"Ibu!!, ada kucing di bawah motor kita"
"biarkan saja, dia hanya numpang tidur" jawab ibuku
Begitulah pertemuanku dengan kucing liar yang aku temukan di bawah motor, kucing itu memiliki wajah yang lucu dan imut serta bulu berwarna abu-abu.
Awalnya kupikir kucing itu memilih dibawah motor karena ia ingin mencari tempat untuk meninggal, setidaknya itulah yang dikatakan artikel di internet.
"katanya kucing kalau sudah cari tempat sepi dan gelap artinya akan meninggal, dan tidak ingin menyusahkan pemiliknya bu"
"pemiliknya?" jawab ibuku bingung
Bisa saja kucing ini pergi karena dibuang oleh pemiliknya dan sampai ke rumah kami, aku tidak tau seberapa lama dia berjalan dan akhirnya memilih untuk singgah di rumah ini.
Siapapun yang membuangnya tentu sangat tidak baik dan tidak berprikemanusiaan, bisa - bisanya membuang kucing yang dia pelihara.
Sore harinya saat aku keluar rumah, kucing tersebut hilang entah kemana, aku mencarinya sampai ke belakang rumah namun tidak menemukannya.
Apa dia sudah mencari tempat dia mati?
Cukup sedih jika membayangkannya, dari bulunya yang halus dan tubuhnya yang rada gemuk, aku bisa menebak dia hanya kucing rumahan yang tentu saja tidak paham cara mencari makan di alam liar.
"lupakan saja, baru juga dia datang kesini kenapa aku harus perduli? Lebih baik aku memesan kopi untuk menemani senja ini"
--------------
Besoknya saat aku dan ibuku makan siang di ruang keluarga, tiba - tiba di depan pintu aku melihat kucing tersebut sedang duduk memperhatikan kami, pasti dia lapar karena kemarin pergi.
"itu kucingnya di depan rumah ngeliatin, kasih makan aja?"
"kasih aja nasi sama ayam ini" jawab ibuku
Aku pun memberikan nasi dan ayam kepada kucing itu, kucing tersebut kemudian mengendus makanan yang kuberikan dan tidak memakannya.
Aku bingung sekali kenapa kucing tidak mau makan ayam? Aku percaya kalau tidak suka nasi, tapi ayam? Semakin yakin kalau kucing ini adalah kucing rumahan
Karena tidak mau makan alhasil aku mendiamkannya saja dan uniknya, kucing tersebut paham serta tidak menganggu kami yang sedang makan.
Dia hanya duduk di depan pintu dan membuka matanya cukup lebar dengan posisi seperti patung Sphynx yang ada di mesir, apa mungkin dia akan lompat? Kurasa tidak, dia cukup tenang sebagai kucing.
Setelah kami selesai makan, kucing tersebut tetaplah tenang dengan posisi yang sama, karena tidak tega aku pun menghampiri dan mengelus leher kucing tersebut.
Ku usap lehernya dan ku sentuh kepalanya sambil menggerakkan jariku secara bergantian, cukup terkejut melihat kucing yang sangat penurut dan ramah.
Setelah ku usap kucing tersebut kemudian ia berani masuk ke dalam rumah dan mulai mengendus pintu, lantai, masuk ke dapur dan bahkan naik ke sofa.
Saat itu aku langsung mengangkat kucing itu dari sofa dan menaruhnya di luar, justru aku malah di marahi ibuku karena melakukan hal demikian dan kucing itu pun pergi dan tak kembali.
-------------
4 hari kemudian, di saat yang sama aku dan ibuku makan, kucing tersebut datang lagi dan mulai masuk ke dalam rumah, ia menyundul lenganku dengan kepalanya dan menempelkan tubuhnya padaku.
Saat menempelkan tubuhnya tiba - tiba kucing tersebut bersin dan mengeluarkan ingus dari hidungnya, setelah ku periksa dan perhatikan, seluruh tubuhnya cukup panas dan ekornya terluka serta bernanah.
Aku pun bilang pada ibuku untuk membawanya ke rumah sakit, sayang sekali kami saat itu tidak punya uang untuk pengobatan kucing yang cukup mahal. Tidak putus asa, aku menelepon temanku yang memelihara kucing.
Di telepon aku bercerita mengenai keadaan kucing ini dan ia kebetulan punya janji dengan dokter hewan untuk datang kerumahnya sehingga aku bisa berkonsultasi dengan gratis.
Rencananya aku ingin membawa kucing tersebut, namun ia terus berontak saat kumasukkan ke dalam tas, maklum aku tidak punya tas khusus kucing dan menggunakan tas ransel biasa.
Aku pun memutuskan datang sendiri ke rumah temanku dan berkonsultasi dengan dokter hewannya.
"dok, aku ada kucing liar suka tinggal di rumah dia sakit flu kayanya, harus diapain ya dok?"
"kamu kasih obat demam buat manusia, terus kamu campur madu sedikit habis itu pakai alat suntik yang gak ada jarumnya, masukkan ke mulutnya seperti ini"
Ia memperagakan dengan kucing temanku, ia mencubit pipi kucing itu dan menariknya ke belakang serta memasukkan air ke dalam mulutnya.
