Ini mimpi yang buruk juga seru, rasanya aku akan mati disana namun aku bagai sosok yang ada dan tiada di sana, peran ku selalu terganti-ganti seolah semua cerita dari mimpi itu harus aku ketahui.
Malam, sebelum kedua kakak, ibuku, aku tidur.
Kami saling mengobrol, bercanda seperti biasa.
Dan dengan sengaja kakak ku yang bernama Nina menyinggung perihal ayah kami yang tidak pernah memberi nafkah dan sering meminta uang pada ibuku.
Aku dan ibuku meminta kakak Nina untuk berhenti mengejek ayah yang sedang berada dikamar miliknya, tentu saja ayah pasti mendengar sindiran dari kakak ku Nina yang memang sering berkata tanpa takut itu.
“Ya sudah, kalau begitu ayo tidur..” ujar Ibu ku membubarkan kerumunan 4 orang ini.
Aku pun telah berbaring di atas kasur, menunggu rasa kantuk ku tiba...
Bagai puzzel berbentuk cerita, aku sampai lelah terus bermimpi hingga mimpi yang panjang itupun datang.
Seolah kakak-kakak ku dan ibu ku sedang sibuk mencuci baju bersama. Aku yang akan melangkah menuju mereka pun segera dihentikan oleh ayah ku yang berwajah garang dan rambutnya yang acak-acakan itu.
“Dy,” panggil ayah ku membuat tubuh ku tegang.
Aku dan kakak ku jarang sekali berbicara dengan ayah, terakhir aku ingat yaitu 3 tahun yang lalu. Ya, hubungan kami saaaangaaaat jauh.
Aku pun menoleh pada ayah yang tidak aku anggap ayah, namanya Subhan. Aku panggil Subhan sajalah.
Subhan menatap ku dengan tajam dan terlihat ia sangat memendam rasa marah.
“Kakak mu semalam bilang apa?” tanya Subhan membuat jantung ku serasa berhenti berdetak.
“T-tidak, apa-apa.” jawab ku sangat pelan.
“Tunggu aku di luar kamar.” perintah Subhan membuat ku ketakutan.
Aku pun berjalan di belakang Subhan yang mulai memasuki kamar.
Karena penasaran, aku mencoba melihat apa yang ia lakukan melalui lubang kunci pintu. Napas ku tercekat dan mata ku mulai berair melihat apa yang Subhan ambil, yaitu pisau samurai.
Dengan tenang, aku berjalan pelan pelan tanpa terdengar menjauh dari pintu kamar Subhan. Firasat ku sudah buruk, ia akan membunuh ku dan kakak ku.
Aku berjalan lebar mendekati kakak ku yang hampir selesai mencuci.
“Kak, ayo kita kabur.” ajak ku menarik lengan Nina kakak ku.
Kakak ku Nina terlihat kebingungan, ia masih terdiam.
“Subhan akan membunuh kita, ayo kita kabur..!” lirih ku menekankan.
Kakak ku Nina dan Ita segera bergerak, mereka segera berlari mencoba membuka pintu rumah. Sedangkan ibu ku yang selalu `memujaʼ Subhan meminta kita untuk tidak gegabah.
Mendengar kami akan kabur, Subhan segera membuka pintu dengan pedang samurai di tangan kirinya.
Aku dan kakak ku berteriak histeris, tapi kami terus berlari mencoba keluar dari rumah. Beruntung kami mempunyai motor.
Aku dan kakak ku Nina telah siap menaiki motor, lalu aku melihat kakak ku yang satu lagi. Ia terdiam, mencoba menahan Subhan yang kesetanan.
“Kakak Ita! Ibu!” teriak ku memanggil mereka yang tertinggal.
Secara bersamaan mereka meminta kami untuk segera pergi.
Dengan terpaksa, kakak Nina segera menyalakan mesin motor. Dan aku ditariknya untuk segera membonceng.
