Aku Erga Satria, seorang pria cerdas yang ahli dalam pemograman komputer. Dari saat masih di sekolah kejuruan dulu, aku sudah memiliki segudang prestasi. Namun karena tergabung dengan teman-teman yang sesat, jalan ku juga ikut tersesat.
Bisa dibilang saya adalah cowok bajingan yang sangat-sangat bajingan. Setelah masuk ke perguruan tinggi, aku justru menjadi malas dan terjerumus dengan narkoba dan miras. Setiap malam menghabisakan uang saku pemberian orang tua hanya untuk menjelajahi setiap sudut dunia malam. Aku sudah melenceng jauh dari tujuan hidupku sebelumnya.
Suatu hari aku main ke rumah salah satu temanku. Seperti biasa ini bukan hanya kunjungan biasa. Kami mabuk juga meminum narkoba yang baru saja kami beli semalam.Tapi bukan ini yang ingin aku ceritakan, karena hal ini hanya cerita pengantar tidur.
Cerita sebenarnya adalah tentang seorang wanita cantik yang baru saja lulus SMA. Dia kebetulan lewat di depan rumah temanku. Entah setan mana yang membisikan niatan buruk itu. Aku membekapnya dan melecehkannya hingga dia tidak mampu berjalan lagi. Aku memang yang terburuk saat itu. Padahal dia sudah menangis dan mengeluh sakit. Tapi aku benar-benar tidak perduli, yang aku tahu, aku harus menyalurkan semua hasratku padanya.
Setelah selesai, aku malah dengan santainya memapah dia untuk mengantar dia pulang. Sontak warga terkejut dan curiga, apa lagi saat wanita itu tersadar dan menangis ketakutan karena melihatku. Satu persatu warga datang untuk menghujamkan bogem pada wajahku. Beruntung ketua RT saat itu segera menelpon polisi dan mengamankan aku di dalam rumahnya.
Ayah dan ibu ku sangat marah. Mereka malah menghajarku hingga kakiku hampir patah. Ayahku bertemu dengan keluarga wanita itu yang ternyata adalah teman semasa SMA. Ayahku meminta maaf bahkan sampai bersujud di depannya. Dan karena rasa persahabatan itu, mereka sepakat untuk menikahkan kami.
Kami akhirnya menikah, meskipun sudah menikah ayahku melarang aku untuk menemui Rina. Rina akan ketakutan saat melihatku bahkan dalam keadaan yang parah dia bisa sampai pingsan. Ayah dan ibuku sangat menyayangi Rina. Rina anak yang pintar, rajin, juga pandai memasak. Orang tua ku membiayai biaya terapi Rina, agar bisa lepas dari traumannya.
Aku semula tetap tidak perduli dengan Rina, hingga suatu hari Rina pingsan setelah mencuci pakaian. Ibuku memintaku membawanya ke dokter. Dan dokter memberitahu jika Rina ternyata sesanga hamil.Berhari-hari aku memikirkan, apa aku akan terus seperti ini? Apa aku akan membiarkan anak ku tahu jika ayahnya seorang bajingan terburuk.
akhirnya pelan-pelan aku mulai mengurangi interaksi dengan teman-temanku. Aku mulai ke masjid untuk sholat. Saat umur kehamilan istriku memasuki bulan ke 6. Aku tidak sengaja melihat pergerakan yang ada di perut istriku. Meskipun itu hanya sekilas karena setelah itu istriku segera berlari memasuki kamar. Aku senang dan membayangkan bisa bermain dengan anak ku.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Aku yang bodoh ini memaksa masuk kamar Rina karena hanya ingin mengelus lembut perut istriku sekaligus menyapa bayi di dalamnya. Rina yang melihat aku masuk kamar, ketakutan dan berteriak sembari menangis kemudian meringkuk di sudut kamar. Ayah dan ibuku memasuki kamar dan memarahiku. Namun aku terkejut saat melihat istriku sudah pingsan dan ada darah yang mengalir hingga membasahi lantai.
Segera kami membawa istriku ke rumah sakit. Setelah sampai, istriku langsung di bawa ke ruang operasi. Aku sangat menyesal dengan sikapku yang tidak sabar. Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku maka aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
Tidak lama kemudian dokter keluar dan meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan anakku. Kata-kata dokter itu seperti sambaran petir yang mengguncang jiwaku. Tubuh ku seketika lemas, aku berjalan perlahan mendekati dinding. Aku berlutut dan menjambak rambut ku sendiri. Air mata penyesalan itu tumpah. Ayah dan ibuku sangat marah dan tidak ingin berbicara denganku. Dia segera pergi ke ruangan tempat istriku di rawat.
Saat itu kakakku datang dan mencoba menenangkanku. Darinya aku mendapat banyak nasehat dan menyuruhku untuk menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Saat aku menuju ke ruangan istriku, aku mendengar dia berteriak tidak percaya. Dia masih terus mencari keberadaan bayinya. Saat dia melihat wajahku, dia segera bersembunyi di balik selimut sambil berteriak memaki diriku dan menyuruh diriku pergi.
