Di Sebuah pedesaan terlihat seorang gadis remaja berambut cokelat kacang sedang membantu ibunya yang sedang memanen sayur di ladang.
Keesokan paginya, gadis itu sudah siap ke sekolah dengàn mengenakan seragamnya berwarna biru laut dan juga rok pendek selutut yang berwarna putih. Ia siap berangkat ke sekolah dengan sepedanya.
Setiap hari ia selalu di bully oleh para teman-teman sekelasnya. Namun tidak semua di kelas membully nya, ada satu sahabatnya yang selalu membela nya di manapun dan kapan pun. Dia bernama Yuri.
Sepulang sekolah gadis bermata biru sapphire itu bergegas menuju warung tempat ibunya berjualan nasi uduk.
"Bu. Hetsi pulang" Ucap dia sambil masuk ke warung dengan wajah kusut.
"Eh, udah pulang anak ibu. Kok kusut kaya gombal gini mukanya?" tanya sang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
"Gapapa Bu, aku cuman kecapean aja kok. Ibu lagi bikin apa? ada yang bisa aku bantu Bu?" tanya Hetsi.
"Bantu ini ajak nak" ucap ibu yang sedang menguleni adonan di baskom.
Tanpa banyak tanya, Hetsi langsung menggantikan ibunya untuk menguleni adonan. Bagi orang biasa mungkin melelahkan untuk menguleni adonan keras itu selama ber jam-jam lamanya. Namun, bagi Hetsi dan ibunya itu sudah menjadi hal yang lumrah, karena dengan adonan itu mereka bisa mendapatkan uang untuk sesuap nasi. Hetsi dan ibunya adalah keluarga yang bisa dibilang memiliki banyak cobaan. Sejak kecil Hetsi sering menerima hinaan dari tetangganya yang mengatakan bahwa Hetsi adalah anak dari seorang 'Wanita Malam'.
Sejak kecil mental Hetsi sudah di hajar habis-habisan oleh tetangganya, saking tidak kuatnya sempat Hetsi ingin mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara memotong urat nadi tangannya, namun Yuri disitu berhasil menghentikan aksi Hetsi. Yuri berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi sahabat tercintanya itu.
Sampai tiba saatnya waktu kelulusan. Seluruh murid datang di temani kedua orang tua mereka. Namun Hetsi hanya di temani oleh ibunya. Entah kenapa ia sedari kecil sama sekali belum pernah melihat ayahnya. Ibunya bilang bahwa ayahnya sudah meninggal, namun Hetsi tidak pernah di bawa ke kuburan ayahnya itu. Ketika Hetsi menanyakan tentang ayahnya, ibunya selalu mencoba mengalihkan perhatian Hetsi ke hal lain. Namun Hetsi sudah tidak sebodoh dulu, sekarang ia sudah 17 tahun, dia sudah tidak mudah untuk di bohongi lagi.
Walaupun Hetsi sangat penasaran dengan kabar ayahnya, namun ia tidak ingin menanyakan lagi kepada ibunya karena ia tahu bahwa ibunya memiliki masalah dengan ayahnya itu.
Nama Hetsi dipanggil ketika juara satu Ujian Nasional dibacakan. Hetsi terkejut bukan main saat mendengar namanya di bacakan, Ia menjadi salah satu murid muda yang menempati juara satu dengan usahanya sendiri, karena itu ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya. Tapi ia masih tidak ingin meninggalkan ibunya, karena kampus yang ia impikan berada di luar pulau dan berada di pusat ibukota, sedangkan ia sekarang berada di wilayah pelosok, juga misal mau melakukan pindahan pun pasti membutuhkan uang yang sangat besar. Sehingga ia memutuskan untuk menyimpan beasiswanya dan menemani ibunya berjualan.
Ketika ia sedang menjaga warung, ada pria yang terlihat cukup tua berjalan mendekati warung mengenakan jas yang kelihatannya sangatlah mahal.
"Permisi dek."
"Iya, ada yang bisa saya bantu Paman?"
"Saya mau nasi uduk 3 bungkus bisa?"
"Bisa Paman, tunggu sebentar ya akan saya bungkus."
"Eh, tidak usah di bungkus, saya mau makan di sini saja."