Motor dihidupkan, aku duduk di atas jok motor dengan posisi terbalik, tubuh depan ku berada di ujung belakang motor.
Dengan segenap kekuatan ku, aku berteriak pada warga bahwa ada seseorang pembunuh.
“Pembunuh! Tolong ibu ku!! Ayah ku membunuh kami! Tolong!!” seru aku dengan ditemani air mata mengalir deras.
Aku melihat, para tetangga yang tidak mirip dengan tetangga ku itu nampak terkejut dan terdiam sambil melihat kepergian ku.
Aku sudah lelah berteriak, orang-orang hanya terdiam melihat ku terkejut.
“Kemana kita pergi?” tanya ku kebingungan pada kakak Nina yang begitu cepat mengemudi motor.
“Ke rumah Bibi Anah.” jawab kakak Nina.
Di kota ini, memang kami tidak mempunyai keluarga dari pihak ibu. Keluarga ibu berada di Jawa Timur, sedangkan keluarga ayah kami berada di sini.
Bibi Anah adalah adik paling kecil dari ayah, ia baik. Tidak seperti saudara-saudari yang lain.
Kita pun telah sampai di rumah kecil Bibi Anah. Tapi, aku terlalu takut jika sampai Subhan tahu lebih dahulu kemana kita akan pergi.
Jadi aku hanya terdiam, membiarkan kakak ku lah yang mengetuk pintu utama rumah Bibi Anah. Sedangkan aku berada di belakang rumah berjaga-jaga agar nanti bisa lebih cepat lari kalau Subhan benar ada menunggu kehadiran kita.
Tok! Tok! Tok!
“Bibi Anah!” panggil kakak Nina melihat-lihat ke dalam rumah.
Cklek!
Pintu terbuka, dan nampaklah sosok Bibi Anah yang nampak terkejut.
Kami hampir 2 tahun ini jarang sekali bertemu dengan Bibi Anah, karena renggangnya hubungan antara ibu dan ayah kami.
Aku dan kakak Nina dipersilakan masuk oleh Bibi Anah, kami menceritakan tentang kejadian itu dan membuat Bibi Anah sangat terkejut. Bibi Anah berjanji akan membantu kami.
Saat suasana kembali senyap, tanpa aku inginkan. Air mata menetes kembali di pipi ku.
“Kak, bagaimana ibu dan kak Ita?” tanya ku khawatir, cemas, sedih dan tak kartu-karuan.
Kakak Nina terdiam, menunduk sedih.
Brak! Brak! Brak!
Mata ku langsung tertuju pada pintu utama yang mempunyai 2 pasang berbahan kaca di atasnya itu. Aku melihat Subhan datang menggunakan linggis.
Aku langsung berlari menuju pintu dan menarik kedua pegangan pintu agar tertutup.
“Akh!” teriak ku terkejut saat linggis milik Subhan terdorong tepat di depan wajah ku.
Ya, Subhan segera menahan tengah-tengah pintu tersebut dengan linggis. Tak sengaja aku melirik pada pintu satunya lagi yang berada di samping rumah yang terbuka sedikit.
“Kak! Itu pintunya tutup!” teriak ku gemas melihat kakak Nina yang masih terdiam ketakutan.
Kakak Nina lalu segera berlari menuju pintu tersebut, namun lebih dahulu Subhan berlari menuju pintu itu dan membukanya lebar-lebar.
“Aaakh!” teriak kami takut.
Sekejap, aku telah tak sadarkan diri. Entah karena saking takut atau Subhan melakukan sesuatu padaku.
Aku merasa tubuhku terbang, bergerak dengan sendirinya. Karena penasaran, aku pun membuka mata ku.
Sambil mengerjap, aku melihat pohon-pohon tinggi itu berjejeran dipinggir jalan tak beraspal ini. Aku kembali mengingat kakak ku Nina yang sebelumnya bersama ku, namun sekarang kakak ku tidak ada di mobil pikap ini. Dan aku sekarang berada di bak mobil pikap ini.
