Bunga berterbangan ditiup angin dan menyebar diatas jalanan. Berjalan diatas tumpukan dedaunan kering dengan kedua tangan berada dibelakang badan. Pakaian tebal dikenakan melawan dinginnya udara.
Hari yang sungguh indah, dimana daun bewarna kuning keorenan mewarnai setiap setiap sudut jalan yang dilalui.
Diluar suasana yang terlihat indah, ada degupan jantung yang masih terasa. Hansel berjalan dengan perasaan seperti itu sembari memikirkan seseorang. Dipersimpangan lampu merah, lelaki itu memegang dadanya dan merasakan bahwa ia begitu sangat tertekan dengan pergerakannya saat ini. Gerak menuju sebuah tempat dimana seseorang sudah menunggu dirinya.
Dia adalah Reva, perempuan yang disukai oleh Hansel selama ini.
Menyebrang bersama beberapa pejalan kaki lainnya. Hansel sempat melihat sepasang kekasih yang bermesraan didepan matanya. Melihat itu, membuat Hansel senang sekaligus deg-degan.
"Belum menyatakan perasaan. Tapi aku sudah tertekan duluan. Apa aku bisa menyatakannya dengan mulus?" tanya Hansel pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu terus berjalan sesuai rute, dan sampai ditempat janjian. Hansel masuk kedalam, dan menemui Reva segera. Ketika sudah berada dilokasi, Hansel tidak melihat wajah dari Reva disana. Hal itu bikin seorang Hansel mulai berpikir tidak positif.
"Dia tidak ada disini. Apakah dia melupakannya?"
Hansel duduk terdiam sambil memandang kebawah. Ia menatap barang bawaan yang sudah dipersiapkan untuk diberi kepada Reva saat mereka bertemu ditempat janjian. Tapi perempuan itu tidak terlihat kehadirannya saat ini. Menunggu kedatangan dari Reva, lelaki bernama Hansel itu memesan sebuah minuman untuk mengisi waktu tunggunya.
Menunggu sembari meminum minuman hangat. Melihat jarum jam tangan yang sudah melampaui waktu yang cukup lama dalam menunggu. Hansel yang sudah tidak yakin akan kehadiran seorang Reva, memutuskan untuk pergi dari lokasi. Membuka pintu dan menutupnya kembali. Hansel berjalan tanpa tahu mau kemana. Beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang memanggil nama darinya.
Hansel menoleh kebelakang dan terlihat Reva sudah ada dibelakang. Perempuan itu terlihat membawa banyak barang dan menghampiri seorang Hansel.
"Maaf!" ucap Reva meminta maaf.
Hansel diam sembari menyembunyikan barang bawaannya dibelakang punggung.
Kemudian bertanya soal barang yang dibawa oleh Reva tersebut.
"Tadi aku dipanggil tiba-tiba untuk masuk ke kantor. Jadi aku tidak sempat mengabarimu. Maaf sekali. Aku merasa sangat bersalah karena tidak menepati janjiku padamu."
Melihat Reva bersikap seperti itu, membuat Hansel memaafkan apa yang telah dirasakannya tadi. Lalu Reva mengajak Hansel untuk pergi ke suatu tempat sebagai ganti dari tempat janjian sebelumnya. Hansel mengikuti ajakan dari Reva tersebut. Mereka berdua jalan bersama menuju tempat tujuan.
"Ini adalah tempat yang bagus dan cocok untuk menikmati musim yang sedang berlangsung. Jadi kita disini saja ya."
Hansel mengangguk dan duduk bersamaan dengan Reva disebuah bangku panjang.
Tempat yang mereka datangi adalah sebuah taman kota. Hari ini hanya terdapat beberapa orang yang mendatangi taman itu. Jadi tetap terdapat kenyamanan dalam menikmati suasana diarea tersebut. Reva sibuk menata barang bawannya yang banyak itu. Hansel hanya melihat perempuan yang ada disebelahnya dengan rasa yang masih sama seperti sebelumnya, yaitu deg-degan.