Tidak menjawab Hetsi hanya mengangguk sembari mengulum senyumnya. Hetsi mulai menata nasi uduk berserta telur gulung, dan ayam yang sudah ia suwir tipis-tipis.
Selagi menunggu Paman itu menyelesaikan makannya, ia menyiapkan teh hangat untuk di minum oleh ketiganya.
"Paman-paman, ini teh nya silahkan di minum."
"Tapi saya tidak pesan teh perasaan."
"Ah. ini saya berikan percuma kepada paman-paman, takutnya nanti kehausan" Ucap Hetsi sambil tetap tersenyum melayani dengan ramah.
Suasana menjadi hening sesaat setelah Hetsi memberikan teh. Tiada angin dan hujan tiba-tiba paman itu bertanya sesuatu ke padanya.
"Kamu ga sekolah dek?"
"Saya sudah lulus paman."
"Kenapa tidak melanjutkan pendidikannya?"
"Saya tidak ada uang yang cukup untuk membawa ibu saya pergi ke ibu kota paman, saya lebih memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya dan menemani ibu berjualan disini."
"Ah, seperti itu rupanya." ucap paman itu sambil mengangguk memahami keadaan Hetsi.
Beberapa Minggu setelahnya ibu Hetsi mendadak mengalami serangan jantung yang membuatnya meninggal pada saat itu juga. Hetsi yang sekarang hanya tinggal sendiri merasa sangat terpukul atas kepergian ibunya tercinta. Ia mengurung diri di rumah dan menjauhkan kegiatannya dari masyarakat termasuk sahabatnya sendiri. Saat Hetsi mengecek laci meja milik ibunya ia menemukan sebuah surat yang isinya.
𝑁𝑎𝑘, 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑦𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑔𝑎 𝑖𝑏𝑢 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑖𝑛𝑖, 𝑖𝑏𝑢 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑔𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑘𝑡𝑖 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑢. 𝐼𝑏𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑖𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑐𝑢𝑘𝑢𝑝 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑢𝑙𝑖𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑢𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑖𝑚𝑝𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢. 𝐼𝑏𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑢𝑙𝑖𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑈𝐼, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑡𝑢 𝑖𝑏𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑛𝑎. 𝐾𝑎𝑚𝑢 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑢𝑙𝑖𝑎ℎ 𝑦𝑎 𝑛𝑎𝑘, 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑒𝑟𝑖𝑛 𝑖𝑏𝑢 𝑎𝑗𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑙𝑎𝑔𝑖, 𝑘𝑎𝑚𝑢 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑘𝑢𝑙𝑖𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑘𝑖𝑛 𝑖𝑏𝑢 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑙𝑎𝑔𝑖. 𝐼𝑏𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑖𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑎𝑛𝑔𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖 𝑐𝑒𝑙𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑐𝑖 𝑖𝑏𝑢, 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑎𝑝-𝑠𝑖𝑎𝑝𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡.
𝑆𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑏𝑢𝑚𝑢.
Melihat surat yang sudah ia baca langsung membuat dirinya menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka bahwa selama ini ibunya telah sangat bekerja keras untuk menyekolahkan anaknya itu. Ibunya lah yang selalu melindunginya dari semua hinaan, dan caci maki yang telah menyerangnya selama ini. Dirinya lah yang telah menghibur Hetsi selama ia depresi. Saat itu juga Hetsi langsung berteriak sangat keras di dalam rumahnya.
"Nak kamu jangan kaya gini lagi, ibu bingung sama kamu nak, kamu cepat pulih nak tolong..." ucap ibunya dengan lirih.
Rupanya selama ini yang Hetsi alami hanyalah halusinasinya saja. Mulai dari ibunya meniñggal dan ayahnya yang pergi, dan juga kehidupan miskin nya hanyalah halusinasinya. Bahkan Hetsi bukanlah nama aslinya, melainkan Yuri. Di umurnya yang masih berada di zona remaja ini Ia sudah mengalami gangguan kepribadian yang bernama Skizofrenia Paranoid, yaitu gangguan yang di sebabkan karena kehidupan penuh ancaman atau sempat mengalami pelecehan seksual saat masih kecil. Ternyata benar adanya bahwa dulu sewaktu kecil Yuri sempat mengalami pelecehan seksual saat pulang dari sekolah dasar, dan itu masih membekas hingga sekarang.
Tolong jaga diri kalian dan melawan lah jika terjadi sesuatu.