Aku menoleh ke belakang, melihat siapakah sosok yang mengemudi mobil ini. Aku pikir itu Subhan, tapi tidak. Sosok yang tidak aku ketahui, ia botak, tubuhnya tegap. Baju kaos miliknya berwarna hitam, hijau gelap bergaris dengan sisanya putih.
Aku tidak tahu harus apa, keberanian ku berkurang mengetahui hanya akulah di sini. Atau mungkin seorang pria itu mau menyelamatkan ku? Tapi kenapa firasat kh bertambah lebih buruk dari pada saat berhadapan dengan Subhan?
Berdiam diri `kah? Putus asa?
Atau lompat jatuh dari bak pikap ini dan lari sekencang-kencangnya.
Aku diam, tubuh ku sudah lelah. Aku tidak tahu bagaimana keadaan kakak ku Nina, ibu dan kakak ku Ita. Kalau mereka juga meninggal, lalu kenapa aku harus tetap hidup?
Mobil ini memperlambat lajunya, aku pun mencari tahu apa yang terjadi di depan. Ternyata ada sebuah rumah seperti villa berwarna putih dengan banyak jendela kaca dua pasang di sana. Tangga pendek juga berwarna putih terletak tepat di depan pintu utama yang didahului oleh teras yang menyesuaikan panjangnya depan rumah ini.
Aku berpikir, kenapa aku dibawa kesini. Aku akan dibunuh di sini `kah? Sebenarnya siapa orang botak itu.
Tiba-tiba, pria itu membuka pintu mobil. Aku dengan spontan pun menutup kembali mata ku dan pura-pura tertidur dengan kondisi duduk bersandar.
Jantung serasa ditekan sesak saat merasakan pria itu berjalan mendekati ku.
Lalu tanpa peduli, ia menarik lengan ku, menggeret ku agar keluar dari bak pikap entah aku saat kondisi tidur atau bangun.
Karena tidak ingin ber-akting lebih lagi, aku pun membuka mata ku dan langsung melangkah mengikuti pria ini yang terus menyeret ku.
Aku tak berani mendongak melihat wajah pria ini, auranya terlalu dingin dan jahat.
Aku dilemparkannya pada ruangan yang kosong barang ini, namun aku melihat begitu banyak orang yang bersimpuh terpuruk disamping-samping tembok. Lalu di pojok sedikit ke tengah ruangan ini terdapat pintu berwarna oren tua, pria botak itu memasuki pintu berwarna oren tersebut.
Aku terdiam, melihat satu-persatu orang yang duduk bersimpuh dengan punggung melengkung jatuh ke bawah ini. Aku ingin bertanya sesuatu pada mereka, namun aku masih terlalu takut.
Dari dalam ruangan yang berpintu oren itu, aku mendengar suara bising gergaji listrik. Aku tidak tahu mengapa orang-orang yang berada di sekitar ku ini sekarang menutup telinga mereka rapat.
Setelah beberapa belas menit, pintu oren itu terbuka lagi. Aku langsung menunduk, tidak ingin melihat pria botak itu. Tapi aku masih dapat melihat bagian pundak hingga ke bawahnya.
Dan sekarang yang ada di tangannya itu adalah sebuah kepala dengan rambut yang cukup panjang yang ia genggam.
“Hahaha! Lihatlah! Kalian akan menjadi seperti ini!” seru pria botak itu dengan suara berat dan besarnya.
Mata ku sampai tidak bisa berkedip dan seharusnya melebar karena terkejut, tapi ini karena saking terkejutnya aku tidak bisa bereaksi apa-apa.
Lalu pria botak itu berjalan mendekat pada ku, aku tersadar dan merapatkan pundak ku takut. Namun ternyata ia hanya berjalan untuk keluar dari ruangan ini saja.
“K-kita, harus keluar dari sini.”
Aku spontan mendongak pada pria berbaju putih berlogo ditengahnya itu, aku melihat kesekitar, ingin tahu apa reaksi orang-orang.
