Sore yang cerah diakhir musim gugur. Tidak ada yang lebih indah ketika kamu menatap keluar jendela rumahmu, ketika daun-daun kering yang menguning itu satu persatu jatuh tanpa beban. Semilir angin menerbangkannya hingga melambung jauh keangkasa. Dan disore itu aku masih mengingatnya, sore terakhir yang akan aku lewati bersamanya.
“Yak, Alea. Cepat turun, kau sedang apa diatas sana?” Teriakku kala itu.
“Apa? Naiklah.” Jawabnya dari atas sana. Saat itu kami seperti biasanya bermain bersama dibukit belakang sekolah, ditepi danau yang kebetulan ada rumah pohonnya.
“Hahh kau tau aku tidak bisa memanjat.” Apa dia lupa aku tidak bisa memanjat pohon dan aku harus mengakuinya.
“Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku ingin menunjukan mu sesuatu.” Ujarnya tanpa menoleh padaku. Tangannya sibuk entah apa dibatang pohon itu.
“Cepat turun. Ini sudah sore.”
“Baiklah-baik.” Akhirnya dia turun. “Ayo.” Dan seperti biasa juga, kami pulang dengan tangan yang saling bertaut. Tidak ada alasan, semua berjalan seperti itu dari beberapa tahun yang lalu.
Sore itu memang masih sama, sore yang kuhabiskan bersama Alea. Namun, disore yang selanjutnya semua tidak lagi sama. Orang tuaku pindah ke distik 11 dan hal itu membuatku tidak lagi bisa bersamanya ketika sore. Aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya.
Musim gugur telah berakhir, segera musim selanjutnya akan datang. Musim demi musim datang silih berganti, aku masih ingat kala itu, setelah lulus Junior Highschool aku memilih melanjutkan ke SMA shindo. Salah satu SMA favorite dikotaku ini, Tokyo.
Takdir kembali mempertemukan ku dengannya, sahabat masa kecilku. Alea. Kami satu sekolah. Banyak perubahan yang ku lihat pada Alea, kecuali sikap tomboynya itu. Meski kini ia memanjangkan rambutnya tapi kesan manly itu tidak hilang.
“Ohayou Arka.” Sapanya kala itu. “Kau masih mengenalku kan? Jangan bilang kau melupakanku!” Sahutnya ketika tidak mendapat respon dariku. Aku tidak melupakannya aku hanya kaget, pertemuan ini terlalu tiba-tiba.
“Kau berhutang satu penjelasan padaku.” Lanjutnya tanpa memberikan ku waktu untuk menjawab sapaannya tadi membuatku semakin terlihat bodoh. Dan itulah awal pertemuanku kembali bersamanya, Alea.
Pagi yang cerah diawal semester baru. Hari itu seperti pagi biasanya, aku berangkat ke sekolah menggunakan kereta api. Namun, pagi ini sedikit berbeda karena aku tidak lagi berangkat sendiri, didepan stasiun kereta api Shinkasen, Alea sudah berdiri menungguku kami membuat janji untuk bertemu dan berangkat bersama. Ngomong-ngomong aku sudah menjelaskan kenapa dulu aku pergi tiba-tiba tanpa sempat memberitahunya. Dan aku mendapat satu jitakan keras dikepalaku.
“Ohayou Arka.” Sapanya. Berteriak sambil melambai-lambaikan tangan dari kejauhan. Sungguh membuatku malu kala itu, kami menjadi tontonan gratis dipagi hari dengan tingkah konyolnya. Ia masih sama konyolnya dengan Alea kecil dulu.
“Ohayou Ale.” Balasku. Ia merengut, hah entah kenapa kesan dewasa ketika pertama kali bertemu denganku lagi sirna saat itu.
“Ck. Kau memanggilku Ale. Itu mengingatkanku pada minuman.” Sungutnya denagn suara rendah.
Saat itu, entah kenapa tiba-tiba tanganku bergerak mengusap kepalanya. Aku berfikir ia sangat lucu dengan tingkah kekanak-kanakannya saat itu. “Kau ini lucu yaa..”
Ku lihat ia sedikit tersipu, sungguh ia hal itu membuatnya bertambah lucu dan imut. Pipinya yang memerah dan tangannya bergerak tidak jelas meremat ujung kameja sekolahnya. Melihat itu membuatku berfikir untuk menjahilinya.
