Setelah hujan reda, aku melihat pelangi di langit dan bunga di bawah memancarkan cahayanya yang indah.
---
Pagi yang mendung menyapa, aroma petrikor di kala angin berhembus tercium pekat. Perkebunan Farayaka sudah tampak ramai oleh pekerja seperti hari biasanya.
Haru tidak bisa menahan senyuman ketika ia menemukan sosok Hana dalam balutan pakaian hangat, berdiri dengan wajah datar yang bersemu di bawah pohon sakura yang daunnya berguguran.
"Nona Farayaka, kenapa berdiri di luar?" tanya Haru menaruh tasnya di loker kayu yang tepat berada di samping pohon. Pemuda itu memperhatikan bagaimana Hana tersentak dan memalingkan wajah darinya.
"Kentang.." gumam Hana.
Haru mengernyit, ia menatap Hana sembari berkedip kemudian terkekeh. Anggukan kecil diberikan Haru untuk Hana sebelum pemuda itu menarik tangan Hana untuk masuk ke dalam perkebunan.
Hal itu, sontak menarik perhatian para pekerja lain. Cucu bungsu Farayaka yang beberapa bulan menetap di desa untuk pertama kalinya menginjak perkebunan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Pak Shouta, Nona Farayaka ingin ikut memanen kentang." ucap Haru
"Ehh? Orang Tokyo bisa melakukannya juga?"
Haru terkekeh, "Nona Farayaka juga kan bagian dari kita, Pak Shouta."
Pemuda itu membantu Hana memakai sepatu bot yang di sediakan di sana kemudian menyodorkan topi jerami untuk Hana. Gadis itu hanya menunduk dan menerima topi tersebut dengan malu.
Hana tidak tahu, pagi ini neneknya bersih keras memaksanya untuk ikut berkebun bersama Haru setelah mengetahui dirinya kembali tersenyum lagi.
"Haru, apa aku harus memakai semua ini?" tanya Hana setelah Haru memberikannya dua buah kaos tangan tebal.
Haru tersenyum dan mengangguk, ia tidak menjawab melainkan menarik Hana untuk masuk lebih jauh ke dalam perkebunan.
Haru memiliki area sendiri untuk di panen, sedikit lebih jauh dari para pekerja lain. Pemuda itu tidak menunda waktu lagi dan langsung berjongkok, Hana ikut berjongkok, memperhatikan bagaimana Haru begitu cekatan memanen kentang.
"Nona Farayaka, kau harus menarik kentangnya perlahan seperti ini. Hal ini bertujuan agar kentangnya tidak rusak saat di cabut," jelas Haru memberi contoh.
Hana melihat dengan seksama, bagaimana kentang yang baru saja Haru panen tampak begitu menurut keluar dari tanah. Hana sempat berpikir bahwa mungkin Haru memiliki tangan dewa sehingga kentangnya bisa menurut seperti itu.
"Sekarang, Nona Farayaka, coba tarik kentangnya. Ini mudah kok!"
Ucapan Haru membuyarkan lamunan Hana, gadis itu menatap kentang yang ia genggam kemudian menariknya perlahan. Tapi, yang ada ia hanya berhasil menarik daunnya saja.
Haru terkekeh, "Walau dengan perasaan kau juga harus menggunakan tenaga untuk menariknya."
"Begitu?"
Hana kembali mencoba, kali ini ia mengerahkan tenaga di ujung pergelangan tangannya. Ia sempat melirik Haru, pemuda itu memberinya senyum meyakinkan.
Membuat Hana dengan semangat menarik kentang tersebut dan berakhir terbelah menjadi beberapa bagian. Keduanya terdiam menatap kentang di tangan Hana yang hanya separuh dan separuh lainnya masih tertancap di tanah.
Detik berikutnya, tawa Hana pecah disusul dengan tawa Haru. Keduanya tertawa bersama bahkan Hana sampai terjungkal ke belakang. Tanpa mereka sadari dari kejauhan, Kakek dan Nenek Hana memperhatikan mereka.
"Hana jauh lebih cantik ketika tertawa. Sudah berapa lama sejak terakhir kita melihat pemandangan ini?"
"Ah, sudah lama sekali, suamiku. Itu saat ketika ibu Daiki bekerja di perkebunan ini."
---
Bertepatan dengan jam makan siang, keduanya berhasil memanen tiga keranjang kentang. Hana lebih dulu beristirahat di bawah tenda yang sudah disediakan. Gadis itu mengusap keringat di dahinya kemudian meneguk sebotol air dingin.
Hana melihat Haru, pemuda itu masih bersemangat mengatur kentang di dalam keranjang. Padahal, langit sudah kembali mendung dan sebentar lagi hujan akan turun.
