"Tidak. Kau tidak boleh ikut dalam organisasi itu! Tidakkah kau melihat kondisi saat ini?! Sudah begitu, kau tetap mau ikut? Kau pasti cuman ingin berkumpul dengan teman-temanmu saja kan!"
Dia adalah mamaku, dari dulu ia berambisi agar aku mengikuti sebuah organisasi apapun yang kuinginkan. Akan membiarkanku melakukannya, tapi sekarang? Ya, aku tahu saat ini sedang ada pandemi yang melanda berbagai penjuru dunia. Tapi kalau tidak sekarang lalu mau kapan lagi? Sejak aku kecil hingga kini, dialah yang selalu membuat keputusan untukku dan tak membiarkanku sedikitpun memilih jalanku sendiri seakan hidupku hanya bisa diatur olehnya. Seakan hanya dialah yang bisa menentukan jalan terbaik bagiku padahal nyatanya justru kebalikannya.
Mendengar perkataannya itu, hanya bisa membuatku menggigit bibirku. Tak kuasa untuk menjawabnya karena aku tahu akan konsekuensinya.
"Berhenti mengatakan ingin mengikuti organisasi seperti itu!"
"Tapi mama, semua teman-temanku ikut dalam organisasi ini. Sekolah juga bilang akan memberikan nilai tambahan bagi siapapun yang mau ikut.." jawabku dengan nada suara yang begitu putus asa karena mama tak henti-hentinya mengekang kehidupanku.
"Nilai nilai nilai! Kenapa kau selalu menginginkan nilai sempurna hah? Kau mau dipuji oleh guru-guru dan teman-temanmu kan?!" Mama langsung mencubit lenganku dan membuatku tak bisa berkutik lagi.
Tak beberapa lama kemudian, mama lalu melepaskan tanganku dan pergi ke dapur meninggalkanku disana.
"Sejak kecil kan mama yang mendidikku agar bisa sempurna. Kesalahan kecil yang kubuat saja akan membuatmu naik pitam dan akan menghukumku dengan hukuman fisik yang bahkan tidak segan-segan kau lakukan!" batinku sambil menahan tangisnya yang akan pecah jika aku tak menahannya.
Aku tak ingin membuat tangisanku pecah karena tentu saja mama akan..memukulku lagi karena baginya, rasa sedih sampai menangis, amarah, dan lainnya tidak boleh kutunjukkan. Ia bahkan akan langsung naik pitam jika melihat setetes air mataku jatuh, apalagi kalau sampai ia mendengar suara tangisku.
Dia pasti akan berkata, "KENAPA MENANGIS?!" dan yang bisa kulakukan hanya..menutup mulutku dan berusaha untuk menekan tangisanku sampai dadaku sesak karena tak bisa mengeluarkannya. Walaupun sekali tapi, aku ingin sekali mama memelukku dan membiarkan ku menangis sampai aku bisa tenang dengan sendirinya dan bukan memaksaku untuk menekan perasaan ini. Aku itu manusia bukanlah robot. Sampai sekarang aku bingung akan mengapa dia begitu benci melihatku menunjukkan perasaanku seperti ini.
Dan dihari ini, aku mendapatkan berita dari organisasi yang baru-baru ini aku ikuti tanpa memberitahukannya kepada mama bahwa aku masih merupakan salah satu anggotanya, berita itu mengenai vaksinasi yang akan dilaksanakan di sebuah tempat yang menjadi pusat dari organisasi kami.
"Mama, tadi aku mendapat berita bahwa akan dilakukan vaksinasi disana!" ucapku dengan senang berharap mama akan membiarkanku mengikutinya karena mama pernah berkata bahwa aku boleh mengikuti organisasinya jikalau aku sudah mengikuti vaksinasi.
"Dimana?" Dari wajahnya saja aku bisa mengatakan bahwa dia tidak suka dengan berita yang kubawa ini tapi aku berusaha sekuat mungkin untuk tetap menjawabnya dengan tenang padahal darahku sudah mendidih hanya dengan melihatnya.
"Di tempat organisasi kami itu yang pernah aku katakan sebelumnya." Aku sudah menduga akan menjadi seperti ini bahkan sebelum aku mengatakannya tapi aku selalu berpegang teguh pada prinsipku yaitu, "Lebih baik dicoba dahulu sebelum menyerah di tengah jalan."
"Kau mau mengatur dirimu sendiri hah?" mama berkata demikian dengan nada yang mulai kesal.
"Jangan marah..tahan..!" batinku menyemangati diriku sendiri untuk tidak mengeluarkan amarahku.
"Tidak, ma. Tapi ini sudah didaftar semuanya yang belum vaksin. Mama juga bilang kalau aku boleh mengikuti organisasinya kalau aku sudah melakukan vaksinasi" Cahaya harapanku seakan meredup dan membuatku semakin putus asa saja dari waktu ke waktu.
"Mama sudah bertanya pada gurumu kalau akan ada vaksinasi, dia akan memberitahukan kepada mama. Banyak orang yang sudah vaksin juga masih ada yang kena, lalu kau? Mending nggak usah berpikir untuk mengikuti organisasi apapun! Atau kalau kau tidak suka dengan peraturan di rumah ini, KELUAR SAJA!"
Mendengar mama yang berteriak seperti itu saja semakin membuat amarahku memuncak tapi aku paling benci karena air mataku ikut-ikutan jatuh. Air mata ini bukanlah karena aku sedih tapi karena aku benar-benar marah, dia selalu menyalah artikannya.
"Mama selalu bilang kan untuk memilih pilihan yang pasti? Lalu kenapa mama malah memilih hal yang tidak pasti? Mama bahkan mengata-ngatai papa atas pilihannya yang mama anggap 'tidak pasti'. Namun sekarang? Mama sama sekali tidak ada bedanya dengan papa! Mama mengajariku untuk memiliki prinsip kan? Aku juga punya prinsip! Aku mungkin belum melewati usia dewasa tapi aku juga bisa mempertimbangkan segala kemungkinan dari pilihan yang ada dan bukan hanya mama saja yang bisa!" Aku yang sudah tak tahan dengan mendengarkan saja akhirnya meluapkan amarahku. Semuanya, tanpa terkecuali.
"Iya aku tahu pasti kalau keadaan sekarang begitu membahayakan bagiku untuk berkumpul dengan banyak orang, tapi biarkan aku menjaga diriku sendiri! Aku lelah dikekang seperti ini. Aku benci hidup seperti burung dalam sangkar emas! Biarkan aku bebas sekali saja..!"
Dadaku terasa begitu sesak karena terus-menerus menekan amarah dalam diriku. Pandanganku mulai menghitam dan akhirnya aku terjatuh ke lantai.
Disaat itulah aku baru tersadar bahwa semuanya hanyalah mimpi semata. Yang bisa kulakukan hanya tersenyum masam dan tenggelam dalam rasa sedih serta amarah yang sampai terbawa hingga ke dunia nyata.
~•~
It would be so nice if I had this kind of courage in the real world;