“Pipimu merah!” Sahutku. Dan lihat ia bertambah gugup. Tanganku yang kugunakan untuk mengusap kepalanya kini berganti mengacaknya. Membuat Alea kembali merengut dengan pekikan kesal.
“Hahahaha...” Tak kuasa lagi aku menahan tawa. Saat itu aku mulai punya hobi baru, yaitu mengusili Alea.
Aku memasuki kelas bersama Alea yang masih menekuk wajahnya. Aku dan Alea satu kelas, jadi itu merupakan anugrah bagiku karena dengan begitu aku tidak susah-susah pergi mencarinya ke kelas untuk sekedar mengusilinya.
“Arka, kau duduk disebelahku. Tidak terima penolakan, ini perintah.”
“Haiiii baiklah..” Ucapku mencari bangku yang strategis menurutku. Dan aku menemukannya di pojok kanan paling belakang dekat jendela.
“Ohayou, anak-anak” Sapa seorang guru didepan sana, anak-anak ribut kembali kemejanya masing-masing. Dan pelajaran pertamapun dimulai. Dan sepanjang jam pelajaranpun aku sibuk dengan imajinasiku. Aku malas mendengarkan penjelasan tentang berdirinya sebuah negara, apa saja yang telah terjadi dimasa lalu. Intinya aku membenci pelajaran literatur sejarah, itu membuatku mengantuk.
“Arka. Kau mau ikut ekstra apa?” Tanya Alea seusai pelajaran habis.
Aku sempat berfikir kira-kira ekstrak apa yang akan ku pilih. “Aku masuk Club Sastra saja.” Putusku akhirnya.
“Kenapa?” Tanyanya.
“Entahlah, aku malas melakukan aktivitas berat.” Ungkapku.
“Oh baiklah.” Sahutnya “Aku akan ikut Club memasak, musik dan melukis saja.”
“Untuk apa?” Tanyaku. Memang dia bisa melukis, bernyanyi dan memasak, karena seingatku dia payah dalam tiga hal itu apalagi dengan sikapnya yang manly itu.
“Ra-ha-si-aaaa” Ucapnya dengan wajah datarnya itu, sungguh perpaduan yang tidak biasa.
Sore itu seusai pelajaran terakhir selesai aku cepat-cepat membereskan peralatanku, hari itu aku pulang sendiri, Alea bilang ia tidak bisa pulang bersama denganku hari itu ada jadwal ekstrak. Jadilah aku pulang sendiri. Tetapi baru saja aku ingin berbelok di ujung koridor menuju tangga, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa dan menabrakku. Ia tampak kesusahan dengan tumpukan kertas ditangannya.
“Ah maafkan aku.” Sesalnya sambil membungkukan badan. Aku maih mengingatnya rambutnya yang ia biarkan tergerai bergerak menutupi wajahnya ketika membungkuk meminta maaf.
“Hm tidak apa.” Sahut ku.
“Kalau begitu aku permisi, sekali lagi aku minta maaf.” Pamitnya kemudian berlalu pergi.
Aku tidak pernah tahu, jika pertemuan ku dengannya tidak hanya saat itu. Dan itulah pertemuan pertamaku dengannya yang tidak aku tahu akan berdampak sangat besar untuk saat ini. Aku kembali melanjutkan langkahku yang terhenti. Melangkah menuruni tangga mengikuti sang waktu yang mengukir sebuah kisah.
Dua hari berlalu setelah insiden tabrakan dikoridor waktu itu. Sore itu aku lagi-lagi tidak pulang bersama Alea, bukan karena Alea ada jadwal ekstrak tapi kali itu aku yang mendapat jadwal ekstrak di Club Sastra.
“Dahhh Arka Alea duluan jangan rindu yaaaa... “
Dari hari ke hari kadar kekonyolannya ku fikir terus bertambah, seperti kemarin ia dengan tidak tahu malunya bercerita jika ia menyukai seseorang, bagaimana mungkin seorang gadis menceritakan hal seperti itu pada laki-laki. Dan yang lebih gila dari itu ia memintaku untuk membatu melatihnya mengungkapkan perasaannya. Ayolah, aku masih punya kerjaan selain itu.
Tanpa terasa aku sudah sampai didepan ruangan Club Sastra, aku terlalu sibuk memikirkan kekonyolan Alea yang bertambah akut, membuatku mau tak mau menarik ujung bibirku tersenyum geli.
