Aku pernah berpikir tidak ada kehidupan yang lebih indah dari kehidupan yang kujalani sampai saat ini, sebelum kejadian mengerikan ini merusak segalanya. Aku adalah seorang wanita yang dibesarkan dengan segala kemudahan dan kasih sayang yang berlebih dari orang tuaku. Maklum, sebagai anak semata wayang apalagi aku adalah seorang wanita, mereka sangat menjagaku, sangat memanjakanku dan menuruti semua yang kuinginkan.
Aku menuntut ilmu disekolah bergengsi, ditambah dengan bimbingan belajar private saat sore hari. Setiap hari aku harus bergulat dengan buku pelajaran, dan pikiranku penuh dengan hapalan sejarah, rumus matematika, Vocabulary dan lain-lain. Pergulatan ini mengasah otakku, dan menjadikanku siswa tercerdas disekolah. Dimulai dari Sekolah Dasar, lalu menengah pertama dan menengah atas semua kulewati dengan prestasi gemilang. Orang tuaku bangga dengan semua prestasiku, mereka bahkan membuatkan lemari khusus untuk piala-piala yang kudapatkan diolimpiade dan semua lomba-lomba pengadu kecerdasan lainnya yang kuikuti.
Namun, semua ini terasa sangat kosong dihatiku seperti halnya piala-piala kosong yang berjajar rapi dilemari favorit ayah dan ibuku. Kurangnya waktu untuk bergaul membuatku menjadi seorang wanita kaku dan wanita yang sangat egois. Tidak ada teman setia, karena aku hanya sibuk dengan diriku sendiri, saat seseorang berusaha mendekatiku aku akan berusaha menjauhinya. Tidak ada cinta, karena pria sedikit membosankan bagiku dan saat menghadapi mereka pasti akan membuang banyak waktu. Semua waktuku hanya untuk menambah ilmu, lalu berduel kecerdasan dengan beberapa orang, kemudian merasa bangga dan senang saat mengangkat piala di podium tertinggi. Tapi setelah piala itu masuk ke lemari, kemudian hambar mengisi hatiku.
Kecerdasanku membuat beberapa perusahaan memberikan beasiswa untukku di Perguruan Tinggi Negeri terbaik, hebatnya mereka akan membiayaiku dimanapun jurusan yang aku pilih. Setelah menghabiskan waktu dan pikiranku mencari dan memilih jurusan yang kuinginkan akhirnya aku memilih jurusan Psikologi. Aneh ? tentu orang akan berpikir aku orang yang sangat aneh. Aku cerdas penuh dengan pikiran-pikiran hebat, aku memiliki otak yang istimewa, aku bahkan berpikir jika aku memimpin negera ini, pasti Negara ini akan menjadi Negara adidaya. Aku bukan orang yang sombong, aku orang yang penuh dengan pikiran realistis, selalu yakin akan sesuatu hal yang aku yakini. Dan sifat inilah yang menjadikanku orang yang tak tertandingi sampai sekarang.
Jurusan ini sedikit istimewa untukku, mempelajari pikiran dan perilaku manusia lalu menerapkannya pada permasalahan yang dihadapi oleh manusia-manusia tersebut. Aku akan mengetahui mengapa orang-orang mudah marah, mudah berbohong dan berbuat jahat. Aku seperti manusia yang mengetahui semua hal tentang manusia lain.
Jurusan ini semakin lama-semakin membuat sifatku berubah. Aku yang awalnya kaku, kurang pandai dan tidak mau berhubungan dengan orang lain akhirnya mencair dan mampu bersosialisasi dengan baik, namun tetap saja rasa egoisku tidak pernah hilang karena aku merasa kecerdasanku melebihi teman-temanku. Buktinya aku berlanjut ke jenjang S2 dengan pendalaman psikologi klinis dengan beasiswa, kemudian lulus, lalu bekerja dengan beberapa perusahaan-perusahaan besar dan membuka praktik sendiri.
