Apakah cinta sejati itu benar-benar ada? Inilah yang selalu Galang cari tahu. Dalam pencariannya itu, Galang beberapa kali berusaha mendekati wanita. Namun selalu saja ada halangan dan rintangan ketika dia ingin melanjutkan hubungannya itu kearah yang lebih serius. Padahal pada usianya saat ini dia tidak ingin bermain-main lagi. Galang ingin mendapatkan sosok wanita yang dapat menemaninya dalam kondisi apapun.
Pacar pertama Galang adalah Risma. Risma adalah teman SMA nya. Risma adalah sosok wanita yang mudah cemburu. Galang mencoba untuk memahami itu. Dia berfikir jika Risma cemburu padanya karena dia sangat mencintainya. Mereka menjalin hubungan selama 6 bulan. Hingga pada suatu saat kecemburuan Risma sudah melewati batas wajar. Sehingga hubungan merekapun berakhir.
Setelah putus dari Risma, Galang sempat memilih untuk sendiri dalam beberapa waktu. Kenangannya bersama Risma sedikit sulit untuk dilupakan. Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan Mutia. Mutia adalah seorang wanita yang anggun. Mutia adalah teman satu angkatan, satu jurusan, dan satu kampus Galang. Mereka memang sering bertemu. Tetapi Galang tak pernah memperhatikan keberadaan Mutia. Tapi kali ini berbeda, Mutia mampu menarik perhatiannya. Melihat senyum Mutia yang begitu lembut membuat hati Galang merasa sejuk. Galang mulai merasakan getaran cinta, namun Galang menolaknya.
Semakin lama Galang menolak perasaannya justru Galang semakin penasaran. Setiap saat dia memperhatikan Mutia dari kejauhan. Berusaha mencari alasan kenapa hatinya kali ini memilih Mutia. Hingga tanpa dia sadari tingkah laku anehnya itu terlihat oleh teman dekatnya Dito.
“elo kenapa sih Lang? Gue lihat beberapa hari ini elo selalu memperhatiin Mutia. Apa elo suka sama Mutia?” tanga Dito ingin tau.
“apaan sih elo Dit. lagian siapa yang merhatiin Mutia.” Jawab Galang mengelak.
“udahlah Lang elo gak usah bohong sama gue. Gue tuh tau elo, udah jujur aja sama gue.” Paksa Dito memojokkan Galang.
“emang kenapa kalau gue suka sama Mutia?” tanya Galang mulai geram dengan pertanyaan Dito.
“tu kan elo ngaku juga. Wah sekarang selera elo berubah ya? Gue fikir selama ini elo suka tipe cewek yang seksi gitu. Sedangkan Mutia dia itu cewek yang lemah lembut, ramah, sopan, dan jilbaber.” Kata Dito mencoba mengejek Galang.
“emangnya salah ya kalau gue suka sama Mutia.” Sahut Galang membela dirinya.
“enggak sih, tapi aneh aja gitu. Tapi gak papa Lang gue dukung. Mungkin Mutia adalah cewek yang elo cari selama ini. Udah mikir apa lagi deketin dia.” Kata Dito sembari mendorong-dorong tubuh Galang.
“elo kenapa sih Dit, ya gak mesti hari ini juga kan. Lagi pula gue masih ragu. Belum tentu Mutia mau temenan sama gue?” jawab Galang dengan ragu.
“belum juga di coba udah nyerah aja elo Lang.” Sahut Dito memanasi.
“bukan gitu Dit gue Cuma ngerasa gak pantes aja buat dia. Elo lihat sendirikan gue sama dia itu beda banget Dit.” Kata Galang merendakhan diri.
“justru karna berbeda itu Lang. Jadi kalau kalian bersama bisa saling melengkapi.” Kata Dito mencoba menyemangati Galang.
“sudahlah Dit..” lanjut Galang yang kemudian beranjak pergi.
“jangan lari dari kenyataan Lang. Jangan pungkiri hati elo.” Kata Dito sedikit berteriak pada Galang.
