Apa cinta itu egois... mungkin iya.... apa cinta akan memberikan kebahagiaan... tentu saja...
Apa jadinya jika cinta terjadi di dunia maya... tanpa memandang status... tak pernah bertemu... dipisahkan oleh jarak...
Apa jadinya juga... jika sang pencinta... adalah seorang yang sudah bersuami... jatuh cinta dengan pria yang jauh lebih muda terpaut 12 tahun....
Hai... Namaku Luna... aku seorang wanita yang sudah menikah usiaku 38 tahun, seorang ibu memiliki 3 orang anak lulusan Akademi Keperawatan.
Menikah dengan Aksa usia 38 tahun sorang Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ASN non PNS.
Awal pernikanku banyak sekali suka duka, menikah diusia yang masih sangat muda kala itu, ya usia 21 tahun.
Membuat biduk rumah tangga kami diwarnai percekcokan hanya karena masalah sepele, masalah pekerjaan... masalah a.nak... masalah.. ekonomi.
Pernikahan berjalan hampir 17 tahun... bertahan demi anak anak itulah yang membuat kami bertahan... mengalahkan ego masing masing.
Di tahun tahun terakhir Aksa berubah... dari sikap maupun tutur kata. Itu semua berawal dari masalah anak yang berpengaruh dengan masalah ekonomi tentunya.
Aku memupus cita citaku untuk bekerja, semua aku korbankan untuk merawat anak anak dan suami tentunya...
Lambat laun keadaan ekonomi kacau... aku mencari pekerjaan yang bisa dikerjakan dirumah... sembari mengawasi ketiga anakku. Berbagai usaha kami coba... sampai akhirnya banyak sekali hutang karena usaha yang bangkrut, tanah, mobil terjual... karena aset kami cuma itu.
Sekarang aku bekerja sebagai freelance dibidang asuransi kesehatan milik pemerintah bagian penagihan.
Semua itu demi mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.
Perubahan Aksa sangat tidak wajar... kata kata kasar selalu ia lontarkan ketika sedang marah... bahkan pukulan pukulan bertubi tubi sering aku dapatkan.
Tanpa sepengetahuan anak anakku tentunya.
Hanya karena hal sepele... semua itu berawal dari ketidaksengajaan seseorang yang menelponku.
Maklum... sebagai seorang yang bekerja
sebagai reminded call aku banyak menyimpan nomor peserta asuransi bahkan ribuan nomor.
Alasan cemburu buta mungkin itu yang membuatnya marah.
Tapi itu tidaklah wajar... sewaktu anak kami kecil pun dia sering memukulku.
Kali ini pukulannya tidak main main, sebelah telinga gendang telinga kiriku robek.
Over protektif itulah yang aku rasakan... aku tidak pernah bergaul dengan teman temanku... maupun ibu ibu dilingkungan rumah... semua serba dibatasi... bahkan hubunganku dengan adik dan orang tuaku pun renggang, jangan kan pergi menengok mereka sekedar telepon pun ia larang.
Aku menangis dalam diam, ingin rasanya berlari tapi aku ingat anak anak, mereka masih membutuhkanku.
Aku tidak boleh egois. Tak sengaja ku membuka akun media sosialku... di Facebook, aku berteman banyak orang disana... dari berbagai negara tentunya...
Sungguh mudah saat ini untuk menjalin pertemanan apalagi teknologi semakin canggih.
Dengan kemampuan ku berbahasa Inggris sangatlah mudah untuk berkomunikasi dengan teman berbagai belahan dunia.
Pesan pesan messenger selalu aku Terima.... meskipun hanya ucapan say hello tentunya...
Itupun sudah membuatku bahagia... setidaknya ada teman ngobrol... itupun aku lakukan disela sela pekerjaanku... karena pekerjaan ku bisa aku handle dari rumah.
Hari demi hari aku nyaman dengan akun Facebook ini... dunia maya... tetaplah dunia maya... tak akan ada yang pasti... tak ada yang serius...
Sampai ada salah satu akun Facebook yang membuatku tertarik.
Aku melihat di akunnya dia sebagai dokter... sebut saja namanya Isfhag.
