah aku menjadi pijakan mu agar terbebas dari duri ini.
Hubungan kakak adik ini tak bertahan lama.Sikap nya semakin dingin kepada ku. Hahaha, tidak apa, itu malah lebih baik. Menjauhlah dari orang yang tidak berbakat ini dan...
" Jadilah Ratu yang bijaksana...adik"
Senyuman terukir, maaf merepotkan mu, maaf...
Keheningan terjadi, angin berhembus melalui jendela. Seperti biasa pertemuan yang singkat ini menjadi kenangan tak terlupakan. Tea time yang sangat singkat.
"Apa kamu sudah pergi?"
Tanya ku untuk memastikan. Tak ada jawaban, dia sudah pergi rupanya. Aku duduk terpaku dan hanya merasakan sejuk nya angin. Kesepian lagi...dan hanya ada kegelapan yang ku lihat.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mengarah kemari. Suara berat dan tak tau apa yang harus di ucapkan. Adik perempuan ku satu-satu nya.
"Apa ada sesuatu yang tertinggal?"
Tanya ku kepada dirinya. Suara isakan tangis terdengar. Terduduk lemas tak berdaya. Perlahan aku merasakan tangan kecil nya sedang memeluk ku.
"Hiks huwwaaa"
Dia...sedang dalam kondisi sulit ya. Aku hanya bisa mengelus kepala gadis kecil itu, dan sedikit merasakan kesedihan yang ia pikul selama ini. Menangis lah, tak apa...tidak akan ada yang menyalahkan mu.
"Pasti berat ya, maaf kan kakak mu ini"
"Huwaaa...hiks aku...aku tidak menyalahkan kakak, hanya saja...hiks aku setuju jika saja posisi kita di tukar... kenapa kakak setenang ini...mereka selalu mengejek kakak, bahkan ibu saja selalu menyalahkan kakak atas kesalahan yang tidak kakak buat...hiks, aku..aku.."
Aku hanya diam sambil mendengarkan keluh kesah nya. Ternyata dia masih sama seperti gadis kecil yang dulu. Perlahan aku menyentuh pipi nya, dan mengusap air mata. Dengan senyuman aku berkata...
"Jika begitu kakak ingin bertanya dengan mu, apakah kamu mau di takdir kan menjadi Ratu?"
Tak ada jawaban dari nya. Dia punya impian lain ternyata, hahaha kakak bodoh. Bagaimana bisa kau merebut kebahagiaan adik mu sendiri. Tak lama ia menggenggam tangan ku dengan kencang.
"Aku ingin menampar wajah mereka semua. Mereka yang mengganggap perempuan lemah dan tak layak jadi pemimpin. Mereka yang selalu metertawakan kakak. Walau aku tidak menginginkan kekuasaan ini, aku rela menjadi Ratu!"
Ucapan nya terdengar menyakinkan. Bagus sekali adik ku, bagus. Tegar kan hati mu, bersandarlah kepada ku jika kau lelah, kembali bangkit dan berjalan lagi menuju cahaya masa depan yang cerah.
"Tapi...kakak juga! Anggap lah ini persaingan adik kakak! Anggap aku musuh mu dan berjuanglah bersama!! Bukan hanya bisa bersedih dan menjadikan diri mu sendiri pijakan. Aku mau kita berjalan bersama!!"
"Apa...yang kau maksudkan?"
Suara teriakan yang membuat diri ku tertampar oleh perkataan nya. Bagaimana mungkin, tak ada yang mau pemimpin yang tak dapat melihat. Tidak ada, dan juga...
"Tidak mungkin" *tersenyum
"Ck, anggaplah kekurangan kakak sebagai kekuatan! Nasib di tangan kakak, bukan ucapan mereka yang sering mencemooh mu! Ubahlah takdir dan...KAKAK PUNYA AKU!! MANFAATKAN SAJA AKU! Kita...bisa berjuang bersama kan?"
Aku terdiam sesaat. Perkataan dengan makna di dalam, penyemangat dan juga...iba. Ucapan aku bisa memanfaat kan nya, itu membuat ku sedih. Namun entah mengapa hati ku bergerak dan ingin mewujudkan impian nya. Ucapan yang tak pernah ku dengar dari ayah dan ibu, bisa ku dengar dari adik ku sendiri. Benar, aku masih mempunyai seseorang yang berharga. Hahaha dasar bodoh, hanya karena perkataan mereka kenapa aku harus merasa sedih? Yah, aku masih memiliki adik perempuan yang ku sayangi. Tak ada lagi yang lebih beharga dari itu.
"Huft, baiklah, mari jalan bersama...adik"
"Tentu saja, hahaha dasar, maaf entah mengapa tadi aku bersikap menyedihkan"
Kami tertawa bersama. Adik yang tak dapat ku lihat dari lahir sampai sebesar sekarang. Tak tau bagaimana wajah nya, bahkan tak dapat melihat senyuman tulus nya... terima kasih sudah menggerakan hati ku ini. *senyum
.
.
.
10 tahun berlalu dan kini aku dapat berada di samping adik ku ini. Menjadi penasihat yang bijaksana dan Ratu yang dermawan. Tak ada lagi ketakutan, kesedihan, dan bayangan buruk yang selalu ku mimpikan. Karena sekarang aku dapat berdiri tegak di hadapan mereka. Membuat Kerajaan ini menjadi makmur dan sejahtera. Siapa bilang pangeran buta dan pemimpin wanita tak dapat melakukan ini? Kami mengubah takdir dan menemukan cahaya masa depan yang cerah. Mencatat dalam sejarah pemimpin wanita pertama dan penasihat buta namun dapat di andalkan.