Satu bulan kemudian aku pulang ke rumah, Ayah dan ibuku tidak ingin melihatku dan menyuruhku pergi. Tapi aku berusaha meyakinkan mereka. Mereka akhirnya memberiku izin untuk berbicara dengan Rina.
Aku berdiri di depan pintu kamar Rina. Aku mencoba untuk menenangkan diriku. Mencoba mengumpulkan keberanian.
"Rina! Mas minta maaf karena sudah jahat sama kamu. Mas memang bajingan rendahan yang tidak berhak mendapatkan maaf sedikit pun dari mu."
"Tapi Tolong beri Mas kesempatan untuk berubah. Mas janji akan jadi suami yang bertanggung jawab. Mas janji untuk menjadi suami yang baik. Suami yang bisa melindungi kamu. Suami yang benar-benar kamu inginkan. Jadi tolong beri Mas kesempatan dan jangan menceraikan Mas. Hari ini Mas mengikuti sesi terapi untuk mengobati ketergantungan narkoba yang mas punya" Setelah itu aku segera pergi.
Aku menjalani terapi dan juga mulai mencari pekerjaan yang halal. Karena tidak mau mengganggu proses terapi yang dijalani Rina. Aku memutuskan untuk menerima pekerjaan di kantor pusat di ibu kota. Selama ini aku mengambil uang gajiku untuk keperluan sehari-hari dan selebihnya aku mengirimkannya untuk istriku.
Aku tidak pernah berkomunikasi suara, atau bicara langsung. Namun aku tetap mengiriminya pesan. mengingatkan dia untuk makan, dan memberinya semangat untuk menjalani terapinya. Untuk keadaannya seperti apa aku akan menelpon kedua orang tua ku. kadang aku meminta mereka untuk mengirimi aku foto atau video aktifitasnya.
Aku memantapkan diriku untuk membayar semua hal yang sudah aku rusak. Aku ingin dia bisa lulus kuliah, kemudian bisa mendapat kerjaan yang dia sukai. Jika aku rasa dia sudah mampu untuk mandiri, makan aku akan melepaskan dia untuk mencari orang yang bisa membahagiakan dirinya dan yang jelas itu buka bajingan seperti aku.
Dua tahun berlalu, Aku berhenti kerja untuk fokus mengurus perusahaan yang ku dirikan bersama sahabatku. Aku membuat program sistem keamanan yang banyak di gunakan untuk beberapa media sosial. Aku juga seorang web design serta konsultan keamanan digital yang bekerja sama dengan beberapa platform jual beli online.
Saat aku mulai menjalani kehidupan yang lebih tenang. Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Aku tidak penah menyangka pesan tersebut berasal dari istriku. Selama ini dia tidak pernah membalas pesan ku. Beberapa hari lalu sikolog yang menangani istriku sudah mengeluarkan surat yang membolehkan Rina untuk kembali mengenyam pendidikan. Jadi dia segera mendaftar ke beberapa universitas.
Tapi pesan yang di tulis istriku, jika dia akan kuliah di ibu kota. Jadi aku kembali mengirimkan dia pesan, aku akan mencarikan sebuah kos di dekat kampusnya. Namun balasan yang tidak terduga justru saya terima. Dia menjawab akan tinggal di rumahku. Dengan terpaksa aku kembali ke kontrakanku sebelumnya.
Aku memulai kembali rutinitasku mencari rejeki. Hari-hari aku jalani dengan santai. Namun aku memiliki pekerjaan tambahan, yaitu membeli gas, Membeli air minum kemasan galon dan mengerjakan apa saja yang menjadi kendala di rumah.
Satu bulan pertama Rina tinggal di rumah semua berjalan tenang. Namun makin lama, mulailah muncul beberapa problem yang bada akhirnya mengharuskan aku untuk turun tangan. Awalnya untuk beberapa kendala saya menyuruh tukang untuk mengerjakan. Namun Rina mengirim pesan jika dia cemas jika ada laki-kaki lain ada di rumah.
Jadi aku datang setiap beberapa hari sekali untuk mengechek gas dan galon air minum. Setelah 3 tahun berlalu, aku merasa setiap akhir pekan ada saja masalah, sehingga aku harus datang di hari sabtu atau minggu untuk mengganti lampu yang mati atau saluran air yang tersumbat.
Seperti sabtu ini, siang tadi istriku mengirim pesan jika saluran pembuangan sink pencucian piring buntu. Aku segera memarkirkan mobilku dan segera turun. Sebenarnya aku senang berkunjung kemari, karena aku bisa melihat wajah cantik istriku. Bisa di bilang aku sudah jatuh cinta dengannya. Namun aku juga tidak bisa menepis kesalahan yang aku buat. Jika bukan karena perbuatan jahatku, tidak mungkin istriku mengalami trauma seperti itu.
Aku memencet bel, padahal ini rumahku sendiri tapi setiap kali datang aku pasti memencet bel layaknya tamu. Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampak sosok wanita yang aku cintai membukanya. Namun wajahnya tetap saja datar.
