Namaku Dian Ayu Lestari biasa dipanggil Dian. Aku punya saudara kembar bernama Dita Ayu Lestari, kami kembar identik. Kami sama-sama sekolah di SMA Anak Bangsa. 3 bulan lagi kami melaksanakan UN. Aku harap kami dapat lulus dengan nilai yang membanggakan. Tapi dapatkah aku melaksanakan UN dengan keterbatasan fisik ini.
Dita sangat berbeda denganku, dia memiliki fisik yang kuat. Kadang ingin sekali aku menjadi Dita yang bisa bermain sepuasnya tanpa khawatir akan fisiknya. Tapi inilah takdirku aku akan berusaha keras untuk melawan kanker otak yang kuderita demi Dita, sungguh aku sangat menyayanginya.
Pagi ini seperti biasa kami bergegas berangkat sekolah. Aku harus sarapan dan meminum banyak obat agar kanker otakku tidak bertambah parah. Dan Dita, ya setiap hari tidak sempat sarapan dan selalu bangun kesiangan. Aku berjalan ke kamar Dita untuk memastikan dia sudah siap berangkat ataukah belum.
“Dita ayo cepat ! Kita sudah terlambat.” ajakku sambil mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.
“Papa mana Kak?” ujar Dita keluar seraya memakai sepatu.
“Kamu pikir ini jam brapa Dita??? Jelas Papa sudah pergi ke kantor. Ayocepat!”
“Iya iya… huuh cerewet.” sambil memasang muka cemberut.
Aku dan Dita pun segera masuk ke dalam mobil untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba aku merasa kepalaku sakit sekali oh Tuhan tolong kuatkanlah aku? Hari ini aku ingin menjadi gadis normal ya Tuhan. Aku berusaha menyembunyikan rasa sakitku agar Dita tak mengetahuinya.
Aku terkadang berfikir kalau aku ini sangatlah lemah untuk berlari saja aku tak mampu. Aku seperti kupu-kupu yang terbang rendah dan memiliki sayap rapuh yang tidak mungkin untuk bisa menembus dan mengelilingi cakrawala.
Sedangkan Dita dia begitu beruntung tubuh sehat dan kuat Dia bagaikan Elang dengan sayap yang kuat untuk mengarungi cakrawala ini. Dan aku hanya dapat melihatnya terbang tinggi dari bawah, karna jika Ia senang aku pun juga senang. Kebahagiaan terbesarku adalah aku masih memiliki Dita sebagai saudara dan juga sahabat dialah alasan mengapa sampai hari ini aku masih bertahan. Sebab bila tidak ada Elang di atas angkasa sana kupu-kupu ini sudah dari dulu aku akan tumbang. Elanglah itu alasan kupu-kupu ini bertahan.
***
Di dalam mobil aku tiba-tiba merasakan lagi sakit yang teramat sakit dikepalaku, walaupun tadi rasa sakitku sempat kutahan tapi kali ini jerit sakitpun berhasil lolos dari bibirku.
“AAA…. AAAA… ya Tuhan sakiiiittt. Ditaa….?!” ucapku berteriak kesakitan.
“Ya ampuun Kak, Kakak kenapa? Bertahan kak. Pak Supir tolong bawa kami ke Rumah Sakit terdekat. Cepat Pak !” ucap Dita sambil menangis dan mendekapku dalam pelukannya.
***
Sesampainya di Rumah Sakit. Aku langsung dibawa ke UGD. Seperti biasa kualami di suntik, menelan banyak obat, menjalani proses perawatan medis atau terapi lainnya yang menurutku hanya sementara dapat membuatku hidup lebih lama.
Mama dan Papa telah datang. Mereka dan Dita melihatku dari kaca jendela. Sungguh ini hal yang paling kubenci dari hidupku aku selalu membuat orang yang aku sayangi menangis dan selalu membuat mereka sedih. Tapi aku selalu berusaha tegar setetes mata pun tak pernah kuperlihatkan pada mereka. Aku selalu terlihat bersemangat melawan penyakitku. Karna aku tak ingin menambah duka mereka dengan melihat terpuruk seperti ini.
***
Sudah dua bulan lebih aku dirawat disini. Rambutku yang dulunya lebat kini telah rontok dan kepalaku menjadi botak, kulitku pucat pasi, bibirku kering, mataku sayu, tubuhku kurus kering. Mama dan Papa bilang kalau umurku hanya diperkirakan satu bulan lagi. Setiap hari aku melihat Mama, Papa juga Dita menangis itu sangat membuatku hancur. Oh Tuhan bila memang kupu-kupu ini tak mampu lagi mengepakkan sayapnya setidaknya biarkanlah menyelesaikan mimpi terakhirnya. Aku ingin lulus dengan nilai tertinggi di Sekolah.
“Ma, Pa. Ijinkan Dian untuk mengikuti UN bersama Dita ya?” ucapku sambil memandangi orang tuaku.
“Tapi nak kau harus istirahat total, ini demi kesehatanmu nak.” ujar Mama memandangku iba.
“Benar, apa kata mamamu nak kamu harus sembuh ya sayang, maafkan papa nak tak bisa berbuat apa-apa untukmu.” mengusap pipiku sambil menangis.
