Pagi itu, Anastasia sedang tidur di kasurnya. Selimut sutra melindungi tubuhnya dari menggigil akibat cuaca pagi yang dingin.
Tidurnya tetap nyenyak walaupun matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Ia hanya terbangun ketika panggilan alam sudah mulai manggilnya.
Ia membuka kedua matanya, menantang diri sendiri untuk bangun. Dibukanya jendela kamar agar udara baru bisa masuk dan bertukar dengan udara semalam.
Kemudian ia buru-buru masuk kedalam ruangan untuk memenuhi panggilan alam. Ketika selesai ia tampak lega dan matanya pun menjadi melek, ogah untuk kembali tidur.
Ia berdiri di depan sebuah cermin besar yang ada di kamar. Memandang wajahnya dengan ekspresi yang berubah-ubah.
"Hem... Cermin, cermin pintar, siapakah yang paling cantik di dunia ini?" ujarnya pada sebuah cermin bak cerita dalam dongeng.
"Yang paling cantik di dunia ini adalah kau, Anastasia. Tidak ada orang lain yang bisa menandingimu," jawabnya sendiri, sambil mengubah suaranya agar benar-benar menjadi seperti dua orang yang bicara.
Ia mencubit kedua pipinya lalu menghembuskan nafas. Ia menarik nafas dan melihat lagi wajahnya di cermin, kemudian menghembuskannya lagi.
Seberapa optimis nya dia, dia tahu tidak akan membalikkan fakta kalau dia ini jelek. Tubuhnya bantet, wajahnya kusam, dan pipinya seperti bakpao. Sangat berbeda jauh dengan teman-temannya di sekolah.
Mereka begitu cantik, berambut halus, wajahnya bersih, tubuhnya begitu ideal, sangat berkebalikan dengannya.
"Ahahaha... Tapi cermin bilang akulah yang paling cantik di dunia ini. Mereka semua tidak ada apa-apanya, hahahaha.... " Itulah yang ia lakukan jika ia mulai tidak percaya diri. Melakukan hal itu membuat semangat nya bangkit kembali.
"Ngapain kau! "
"Heehhhhh!! Ibu! Bikin kaget aja... "
"Kau pikir kau ini ratu? Sudah jam berapa ini, masih belum mandi juga? Sudah mau resign dari sekolah, ya?! "
Anastasia menoleh jam yang menempel di dinding seperti cicak. Jam itu sudah menunjukkan pukul 6:40.
Ia segera mandi, berpakaian, lalu menuju sekolah dengan sepedanya.
Beberapa menit kemudian ia sampai kesekolah dan memakirkan sepedanya. Terlihat ada beberapa laki-laki disana yang tengah mengobrol sambil duduk diatas motor.
"Hemm... aku punya firasat buruk! "
Ia berjalan pelan membisu sambil melewati mereka semua.
Namun mereka menyadarinya.
"Hari gini, berangkat sekolah pake sepeda, " ujar salah satu di antara mereka yang bernama Vino.
Aku tahu siapa yang ia maksud dan itu membuatku kesal.
"Hei cantik! Anastasia! Mau jadi pacarnya Michael gak? " ujar Vino. Dibaluti tawa teman-temannya. Kecuali Michael yang ia sebut tadi namanya.
Anastasia tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun, berpura-pura tidak dengar.
Wajah Michael menjadi serius membuat teman-temannya pikir ia marah, namun tiba-tiba saja ia mengatakan, "Ana cantik, mau jadi pacar abang?" dengan lembut. Setelah mengatakan itu ia tertawa. Seketika tawa itu pecah dari sebelumnya.
"Kalau gitu jangan jadi pacar Michael doang, jadi pacar kita juga! Kita sama-sama ganteng, kok!"
Anastasia menghembus nafas perlahan, membuang emosi . "Hei, kalian! " Tengoknya tajam ke arah mereka. Membuat tawa mereka terhenti.
"Kalau kalian semua ingin jadi pacarku, boleh saja. Tapi, hehehe... siap-siap saja... " ucapnya sambil memainkan kedua tangannya.
"Ampun... ampun... aku Vino mewakili mereka, mengundurkan diri, " ucapnya dengan tangan memohon.
"Lagipula, siapa juga yang ingin menjadi pacarnya, " bisiknya pelan.