Mereka terdiam, seperti aku. Hanya melihat pria yang bersuara itu, tanpa kata-kata.
“Bagaimana caranya?” tanya ku karena mempunyai semangat untuk kabur.
“Kita pergi saat ia keluar, atau tidur, atau sedang membunuh. Kita ambil kunci mobil dia.” kata pria itu berantusias.
“Aku tahu di mana letak kunci-kuncinya. Tergantung di tempat gantungan baju. Aku akan mengambil kunci pintu garasi mobil saat ia sedang lengah. Dan kalian harus segera menaiki mobil. Dia mempunyai tiga mobil. Pasti kita muat.” kata pria itu diangguki oleh ku.
Perlahan, mereka semua saling berpandangan. Saling memberikan semangat walau mereka tidak pernah kenal sebelumnya.
Dan akupun masih memendam rasa penasaran yang dalam kemana kakak Nina.
Mereka semua sepakat untuk kembali bangkit, namun mereka semua juga tidak ada yang mau berkorban untuk menjadi pelampiasan nafsu psikopat pria itu, termasuk aku. Jadi kami akan pergi secepat mungkin.
Dua orang pria sandera itu kini sedang bertugas mengawasi sekitar. Ya, selalu saja pintu tempat para sandera ini terbuka, katanya agar pria psikopat itu mempunyai alasan untuk membunuh mereka yang akan kabur.
Aku yang berada di samping pintu pun juga melihat ada 4 gantungan yang dipenuhi oleh kunci-kunci.
Dari ekor mata ku yang tidak aku pedulikan, ada seorang wanita berjilbab tengah mencoba mendekat padaku. Segera sadar, aku pun menoleh pada wanita cantik itu.
“Halo adik, nama mu siapa?” tanya wanita itu tersenyum manis.
Kelihatannya aku memang yang paling kecil daripada orang-orang dewasa ini.
“Aku, Nadys.” perkenal ku ragu-ragu.
“Nadys? Bagus sekali. Nama kakak Mia. Kakak dan yang lainnya akan mengeluarkan mu segera. Nanti ikut bersama kakak dalam satu mobil, ya?” ajak kakak yang bernama Mia itu hangat.
Aku mengangguk pasti, dengan senyum lembut aku membalas kebaikannya.
“Hei, dia pergi. Ke halaman belakang mengubur jenazah. Ayo,” bisik salah satu orang yang mengawas.
Kami pun dengan senyap melangkah menuju garasi mobil dari dalam, kunci-kunci sudah kami genggam dengan kuatnya. Kaki bergetar dengan pelan siap untuk lemas dan jatuh kapan saja.
“Lho?”
Sontak, kami menghentikan langkah dan melihat pada sumber suara dengan mata melebar dan wajah tegang terkejut.
“Sudah mau pulang, ya?” tanya pria botak psikopat itu memunculkan wajah terheran-herannya.
Aku terdiam, sama seperti mereka yang takut, terkejut dan frustrasi. Hingga seorang pria mengambil sebuah vas besar dan melemparkannya pada pria botak itu. Segera sadar, kami pun kembali berlari.
Bersama tiga orang, mereka mendekati pintu besar garasi. Kedua orang tengah berjaga-jaga dengan alat pukul apa saja, sedangkan yang satunya ia mencoba membuka pintu garasi.
Fiuh, pintu garasi terbuka. Kami pun juga sudah menyalakan mesin mobil hingga menunggu ketiga pria berjasa itu ikut naik ke mobil.
Saat kedua mobil yang kami pakai sudah berada diluar. Ternyata, pria psikopat itu tengah menunggu kami dengan membawa sesuatu yang aku tahu itu granat waktu.
Aku melirik segera pada kak Mia yang langsung balas menatap ku.
“Kak, itu.”
“Granat waktu.” sela kak Mia cepat.
Srek..
