Pipit.
Ada Si Gendut. Si Pipit Namanya.
“Gendut - gendut kok namanya Pipit."
“Heh... Itu kan penggalan namaku saja.“
“Siapa?“
“Wotiti Pita M. “
“Jadi dipanggil Pipit.“
“Ya.“
“Kirain dari burung.“
“Burung pipit mah kecil. Beda. Gue timpa juga mecedhel. “
“Lo. “
#
“Itu Gembrot. mau kau dengannya?“
“Mana, coba ya?“
“Eh Mbrot, gimana kalau kau dengan Pipit?“
“Ogah ya.“
“Kenapa?“
“Gue seleranya yang baju merah itu.“
“Waduh, lu. “
“Ya, orang gendut nggak selamanya dengan gendut kan?“
“Cuma kan cocok.“
“Enggak ya.“
“Gimana Pipit?“
“Dia nggak mau, ya sudah. Mau ngapain lagi?“
“Kau kecewa?“
“Tak. Aku juga enggan dengan dia. Cuma karena bentukan kita sama saja, jadi aku mau tadi. “
“Ya sudah, nanti kan dapet jodoh ya?“
“Ya namanya jodoh kan sudah ada yang ngatur. Dapat jodoh ya kita beranak cucu, bertambah banyak, untuk merawat dunia. Kalaupun tak dapat jodoh ya belum nasibnya. Sebab ada kalanya hidup memang demikian. Tidak menikah karena terlahir demikian. Bisa karena pilihan atau karena memang takdirnya. Namanya juga kehidupan. Yang seperti roda. Terkadang ada baik, ada buruk. Diatas atau dibawah. Mungkin belum rejeki saja. “
“Ya. “
#
Pipit ketemu sama anak juragan tahu.
Orangnya keren.
Tinggi.
Pakai mobil juga.
"Beli!"
"Tahu bulat."
"Ya. Berapa?"
"Lima."
"Banyak amat."
"Habis nanti, tenang saja."
"Tunggu ya."
Sesaat kemudian.
"Eh kau kan belum punya pacar. Gimana kalau sama aku."
"Apa Pipit?"
"Jalan."
"Yah kau Pit."
"Gimana lagi. Kan sudah sering aku beli dagangannya."
"Tunggu entar malam aja ya?"
"Oke."
#
Malamnya....
"Pipit."
"Apa ma?"
"Mas gantengnya datang."
"Oke."
Pipit keluar. Menemui pacarnya.
"Yuk kita pergi."
"Kemana?"
"Nonton."
"Bioskop?"
"Yang 45 ya?"
"Oke."
Sembari beli tiket yang satu dapat dua, mereka masuk.
Tentu tak ketinggalan paketan pop corn sama air mineral.
Di lobi mereka menunggu jam masuk. Kalau belum waktunya tak boleh masuk. Baru setelah tepat jam nya bisa langsung ke nomor kursi duduk nya. Dimana memilih yang berduaan. Dan tidak terbatas oleh kursi bersilang.
Film mulai. Ramai. Lucu dan romantis.
Pipit senang dia sampai ketiduran dan ngorok sebentar. Barulah bangun saat penonton ramai tertawa. Mereka menghabiskan makan dan minum yang tadi di beli.
#
Belum lama mereka pacaran, paling baru setahun tiga belas bulan sudah ada yang nyesek.
"Aku mau pindah lokasi Pit."
"Kemana?"
"Ya lain tempat. Disini gantian sama rekanku."
"Oke."
#
Kali ini dapat pacar perawat. Perawat lo ini. Bukan dokter. Itu karena ada program suruh vaksin. Orangnya agak sedikit botak. ABS.
“Nama?“
“Pipit.“
“Sudah yang ke berapa?“
“Ini yang pertama.“
“Oke. Jangan tegang ya. Santai saja. Enggak sakit kok.“
“Iya.“
Si Pipit sudah kena. Bahkan dua kali. Itupun sering ke sana. Dan selalu minta. Terus bilang kalau dia di vaksin dan ngajak jalan.
“Lo sudah mau minta lagi. “
“Iyalah. “
“Terus aku kan sudah vaksin. Dan kau jomblo, gimana kita jalan. “
“Lo apa hubungannya?“
“Ya kan sama - sama jomblo.“
“Entar ajalah. “
“Ditunggu lo ya.“
“Iya.“
#
Malamnya,
“Pit, dicari mas gantengnya.“
“Iya ma.“
Pipit menemui orang yang agak tua.
“Yuk pergi.“
“Kemana lagi Pipit."
“Ini mau ke pantai ma.“
Disana lihat ombak
Lalu jalan-jalan ke suvenir.
Ada penyu yang diawetkan. Pipa dari kerang.
Mau beli terlalu mahal.
Akhirnya cuma beli jambal roti yang banyak di gantung sepanjang emperan tempat wisata itu.
#
Belum lama juga sudah mesti pisah.
“Kemana?“
“Aku dapat tugas belajar ke luar negeri. “
“Lama ya?“
“Lumayan.“
“Wah lagipula disana banyak cewek cantik. Pandai menyanyi. Juga langsing - langsing. Ya sudahlah. “
#
"Bagaimana Pipit, sendiri lagi."
“Nggak papa santai aja. Mungkin aku salah satu yang nggak dapat jodoh. Untuk itu terus berjuang. Agar hidup ini tak membosankan. “
“Begitu...“
“Ya.“
#
Malamnya di malam minggu yang kelabu,
“Pipit, ada mas ganteng nyari!“
“Lah... “
#