Wajah Anastasia memerah. Bukan karena tersipu, tetapi karena kesal dan emosi. Mereka sengaja menggodanya karena setiap kali mereka menggodanya ekspresi nya itu terlihat sangatlah lucu.
"Lihat aja nanti!" Jiwa optimistis nya tiba-tiba kembali muncul. Membuat nya kembali percaya diri.
Ting,.... Tong,.... Deng....
"Wah! Sudah masuk, ya?"
Ting,.... Tong,.... Deng....
"Ayo calon pacar-pacarku, kita ke kelas! "
"Heh!"
Ting,.... Tong,.... Deng....
Ketika sampai di kelas, semua orang pada membicarakan tentang pesta yang akan sekolah adakan sabtu besok. Untuk merayakan perpisahan angkatan lama yang akan lulus.
Para siswa akan mengenakan gaun, bagi yang perempuan, dan setelan jas bagi kaum laki-laki.
"Ana, kamu mau pake baju yang kayak gimana dipesta nanti?" tanya Sintia. Sintia adalah salah satu orang yang tidak suka padanya. Orang ini sering sekali mencari masalah dengannya namun, masalah itu mampu Anastasia atasi. Dan itulah yang membuat Sintia semakin tidak suka pdanya.
"Entahlah, aku belum kepikiran mau make apa nanti."
"Oh, begitu. Tapi nampaknya ya, kamu mau pake apa aja di pesta nanti, akan tetap sama aja. Ga akan ada yang berubah. Tetap... tetap jelek gitu! " ejeknya. Rombongan di belakangnya pun ikut menyertainya.
"Ahaha... Makasih lho Sintia. Dengan ini aku sadar kalau ternyata ada orang yang iri juga denganku. Aku sangat beruntung menjadi diriku. " Anastasia menepuk bahu Sintia kemudian duduk di bangkunya sambil tersenyum cerah bagaikan matahari pagi di hari ini.
'Aku tahu kalau aku ini jelek dan kamu cantik. Walaupun tidak di ingatkan juga aku sudah tahu! Dasar! Membuat orang kesal saja.'
Pak guru yang mengajar di kelas kami sudah datang ke kelas. Ketua kelas menyuruh kami semua untuk duduk ke bangku masing-masing.
Sintia membisikkan sesuatu ketelinganya. "Liat aja, diacara nanti aku akan kasih kamu pelajaran!" ancamnya.
"Udah, udah sana! Kalau kamu gak duduk-duduk, ketua kelas jadi nunda doa nya, kan. Nanti gak mulai-mulai belajar nya," ucapnya sambil mengkode tangan, pertanda kalau ia mengusirnya.
Setelah selesai berdoa pak guru mulai mengajar. Anastasia diam-diam membuka buku hariannya dan menulis kejadian hari ini. Termasuk apa yang terjadi padanya dan Sintia.
Saat jam istirahat tiba, semua orang masih membicarakan tentang pesta nanti. Begitu pun hingga pulang sekolah, orang-orang pada antusias membicarakan tentang pesta itu. Hingga saat itu pun tiba.
Anastasia memilih memakai baju gaun bewarna coklat pastel dengan pita merah di pinggangnya. Ia memakirkan sepedanya di tempat parkir seperti biasa. Sangat sulit untuknya mengendarai sepeda sambil memakai gaun. Ia juga jadi pusat perhatian bagi orang-orang di jalanan.
Anastasia berjalan memasuki gedung sekolah sambil terengah-engah. "Hadeuh... setiap hari ke sekolah pake sepeda tapi kenapa badanku gak kurus-kurus?"
Saat ia memasuki gedung sekolah, suasananya begitu berbeda. Gedung sekolah dihiasi bengan pita-pita dan lampu LED yang berwarna-warni. Banyak orang-orang dengan gaya pakaian berbeda, tidak seperti biasanya yang hanya memakai seragam sekolah saja.
Banyak juga kue-kue enak yang tertampang disana.
Namun tiba-tiba saja lampu panggung meyorotnya. Penglihatanku langsung tertuju ke arah panggung. Terlihat Sintia berdiri disana. Sambil memegang mikrofon ia meminta para penonton untuk bertepuk tangan.
'Ada apa, ini? Aku baru saja datang dan tiba-tiba seperti ini.'
"Kalian tahu siapa dia? Dia adalah Ana! Dia adalah sahabat ku yang paling baik di dunia ini. Kami di kelas sering menyebutnya banteng gemuk yang lucu."