Dengan cara itu kucing dapat meminum obatnya, terkesan agak kejam tapi jika tidak dilakukan seperti itu, kucing akan sulit menelan obat karena secara insting pasti menolak.
Dengan informasi langsung dari dokter dan tambahan dari internet, aku pun pamit pulang dan berniat untuk memberikan kucing itu obat yang disarankan.
Sayangnya saat kembali kucing tersebut telah pergi lagi dari rumah, setidaknya ibuku sudah tahu kucing itu ternyata suka makan ikan daripada ayam.
-------------
Besoknya sesuai dugaan kucing tersebut datang ke rumah di jam makan siang, serta dalam keadaan flu dan bernanah ekornya.
Namun, ia tidak masuk ke rumah hanya di luar, ibuku pun memanggilnya untuk masuk
"pussss, tchtchtch, pussssiiiii, pussssss"
"sudahlah bu jangan seperti orang gila"
"puussssooooo, possssooooo, posso, poso"
Tiba tiba kucing tersebut berdiri dan masuk ke dalam rumah menghampiri ibuku. Bingung sekali aku, dua jam ditinggal kemarin sudah membuat sebuah ikatan keluarga dengan kucing.
Bagaimana jika ibuku dan aku tinggal di hutan, kupikir kami akan berteman baik dengan gorila dan tarzan.
"tuh liat, ngerti dia dipanggil poso" kata ibuku sambil mengelus kepalanya
"poso nama yang jelek"
"tidak tuh, buktinya dia paham di panggil poso"
"dah dah, sekarang aku mau buat obatnya sesuai saran dari dokter"
Setelah obatnya siap, aku langsung melakukan apa yang dipraktekkan dokter, kutarik pipinya dan kumasukkan obat itu.
Ternyata sangat sulit, seringkali ia berontak saat kumasukkan obatnya, namun dia tetap meminumnya sampai habis dan beberapa saat kemudian dia melompat dan tertidur di atas sofa.
Saat sore tiba, ia kemudian bangun dan langsung keluar dari rumah setelah kuberikan makanan kucing yang terkenal dengan bungkus warna ungu.
Kupikir dia sudah sembuh dan siap berpetualang lagi.
-----------
Hari minggu jam 10 pagi aku membuka pintu rumah dan tidak mendapati kucing tersebut menunggu, ku cek di bawah motor kucing tersebut pun tidak ada.
Aku panik, apa obat itu meracuninya? Apa dia ditabrak orang? Penuh sekali pikiranku saat itu khawatir dengan keadaannya.
"bu liat kucing itu tidak?"
"si poso gak ada dari tadi, coba cari keluar saat beli makanan"
Aku masih belum menerima dia dinamakan poso, nama yang aneh. Meskipun begitu, aku tetap harus mencarinya sambil membeli makanan.
Saat membeli makanan aku tidak bisa menemukannya, padahal aku sudah berjalan kaki keluar masuk gang. kemana kamu pusss? Aku khawatir padamu, meskipun kita baru kenal 1 mingguan aku merasakan kesepian.
Saat sampai di rumah kucing itu pun tidak ada, ibuku pun khawatir karena mengingat kucing itu sakit dan sudah cukup tua, ekornya bernanah dan tidak bisa berkelahi, makan saja pilih - pilih.
Tapi aku berdoa agar dia tetap selamat dan jangan salahkan aku jika dia mati, aku hanya menerima informasi dari dokter dan internet dan mempraktikkannya langsung.
----------
5 hari kemudian, karena kucing tersebut tidak kembali aku merapihkan semua makanan yang ada khusus kucing itu, mulai dari makanan peletnya sampai ikan tongkol kesukaannya.
Tiba - tiba saat ibuku duduk dan aku merapihkan makanan ia berteriak
"poso!!!, kemana aja kamu?!"
Aku kaget melihat kucing itu datang lagi dan bersyukur dia belum mati sesuai pikiranku yang berlebihan.
Karena aku orang yang tidak bisa terkejut berlebihan, aku langsung menyiapkan makanan yang tadi dibungkus rapih, kali ini kuberikan dalam porsi besar.
Kucing itu pun datang ke padaku sambil menyundul lenganku dan menempelkan kepalanya, persis saat pertama kali aku dan dirinya bertemu. Aku pun mengusap kepala kucing itu dan berkata
"makan yang banyak ya poso, kamu jangan pergi lagi, aku kangen sama kamu"
Ya, setelah saat itu secara resmi kucing itu diberi nama Poso, sejujurnya aku masih memilih nama Richard dibanding poso karena terkesan keren dan fancy.
Namun, kucing itu lebih suka dipanggil poso dan mengeong dengan keras jika tidak diberi makan, semakin yakin kalau ini adalah kucing peliharaan.
Sampai saat ini aku dan poso masih berteman dan bersahabat, kami terkadang tidur bersama dan makan bersama, tentunya dia makan di tempat makannya.
Poso juga sudah menjadi lebih sehat dan ekornya sudah sembuh sekarang, ia sudah berubah dan menjadi kucing yang berani
Keberaniannya adalah mencakar dan menggigitku, kuharap dia melakukan hal yang sama pada ibuku.
(Based on True Story)