Aku sangat terkejut dan terdiam ditempat. Bukan tanpa alasan, hari ini istriku memakai pakaian yang sangat seksi. Dengan baju yang sedikit transparan tampak jelas daleman seperti apa yang dia kenakan. juga lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Aku berpikir, jika saja hubungan kami normal layaknya suami istri. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja, tentu saja aku akan membawanya langsung menuju kamar kebahagiaan.
"Kok diam ajah Mas?" ucap Rina
Lamunanku sirna seketika, kulihat wajah istriku memerah dan bergegas masuk ke dalam. Aku akan mengakat toolbox milikku dan akhirnya aku menyadari, rupanya sudah ada yang menonjol di celana ku. Memikirkannya aku menjadi malu sendiri, mungkin saat ini istriku sedang memakiku mesum.
"Mas kok belum masuk juga?" terdengar suara istriku dari dalam.
Aku bergegas masuk dengan membawa toolbox ku dan mulai mengerjakan tugas. Tampak banyaknya kotoran di dalam saluran tersebut. Ini sudah kedua kalinya terjadi, tapi aku tidak bisa marah karena takut akan kembali mengganggu sikologi istriku. Istriku sering kali bolak-balik melihatku melakukan pekerjaan. Jujur pakaian yang dia gunakan sangat mengganggu konsentrasiku. Aku hanya bisa mencoba bersabar.
"Selesaikan secepatnya, lalu pulang mandi air dingin" pikir ku.
Jika aku tidak tenang bisikan jahat selalu memasuki otakku. Kadang aku berpikir untuk memaksanya melakukan hubungan itu. Lagi pula kita adalah pasangan yang sah. Tapi jika mengingat bagaimana terpukulnya istriku saat kehilangan bayi yang menjadi penyemangatnya hidup. Aku segera mengutuk pemikiranku itu.
Segera setelah itu aku pamit pulang, saat melangkah aku melihat sekilas raut wajah kekecewaan dari pantulan kaca. Aku juga tidak mengerti kenapa aku seperti itu. Segera aku memacu mobilku sebelum bisikan-bisikan jahat mencemari otakku. Sampai di rumah, aku mengirimi istriku pesan agar tidak melepas penyaring kotoran saat mencuci piring. Juga mengingatkan dia agar tidak memakai pakaian seperti tadi saat keluar rumah.
Minggu berikutnya, istriku kembali mengirimiku pesan bahwa salah satu lampu di rumah mati. Aku kembali berpikir, apa rumahku itu berhantu? Hal yang pali sering menjadi kendala di rumah itu adalah bola lampu yang mati. Istriku sangat takut gelap. Jadi meskipun ini sudah mau magrib dan mau hujan, aku akan tetap ke sana.
Dan kali ini, sama seperti minggu kemarin. Istriku kembali menggunakan pakaian yang seksi namun berbeda warna dan model. Aku sebisa mungkin mengalihkan perhatianku. Dan segera pergi mengganti lampu yang mati. Istriku pamit sebentar untuk ke kamar.
Aku membuka lampu dan memasang kembali lampu yang baru. Aku mengingat ingat apakah lampu tersebut sudah pernah saya ganti sebelumnya. Jika sudah saya bisa meminta claim ke toko. Karena kejadian ini sudah sering terjadi, aku juga berencana meminta perusahaan yang memasang isntalasi listrik di rumahku untuk mengecek apakah ada masalah sehingga lampu rumah sering mati.
Tapi aku terkejut melihat nomor seri lampu tersebut. Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikan nomor seri lampu. Tapi saya selalu mencatat setiap nomor seri lampu yang saya ganti. Aku melihat istriku yang kembali dari kamar dengan rambut terikat handuk dan baju yang baru saja di ganti namun tetap seksi. Aku segera mengalihkan tatapanku dan kembali melihat catatan di aplikasi tersebut. Dalam 7 kali pergantian 5 diantaranya memiliki nomor seri yang sama. Itu artinya lampu di ganti dengan lampu yang sama yang telah mati.
Saat ini aku memendam kecurigaanku. Aku ingin mencari tahu kenapa istriku melakukan ini. Apa dia hanya ingin balas dendam denganku dengan cara menjadikan aku babu? Atau ada maksud lainnya diluar dari pikiranku.
Seperti biasa, setelah selesai aku bergegas pamit pulang. Di luar saat ini sedang hujan deras. Aku menyalakan mobilku dan memundurkannya. Namun aku merasa ada yang aneh dengan jalan mobilku. Istriku melihat ku keluar dari mobil segera datang dengan payung.
"Kenapa mas?" tanya Rina
"Sepertinya ban mobil kempes." Jawabku.
"Jadi gmn mas?" tanya Rina
"Gak masalah masukan garasi dulu biar mas bisa ganti pakai ban serep." kataku menjelaskan.
"Kalo gitu, Mas masuk mandi terus makan, nanti Mas masuk angin loh." Ucap Rina.
Aku berpikir ada benarnya juga, jadi aku mengikuti saran istriku. Aku memasukan mobil ke dalam garasi. Kemudian masuk ke kamar untuk mandi, hujan di luar sangat deras dan suara-suara petir menyambar terdengar jelas.