"Inikah waktu yang tepat untuk melakukannya? gumam Hansel.
Seketika barang bawaan dari Reva terjatuh dan spontan membuat tangan dari Hansel bergerak cepat dalam meraihnya.
Kedua tangan mencapai barang yang hampir menyentuh tanah tersebut. Dua tangan, masing-masing dari Hansel dan Reva. Menempel satu sama lain karena gerakan spontan yang dilakukan keduanya. Saling menatap satu sama lain dengan posisi yang masih bertahan. Beberapa saat kemudian Reva menggelengkan kepala dan mengambil barang bawaan yang terjatuh tadi. Lanjut menata seiring berpaling pandang dari hadapan lelaki disebelahnya. Hansel masih diam membayangkan wajah dari Reva tadi yang sudah memerah karena kejadian barusan.
Hansel memanggil Reva. Perempuan itu hanya merespon secara singkat. Mendengar respon semacam itu, membuat Hansel meminta maaf seketika. Namun, Reva berkata tidak perlu meminta maaf. Ini hanya kejadian yang datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Reva menampakkan wajahnya yang memerah itu. Hansel yang melihatnya berusaha menahan senyum.
"Jangan menertawakanku." ujar Reva sambil memegang kedua pipinya.
Suasana malu itu berlangsung dalam beberapa menit. Setelah wajah dari Reva kembali normal, perempuan itu mengajak Hansel mengobrol sedikit. Mengenai apa yang dilakukannya dikantor. Lelaki itu menyimak apa yang dikatakan perempuan yang ada didekatnya tersebut. Setelah membahas hal itu, Hansel kembali terpikir soal rencananya. Dan mulai mengumpulkan sebuah keberanian saat itu juga.
Tepat dihadapan seorang Reva, Hansel mengeluarkan sebuah barang yang telah dibawanya dari tadi. Teruntuk perempuan yang disukainya, sebuah bunga mekar disodorkan ke hadapannya. Reva melihat bunga cantik muncul itu didepan matanya.
Kemudian Hansel lanjut dengan menyampaikan maksud dari penyerahan bunga tersebut. Beralih tangan dan mencium aroma wangi dari bunga yang diberikan. Reva mendengarkan apa yang disampaikan oleh Hansel. Dan berakhir dengan sebuah pernyataan. Yaitu pernyataan rasa suka terhadap lawan jenisnya itu. Hansel bertanya seraya berharap akan jawaban bagus dari seorang Reva.
"Apakah kamu bersedia menjadi kekasihku?"
Tanya Hansel.
Reva terdiam dengan pertanyaan mendadak itu. Ia serasa tidak bisa menjawab dalam waktu cepat. Jadi dirinya secara perlahan beralih pandang dan meminta Hansel untuk menunggu sekejap.
Menunggu dan menunggu. Hansel dalam rasa penasaran akan jawaban atas tanyanya, sementara Reva dalam rasa deg-degan dalam menyampaikan suatu jawaban yang menjadi penentu.
"Kamu suka sekali membuat wajahku memerah. Apa ini hobi barumu?"
"Mengenai jawaban. Bisakah aku menyampaikannya secara berbisik?" lanjut Reva.
Hansel menganggukkan kepala dan mendekatkan telinganya ke mulut Reva.
Suara halus terdengar, jawaban pun akhirnya tersampaikan. Kini rasa penasaran itu sudah hilang. Hansel sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Keduanya saling memandang dibawah pohon yang menggugurkan dedaunan. Angin bertiup menggeraikan rambut dari Hansel dan Reva. Kemudian senyuman pun terukir diwajah masing-masing. Satu dengan wajah memerah, dan satunya lagi dengan air mata yang sudah berada diujung. Keduanya langsung berpelukan usai tahu akan isi hati masing-masing. Mereka menyukai satu sama lain selama ini.
"Terima kasih" ucap Hansel.
Reva mempererat pelukannya terhadap Hansel. Kemudian berkata.
"Aku juga berterima kasih padamu atas semua waktu yang sudah dilalui bersama."
-----SELESAI-----