“Apa yang Papa, Mama dan Dita lakukan selama ini sudah cukup bagi Dian”. aku tersenyum sendu.
“Biarkan Kakak mengikuti ujian Ma aku yang akan menjaga dan melindungi Kakak , Dia pasti baik-baik saja, setidaknya jangan mengekang Kakakku seolah-olah Dia akan pergi jauh meninggalkanku.” Dita mendekapku seraya menangis tersedu-sedu.
Akhirnya Mama dan Papa menyetejui permintaanku. Dita dia selalu menjagaku saat aku dihina teman-teman di Sekolah, saat aku dikerjai teman kami, dia selalu melindungiku. Dia memang ibarat Elang yang selalu menjagaku dari atas angkasa sana dia dengan senang hati turun untuk melindungi kupu-kupu rapuh ini.
***
Hari ini adalah UN terakhirku dan Dita selama UN Dita lah yang mendorong kursi rodaku, merawat dan menjagaku baik di sekolah maupun di rumah. Aku sangat bahagia mempunyai Dita melihatnya tertawa lepas, menghabiskan waktu dengannya itu adalah obat terbaikku. Keadaankupun berangsur membaik dan keluargaku sangat senang melihat keadaanku.
***
Tidak seperti hari-hari sebelumnya aku merasa kepalaku sangat sakit, kulihat pandanganku mulai memburam, aku merasa akan roboh, dan benar saja aku merasa Dita menggendongku dan berlari ke mobil, akhirnya aku berada di kamar putih itu lagi. Kamar yang selalu aku benci, aromanya , warnanya, semua alat medis, yang selalu membuat orang lain iba padaku. Keadaanpun hening sesaat, aku angkat suara dan memecahkan keheningan itu.
“Ada apa Ma? Kenapa kalian kembali bersedih? Apa yang salah dariku?” tanyaku kebingunga.
“Tidak ada apa-apa Kak, Kakak pasti sembuh Dita yakin itu.” ucap Dita menyemangatiku, tapi aku tau bahwa dia menyembunyikan keadaanku yang bertambah parah.
”Ya sudah, biarkan Kakakmu tidur dulu Dita! Dia harusbanyal istirahat." ucap Mama sambil menyelimutiku.
***
Beberapa hari ini aku seperti orang yang menunggu ajalnya. Setiap hari semakin buruk , obat dan terapipun seperti tidak ada artinya lagi. Tuhan… Setidaknya aku ingin melihat aku lulus dengan nilai tertinggi besok. Itulah permintaan terakhirku.
***
Pagi ini aku dan Dita bersiap-siap untuk berangkat sekolah melihat pengumuman hasil UN. Dalam mobil kepalaku kembali terasa sakit yang luarbiasa sakit yang paling sakit yang pernah kualami. Aku hanya menahan rasa sakitku karna aku ingin segera mengetahuinya.
“Kak, kita sudah sampai.. ya ampun Kakak kenapa kenapa pucat sekali?” tanya Dita panik.
“Tolong Dita bantu Kakak melihat hasilnya aku sudah tak kuat lagi!”
“Ba.. baiklah kak, aku akan menggendongmu agar cepat sampai."
Dita berlari sambil menggendongku menerobos diantara kerumunan siswa yang berdesakkan melihat papan pangumuman. Aku yang berada dalam gendongannya pun hanya dapat pasrah dan menahan rasa sakit yang teramat sakit ini. Desakan demi desakan berhasil dilewati akhirnya kami sampai di depan papan pengumuman dan Dita dengan segera mencari namaku. Dita dengan tergesa-gesa mencari namaku sedangkan aku yang berada dalam gendongannya merintih karna sakitku.
“Kak kau yang pertama Kak, lihatlah Kak, Dian Ayu Lestari, sudah kuduga kakakku ini memang hebat.” ujar Dita senang tapi juga sedih.
“Iya Dita terimakasih ya selama ini telah membantuku ini semua berkatmu, jaga kesehatanmu ya, jangan bangun kesiangan lagi, Kakakmu ini tidak akan bisa lagi membangunkanmu, titip Mama Papa ya, bilang kalau Kakak baik-baik saja, sekarang izinkan Kakak untuk tidur ya? Aku sangat lelah."
“Iya Kak, Dita sayang Kakak. Dita janji tidak akan bangun siang lagi, Papa Mama juga akan senang melihat prestasi Kakak, Istirahat yang tenang ya Kak? Kami semua menyayangimu, terimakasih telah berjuang sejauh ini.” ucap Dita sambil menangis.
Akhirnya aku dapat menyelesaikan mimpi terakhirku sekarang aku dapat beristirahat dengan tenang Dita titip Mama dan Papa ya? Semoga kelak kita dapat bertemu lagi.
***
Seperti kupu-kupu yang telah lelah terbang rendah mengarungi kerasnya dunia. Kupu-kupu itu telah lama bertahan dengan sayap-sayap rapuhnya, kemudian kupu-kupu itu berhasil terbang tinggi karna bantuan elang. Untuk pertama dan terakhir kupu-kupu itu dapat terbang tinggi. Akirnya kupu-kupu rapuh itu mati dengan damai dalam dekapan hangat sang Elang.
TAMAT