Saat aku keluar, Istriku bergegas memanggilku untuk makan malam. Ini adalah pertama kalinya aku makan malam bersama dengan istriku. Aku sangat senang akhirnya istriku tidak takut lagi melihatku. Bahkan bisa mengobrol dengaku. Aku selalu berkomunikasi melalui pesan itu pun jarang mendapat tanggapan. Seandainya aku bisa seperti ini selamanya, bisa bertatap muka, bisa ngobrol bareng, bisa makan bersama, dan mungkin bisa melakukan hubungan suami istri dan memiliki anak. Jika bisa seperti itu, aku akan sangat senang. Tapi sekali lagi ingatan tentang aku yang jahat selalu menghantui otakku.
Aku kembali mengingat misi utama ku. Mebiayai dia kuliah, melihatnya bekerja dan mampu untuk mandiri, kemudian aku akan melepaskannya untuk bersama orang yang layak. Tidak seperti bajingan sepertiku. Kami makan tanpa berbicara, aku sibuk dengan pikiranku, dia sibuk dengan pikirannya.
Setelah makan aku bergegas ke garasi untuk mengganti ban. Sudah selesai aku segera menyalakan mobil dan berjalan mundur. Aku segera mengerutkan kening dan segera turun. Kali ini ban lainya juga kempes, aku benar-benar tidak mengerti kesialan apa ini.
"Loh belum pergi Mas?" tanya Rina.
"Bannya yang 1 lagi kempes juga." kataku sambil menunjuk ban yang kempes.
"Yaudah, Mas tidur sini ajah. hujannya deras juga. Takutnya Mas kejebak banjir loh." ucap Rina menyarankan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Yah mau bagaimana lagi." Ucap ku mengunci pintu garasi kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ini minum dulu Mas" Rina datang membawakan air minum.
Aku sedikit terkejut dengan inisiatif Rina. Setelah minum aku segera ke kamarku. Kamarku masih bersih bahakan setelah beberapa bulan tidak ku tempati. Bahkan tanaman hias di dekat dekat jendela juga tidak mati.
"Mas tenang saja, Rina selalu membersihkan ruangan Mas juga kok." Ucap Rina yang tiba-tiba muncul.
"Makasih sa.. Rina." Ucap ku hampir keceplosan. Setelah itu istriku kembali ke kamarnya.
Aku segera berbaring, selimut dan sprei wangi seperti baru saja di ganti. Aku kesal sekaligus senang, karena bisa tidur di rumah ini tanpa mengganggu Rina. Aku pun tertidur lelap.
Saat tengah malam aku terkejut karena seseorang masuk dengan wajah ketakutan. Diluar hujan deras semakin menjadi-jadi, bunyi petir menggelegar seperti ingin menghukum dunia.
"Mas aku takut. Aku bolehkan tidur disini sama Mas?" Tanya Rina yang meneteskan air mata.
"Apa kamu tidak takut sama Mas?" tanyaku ragu. Dan istriku hanya menggeleng.
Istriku bergegas masuk ke dalam selimut dan memelukku. Kali ini tidak ada pikiran kotor, aku memeluknya sambil mengelus rambutnya hingga dia tertidur.
Saat terbangun, istriku tidak ada di sampingku. Aku berpikir aku hanya mimpi, namun wangi tubuhnya masih menempel jelas di bantal dan dan selimut.
"Mas sarapan" ucap Rina yang membuka pintu.
Aku segera beranjak dari tempat tidur dan sarapan bersama istriku.
Setelah hari itu aku kembali pindah kerumahku, meskipun tidak tinggal di kamar yang sama tapi setidaknya kami sudah seperti saudara yang hidup serumah.
Hingga waktu berlalu selama 2 tahun lebih. Malam ini istriku memasak makanan kesukaanku. Kami berbincang banyak hal. Istriku sudah lulus kuliah dan sudah mendapat pekerjaan sebagai sales marketing.
"Mas tahu gak kenapa aku masak special hari ini?" tanya Rina
"Gak tau kan Mas bukan dukun." ucap ku tersenyum.
"Ihh... gak asik. tebak dong." Ucap Rina manja.
"Mungkin dapat bonus kali?" kataku.
"Hemm.. salah!" Kata Rina.
"Yaudah Mas nyerah."
" Rina dapat promosi jabatan. sekarang Rina sudah jadi Manager marketing. Rina sudah punya penghasilan, jadi Mas tidak perlu bekerja terlalu keras lagi. Mas bisa istirahat hari sabtu dan minggu. Kita juga bisa pergi liburan nanti." Ucap Rina bersenangat.
Perkataan Rina jelas kembali mengingatkan siapa diriku dan apa tujuanku.
"Kalau begitu Mas senang dengarnya. Mas punya hadiah buat Rina." Ucapku kemudian beranjak menuju kamar.
Aku mengeprin selembar surat dan menandatanganinya. Berat rasanya melangkah keluar untuk memberikan surat ini. Tapi aku meyakinkan diriku, dia akan lebih bahagia tanpa bajingan sepertiku.