Sementara itu Mutia yang menyadari Galang yang selalu memperhatikannya pun mulai merasa tidak nyaman. Bukan merasa terganggu dengan keberadaan Galang. Melainkan sejak saat itu setiap kali Mutia berpapasan dengan Galang membuat jantungnya berdegub kencang. Seolah ada sesuatu didalam hatinya.
“astagfirullah hal adzim...” gumam Mutia mengelus dadanya saat meliat Galang yang duduk di depannya.
“ya Allah jangan biarkan perasaan ini menjadi alasan untuk hamba melupakan dan melalaikan apa yang kau larang dan apa yang kau perintahkan.” Kata Mutia yang merasa tidak nyaman dengan perasaannya.
“apa mungkin perasaan ini yang dinamakan cinta??” tanya Mutia pada dirinya sendiri.
“astagfirullah... sadar Mutia sadar...” lanjut Mutia lagi beristigfar.
“ya allah jagalah hati hamba agar hamba tidak memiliki perasaan yang tidak seharusnya ada dalam hati hamba.” Kata Mutia lagi yang kemudian pergi mejauh dari Galang.
Beberapa minggu kemudian Galang menghampiri Dito dengan wajah sumringah.
“elo kenapa sih Lang keliatannya seneng banget?” tanya Dito mulai penasaran.
“gue kemaren ketemu sama Loli, elo kenal Loli kan?” jawab Galang dengan menggebu-gebu.
“Loli adik tingkat kita maksud elo?” tanya Dito lagi.
“iya dia. Ternyata kalau dilihat dari dekat dia cantik juga ya Dit.” Kata Galang memuji Loli.
“maksudnya sekarang kamu suka sama Loli?” tanya Dito tak percaya.
“mungkin.” Jawab Galang singkat sembari tersenyum.
“bukannya Loli itu keliatannya judes ya Lang?” tanya Dito lebih dalam.
“keliatan dari wajahnya sih gitu. Tapi sebenernya dia orang yang fun kok. Dia juga orangnya suka bercanda. Makanya Dit jangan suka menilai orang dari luarnya aja dong.” Jawab Galang membela Loli.
“iya deh orang kalau sedang jatuh cinta memang selalu merasa bener. Terus masalah Mutia tempo hari gimana, semudah itu elo berpaling?” tanya Dito lagi bingung.
“kenapa sih elo bahas dia lagi. Waktu itu kan gue Cuma biLang suka sama dia bukan cinta. Kalo suka itu beda sama cinta. Suka itu tandanya kagum kalo cinta ya cinta.” Jawab Galang membela diri.
“ya terserah elo aja deh yang penting elo bahagia.” Lanjut Dito.
Setelah itu Galang mulai menjalin hubungan dengan Loli. Galang yang merasa yakin dengan Loli berharap bahwa Loli yang akan menjadi pelabuhan terakhir cintanya. Namun takdir berkata lain, semakin jauh hubungan mereka berdua justru semakin tidak harmonis. Loli merupakan cewek posesif membuat Galang mulai tidak nyaman. Bagaimana tidak setiap menit bahkan detik Galang harus memberi kabar kepada Loli. Bahkan setiap kali Galang akan pergi pun harus izin pada Loli terlebih dahulu. Sekali saja Galang tidak izin Loli akan sangat marah sampai berhari-hari. Berbagai cara sudah Galang lakukan untuk membuat Loli berubah. Tapi memang sudah menjadi sifat Loli seperti itu. Sehingga sekuat apapun Galang berusaha tak juga bisa merubah sikap posesif Loli. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Tak sampai disitu setelah Loli, kini Galang mencoba mendekati mahasisiwi kebidanan yang bernama Masayu. Awalnya Galang merasa tidak percaya diri. Namun melihat respon dari Masayu, Galang menjadi yakin bahwa Masayu dapat menerimanya. Semakin lama pertemanan mereka semakin dekat. Bahkan saat ini mereka lebih sering bertemu. Mereka sering terlihat pergi bersama. Hanya sekedar untuk jalan-jalan atau pun pergi menemani Masayu untuk mencari keperluan kuliahnya. Memang umur Masayu masih dibawah Galang. Namun sikap dewasanya membuat Galang merasa nyaman. Hingga Galang memutuskan untuk menembak Masayu.
“hai Yu.” Sapa Galang menghapiri.
“hai kak, o iya ada apa kak kok ngajak Ayu ketemuan?” tanya Masayu penasaran.
“ada sesuatu yang mau kakak omongin. O iya ngomong-ngomong ini siapa?” kata Galang balik bertanya menunjuk pria disamping Masayu.
“o iya lupa Ayu belum pernah kenalin kakak sama kak Beny ya. Kenalik kak ini kak Beny pacar Ayu.” Jawab Masayu. Betapa terkejutnya Galang mendengar jawaban dari Masayu.
“o dia pacar kamu, kok kakak gak pernah ngeliat dia ya di kampus kamu?” tanya Galang lagi sedikit tak percaya.
“o iya jelas aja kak kami beda fakultas. Kak Beny ini anak fakultas kedokteran. Jadi kakak pasti gak pernah liat. O iya tadi katanya mau ada yang diomongin ada apa kak?” kata Masayu merubah topik pembicaraan.
“o... ini kakak Cuma mau ngomong kalau kakak mau ngajakin makan siang besok sama temen-temen kakak sekalin Beny juga boleh ikut kok.” Jawab Galang mencari alasan.
“aduh sory banget ya kak, besok Ayu udah ada janji sama kak Beny mau main kerumahnya kak Beny. Kalau lain hari aja gimana kak?” sahut Masayu menolak.
“o gitu, ya udah deh gak papa. Kalau gitu kakak pergi dulu ya.” Kata Galang berpamitan.
“buru-buru amat Lang?” sahut Beny bertanya.
“iya nih soalnya masih ada urusan lain. Sory ya Ben gua duluan.” Jawab Galang bergegas pergi.
“oke.” Jawab Beny singkat. Masayu hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah hari itu Galang sangat jarang bertemu dengan Masayu lagi. Galang menyalahkan dirinya sendiri untuk kejadian itu. Dia merasa terlalu berlebihan menaggapi perhatian Masayu selama ini.
Setelah kejadian-kejadian yang terus membuatnya patah hati. Kali ini Galang mulai menyerah untuk mencari cinta sejati. Menurutnya cinta sejati itu tidak pernah ada. Semuanya hanyalah omong kosong sebuah dongeng tentang tuan putri dan pangerannya. Pada dunia nyata semua kisah dalam dongeng tersebut tak pernah terjadi.
Kini Galang hanya ingin fokus pada kuliahnya. Dia ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Berkat usahanya itu Galang akhirnya lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Meski tidak cumlaude, tapi dia memiliki nilai yang tinggi.
Setelah lulus dari kuliah Galang kembali penasaran apakah cinta sejati itu ada? Apa iya di dunia ini kisah romeo dan juliet tentang kesetiaan itu ada? Namun kali ini dia tidak ingin salah langkah. Galang memasrahkan semuanya pada Allah. Dia akan menerima siapapun yang telah Ditakdirkan Allah untuknya.
Beberapa bulan berselang tanpa diduga dia bertemu kembali Mutia. Setelah sekian lama tak bertemu. Kini mereka dipertemukan kembali di sebuah masjid tak jauh dari tempatnya bekerja. Entah hanya kebetulan atau memang sudah menjadi takdirnya.
“Mutia!!” sapa Galang yang melihat Mutia didepannya.
“Galang.” Kata Mutia merasa terkejut.
“kamu disini?” tanya Galang.
“iya tadi aku kebetulan lewat pas adzan dhuhur jadi aku mampir untuk sholat. Kamu disini....” kata Mutia.
“oh... aku kerja didekat sini.” Sahut Galang.
“oh gitu. Sekarang udah jadi orang sukses lah ya.” Kata Mutia tersenyum kecil.
“ah... masih merintis kok Mut. O iya kamu kerja dimana sekarang?” tanya Galang kemudian.
“aku baru membuka usaha sih. Ya mencoba peruntungan.” Jawab Mutia.
“oh ya usaha apa?” tanya Galang penasaran.
“cake dan cookies.” Jawab Mutia singkat.
“wah berarti kamu pintar membuat kue dong?” tanya Galang lagi memuji Mutia.
“gak juga sih baru belajar juga. Emm…Aku duluan ya Lang.” Kata Mutia berpamitan.
“ o iya.” Jawab Galang singkat.
Galang tak ingin berfikir terlalu jauh tentang pertemuan mereka. Dia hanya berharap jika Mutia adalah jodohnya maka mereka akan dipertemukan kembali suatu saat nanti. Sama seperti Galang, Dito pun memiliki pemikiran yang sama. Bahkan ketika Galang menceritakan pertemuannya dengan Mutia, Dito Langsung menyudutkan Galang untuk mencoba berta'aruf dengan Mutia.
Ternyata semua harapan Galang terjawab di bulan Ramadhan ini. Tepat dihari ketiga Ramadhan Galang kembali bertemu dengan Mutia di masjid dekat rumahnya dalam acara safari ramadhan. Galang tak pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi di sebuah masjid. Kemudian dengan memberanikan diri Galang menghampiri Mutia.
“assalamualaikum Mut.” Sapa Galang.
“waalaikum salam. Galang?” Jawab Mutia sedikit gugup.
“kamu ke masjid ini juga?” tanya Galang memulai pembicaraan.
“iya Lang aku diajak menginap dirumah temanku Rosni. Kamu sendiri?” Jawab Mutia singkat sembari menundukkan pandangannya.
“o kebetulan rumahku dekat sini. Jadi aku sering ke masjid ini ketika Ramadhan datang.” Jawab Galang menjelaskan.
“loh Galang, Mutia. Kalian saling kenal?” tanya Rosni yang tiba-tiba datang.
“Jelas aja aku kenal sama Mutia, Mutia ini teman kuliahku dulu.” Jawab Galang.
“o gitu. Yaudah Mut ayo kita pulang.” Ajak Rosni kemudian.
“ayok Ros.” Kata Mutia mengikuti langkah Rosni.
“aku boleh gak nganter kalian pulang?” tanya Galang menawarkan.
“mau nganter kami pulang? Boleh aja sih kami gak keberatan kok. Iya kan Mut?” Sahut Rosni memberi izin, Mutia hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Rosni.
Ditengah perjalanan Galang mencoba untuk mengatakan isi hatinya. Seolah Rosni mengetahui jika ada sesuatu yang ingin Galang katakan pada Mutia. Rosni pun berjalan lebih cepat dari mereka dan meninggalkan Galang dan Mutia.
“Rosni tungguin aku dong.” Kata Mutia yang melihat Rosni berada di depannya.
“tunggu Mut, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kata Galang menahan laju Mutia yang ingin menyusul Rosni.
“ada apa Lang?” tanya Mutia sembari menunduk.
“mungkin apa yang akan aku katakan ini menurutmu sesuatu yang aneh. Tapi aku hanya tidak ingin menyimpan semuanya sendiri Mut. Sebenarnya aku sudah sejak lama menyukaimu.” Kata Galang membuat Mutia sangat terkejut, sampai-sampai Mutia menghentikan langkahnya.
“maksud kamu Lang?” tanya Mutia dengan bingung.
“aku ingin ta'aruf sama kamu. Itu juga kalau kamu mengizinkan. Aku tak ingin memaksamu Mut. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh lagi. aku ingin menjadi temanmu.” kata Galang penuh harap.
“aku tidak pernah memilih teman Lang. Kalau hanya sekedar menjadi teman aku sudah menerimamu sebagai temanku sejak dulu. Tapi untuk menjalin ta'aruf biarkan saja waktu yang menjawabnya Lang. Aku tidak menolak dan tidak juga menerima ta'arufmu. Aku hanya ingin semuanya berjalan sesuai alurnya.” Jawab Mutia dengan sedikit gugup.
“baiklah, boleh aku meminta nomor telefonmu?” tanya Galang lagi. Tanpa berkomentar Mutia memberikan nomernya pada Galang.
Setelah malam itu, Galang dan Mutia semakin sering berkomunikasi. Banyak hal yang mereka ceritakan. Tentang pekerjaan, kejadian di kantor bahkan setiap hal yang terjadi selalu mereka bagi. Semakin lama Galang semakin yakin bahwa Mutia adalah wanita yang dicarinya selama ini. Galang merasa hubungan yang dijalinnya dengan Mutia berbeda dengan yang pernah dia jalani sebelumnya. Kali ini dia merasa lebih nyaman dan lebih tenang.
Hingga pada akhirnya Galang memutuskan untuk mengkhitbah Mutia. Dia ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi. Dia ingin menjadikan Mutia sebagai muhrimnya. Dihari ke-26 ramadhan ini, Galang menghampiri Mutia ke toko keunya.
“assalamulaikum Mut, boleh aku minta waktumu sebentar saja?” sapa Galang ketika menghampiri Mutia.
“waalaikum salam. Tentu saja bolah Galang. Ada hal penting apa sampai kamu datang ke tokoku? Ayo duduk.” tanya Mutia penasaran sembari mengajak Galang duduk.
“aku ingin mengatakan hal yang sangat serius padamu Mut.” Kata Galang dengan serius.
“katakan saja Lang.” Sahut Mutia semakin penasaran.
“Mutia aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Aku tidak ingin kau selalu menundukkan pandanganmu dariku. Aku ingin menjadikanmu halal bagiku. Mutia aku ingin mengkhitbahmu, aku ingin menjadikanmu istriku.” Kata Galang dengan tegas. Mutia sangat terkejut dengan perkataan Galang. Hingga Mutia tak dapat mengeluarkan sapatah katapun.
“Mut, kenapa kamu diam? Baiklah kamu tidak harus menjawabnya hari ini. Aku mengerti ini terlalu cepat bagimu.” Lanjut Galang dengan nada sedikit merendah.
“datanglah kerumahku bersama orangtuamu. Ungkapkan niatmu itu pada ayah dan bundaku. Insyaallah aku akan menjawabnya pada hari itu.” Sahut Mutia tiba-tiba membuat harapan Galang kembali muncul.
“baiklah Mut, aku pasti akan segera menemui orangtuamu. Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum.” Kata Galang kemudian berpamitan sembari tersenyum bahagia.
“waalaikum salam. Hati-hati Lang.” Jawab Mutia ikut tersenyum kecil. Setelah Galang pergi Mutia tak henti tersenyum bahagia. Dia sangat senang mendengar Galang mengungkapkan perasaannya tadi.
Pada hari terakhir ramadhan atau tepat pada malam takbir Galang datang kerumah Mutia bersama orangtuanya. Sebelumnya Galang telah mengutarakan niatnya kepada orangtuanya. Kedua orangtuanya pun mendukung keinginan Galang. Setelah bertatap muka dengan orangtua Mutia. Papa Galang yang mewakili Galang menyampaikan lamarannya. Awalnya ayah dan bunda Mutia terkejut. Kemudian orangtua Mutia menyerahkan sepenuhnya keputusan pada putrinya.
“bagaimana nak jawabanmu? Ayah tidak bisa menentukan jawabannya tanpa persetujuanmu. Apakan kamu siap menjalani biduk rumah tangga dengan nak Galang?” tanya ayah Mutia.
“bunda dan ayah berharap semua keputusanmu adalah yang terbaik sayang. Apa pun keputusanmu ayah dan bunda akan selalu mendukungmu.” Lanjut mama memberi arahan pada Mutia.
“Bismillahirrohmanirrohim. Insyaallah Mutia siap yah, Mutia menerima Galang sebagai imam Mutia.” Jawab Mutia dengan lembut sembari menunduk.
“Alhamdulillah.” Kata mereka hampir bersamaan. Betapa senang dan leganya Galang mendengar jawaban Mutia. Terasa semua beban yang ada di hatinya lenyap. Akhirnya kali ini Galang mendapatkan sebuah cinta dari wanita yang sangat spesial. Wanita yang telah mengubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Setelah semua keperluan pernikahan Galang dan Mutia siap. Mereka segera melaksanakan ijab qobul. Berkat ridho dari Allah SWT semua acara berjalan lancar. Kini Mutia telah sah menjadi istri Galang. Kini Mutia tak lagi harus menundukkan pandangannya pada Galang. Mereka menjalani kehidupan mereka sesuai syariat yang telah Ditentukan. Galang menjalankan tugasnya sebagai suami dan Mutia pun menjalankan tugasnya sebagai istri. Setelah menikah mereka memutuskan untuk tinggal sendiri.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Bulan ramadhan kembali datang. Pada sahur pertama Galang merasa sangat bersyukur. Pada bulan ramadhan kali ini dia telah ditemani oleh seorang wanita yang sangat istimewa. Istri yang selama ini Galang impikan.
“alhamdulillah di bulan ramadhan ini kita sudah bersama sayang. Aku sangat bahagia apalagi dengan calon keluarga baru yang akan segera hadir diantara kita.” Kata Galang menghampiri Mutia yang sedang menyiapkan sahur untuk mereka sembari mengelus perut Mutia yang sedang hamil 5 bulan.
“alhamdulillah mas aku juga sangat bersyukur memiliki suami sepertimu.” Jawab Mutia memuji suaminya.
“tidak sayang aku yang sangat beruntung bisa mendapatkanmu.” Sahut Galang tersenyum.
“ayo kita sahur mas, makanannya sudah siap.” Ajak Mutia.
“ternyata benar ya kata kebanyakan orang. Bulan ramadhan itu selalu membawa keberkahan. Buktinya di bulan ramadhan tahun lalu aku mendapatkan dua cinta sejatiku secara bersamaan.” Kata Galang sembari memegang tangan istrinya.
“dua cinta sejati maksudnya?” tanya Mutia tak mengerti.
“iya cinta yang pertama adalah cintaku kepada Allah. Dibulan ramadhan lalu aku menjadi orang yang lebih khusuk dalam beribadah. Aku juga menjadi lebih dekat dengan Allah. Sungguh itu adalah nikmat yang sangat indah. Lalu cinta yang kedua aku dapatkan dari bidadariku yang selalu menemani langkahku dan selalu mengingatkanku agar selalu bejalan pada jalan yang benar. Terimakasih ya Mutia, kahadiranmu dalam hidupku mampu mangubah semuanya menjadi lebih baik. Aku menjadi orang yang lebih banyak bersyukur berkat dirimu.” Kata Galang menjelaskan.
“semua ini bukan karna aku mas. Tapi semua ini berkat tekatmu yang kuat untuk lebih dekat dengan Allah.” Jawab Mutia.
“sungguh aku sangat mencintaimu Mut. Aku mencintaimu karena Allah. Aku ingin selalu mencintaimu seperti itu. Teruslah disisihku Mut.” Sahut Galang memeluk Mutia dengan hangat.
“aku juga sangat mencintaimu mas.” Jawab Mutia singkat dalam pelukan Galang.
“terimakasih ya Allah kau telah menyatukan kami dalam ikatan yang kau ridhoi. Insyaallah aku akan selalu menjaga amanat yang kamu berikan padaku. Aku akan selalu menjaga istri dan anakku dengan baik.” Kata Galang penuh bersyukur.
“yuk sahur keburu imsak.” Kata Mutia kemudian.
“Ayuk.” Sahut Galang kemudian mengecup kening istrinya. Lalu mereka bergegas untuk bersantap sahur.
Akhirnya pencarian cinta Galang berakhir pada Mutia. Cinta yang dulu pernah tak dihiraukannya justru dialah yang menjadi cinta sejatinya. Cinta yang dulu dianggapnya hanya sebuah rasa sesaat justru cinta itu yang menjadi kekal dihatinya. Cinta yang akan mampu membuatnya merasa bahagia. Cinta yang membuatnya semakin semangat menjalani kehidupan. Semuanya dia dapatkan dari sosok Mutia. Wanita yang sangat dicintainya.