“Permisi.” Ucapku sembari membuka pintu club sastra itu. Hening yang menyapaku, hingga sebuah suara kecil menggapai pendengaranku.
“Ya? Ada apa?” Tanya suara itu. Ku alihkan pandanganku guna mencari siapa sosok dibalik suara itu. Disana dimeja pojok dekat jendela seorang gadis dengan rambut panjangnya yang di urai menatapku dalam sorot mata yang terkejut? Aku juga sedikit terkejut, ia gadis yang waktu itu menabrakku di koridor.
“Kau anggota baru club sastra?” Sapa sebuah suara lain. Disana didekat rak buku seorang siswa laki-laki tampak memilah-milah buku. “Masuklah.”
“Oh iya.” Jawabku. Kemudian duduk di ujung meja yang bersebrangan dengan gadis itu.
“Kau belum memperkenalkan diri.” Ucap siswa laki-laki itu “Aku Arata, anggota akhir club ini dari kelas 3A1. Siapa namamu?” Tanyanya.
“Namaku Arka dari kelas 1A3.” Ucapku kemudian melirik sosok didepanku menunggunya menyebutkan nama.
“Namaku Alifa. Dari kelas 1B2.” Ucapnya dengan suara pelan sambil meundukan wajahnya.
“O iya, Club ini tidak banyak peminatnya jadi mohon dimaklum.” Ucap Kak Arata.
Dan setelah perkenalan singkat itu aku mulai membuka halaman pertama sebuah buku untuk ku pahami isinya. Dan inilah club sastra, membaca, menganalisis buku kemudian membuat karya sastra yang baik.
Club sastra hanya dilakukan setiap seminggu dua kali, dua jam dalam setiap pertemuan. Waktu menunjukan pukul 17.15 menit. Club sastra berakhir lima belas menit yang lalu. Kini aku sedang dalam perjalanan pulang, seperti biasa menggunakan kereta api. Tetapi kala itu ada yang berbeda aku tidak pulang bersama Alea juga tidak sendiri, aku bersama Alifa. Dan ada satu fakta baru yang baru aku ketahui, Alifa tinggal di distrik yang sama denganku, berjarak beberapa rumah dari rumahku.
“Oya Alifa, berhubung rumah ku satu distrik denganmu bagaimana jika besok kita berangkat sekolah bersama.” Ujarku. Entah darimana keberanianku untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Aku hanya spontan.
“Um boleh” Sahutnya dibarengi anggukan kepala.
Aku dan Alifa mulai berjalan, dari stasiun ke distrik 11 lumayan dekat. Kami mulai dekat dari sana. Terlibat percakapan yang panjang hingga akhirnya aku dan Alifa berpisah di persimpangan. Ia berbelok ke kiri dan aku berjalan lurus. Aku sempat bertukar email dengannya. Dan kini aku mulai sedikit mengenalnya, ia gadis yang pemalu, lucu dan lemah lembut. Juga cantik.
“Ohayou Arka.” Seperti biasanya teriakan nyaring disertai lambaian tangan dikejauhan menyambutku didepan stasiun shinkasen.
“Ohayou.” Balasku seraya berjalan memasuki stasiun.
“Arka siapa dia? Kau mengenalnya?” Tanya Alea dengan berbisik disampingku. “Dia seperti mengikutimu”
“Oh dia Alifa.” Ucapku. “Alifa kenalkan ia Alea temanku.”
“Alifa” Alifa menyebutkan namanya sambil mengangsurkan tangannya.
“Alea” Jawab Alea sambil menyambut uluran tangan Alifa daan menjabatnya sebagai tanda mereka telah berkenalan. Selanjutnya sisa perjalanan di isi oleh cerita-cerita Alea, karena pada dasarnya dia memang cerewet.
“Oh ya Arka, aku membuat bento lohh buatanku sendiri, nanti istirahat kantin bareng aku yahh” Ucap Alea ketika kami sudah mulai memasuki kelas.
“Hm oke.” Sahutku.
Dan pelajaran pertamapun dimulai. Aku yang memang pada dasarnya tidak menyukai hitung menghitung mengikuti pelajaran dengan ogah-ogahan. Tapi meskipun aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran aku tidak pernah mendapat nilai rendah di mata pelajaran matematika. Karena pada dasarnya aku ini jenius, haha orang jenius mah bebas.