Aku duduk dan menyerahkan selembar surat padanya. "Mas dulu pernah berjanji untuk membuatmu bahagia. Kamu sudah lulus kuliah, juga sudah sanggup untuk mandiri. Sekarang carilah seseorang yang layak dan bisa membuatmu bahagia. Bajingan seperti Mas tidak tidak layak untuk bahagia bersama mu. Mas hanya bisa merusak kehidupanmu. Mas ingin meminta maaf atas segala hal yang sudah Mas perbuat." Aku mengucapkan kata-kata itu tanpa sanggup melihat wajah Rina.
"Apa Mas mencintai aku?" tanya Rina, sedangkan aku tetap diam tidak sanggup berbicara. Jelas aku sangat mencintai dia. Tapi jika mengingat apa yang sudah aku perbuat padanya aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
"Jawab Mas! Apa Mas mencintaiku? Atau Mas sudah memiliki wanita lain di sana? Apa Mas mau menceraikan Rina lantaran Rina tidak pernah memberikan hak Mas? Jadi Mas ingin menikahi wanita yang bisa memuaskan Mas?" Tanya Rina marah.
POV Rina
Namaku Rina Nur Riany. Aku baru lulus SMA, aku pikir aku akan menjalani kehidupan kuliah yang menyenangkan. Namun beberapa hari setelah kelulusan, Saat aku berjalan menyusuri jalan. Tiba-tiba aku di sergap oleh sesosok pria yang tidak ku kenal.
Pria itu benar-benar bajingan, aku mencoba melawan dan berteriak minta tolong namun semua siasia. Pria itu berhasil melecehkanku hingga aku benar-benar tidak sanggup untuk hidup. Aku menangis menahan kesakitan di hatiku. Hingga tubuhku benar-benar lemas dan pingsan. Wajahnya yang tersenyum bagai iblis tercetak tebal dalam pikiranku. Saat aku tersadar aku sedang di papah oleh seorang pemuda. Namun wajah gantengnya bukan membuatku senang, justru wajah ganteng itulah iblis yang mengotori tubuh ku.
Aku berteriak ketakutan, sontak warga ramai dan akhirnya memukuli pria itu. Pria itu di bawah ke polisi, Namun sehari kemudian seorang pria paruh baya datang ke rumah dan meminta maaf sambil bersujud di kaki ayahku. Pria paruh baya itu adalah teman ayah ku sewaktu SMA. Karena jasanya yang menolong keluarga kami dulu, akhirnya ayahku setuju untuk mencabut tuntutan dan menikahkan kami.
Nama pria bajingan itu adalah Erga Satria, setiap kali aku melihat Erga aku selalu dihantui bayang-bayang masa lalu. Untungnya kedua mertuaku sangat peduli padaku. Jadi mereka sangat marah jika Erga mencoba menemuiku.
Aku sangat putus asa mendapatkan suami bajingan yang kerjanya hanya mabuk dan narkoba. Bahkan suara-suara yang menyuruhku untuk bunuh diri semakin sering terdengar.
Suatu hari saat aku sedang mencuci pakaian aku tiba-tiba pingsan. Padahal saat itu aku hanya mencuci pakaian dalamku sendiri. Seharusnya tidak akan melelahkan karena tidak berat. Namu saat aku berdiri tiba-tiba dunia serasa berputar. Dan saat aku sadar aku sudah ada di rumah sakit dengan ditemani kedua mertuaku. Dokter memberitahu aku jika aki sedang hamil. Awalnya aku tidak suka, namun saat perjalanan pulang aku melihat sekumpulan anak TK sedang menyebrang jalan ditemani ibunya. Saat itu sebuah semangat kembali merasuki jiwaku.
Mungkin ayah anak ini adalah seorang bajingan, tapi anak ini tidak berdosa. Dan juga anak ini adalah anakku. Saat ini aku kembali memiliki semangat untuk hidup demi anak dalam kandunganku.
Tapi tuhan tidak merestuinya untuk lahir kedunia. Erga memaksa menemuiku dan ingin mengelus perutku. Dia juga ingin sekali mengobrol dengan anaknya yang masih dalam kandungan. Saat itu bayangan kejadian buruk itu muncul tanpa bisa kutahan. Aku ketakutan dan berteriak sekencang-kencangnya. Tanpa aku sadari dunia berputar dan pandanganku menjadi gelap.
Saat aku bangun aku merasakan ada yang kurang. Aku tidak merasakan denyut jantung kecil yang ada di perutku. Aku meraba perutku sambil memandang mertua dan orang tua ku. Mereka hanya memelukku dan berkata sabar. Aku mengerti maksudnya, aku sudah kehilangan semangat hidupku. Aku menangis dan memanggil-manggil anakku. Aku tidak perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarku. Yang aku inginkan saat ini hanya satu kata "Mati".
Aku mencabut semua peralatan medis yang masih melekat di tubuhku dan ingin pergi untuk bunuh diri. Anakku sudah tiada, untuk apa lagi aku hidup? tidak mungkin aku hidup demi seorang bajingan itu. Aku melihat Erga di depan pintu, sontak aku histeris dan memaki-maki dia dengan sebuat pembunuh, bajingan, dan semua umpatan untuk meluapkan amarahku. Mertuaku bergegas mengusir Erga.