Semua dengan mudah kudapatkan, kehidupan mewah, pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan namun aku masih merasa hatiku hampa. Pergulatanku dengan pekerjaan membuatku hampir lupa betapa pentingnya berhubungan dengan seorang pria saat aku mendengar ayahku ingin memiliki seorang cucu. Di usiaku yang sudah hampir 28 tahun, aku bahkan belum pernah bertemu dengan seorang pria yang berhasil memecahkan pikiran egoisku tentang cinta.
Hingga akhinya aku bertemu dengan seorang pengusaha muda tampan. Aku bertemu dengannya saat sedang berlibur kesalah satu pulau destinasi terbaik dinegara ini. Dia seorang CEO perusahaan yang bergerak dibidang property. Bukan kekayaannya yang membuatku jatuh hati padanya, tapi saat dia berbicara padaku dengan sudut pandang yang sangat membuatku takjub. Beberapa kata-katanya membuatku sangat tersanjung. Baru saat ini aku merasakan sesuatu yang sangat special dihatiku. Aku sempat berfikir bahwa perasaan ini sedikit special karena baru kali ini aku berbicara dengan seorang lelaki panjang lebar dan sangat membuatku nyaman.
Selama 1 tahun kami pacaran tidak ada pertengkaran yang hebat, bahkan banyak hal romantis yang diberikannya. Sampai saat ini aku berpikir bahwa aku adalah perempuan dengan kehidupan paling sempurna di dunia ini. Tidak ada kesulitan saat aku sekolah, bekerja, bahkan mencari pria yang hebat. Dan akhirnya dengan keyakinan yang teguh aku memutuskan menikah dengannya.
Kami hidup bersama dalam suka dan duka. Aku tidak tau caranya memasak dan dia tidak mempermasalahkan hal itu. Aku tidak pandai membersihkan rumah juga mencuci pakaian dan dia tidak marah kepadaku. Dulu orang tuaku sangat memanjakanku, pembantu selalu memasak makanan untukku, membersihkan bahkan mencuci pakaianku. Perlakuan itu kudapat hingga aku S2 dan masih tinggal bersama orang tuaku. Pria yang kunikahi ini sangat sempurna bagiku, pria yang sangat sabar menghadapi sifat manjaku.
Setelah 2 tahun menikah akhirnya kami dikaruniai satu orang anak. Seorang anak laki-laki yang sudah kami tunggu kehadirannya. Seorang cucu yang sangat ditunggu kehadirannya oleh kakek dan neneknya. Dan ini semakin menjadikanku wanita paling bahagia didunia. Tidak pernah ada kesulitan dalam menjalani hidup. Aku seperti menjadi manusia spesial yang diciptakan tuhan dimuka bumi ini.
Suamiku sangat menyayangi anaknya. Dia selalu menggendong anaknya saat menangis, dia rela bangun ditengah malam saat anak kami merengek, dan tak tega membangunkanku saat itu. Dia mau menggantikan popoknya saat malam hari dan mau mengurus anak kami saat aku sedang bekerja. Kami bahkan tidak pernah menyewa seorang pengasuh anak. Kami merawatnya sebaik mungkin, pekerjaan tidak pernah mengganggu kami.
Hingga suatu hari, Rasa sombongku terhadap hidup sempurnaku hancur. Perusahaan suamiku krisis, dan membuat pikirannya tidak terkontrol. Dia selalu pulang larut malam dengan wajah penuh amarah, penampilannya kusam dan berantakan. Waktunya terhadap keluarga sudah tidak ada lagi, dulu selalu ada waktu bermain untuk semata wayangnya tapi sekarang waktunya habis memikirkan cara agar perusahaannya tetap utuh. Aku yang seorang psikolog selalu berusaha berbicara padanya agar dia tidak stress dan melakukan sesuatu hal yang bodoh. Namun, dia tidak mau mendengarkanku, dan tidak mau berbicara denganku.
Semakin lama wataknya semakin mengerikan. Dia bahkan tega menjerit diwajah anaknya karena tidak tahan mendengar anaknya menangis. Dia juga sudah mulai berani memukul dan menampar wajahku saat melihat tidak ada makanan di meja makan. Setiap malam menjadi neraka bagi aku dan anakku. Aku akan selalu melihatnya marah tanpa sebab, memecahkan semua barang jika sedang sangat emosi bahkan melempar sebuah gelas kaca kearahku.