Tangan ku ditarik oleh kakak Mia. Dia menatap ku dalam.
“Kita turun, ke mobil pikap itu.” lirih kakak Mia padaku.
“Ayo,” ujar kakak Mia saat mobil Jeep ini berlaju pelan karena adanya penghalang.
Kami sedang berada di paling belakang mobil Jeep, jadi Kakak Mia hanya tinggal membuka pintu besar belakang mobil Jeep itu agar keluar dari sana.
Kami berlari dengan cepat menuju mobil pikap, tentu saja itu segera diketahui oleh pria botak psychopath dan yang lainnya.
Aku dari dalam jok penumpang mobil pikap menatap mereka yang berada di mobil lain sendu, sangat merasa bersalah dan khawatir.
“Huh, beruntung kuncinya tertinggal disini. Aku sudah tahu melihat tidak ada kunci mobil ini digantungan tadi.” gumam kakak Mia.
Entahlah, fokus ku terpecah. Aku tidak melihat dua mobil itu berjalan, aku melihat pria psikopat itu berlari menuju mobil yang aku tumpangi, aku melihat ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa.
Aku takut pria psikopat itu telah berada di bak pikap ini, aku berpikir apa yang harus ku lakukan.
“Kak Mia.” panggil ku berseru.
Kakak Mia menoleh dengan wajah terganggunya.
“Kita harus turun dari sini, pria psikopat itu ada di belakang kita.” kataku menarik-narik kaos bagian lengannya.
Dengan satu sentakan, genggaman ku terlepas dari lengan kaosnya.
“Pakai mobil lebih bagus,” jawab kak Mia singkat, membuat ku terheran.
“Kak..! Dia di bak pikap kita!!” teriak ku frustrasi sambil melirik-lirik ke belakang.
“Ck! Dari mana Kau tahu? Tst.. Kalau ingin pergi, pergilah.” kata kakak Mia sebal.
Sebenarnya aku marah, tapi aku terlalu banhak ditolong olehnya. Tak mungkin aku begitu tak tahu diri.
“Kak, sungguh. Ayo kita melompat dari pikap dengan kondisi pikap masih berjalan. Dia tidak mungkin bisa mengejar kita.” bujuk ku sudah bersiap-siap tuk membuat pintu mobil.
“Ya, kalau ingin lompat, melompatlah. Jaga diri mu.” kata kak Mia benar-benar tak peduli.
Aku terdiam, menimbang-nimbang apakah benar aku harus pergi tanpa kak Mia yang sudah menolong ku ini?
“Kak, hati-hati.” ujar ku lalu segera membuka pintu mobil dan tanpa ragu lagi meloncat jatuh dengan laju mobil yang cukup sangat cepat.
Terguling-guling dahulu sebelum aku benar-benar bisa terduduk seperti sekarang, dengan mata kepala ku sendiri aku melihat pria botak psychopath itu sedang duduk bersandar di kepala mobil, kedua tangannya tengah memegang celurit yang ia tegakkan bersandar ke dadanya. Perlahan dari kejauhan ia tersenyum miring pada ku dan melambaikan tangannya pada ku.
Aku terdiam, terhenyak. Selanjutnya, apa yang terjadi pada kakak Mia?
Aku bangkit berdiri, mencoba memasuki hutan yang lebat ini.
Aku terus berjalan hingga menemukan sebuah sungai, aku duduk di bibir sungai itu dan mulai meminum air tawarnya. Perlahan, tanpa sadar buliran air mata turun dengan lembutnya menuju pipi ku.
“Kak Nina, Ibu dan kak Ita. Kalian di mana?” tanya ku bergumam seraya mendongak melihat banar gunung besar dan tinggi yang berada di depan ku ini.
“Kak Mia, aku sudah mendapat tempat yang cocok. Sekarang Kau bagaimana?” tanya ku lagi lirih dengan semakin banyaknya air mata yang aku hasilkan.
×××××
×××××
[ Selesai ]