“Baiklah, tugas barusan dikumpulkan minggu depan.” Ucap guru yang mengajar sebelum benar-benar meninggalkan kelas.
“Arka. Ayo” Ajak Alea, lebih tepatnya ia menyeretku ikut dengannya.
“Arka” Seseorang memanggilku membuatku berhenti lalu menoleh untuk melihat siapa yang telah memanggilku.
“Ya?” Jawabku setelah tahu siapa yang memanggilku. “Ada apa?”
“Hm itu.. apakah aku mengganggu? Aku ingin mengajakmu ke perpustakan.” Ujarnya dengan wajah menunduk dan jemari tangan yang meremat ujung kamejanya, pertanda bahwa ia sedang gugup. Hal kecil yang kini Arka sudah hapal.
“Hm ya sudah ayo..” Aku mengiyakan begitu saja. Saat itu aku tidak memikirkan Alea, yang ku tahu ia tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ternyata aku salah.
Semenjak hari itu kedekatanku dengan Alifa membuatku melupakan kehadiran Alea, sebuah kesalahan fatal yang ku buat waktu itu. Aku mulai semakin menjauh dari Alea.
Tidak terasa semester satu telah berakhir, sekolah diliburkan ketika menjelang musim dingin. Saat itu aku menemani Alifa pergi ke toko buku, hubungan kami sudah sangat-sangat dekat. Sama seperti hubunganku dengan Alea dulu. Hari ini pertama kalinya aku mengingat Alea ketika aku bersama Alifa. Hah aku merindukan tingkah konyolnya. Beberapa bulan ini aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Alifa daripada Alea.
“Terima kasih sudah mau menemaniku hari ini.” Ujar Alifa. Ketika kami selesai membayar.
“Hm tidak masalah.” Sahutku “Setelah ini kau mau kemana?” Tanyaku.
“Emh aku mau bertemu teman, aku sudah janjian di cafe dekat sini.” Jawabnya. “Kau mau ikut?”
“Kurasa tidak, aku pulang saja. Cuaca diluar semakin dingin” Ucapku sambil menggosok-gosokan kedua tanganku.
“Hm baiklah sekali lagi terima kasih”
Kulangkahkan kaki ku menyusuri trotoar jalan disore itu. Kulirik jam tangan ditangan kiriku, waktu menunjukan pukul 17.26, sudah sangat sore. Ketika hampir mencapai persimpangan jalan, aku melihat sosok yang tidak asing, yang beberapa bulan ini seakan menjauhiku. Bukan tidak tahu jika Alea selama beberapa bulan ini seakan terus menghindar, apa dia marah aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alifa. Entahlah, aku harus menanyakannya.
“Alea.” Aku memanggilnya, dan sedetik kemudian dia menoleh.
“Ya?” Sahutnya. Tidak biasanya ia menjawabku dengan singkat seperti itu.
“Kau kenapa?” Tanyaku. “Akhir-akhir ini kau seperti menghindar dariku.” Cukup aku to the point saat itu.
“Apa aku salah dengar. Harusnya aku yang bertanya kenapa” Ujarnya “ Aku kira kau sudah lupa denganku”
“Apa maksudmu?” Tanyaku tidak mengerti. Ia pertama kalinya seperti itu, yang ku tahu.
“Sudahlah. Apa pedulimu?” Sahutnya sembari kembali berjalan.
“Oy Alea.” Panggilku. “Kau ini kenapa? Kau marah padaku? Kenapa?” Sungguh saat itu aku tidak tahu, tidak mengerti apa yang ia rasakan selama ini.
“Apa! Lebih baik kau urusi saja temanmu itu, kau lebih suka bersamanya bukan. Sana pergi.”
“Oke. Aku pergi. Cape ngomong sama kamu Al.” Sumpah, salahnya dimana sih.
Aku pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, aku tidak tahu apa yang salah. Kenapa Alea seolah-olah mengatakan aku yang salah waktu itu. Hingga saat itu sebuah lampu menyorot tepat kemataku, sangat silau. Aku merasa semua berjalan sangat lambat sampai sebuah dorongan kuat menghantamku membuatku terdorong kedepan dan membentur trotoar.
Didepanku saat ini, terjadi sebuah kecelakaan. Tepat didepan mataku. Lidahku kelu ketika tidak jauh dariku terbujur sosok bersimbah darah. Sendi-sendi tubuhku bergetar, rasa mual menderaku ketika darah mulai menggenang. Aku tidak ingin mempercayai ini, namun sosok yang tergeletak disana adalah orang yang sangat ku kenal. Ku dekati perlahan sosok itu, ia tidak bergerak sama sekali.
“Arka” Panggilan yang berupa bisikan itu menyentak ku yang beberapa saat lalu hanya menatap kosong Alea yang kini tergeletak begitu saja. Semua terlalu tiba-tiba.
“Aishiteru, Arka” Gumamnya yang masih mampu ku dengar, kalimat terakhir yang kudengar sebelum Alea menutup matanya. Aku sadar aku telah kehilangannya.
Tepat setelah kalimat itu ku dengar salju pertama turun dimalam itu. Ku tepuk pipinya pelan, mencoba mendapatkan kesadarannya kembali. Namun sia-sia, Alea tidak membuka matanya lagi. Ia pergi sebelum mendengar jawaban dariku. Malam itu aku merasakan kehilangan, dan malam itu juga akhirnya aku menangis, untuk orang yang selama ini dekat denganku.
“Kau bodoh. Kau egois Alea. Kau pergi sebelum mendengar jawaban dariku. Bangun bodoh.. bangun..” Aku terisak kecil, ku bawa Alea dalam dekapanku tak ku pedulikan pakaian ku yang bernoda darah, saat itu aku hanya merasa kehilangan.
“Aishiteru yo..” Ucapku dengan suara bergetar. “Kau dengar Alea? Aishiteru yo.. Aku sudah menjawabnya, jadi bangunlah..”
Tanganku mulai terasa mendingin, dadaku sesak, kepalaku terasa berat satu kata untuk menggambarkanku saat itu. Menyedihkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya ketika pandanganku perlahan mengabur. Hanya sayup-sayup kedengar suara sirine polisi dikejauhan.
Dua tahun berlalu sejak kecelakaam itu. Kini bangku disampingku terlihat kosong, aku merindukan pemiliknya. Satu tahun yang lalu aku pergi ke suatu tempat, disana aku menemukan sesuatu yang membuat penyesalan ku kembali terbit, menumpuk embun disudut mataku. Kerinduan membawaku ke tempat itu, disana aku melihat rumah pohon ditepi danau yang mengingatkan ku padanya.
Disana, dirumah pohon itu aku menemukannya, sesuatu yang dulu ingin Alea tunjukan padaku. Sebuah ukiran dibatang pohon. Aishiteru Arka. Dan disana juga terselip kertas usang yang sudah mulai menguning, berisi untaian kata yang membuatku lagi-lagi ingin menangis, meraung dalam penyesalan tiada akhir ini.
Dear Arka.
Sudah tiga tahun sejak pertemuan terakhir kita waktu itu. Aku tidak tahu kamu pergi kemana, aku juga tidak tahu apa alasannya. Tapi selama itu aku tidak pernah absen untuk datang kesini, aku takut ketika aku tidak datang kesini kamu malah datang.
Setelah kamu pergi, aku menanam bunga ditepi danau ini. Aku berharap suatu saat nanti kamu bisa melihat bunga itu. Dan aku juga berharap suatu saat nanti aku bisa berkunjung kesini bersamamu. Aku juga mulai memanjangkan rambutku seperti katamu. Aku ingin kamu menyukaiku dengan rambut panjangku. Mungkin ini terakhir kalinya aku kesini, besok aku juga akan pergi. Mama dan Papa mengajakku pindah.
Aku menulis surat ini karena aku takut suatu saat nanti kamu akan datang kesini dan ketika kamu datang aku tidak lagi ada disini, makanya aku menulis surat ini, Aku harap kamu suka bunga yang aku tanam, karena aku sangat menyukainya.
Alea
Sore itu, dimusim semi. Aku berdiri ditepi danau memandang pohon bunga Akasia kuning. Berlama-lama disana menunggu mentari tenggelam sepenuhnya. Sebelum beranjak pergi ku letakan setangkai lily putih dibawah pohon itu, bersama secarik kertas usang yang menguning termakan usia.
“Aku sudah melihatnya, aku menyukainya. Bunganya sangat cantik sama sepertimu.”