Setelah keluar dari rumah sakit, pikiranku sudah lebih tenang. Namun aku masih akan menangis saat mengingat anak yang aku kandung. Saat itu aku bersandar pada pintu dan terdengar suara pria yang aku benci.
"Rina! Mas minta maaf karena sudah jahat sama kamu. Mas memang bajingan rendahan yang tidak berhak mendapatkan maaf sedikit pun dari mu."
"Tapi Tolong beri Mas kesempatan untuk berubah. Mas janji akan jadi suami yang bertanggung jawab. Mas janji untuk menjadi suami yang baik. Suami yang bisa melindungi kamu. Suami yang benar-benar kamu inginkan. Jadi tolong beri Mas kesempatan dan jangan menceraikan Mas. Hari ini Mas mengikuti sesi terapi untuk mengobati ketergantungan narkoba yang mas punya" Setelah itu hanya ada keheningan.
Aku sangat membenci pria itu, tapi entah kenapa kata-katanya benar-benar menggerakan hatiku. Padahal pagi sebelumnya kedua mertuaku. Memintaku untuk menceraikan Erga. Mereka akan memberikan 20% saham milik Erga untuk ku dan membiayai terapiku dan juga kuliahku. Kedua mertuaku sangat sayang padaku seperti anak kandung sendiri. Mereka merasa malu dengan kelakuan Erga yang hanya bisa menyakitiku. Padahal mereka berjanji pada orang tuaku untuk melindungiku seperti anak mereka sendiri.
Setelah aku berhenti menangis, aku keluar menemui mertuaku. Aku menolak tawaran untuk menceraikan Erga dan memutuskan memberikan dia wakth untuk berubah. Dan aku bisa merasakan perubahan yang terjadi. Dia selalu mengingatkan aku untuk makan dan menjaga kesehatan. Mengingatkan aku untuk tidur teratur. Awalnya aku kesal, namun lama-kelamaan aku bisa merasakan ketulisannya.
Aku juga mengikuti terapi, mengobati traumaku. Dengan dukungan mertuaku, dan juga suamiku yang selalu memberikan pesan penyemangat membuatku selalu bersemangat menyambut hari baru. Karena hasil tesku yang baik aku sudah diperbolehkan untuk kuliah. Dan akhirnya aku memilih kuliah di ibu kota tempat suamiku bekerja.
Aku percaya dengan ucapannya saat itu, dan sekarang aku merasa suamiku tidak memberbohong. Dia sudah berubah dan berhak di beri kesempatan lain. Aku akan memberikannya kesempatan untuk menjadi suamiku yang sesungguhnya.
Saat aku pindah dan menjalani hidup di ibu kota, Aku pikir aku akan hidup 1 atap dengannya. Namun sepertinya dia masih takut jika aku akan ketakutan. Aku mulai mencari cara untuk bisa membuat kami lebih banyak berinteraksi. Aku juga tidak bisa menunjukan secara terang-terangan. Aku ingin semua terlihat natural. Pertama saat aku memberi pesan saluran air sink yang buntu.
Namun dia justru menghubungi layanan perbaikan untuk memperbaikinya. Jadi aku mengiriminya pesan jika aku takut bertemu orang asing saat di rumah sendirian. Beberapa hari kemudian ada lampu yang mati. Dan segera aku memberitahunya di hari minggu. Dia datang dan memperbaikinya kemudian kembali.
Erga memang datang rutin beberapa hari sekali untuk membeli galon dan gas. Tapi itu dilakukan saat jam kuliah, jadi kami jarang bertemu. Saat aku melihat bola lampu yang rusak, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Setiap sabtu, aku menghubunginya untuk memperbaiki lampu yang mati, keran air rusak, saluran pembuangan sink buntu dan lain-lain.
Hal itu berlangsung selama 3 tahun, aku sedikit frustasi karena sampai saat ini Erga tidak pernah berinisiatif mendekatiku. Sampai aku dengar cerita-cerita teman yang sudah menikah dan menggoda suaminya dengan berpakaian seksi untuk memancing gairah. Aku pun memutuskan untuk menirunya.
Aku sengaja membuang sisa nasi kedalam saluran sink nanpa melalui penyaring agak sulit karena Nasi yang kumasak sedikit. Aku sayang jika harus membuang nasi yang masih bagus. Namun akhirnya aku dengan berat hati melakukannya. Aku berpikir jika ini tidak berhasil aku sangat berdosa pada fakir miskin. Untungnya rencanaku untuk membuat saluran pembuangan sink buntu berhasil. Aku segera mengirim pesan pada suamiku.
Aku mengganti pakaian dengan pakaian yang seksi yang baru berapa hari lalu ku beli. Aku menunggu selama satu jam dengan bosa. Tidak lama kemudian bel berbunyi, Aku segera berlari dan membuka pintu. Ternyata seorang kurir yang mengantar paket. Untung saja aku tidak langsung membukanya lebar, jika tidak dia pasti bisa melihat tubuhku yang seksi dan aku pasti merasa bersalah. Aku kembali menutup pintu kemudian mengambil daster untuk menutupi bajuku yang seksi kemudian kembali menemui kurir.