Hari demi hari terlewati emosi suamiku mulai membaik, amarahnya mulai terkontrol, tapi yang membuatku bingung adalah dia mulai jarang pulang kerumah. Dia pernah tidak pulang selama 3-4 hari tanpa kabar, saat aku bertanya dia mengatakan bahwa dia keluar kota untuk membereskan masalah perusahaannya. Aku seorang psikolog dan aku tahu apa yang terjadi. Aku sudah menghadapi ratusan pasien wanita yang stress dan gila karena suaminya. Mulai dari kekerasan hingga perselingkuhan. Kecurigaanku muncul saat itu. Dia mulai mengabaikanku dan anaknya. Tidak lagi perduli dengan kehidupan keluarganya. Keyakinanku akan satu hal yaitu dia mulai berselingkuh.
Jika aku yakin maka keyakinan itulah yang akan aku pegang selamanya. Dia dulu bertindak kasar kemudian berubah hingga jarang pulang selama berhari-hari. Dia telah merusak kepercayaanku. Saat dia dirumah dan terlelap biasanya ia akan terbangun jika mendengar anak kami menangis, lalu menggendongnya dan berjalan disepanjang lorong rumah. Tapi sekarang dia hanya terlelap, tidak perduli saat anaknya menangis, dan aku yang biasanya terlelap mulai bangkit dari tempat tidur dan mencoba menenangkan anakku.
Pikiranku semakin lama semakin kacau. Kecurigaanku terhadap perselingkuhannya semakin menjadi-jadi saat melihat dia berduaan dengan seorang wanita di restaurant dekat perusahannya. Hati semakin hancur, tidak pernah aku dikhianati, tidak ada yang pernah merusak kepercayaanku dan menyakiti hatiku seperti ini sebelumnya. Emosiku membabi buta, pikiran gila merasuk ke otakku.
Suatu malam anakku menangis, tangisannya sangat hebat hingga hampir memekakkan telinga. Aku yang lelah dengan pekerjaanku dari pagi hingga sore hari,mulai muak dengan segala hal tentang keluarga ini dan hanya diam berbaring ditempat tidur. Aku menunggu suamiku mulai bergerak menuju kamar anak kami dan menenangkannya. Namun suara tangisan anakku semakin menjadi-jadi, yang berarti suamiku bahkan tidak perduli dengan tangisan yang mengerikan itu. Emosiku tak terkontrol lagi, tubuhku mulai memanas, aku kemudian bangkit dari tempat tidur, membuka lemari dan mengambil sebuah pistol yang sudah kusiapkan untuk memecahkan emosi yang membara selama ini. Aku kemudian berjalan menuju ruang keluarga dan melihat punggung suamiku yang tengah duduk menonton televisi. Kuarahkan moncong pistol kepunggungnya, kupenjamkan mata, lalu dengan nafas yang tertahan kutarik pelatuk pistol, dan “DDORRR”.
Peluruh menghujam punggungnya, karena sanking kerasnya tembakan itu aku melihat TV yang berada didepannya ikut hancur tertembak, itu berarti tembakanku telah menembus dadanya. Darah mengotori seluruh lantai dan dinding. Aku telah merasa lega tapi rasa takut sedikit mengerumuni hatiku. Seketika sebuah ide brillian muncul untuk mengubur tubuhnya dibelakang rumah dan mengatakan pada orang-orang yang curiga bahwa suamiku telah pergi entah kemana dengan selingkuhannya.
Namun semua rasa takut dan kelegaanku berubah menjadi rasa penyesalan yang teramat dalam. Air mataku tak berhenti menetes, hatiku seperti diremas, jantungku seakan berhenti sekejap, tubuhku melemas hingga aku terduduk tak berdaya, saat aku melihat di dada suamiku, di pangkuan suamiku, ada anak lelakiku yang terlelap tidur dengan lubang bekas tembakannku bersarang dikepalanya. Sementara itu di meja didepan tubuh tak bernyawa mereka terlihat berkas pekerjaan suamiku yang selama ini dia kerjakan untuk mempertahankan perusahannya.
Saat aku terjatuh menangis dalam penyesalan aku tersadar ada satu peluru lagi didalam pistol ini.