Lihat aku, Keyla!
***
Aku memangku wajah dengan tangan kiri, menatap bosan seisi kelas. Di depan sana, Pak Ares sedang menerangkan materi matematika. Aku menguap. Cara mengajarnya sungguh membosankan. Lebih baik aku tidur dari pada menyimak. Tambah membuat mengantuk saja.
"Lux Adrien." Baru hendak menenggelamkan kepala di lipatan tangan, Pak Ares tiba-tiba memanggil namaku dengan sorot mata tajam. Aku memutar bola mata sembari menguap lagi.
"Saya tahu kamu pintar matematika. Tapi hormatilah guru yang sedang mengajar di depan kelas!" kata Pak Ares dengan nada keras.
Aku menggerutu. Lebih baik aku mengikuti latihan tambahan untuk kompetisi matematika saja dari pada mendengarkannya menjelaskan materi yang sudah kukuasai.
Aku tidak menghiraukan omelan Pak Ares. Jariku menunjuk ke papan tulis. "Pak, trigonometri itu mudah. Lagi pula, Bapak salah, tuh. Cos itu harusnya berubah jadi minus sin di kuadran kedua."
Pak Ares langsung menoleh ke papan tulis lalu menghapus dan membenarkan letak kesalahan yang kuberi tahu. Wajahnya memerah malu. Aku tertawa dalam hati sebelum melanjutkan tidur.
***
"Keyla! Keyla Cantik!"
"My Princess!"
"Besok Valentine mau kasih cokelat ke siapa?"
Begitu pertanyaan itu dilontarkan, para laki-laki berteriak menyebut nama dirinya sendiri. Keyla, si primadona sekolah dan gadis pujaanku tengah berdiri di depan panggung. Ia tampak malu-malu. Aku tahu siapa yang akan disebut.
"Ehm ... inisialnya L, tiga huruf. Seangkatan denganku," jawab Keyla, memandang lurus ke arahku--tidak, tapi belakangku.
Semua orang mengikuti arah pandang Keyla, kecuali aku. Tanpa melihat ke belakang pun aku tahu. Yang dimaksud adalah Lev, laki-laki yang saat ini dekat dengan Keyla.
Aku tidak memedulikan Lev yang menjadi pusat perhatian. Mataku menatap lekat gadis yang menjadi pujaan hati. Rambut hitam panjang yang terjuntai hingga punggung; iris hazel dengan pupil yang besar dan menggemaskan; bibir kecil dan mungil berwarna merah muda; hidung mancung; serta kulit putih bersih dengan rona merah muda di pipi chubby-nya. Sosok perempuan yang cantik dan manis dambaan banyak laki-laki.
Padahal aku terus menatap Keyla, tapi dia tidak sedikit pun menatapku. Apa diriku terlalu bayangan sampai-sampai dia tidak melihatku?
Aku sangat ingin mendapatkan cokelat dari Keyla! Akan kupastikan, besok yang akan mendapatkan cokelat darinya bukanlah Lev, melainkan aku!
Tunggulah aku, Keyla. Aku pasti akan membuatmu hanya menatapku dan melihatku!
***
Kini aku sedang berada di perpustakaan. Berduaan dengan Raine, partner lombaku. Aku menatap buku dan tumpukan kertas di meja sembari mengetuk-ngetuk pensil ke kepala. Memikirkan jawaban soal matematika yang setingkat kelas tiga.
Argh, sial! Aku tidak fokus! Pikiranku malah tertuju pada Keyla dan Keyla.
Soal matematika yang sedang kukerjakan buyar. Aku menaruh pensil di atas meja, menyerah.
Raine yang duduk berhadapan denganku mendongak. "Ada apa, Lux?" tanyanya. "Sedang memikirkan Keyla lagi?"
Tepat sasaran. Aku pun mengangguk singkat.
"Kenapa tidak kau tembak saja? Keyla belum berpacaran dengan siapa pun, kan?" tanya Raine yang dibalas tawa hambar dariku. Aku? Yang pendiam ini? Menembaknya? Yang benar saja!
"Oh, iya. Seorang Lux yang pendiam tak mungkin berbuat seperti itu," lanjut Raine lalu terkekeh. "Maafkan aku. Aku tidak bisa memberi saran."
Aku mengangguk seraya tersenyum kecil. Seolah mengatakan tidak apa-apa.
"Ah, tapi aku hanya bisa memberi satu saran. Lebih baik kau fokus untuk lomba lusa."
Setelah itu, Raine tidak berbicara lagi dan lanjut mengerjakan soal matematika.