Aku membuka paket dan ternyata kunci valve ban. setelah menyimpan barang itu, aku kembali duduk menunggu dengan pakaian seksiku. Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi. Kali ini aku mengintip dahulu siapa yang datang. Aku senang karena kali ini suamiku yang datang.
Saat aku membuka pintu, suamiku langsung membeku di tempat. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai aku melihat ke arah tonjolan yang ada di celananya. Aku segera menyuruhnya masuk. Wajahku memerah karena malu dan segera bergegas masuk kamar. Aku berpikir bagaimana jika suamiku meminta jatah? apa yang harus aku lakukan.
Setelah menenangkan diri sebentar, aku keluar kamar dan mendapati suamiku masih di luar. Aku bergegas memanggilnya masuk sedangkan aku membuatkan minuman. Aku beberapa kali memperhatikan apa pekerjaannya. Kadang aku merasa bersalah sudah berbuat seperti ini. Namun bagaimana lagi aku ingin bisa dekat dengannya. Aku merasa dia diam-diam melirikku.
Setelah selesai dia bergegas pulang. Aku sangat kecewa dan segera masuk ke kamar. Aku bercermin dan bertanya apakah aku benar-benar tidak menarik atau dia memiliki wanita lain diluar sana. Tapi menurut temanku yang bekerja di perusahaan milik suamiku. Suamiku tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dia bahkan pernah memecat wanita yang pernah menggodanya. Dan semua karyawan tahu jika presdir mereka sudah memiliki istri.
Akhirnya aku memutuskan cara lain lagi. Sabtu malam, aku meminta suamiku datang untuk mengganti lampu yang mati. Sebenarnya tidak mati, tapi aku sengaja menukarnya. Aku bahkan mencatat dan membuat jadwal mingguan gangguan apa yang harus aku timbulkan untuk mengundang suamiku. Semua itu semata-mata agar kami bisa sering bertemu dan bisa menjadi lebih dekat.
Saat suamiku datang aku pura-pura memasuki kamar. Kemudian aku mengambil kunci valve ban yang sengaja aku pesan untuk menggemboskan ban mobil suamiku. karena hujan deras, pakaian ku basa. Aku segera mengganti pakaian dengan pakaian baru namun tetap seksi. Saat aku keluar kamar suamiku tiba-tiba menatapku penuh selidik namun segera dia membalikan tatapannya.
Aku sedikit takut jika perbuatanku menggemboskan ban mobilnya ketahuan. Setelah selesai mengganti bola lampu. Suamiku pamit pulang, dia bergegas berlari menuju mobilnya. Aku sudah menyiapkan payung. Saat dia memundurkan mobil kemudian berhenti. Aku segera menghampirinya dengan memakai payung saat melihat dia turun?
"Kenapa mas?" tanyaku
"Sepertinya ban mobil kempes." Jawab suamiku
"Jadi gmn mas?" tanyaku lagi
"Gak masalah masukan garasi dulu biar mas bisa ganti pakai ban serep." kata suamiku menjelaskan.
"Kalo gitu, Mas masuk mandi terus makan, nanti Mas masuk angin loh." Ucapku sambil berpikir, rencana menggemboskan salah satu banya lagi.
Suamiku segera memasukan mobil ke dalam garasi agar nanti saat mengganti ban tidak kehujanan. Setelah itu aku memberikannya handuk dan menyuruhnya mandi. Aku juga sudah menyiapkan baju ganti. saat dia sedang mandi aku segera ke garasi dan menggemboskan salah satu ban mobilnya untuk kali ke dua.
Setelah mandi kami makan bersama, aku senang akhirnya bisa makan bersama suamiku, ini adalah pertama kalinya kami makan bersama. Selama ini dia selalu menolak saat aku mengajaknya makan bersama. Kami juga akhirnya bisa berbincang dengan akrab. Setelah itu dia segera menuju garasi untuk mengganti ban. Aku hanya mengamatinya dari kaca jendela. Setelah selesai dan merapikan semua tools. Dia bergegas menyalakan mobil dan mundur. Namun dia segera berhenti dan mengitari mobil. Dia tampak kesal dan mengacak-acak rambutnya.
"Loh belum pergi Mas?" tanyaku
"Bannya yang 1 lagi kempes juga." kata suamiku sambil menunjuk ban yang kempes.
"Yaudah, Mas tidur sini ajah. hujannya deras juga. Takutnya Mas kejebak banjir loh." ucapku menyarankan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Yah mau bagaimana lagi." Ucap suamiku mengunci pintu garasi kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ini minum dulu Mas" Aku datang membawakan air minum. Aku tahu dia lelah karena perbuatanku. Dia segera meminum habis air yang kuberikan. Setelah itu aku membawa gelas tersebut ke dapur.