Dialah yang mengirimiku notifikasi pertemanan. Aku membaca profile nya sekilas setelah sebulan lebih aku mengkonfirmasi. Ia pun menyambutnya dengan suka cita...
Perkenalan... obrolan... obrolan... ringan
mulai kami lakukan...
Tertawa... tentunya... ada rasa kehilangan jika tak ada pesan... baik pagi... siang... malam.
Aku tak pernah menyembunyikan identitas ku, aku jujur... ia pun tak keberatan. Dan aku pikir ia bercanda akan profesinya, umurnya...
Media social banyak penipuan... itu yang ada di mindset aku saat ini...
Aku tak habis pikir jika aku berteman dengannya yang terpaut umur 12 tahun.
Aku mulai merasa nyaman... berbagi cerita dengannya.. mulai dari masalah pekerjaan... masalah rumah tangga tentunya... aku masih jaga image donk...
Kebiasaan candaan... kami lontarkan... sampai suatu hari ia menyatakan perasaannya terhadapku..
Aku tertawa tentunya... dengan usiaku yang tak lagi muda ditembak layaknya anak remaja... oh... aku pun bercanda...
Ohhh ternyata dia serius... pernah suatu ketika aku menanyakan benarkah dia seorang dokter...
Marah tentunya... aku meragukan profesinya... dia mengirimiku ijazah... atau bukti jika dia benar benar seorang dokter...
Dan saat ini ia sedang menyelesaikan kuliah lagi untuk gelar PhD.
Apapun ia lakukan supaya aku percaya... kartu ujianpun kirim ke aku...
Biar aku lebih percaya... nyaman itulah yang aku rasakan jika bercerita dengannya tidak lebih...
Aku selalu memberikan nasehat untuk nya tentang masa depannya... aku juga tidak ingin menghancurkan masa depannya..
Aku tahu diri siapa aku... aku bukanlah wanita single... aku wanita bersuami...
tak pantas jika aku menyimpan perasaan terhadapnya apalagi mencintainya.
Seberapa besar penderitaan yang aku alami baik batin maupun fisik aku telah rasakan...
Aku memenuhi kebutuhan hidupku dari penghasilanku sendiri... seberapa besar penghasilan ku bagi Aksa tidak pernah dia gubris... baginya aku hanya parasit yang hidup dengannya... baginya semua uang yang aku dapatkan adalah miliknya... dialah sang kepala rumah tangga sekaligus bendahara keluargaku
Bagaimana tidak semua ATM ku dia yang pegang Semua hasil jerih payahku selalu ia yang mengatur. Semua pengeluaran. Tak sepeserpun uang tersisa di akhir bulan... bahakan sering juga minus.
Apakah cintaku egois... semua pengorbanan yang aku lakukan tak ada nilainya...
Aku mencoba melarikan diri dari masalah...
apa aku salah jika aku mencari kebahagiaan ku sendiri... aku mencari seseorang yang bisa mengurangi bebanku...
Aku merasa nyaman jika dengan dr Isfhag. ia menutup mata akan situasiku saat ini...
Bahkan ia berjanji akan selalu ada untukku baik saat bahagia maupun sedih...
Dr. Isfhag lah yang menjadi teman curhatku segala uneg uneg yang aku pendam aku selalu ceritakan dengannya..
Dr Isfhag tidak pernah mempedulikan akan statusku. Hari hariku masih bersamanya... bahkan jika ia nantinya akan menemukan pendamping hidup yang lebih muda.. single... aku tetap akan mendukungnya.
Untuk saat ini aku sungguh egois... mencintai seseorang... yang jauh lebih muda...
Salahkah cinta yang hadir diantara kami...
apakah ini bagian dari takdir... aku tidak tahu
untuk saat ini aku benar benar menikmatinya...
Dr. Isfhag ... cinta tidak akan pernah mati kapanpun... dimanapun... kepada siapa
Itulah kata kata yang selalu ia lontarkan kepadaku... tiap saat ketika aku bersedih...
Apa aku salah... dengan keputusan ku saat ini... aku tidak tahu... kami sama sama nyaman menjalaninya...
Cinta Dunia Mayaku...