"Haru! Kau tidak lelah? Sebentar lagi hujan loh!" seru Hana
Pemuda itu berbalik menatap Hana dan menggeleng dengan senyuman. Kemudian, kembali menghitung jumlah kentang sebelum hujan mengguyur dengan deras.
Ketika Haru berlari ke arah tenda, Hana terkekeh geli, "Seharusnya berteduh lebih awal. Aku rasa kau cukup pandai melihat suasana." celutuk Hana
Haru menggaruk lengannya yang gatal, kepalanya mendongak membiarkan anak rambutnya yang basah menitikkan air sisa hujan yang mengenainya.
"Aku sengaja menunggu hujan. Kupikir tidak langsung deras." gumam Haru
"Langitnya sangat mendung, kau tidak melihatnya tadi apa?"
"Hm, aku sibuk memperhatikan kentang. Nona Farayaka, kau sudah makan siang?"
"Eh? Belum. Setelah hujannya redah akan ku ambilkan di rumah, kau tidak bawa bekal bukan?"
Haru yang menjawab dengan cengiran khas menandakan pertanyaan Hana jawabannya adalah Ya. Gadis itu kini paham mengenai kebiasaan sang nenek yang memberi Haru makan siang gratis.
---
Setengah jam berlalu, hujan menandakan ia akan meredah sebentar lagi. Hana bersandar pada tembok basah, membiarkan punggungnya merasakan bagaimana dinginnya tembok di belakangnya.
Sedari tadi, matanya tidak berhenti memperhatikan Haru yang menengadahkan telapak tangannya dibawah rinai yang menghujam.
"Kau sangat suka hujan? Kau berteduh dalam keadaan basah, Daiki Haru." ujar Hana
Pemuda itu hanya melirik sekilas, tetapi Hana bisa melihat seulas simpul terlukis diwajahnya bersama dengan dimple yang muncul.
"Nona Farayaka, apa kau tahu Musim Gugur yang diwarnai dengan curah hujan yang lebih banyak akan membawa suatu hal menakjubkan?"
Bukannya menjawab, Haru kembali mengajukan pertanyaan. Seperti biasanya, pemuda itu selalu mengatakan hal-hal yang terdengar indah.
"Kau percaya hal seperti itu? Ini hanyalah hujan biasa, di Tokyo juga Musim Gugur kadang diwarnai dengan hujan. Tapi, aku belum menemukan sesuatu yang menakjubkan hingga kini."
Hana berjalan mendekati Haru, gadis itu ikut menengadahkan tangannya dibawah rinai hujan. Hujannya tampak mengejek, sekejap redah sekejap kembali deras. Seperti menggelitik telapak tangan, tapi hati kecilmu enggan untuk berhenti menampung setiap puing hujan tersebut.
"Nona Farayaka, apa kau pernah mendengar bahwa pelangi setelah hujan itu lebih berkilau?"
"Bukannya pelangi selalu muncul setelah hujan?"
Angin berhembus, sedikit membawa rintik hujan untuk membelai wajah keduanya. Menciptakan kerutan di wajah dan gerutuh kecil dari bibir mungil Hana.
"Tidak. Pelangi setelah hujan selalu berkilau, Nona Farayaka. Kilaunya bahkan lebih terang dari matahari yang sering kita lihat. Mereka hadir setelah awan lelah menumpahkan muatannya. Dapat diartikan bahwa pelangi adalah penghapus luka dan kesedihan.”
Angin yang kembali berhembus, ikut serta membawa gemuruh hujan yang menderas pergi. Awan kelabu yang semula menyelimuti perlahan mulai bergerak menjauh, Hana seolah bisa melihat secercah cahaya jingga dari langit siang itu.
Ketika bias mentari terpantul, menciptakan tujuh warna yang dikenal sebagai pelangi, Haru lekas berlari ke bawah binar langit yang kian menyilaukan.
Cahaya yang terpancar dari pantulan sinar matahari dan Haru yang setengah basah berdiri dibawah hamparan langit sembari mendongakkan kepalanya. Seolah menyambut datangnya pelangi di atas sana.
Hana berkedip, telapak tangan kecilnya terangkat menggosok kedua mata ketika ia seolah melihat kerlipan bintang di sekitar Haru.
Tapi, itu bukan ilusi. Hana melihat sesuatu yang menakjubkan hari itu. Bias orange dari mentari, kilau dari pelangi yang sangat berkilau melebihi mentari, seolah menari mengelilingi Haru yang tersenyum.
Siang itu, aroma petrikor yang pekat beradu dengan aroma sakura yang manis. Aroma musim gugur yang tidak akan dilupakan Hana.