Aku masuk ke kamar suamiku yang tidak tertutup. Seoertinya dia baru memperhatikan jika kamar tersebut tetap bersih. "Mas tenang saja, Rina selalu membersihkan ruangan Mas juga kok." Ucapku
"Makasih sa.. Rina." Ucap Suamiku. Aku tahu dia hampir keceplosan, aku senang mendengar reaksinya. itu tandanya dia punya perasaan sayang padaku. Aku tidak ingin menggodanya karena dia pasti capek, jadi aku segera pergi menuju kamarku.
Saat tengah malam, petir besar berbunyi, listrik padam. Aku bergegas mengambil HP dan memakainya sebagai penerangan. Aku bergegas menuju kamar suamiku. Sepertinya Suamiku kaget saat aku tiba-tiba membuka pintu.
"Mas aku takut. Aku bolehkan tidur disini sama Mas?" Tanyaki yang meneteskan air mata.
"Apa kamu tidak takut sama Mas?" tanya suamiku ragu. Dan aku hanya menggeleng.
Aku bergegas masuk selimut dan memeluk suamiku. Rasanya hangat, bahkan aku bisa tidur dengan nyenyak dipelukannya.
Setelah itu kami akhirnya bisa hidup dalam satu rumah. Meskipun kami belum pernah melakukan hubungan itu. Tapi aku senang dan membuat aku benar-benar tidak menyesal memberinya kesempatan. Dan jika orang-orang bertanya apakah aku mencintai suamiku? Jawabannya aku sangat mencintainya.
POV Rina end
"Bukan seperti itu. Mas sangat mencintai Rina. Tapi setiap kali dekat dengan Rina, Mas selalu mengingat kebejatan Mas yang membuat Rina menderita." Ucap ku.
"Jika mas mencintai Rina, kenapa harus melepaskan Rina? Apa Mas pikir Rina cuma menginginkan uang Mas untuk biaya kuliah? Jika itu yang Mas pikirkan Mas salah. Jika hanya uang yang Rina mau untuk apa Rina memberi Mas kesempatan untuk berubah? asal Mas tahu, Ayah dan Ibu akan memberikan 20% saham milik Mas untuk Rina dan membiayai terapi serta kuliah Rina jika Rina memilih bercerai saat itu. Tapi kata-kata Mas saat itu bisa mengubah pikiranku. Aku mau memberi Mas kesempatan karena ketulusan Mas saat itu."
Istriku melihat kembali surat perceraian itu. Dia merobek surat itu dan berkata. "Rina tidak perlu mencari orang lain, karena Rina sudah memiliki orang yang bisa bahagiain Rini dan orang itu sudah menjadi suami Rina."
Aku segera memelukanya dengan erat. Dia juga memelukku dengan erat. Dia menatapku dan berkata, "Jangan berpikir untuk bercerai, Mas harus bertanggung jawab sampai salah satu diantara kita dipanggil tuhan." Ucapnya.
Hasrat terpendam yang selama ini hanya di simpan meledak. Kami berciuman dengan semangat dan penuh gairah. Semua pakaian sudah tanggal, tinggal menunggu tindakan terakhir. Saat ujung masa depanku menyentuh miliknya, Tiba-tiba dia merasa wajahku berubah menjadi iblis jahat. Rina ketakutan dan menangis.
"Mas, maafin Rina. Rina masih belum bisa." Ucap Rina kesal dengan dirinya sendiri. Dia berpikir sudah selama ini dan sudah besarnya rasa cintanya, kenapa dia masih tidak bisa melupakan kejadian itu.
Aku tidak menyalahkannya, mungkin inilah cobaan rumah tangga kami. Aku memeluk dan mengelus kepala istriku. "Udah jangan nangis, kita masih punya banyak waktu." ucapku menghibur.
Setelah itu kami berdua menjalani terapi, dan beberapa kali mencoba tapi gagal. Namun dokter yang menangani kami justru mengajurkan kami untuk sering-sering melakukan kegiatan yang ringan-ringan dahulu.
Kami melakukan seks ringan sesering mungkin, sampai suatu hari saat kami sudah mencapai puncak dan memang harus ke tahap itu. Istriku menutup matanya dan ternyata itu berhasil. Dia membayangkan melakukan hal itu dengan seseorang namun wajahnya buram. Tapi itu adalah sebuah kemajuan untuk kami.
Istriku membeli beberapa penutup mata yang bisa dipakai untuk tidur. Jadi setiap kali melakukan itu, Istriku memakainya. Beberapa bulan kami harus menggunakan penutup mata, hingga suatu hari saat kami melakukan itu istriku yang selalu membayangkan melakukan itu dengan pria yang wajahnya buram. Dia merasa pandangannya semakin jelas, dia bilang dia melihatku dalam bayangannya. Dan kami melakukannya dengan liar hingga penutup mata itu terlepas. Dan benar saja hal itu sudah tidak berpengaruh apapun. Justru membuat kami bertambah semangat.
2 tahun kemudian, istriku resign dan memilih fokus mengurus anak kami yang berumur 1 tahun lebih. Kami mudik dan bertemu dengan keluarga kami. Ayah, Ibu, juga mertuaku gembira menggendong cucu mereka. Aku dan Istriku sangat berterimakasih kepada tuhan. Apalagi saat ini dia sedang berbadan dua lagi.