***
Latihan soal untuk lomba benar-benar menguras waktu dan tenaga. Aku baru pulang pukul tujuh malam. Namun, bukannya melangkah menuju rumah, aku malah pergi ke suatu tempat.
Senyumku mengembang. Membayangkan Keyla yang dengan malu-malu memberikan cokelat untukku besok. Ah, aku tidak sabar!
Kakiku melangkah melewati jalan kecil yang sempit. Hari sudah gelap, ditambah lagi hanya ada lampu jalanan yang redup.
"Hei, Lux."
Aku menghentikan langkah begitu seseorang memanggil namaku. Di depan sana, Lev sedang bersandar di dinding dengan mata yang menatap tajam ke arahku. Aku tersenyum miring. Ternyata orang yang disukai Keyla ada di sini. Kebetulan sekali. Aku jadi tidak perlu membuat keributan di rumah.
Aku membenarkan letak kacamataku yang melorot. "Tumben kau menyapaku, Lev," balasku santai.
Lev melangkah mendekat. "Aku yang akan menerima cokelat dari Keyla! Hanya aku!" kata Lev penuh penekanan.
Aku mengernyit kemudian tergelak. Aduh, apa yang dia katakan? Bukankah Keyla memang akan memberikan cokelatnya pada Lev? Ah, tapi benar juga. Aku, kan, yang akan menerima cokelat itu dari Keyla, bukan Lev.
"Kau ini bicara apa, Lev? Bukankah tadi Keyla bilang hanya akan memberikan cokelat spesialnya padamu?" tanyaku.
Namun, Lev tetap menatap tajam.
"Aku akan membuat Keyla hanya melihatku dan aku. Karena itu, kau harus lenyap supaya Keyla bisa memberikan cokelatnya padaku."
"Hah? Apa maksud---argh!"
Aku mengerang kesakitan. Kepalaku refleks tertunduk ke bawah. Sebuah pisau kecil tertancap di dadaku. Darah merembes menembus pakaianku. Pisau itu ditusukkan lebih dalam lagi. Aku jatuh terduduk dengan tangan yang bertumpu tanah.
Aku mendongak. Lev menyeringai mengerikan dengan tangan kanan yang memegang pisau. Dia berniat melenyapkanku? Sial, aku keduluan.
"Kau tahu? Selama ini, Keyla selalu melihatmu dan memikirkanmu! Keyla selalu mengoceh tentangmu. Aku muak! Saat dia bilang akan memberikan cokelat spesial itu untukmu, aku jadi punya alasan untuk membunuhmu, Lux!"
Telingaku samar-samar mendengar ocehan Lev. Sedikit tidak percaya dengan yang kudengar. Jadi, Keyla ingin memberikan cokelatnya padaku? Bukan Lev?
Ah, sial. Ini sakit sekali. Aku tidak tahan.
Lev tersenyum manis. Senyum yang selama ini ia tunjukkan di muka umum. "Dan oh, tenang saja. Keyla akan tetap memberikan cokelatnya padamu. Karena kita adalah satu."
Aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain Keyla yang berada dalam bahaya dan kompetisi matematika lusa.
***
14 Februari. Valentine, Hari Kasih Sayang.
Nuansa merah muda menghiasi area sekolah. Harum manisnya cokelat tercium menggiurkan.
Lux tersenyum lebar. Tak sabar mendapatkan cokelat spesial dari Keyla, sang pujaan hati.
"Lux Adrien." Suara lembut khas perempuan memanggil nama Lux. Laki-laki itu menoleh. Tampak Keyla tengah berdiri di lorong dengan tangan yang menggenggam bingkisan berbentuk hari berwarna merah muda.
Lux menghampiri Keyla dengan senyum mengembang. "Keyla!"
Tangan Keyla terulur, memberikan bingkisan itu untuk Lux. "Ini untukmu," kata Keyla dengan senyum manis.
Lux menunjuk dirinya sendiri. "U-untukku?" tanya Lux tidak percaya.
Keyla mengangguk. "Iya!"
Raut Lux berubah senang. Dengan senang hati, ia menerima bingkisan yang dibungkus cantik itu. "Terima kasih, Keyla!"
"Sama-sama," balas Keyla lalu maju selangkah, berbisik tepat di telinga Lux. "Seperti yang kubilang, cokelat itu untuk laki-laki berinisial L, dengan tiga huruf. Lev Adrien."
Keyla menatap Lux sekilas dengan senyum licik yang samar sebelum melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu.