Deru napas memburu. Ekspresi kaget masih belum hilang dari wajahnya. Tubuh ambruk seketika kala sebuah sabit besar menghantam punggungnya dari belakang, menyebabkan luka besar yang menganga. Cairan kental berwarna merah yang berbau amis menggenang di sekitar tubuhnya.
Rasa sakit sudah menjalar ke seluruh tubuh. Ekor matanya mengedar, tak sengaja menangkap ssesosok gadis yang berada tak jauh darinya. Gadis itu menatap datar tanpa ekspresi.
***
Aku benar-benar sudah pasrah dengan kehidupanku yang kelam ini. Aku hanya hidup sebatang kara dengan adik kembarku. Seluruh keluargaku--termasuk kedua orangtuaku--sudah mati dibantai saat usiaku delapan tahun. Aku juga tak pernah merasakan masa kecil yang bahagia. Dan kini, adik kembarku tengah menderita sebuah penyakit mematikan yang akan membunuhnya dalam waktu dekat.
Kakiku melangkah malas memasuki sebuah gubuk tua reyot yang terletak di dekat hutan. Gubuk tua inilah yang menjadi tempatku dan adikku berteduh selama delapan tahun. Daerah sekitar sini cukup sepi. Jadi, hanya kami berdua yang tinggal di sini. Memangnya, siapa yang mau berlalu-lalang di dekat hutan yang begitu suram dan menyeramkan?
Suara silir angin yang menurutku terasa janggal membuatku menghentikan langkah untuk masuk ke dalam. Suara itu seperti sedang memanggilku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tanpa sadar, aku melangkah masuk ke dalam hutan.
Krak!
Aku sontak menghentikan langkahku. Kepalaku kutolehkan ke bawah. Ah ... ternyata hanya suara ranting.
Eh ....
Ranting?
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Yang kulihat hanyalah pohon-pohon tinggi dan lebat serta pencahayaan yang kurang. Oh, bagus. Aku benar-benar sudah masuk ke dalam hutan.
"Rex Alverne."
Sebuah suara memanggil namaku dari belakang. Aku sontak menoleh ke asal suara.
Netraku menangkap sosok berjubah hitam yang menutupi sebagian wajah dan seluruh tubuhnya. Tangan kanannya menggenggam sebuah sabit besar berwarna hitam yang terlihat mencolok. Auranya sangat suram dan menyeramkan. Namun, sama sekali tak membuatku gentar.
Aku menatapnya was-was. "Kau tahu namaku?"
"Tentu saja. Karena aku tahu semua tentangmu," jawab sosok itu, lalu menyeringai misterius. "Yang lebih penting, kau sedang dalam masalah, bukan? Kau ingin adikmu sembuh dari penyakitnya, hm?"
Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku.
Sosok itu kemudian melanjutkan ucapannya, "Kau hanya hidup sebatang kara dengan adikmu. Semua keluargamu juga sudah mati terbantai."
Aku tertegun. "Dari mana kau tahu?" tanyaku lagi.
Dia tahu tentang keluargaku? Sepertinya dia bukan orang biasa.
"Hei, sudah kubilang 'kan, aku tahu semua tentangmu. Karena aku datang menemuimu sebagai malaikat penyelamatmu," balas sosok itu, masih dengan seringainya.
"Malaikat penyelamat? Memangnya, siapa kau?"
"Siapa aku?" Sosok itu tertawa seraya mengayun-ngayunkan sabitnya. "Mereka memanggilku Grim Reaper."
"Grim ... Reaper?" gumamku mengulangi.
Aku seperti pernah mendengar namanya.
Sosok berjubah mengangguk membenarkan. "Berikan aku sesuatu yang berharga. Maka, aku akan memberimu sesuatu yang berharga pula."
"Sesuatu yang berharga? Apa?"
"Bisa apa saja," balasnya, "contohnya, nyawa. Nyawa adalah sesuatu yang berharga, bukan?"
"Nyawa?" ucapku pelan. "Itu artinya, apakah kau bisa menyembuhkan penyakit adikku? Aku ingin dia sembuh dari penyakitnya dan tetap hidup. Aku rela melakukan apapun asal dia bisa selamat! Bahkan, nyawaku sekali pun!"
Sebenarnya, apa yang kukatakan barusan?
Sosok itu terdiam sebelum akhirnya bersuara. "Tentu saja aku bisa. Namun, ada bayaran yang harus dibayar olehmu atas sesuatu yang berharga, lho."
Aku tersentak. Akan ada harga yang harus dibayar olehku. Meskipun awalnya ragu, tapi penawarannya benar-benar tak bisa kutolak. Kalau begitu ... tekadku jadi makin kuat. Aku hanya ingin adikku terbebas dari penderitaannya.
Aku mengepalkan kedua tanganku. "Apa? Cepat katakan!" kataku tak sabar.
Grim terkekeh. "Baiklah, baiklah. Aku akan menawarkan sebuah harga untuk kaubayar. Kau tahu bukan, jika aku memulihkannya itu berarti ia tak jadi mati dan hal itu melawan takdir? Karena itulah, aku akan menukar takdir kematiannya dengan kematianmu. Artinya, adikmu hidup dan kau akan mati. Namun, kau tidak akan masuk ke surga atau pun neraka, tetapi jiwa dan ragamu akan diserahkan kepadaku sebagai mainanku. Oh, ya. Jangan lupa, kau juga harus membunuh dua puluh orang dan mendapatkan darah mereka dalam waktu seminggu," jelasnya panjang lebar.
"Baik--eh, tunggu dulu!" potongku saat menyadari suatu hal. "Ma-maksudmu, aku harus membunuh begitu?!"
Sosok berjubah itu bersedekap. "Ya, tentu saja. Memangnya, mau bagaimana lagi? Itu penawaranku yang paling murah, lho."
Penawaran yang paling murah dari mananya? Menjadi mainannya dan harus membunuh orang? Gila!
Akan tetapi, bagaimanapun juga, mau tak mau aku harus melakukannya. Demi Regina. Lagi pula, aku juga sudah tidak bisa mundur.
"Bagaimana? Kau akan menjadi mainanku, lho. Selamanya akan menjadi milikku dan kau tidak akan bisa kabur. Oh, atau kau mau berubah pikiran?" bisik Grim sambil membelaiku.
Ia berbisik tepat di telingaku dan mengelus-elus pelan rambut dan wajahku. Aku meneguk salivaku. Oke, ini horor.
Kenapa dia tiba-tiba bisa ada di belakangku?!
Jemarinya sekarang bergerak mengelus leherku. Kuku-kukunya begitu tajam. Entah kenapa, tubuhku tiba-tiba terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.
"Rex Alverne ... kenapa aku baru menyadarinya? Iris emerald-mu terlihat sangat indah. Setiap helai surai cokelatmu juga sangat halus dan lembut. Apalagi, kulit mulus dan suara merdumu ini. Ah, fisikmu terlalu indah untuk kumiliki. Aku jadi tidak sabar untuk segera memilikimu ...."
Tolong, aku ingin muntah! Bulu kudukku meremang. Sepertinya orang ini benar-benar tidak normal!
Aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk bersuara. "Ba-baiklah, aku menerimanya! Tapi, kau harus menepati janjimu!"
"Tentu saja. Grim Reaper tidak pernah berbohong," sahut Grim. Ia menjauhkan tangannya dari leherku, lalu melangkah menjauh. "Kalau begitu, seminggu lagi, aku akan menagih hutangmu. Sampai jumpa."
"A--"
Belum sempat aku membalas, dia sudah menghilang dalam sekejap. Aku melongo. Tiba-tiba saja aku sudah berada di depan gubuk tua, bukan di dalam hutan lagi. Dia berteleportasi dan memindahkanku ke sini. Ah oke, dia mungkin benar-benar seorang Grim Reaper. Sudahlah, aku tidak peduli. Yang penting untuk saat ini aku bisa kembali dengan selamat.
Aku melangkah memasuki gubuk, lalu segera menghampiri adikku yang sedang terbatuk-batuk dengan kerasnya. Ia tengah terbaring lemah di atas kasur.
"Regina! Bagaimana keadaanmu?" tanyaku cemas, lalu berjongkok di samping tempat tidur yang tidak terlalu tinggi.
Mata sayunya menatapku sendu. "U-uh, Rex?" lirih Regina dengan napas tercekat. "A-aku, tid-dak ap-a-apa."
Aku langsung menariknya ke dalam dekapanku. Tangisku pecah seketika. Melihat adikku yang begitu menderita karena penyakitnya seperti ini membuat dadaku sesak.
"Regina, ketahuilah. Aku sanga- sangat menyayangimu. Kau adalah keluargaku satu-satunya yang kumiliki. Aku sangat tidak ingin kehilanganmu," ungkapku sedih.
Hening beberapa saat. Regina tidak merespons. Namun, aku tahu. Ia tak mampu menjawab karena napasnya tercekat.
Aku melepas pelukanku, lalu menatap dalam wajah pucatnya. "Percayalah, kau pasti akan sembuh. Kau akan tetap hidup," ucapku menenangkan sembari tersenyum lebar.
Yang tak kusangka, Regina ikut tersenyum lebar. "I-iya, pa-pasti."
***
Malam hari, mungkin adalah waktu yang cocok untuk melakukan syarat darinya. Aku berpakaian biasa agar tidak terlihat mencolok. Celana jeans hitam dan sweater hijau. Tidak lupa earphone hijau yang terpasang di telingaku. Jangan tanya dari mana aku mendapatkan uang untuk membelinya.
Membunuh? Mungkin tidak buruk juga. Aku ingin melampiaskan semua perasaan dendamku. Perasaan dendam kepada orang yang telah membantai semua keluargaku. Karena sampai kapan pun, aku takkan pernah memaafkannya.
Pukul delapan malam. Cukup ramai juga di kota. Masih banyak orang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Jarak dari gubuk ke pusat kota lumayan jauh. Apalagi, aku harus berjalan kaki selama satu jam setengah.
Mungkin memang lebih mudah dan enak melakukannya di daerah sepi seperti desa atau hutan. Namun, sulit sekali menemukan orang yang bisa dijadikan target, sedangkan di kota, akan jauh lebih mudah menemukan target.
"Hei, lihat! Bukankah itu Si Psikopat?"
"Eh, iya benar! Dia Rex--maksudku, Si Psikopat!"
"Wah, wah. Ada gerangan apa dia sampai nyasar ke sini?"
Suara tiga orang yang sangat kubenci tiba-tiba terdengar di indra pendengaranku. Langkahku sontak terhenti. Aku membalikkan badan ke asal suara. Tiga orang remaja laki-laki yang seumuran denganku menghampiriku.
Ck, sial! Ternyata benar itu mereka.
"Wow, Dude! Kenapa pakaianmu terlihat keren sekali?" Orang yang berbicara ini adalah Lucas, atau aku lebih suka memanggilnya buaya.
"Hei, Psycho! Mau bergulat denganku? HAHAHAH!" Yang ini adalah Gale, atau gajah. Dia adalah orang yang berotot dan hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja, tidak dengan otaknya. Makanya dia bodoh. Dia juga suka menghajarku sampai babak belur. Aku bukannya tidak ingin melawan. Hanya saja jika aku melawan, efeknya kepadaku akan lebih parah.
"Hahaha! Paling nanti juga dia kalah lagi dan babak belur!" Dan yang ini, yang paling kubenci. Alan, si ular. Ketua mereka dan orang yang menjadi biang pem-bully-anku di sekolah.
"Satu ronde saja bagaimana? Lumayan untuk hiburan kami, Gale," ujar si Buaya.
"Yeah, lagipula aku juga ingin melihat muka memelasnya itu!" timpal si Ular yang disambut gelakan tawa dari kedua temannya.
Aku hanya diam tak menanggapi. Hanya saja, aku malas meladeni mereka sekarang. Tapi, sepertinya mereka bergerak lebih cepat dari dugaanku. Mereka menarikku paksa ke sebuah gang sempit yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku tidak melawan saat mereka membawaku ke gang sempit ini. Kesempatan emas. Aku tarik kata-kataku tadi. Aku akan meladeni mereka.
Bagaimana kalau orang pertama yang kaubunuh adalah orang yang paling kaubenci? Aku menyeringai lebar. Mereka tidak tahu bahwa merekalah yang akan babak belur terlebih dahulu. Yeah, kau tahu? Inilah saat yang kutunggu-tunggu.
"Hei, Psycho. Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Gale heran dengan sikapku.
"Menurutku itu wajar, Gale. Dia itu sinting, makanya senyam-senyum sendiri!" sahut Lucas.
Sebenarnya aku sangat benci bahkan hanya untuk menyebut nama mereka. Tapi, karena sebentar lagi aku tidak akan bertemu mereka untuk selamanya, anggap saja nama mereka yang akan terakhir kukenang.
Mereka akhirnya melepaskan tarikan pada tanganku. Ah, aku jadi leluasa.
Gale mendekatiku sambil mengepalkan kedua tangannya dalam mode 'siap bertarung'. Tangan kanannya yang terkepal ke atas mulai ingin menghajarku. "Hyaahh!"
Sebelum tangan itu menghantam wajahku, dengan cekatan aku menghindar dan mengeluarkan pisau lipat yang kusimpan di balik kantung celanaku. Aku menangkap lengan kanannya lalu menahannya dengan teknik kuncian. Pisau lipatku kutikam tepat di jantungnya. Darah mengalir deras dari dada kiri Gale. Segera kutadangi dengan kantung plastik yang kubawa. Tubuhnya yang tadi kukunci ambruk ketika aku melepaskannya.
Sip, aku sudah mendapatkan satu. Tinggal sembilan belas lagi.
"Hii!" Lucas menjerit ketakutan.
"KA-KAU! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?!" Alan menggeram marah. Aku bisa melihat sirat wajahnya yang sedang ketakutan. "PEMBUNUH! DASAR KAU PEMBUNUH!"
Aku menatap mereka malas. Oh, ayolah. Mereka berisik sekali, dasar lebay.
Aku mengeluarkan satu pisau lagi dari saku sweater-ku. Kedua tanganku sekarang menggenggam masing-masing satu buah pisau untuk membunuh mereka. Seringaianku kian melebar kala melihat mereka yang begitu ketakutan. Ah, sungguh payah. Ke mana perginya nyali kalian tadi, huh?
Baru satu langkah aku berjalan mendekati mereka, tetapi Alan sudah berteriak. "JANGAN MENDEKAT, PSYCHO! FREAK!"
Karena tak tahan mendengar ocehan atau teriakannya lagi, aku melemparkan pisauku ke leher Alan, dan kebetulan pas sekali tepat sasaran. Darah terciprat dari lehernya karena pisau milikku. Alan jatuh terduduk sambil memegang lehernya yang tertancap pisauku, sedangkan si Buaya, ia malah pingsan. Yeah, tapi baguslah. Mempermudah pekerjaanku.
Aku menghampiri Alan dan menghunuskan pisauku yang tertancap di lehernya
"Ada kata-kata terakhir?" tanyaku disertai senyuman manis. Alan tidak menjawab dan hanya diam saja. Aku pura-pura menepuk keningku. "Oh, iya ya ... kau, kan, sudah tidak bisa berbicara lagi. Yasudah, kalau begitu, langsung saja temui ajalmu, oke?"
Dan setelah itu, kau tahu lanjutannya, bukan?
Aku menatap mayat mereka bertiga dengan bingung. Aku sudah membunuh dan mendapatkan darah mereka bertiga. Lalu, mayatnya mau diapakan? Kalau aku tinggalkan saja, bisa saja seseorang menemukannya, lalu melapor ke polisi. Polisi akan curiga dan sidik jariku bisa ketahuan.
Jadi, aku lebih memilih untuk 'melenyapkan' mereka.
Aku mengarahkan tangan kananku ke arah mereka. Sebuah cahaya putih muncul dan berpendar menyelimuti tubuh mereka. Setelah itu, tubuh mereka bertiga pun hilang dan lenyap. Beres!
Aku membalikkan tubuhku, lalu berjalan santai meninggalkan gang sempit tadi dan memulai untuk mencari target baru.
***
"Arghh!!" Erangan pria ini semakin menggebu kala aku menancapkan pisauku di lututnya. Memang agak keras sih, tapi bisa kok. Wanita yang sebelumnya juga meraung-raung saat aku menusukkan pisauku ke matanya.
Habis sudah dua puluh orang yang kubunuh dalam waktu sehari dua malam. Harusnya empat hari lagi batas waktunya. Dan kini, aku harus membayar 'hutang'-ku kepadanya. Aku harus membayar perbuatan yang telah kuperbuat.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, dan aku baru saja pulang ke gubuk. Namun tiba-tiba, punggungku dihantam oleh suatu benda yang tajam dari arah belakang. Netraku terbelalak karena kaget. Tubuhku ambruk begitu saja sehingga beberapa kantung darah yang berada di genggamanku terjatuh berserakan.
Ada apa? Kenapa ini? Ugh ... punggungku sakit sekali.
Pandanganku mulai mengabur. Netraku tak sengaja menangkap bayangan sosok Regina tengah berdiri di samping seseorang. Dan seseorang itu adalah ....
... Grim Reaper?
Regina terus memandangku datar. Tanpa ekspresi apapun. Raut kecewa sekilas tersirat di wajahnya.
Uhuk!
Cairan berwarna merah kental keluar dari mulutku. Dengan tubuh yang bergelinang darah, seluruh otot dan syarafku menjadi lemas seketika.
"Rex, kau tahu? Ada harga yang harus dibayar atas sesuatu yang berharga. Dan nyawamulah, sebagai bayaran karena kau sudah membantai seluruh keluargamu. Kau yang membuat kita menderita," kata Regina yang suaranya samar-samar kudengar. "Kau membunuh keluarga kita--tidak, tapi keluargamu. Kau membunuh mereka habis-habisan. Itu tidak bisa dimaafkan, bukan?"
Kali ini, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku, bahkan dalam keadaan setengah sekarat sekali pun. Hatiku seakan teriris-iris saat mendengarnya. Air mataku mengalir begitu saja.
Ya ... memang benar. Aku pembunuhnya. Aku yang membantai seluruh keluargaku. Dan oleh karena itu, aku membenci diriku sendiri. Aku takkan pernah memaafkan diriku, karena akulah yang membantai keluargaku.
Maaf, Regina ... aku minta maaf atas semuanya ....
Mungkin ... inilah bayaran yang pantas untukku ....
Maaf. Sekali lagi maaf.
***
Maaf saja Rex, tapi ... aku duluan yang meminta tolong pada Grim untuk menyembuhkan penyakitku dan sebagai gantinya, nyawamulah bayarannya. Itu sesuatu yang berharga, bukan?
Aku menatap datar Rex yang terkapar tak berdaya di tanah. "Maaf, tapi sudah cukup main saudara-saudaraannya, Rex. Cukup sampai di sini saja."
Namaku Regina Alverne. Seorang gadis berspesies elf hutan yang dipungut dan diadopsi oleh keluarga penyihir terhebat. Dan Rex Alverne adalah penyihir yang 'dulu' pernah kuanggap sebagai kakak kembarku. Itu alasan kenapa Rex tidak kaget saat bertemu dengan Grim. Aku tahu soal penawaran Grim kepada Rex, dan Rex menerimanya. Tapi, akulah yang memanggil dan meminta Grim terlebih dahulu.
"Terima kasih karena sudah membantuku, Grim Reaper. Kau boleh membunuhnya sekarang."
"Baik, Nona Regina Alverne."
Grim mendekati Rex, lalu mengayunkan sabitnya ke pemuda itu.