"Semua orang yang kenal sama dia, saangat... suka padanya! Namun sayang, dia tidak punya pacar. Tapi bukan berarti kalau dia tidak laku, bukan.... Cuma aja aku selaku MC disini ingin mengenalkannya pada kalian semua."
Sintia mengeluarkan sebuah buku harian yang ternyata adalah milik Anastasia. Ia membuka dan mulai membaca isinya, membuat semua orang tertawa mendengar apa isinya.
Pada sampai bagian dimana ada tulisan di buku hariannya itu yang berisi bahwa Anastasia pernah menyukai Alean, pria tampan yang ada di kelasnya.
Kini Anastasia menjadi pusat perhatian satu sekolah. Mereka memandang, membisik, hingga ada yang menertawakannya. Baginya ini sudah sangat keterlaluan.
Ia berjalan menuju panggung dengan omosi memuncak. Ketika sampai di panggung, ia langsung menampar Sintia, membuatnya jatuh tersungkur.
Semua orang yang melihat terkejut. Seketika suasana tawa berubah menjadi hening. Anastasia melihat semua orang yang sedang memandangnya saat ini. Matanya berkaca-kaca. Tidak tahu situasi apa ini. Ia merasa sudah kehilangan harga dirinya.
Ia langsung turun dari panggung dan langsung pergi dari pesta itu.
Keesokannya di hari senin, Anastasia tampak murung, tak optimistis seperti biasanya. Rombongan Vino dan Michael yang selalu menggoda dan mengejeknya diparkiran pun menjadi hambar tanpa responnya. Obrolan mereka pun menjadi bosan karenanya.
Hingga hari ujian tiba, ia selalu tampak murung. Orang-orang disekelilingnya ia abaikan seperti orang tuli yang tidak mendengar apa-apa. Di hari akhir ujian pun sama. Sampai-sampai ibunya masih tidak percaya kalau itu masih anaknya.
Raport di semester ganjil ini sudah di bagikan. Hari libur pun tiba. Semua siswa kegirangan, memikirkan apa rencana mereka saat liburan nanti.
Namun berbeda dengan Anastasia.Sepanjang liburan ia hanya berdiam diri di dalam kamar, mengunci, dan mengucilkan diri sendiri. Ibunya bingung harus berbuat apa.
Dua minggu berlalu. Anak-anak mulai berdatangan ke sekolah, bersemangat belajar di semester genap kali ini. Juga bersemangat untuk kembali bertemu dengan teman-temannya di sekolah.
Krincing,... krincing...
krincing,... krincing,... krincing....
Sebuah sepeda hitam yang di kendarai Anastasia melaju menuju parkiran. Dan seperti biasa, rombongan Vino dan Michael selalu ada disana. Seperti ibu-ibu rumah tangga yang sedang menghosip harga kenaikan cabai.
Mereka terkejut dengan sosok yang mengendarai sepeda itu. Dia adalah Anastasia versi langsing dan cantik. Bukan! Tapi itu adalah benar-benar Anastasia yang awalnya sudah cantik kini menjadi lebih cantik.
Badan gendut yang ia miliki bagaikan tak pernah ada pada dirinya. Wajah yang semula kusam kini menjadi putih, bening, dan licin. Bahkan bisa untuk bercermin. Bercanda... hehehhe....
Rombongan pria itu yang dulunya bercanda ingin menjadi pacarnya, kini mereka serius ingin menjadi pacarnya.
Semua orang di sekolah pun terkejut mengetahui Anastasia yang telah berubah. Termasuk Sintia. Kini wanita yang diejek nya telah lebih cantik darinya. Ia merasa malu dan menyesal dulu telah mempermalukanya. Karena setelah kejadian itu kini ia tidak mempunyai satu orang teman pun disisinya.
Selama liburan Anastasia jarang sekali makan karena depresinya, sehingga membuat badannya menjadi kurus. Lalu ibunya mempunyai sebuah ide. Anastasia di paksa oleh ibunya menjalani perawatan wajah di sebuah salon. Kemudian melanjutkan perawan wajah di rumah dengan menggunakan masker, skincare, dan perawatan wajah lainnya.
Sejak saat itupun Anastasia kembali mendapatkan kepercayaan dirinya yang hilang. Dan menjadi lebih optimistis dari sebelumnya.