Adrian Ceferense Sylver.
Ia beranjak dari kelasnya, 12 IPA 1,
Ia sebenarnya muak berada di kelas itu.
Walau begitu ia tetap menghormati kedua orang tuanya yang dengan susah payah menyekolahkannya.
Adrian dikenal sebagai murid yang Genius.
Selalu meraih penghargaan baik itu dalam bidang Akademik maupun Non akademik, banyak guru yang mengaguminya maupun tak sedikit pula siswa siswi yang iri dengannya.
Sebenarnya Adrian tak minat mengikuti apapun itu, ia hanya ingin membuat orang tuanya senang dan bangga.
Itu terbukti setelah ia memenangkan piala juara 1, papanya dan mamanya senang dan memujinya.
Ia jadi penasaran bila tidak pintar, apakah orang tuanya tetap menayayanginya?
Entahlah, hanya Papa dan Mamanya lah yang tau.
☆☆☆
Tepat pada hari ini, Adalah hari terindahnya, ia akan lulus dari sekolah menyebalkannya hari ini, Huh bila sebenarnya ia sangat muak berada di dalam keramaian.
Lelaki itu membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar, ia tau pasti itu dipenuhi celotehan teman teman menyebalkannya itu, tapi ia tak peduli.
Chat💬
PENGANGGURAN KAYA!
Evanganss telah memperbarui group menjadi PENGANGGURAN KAYA!
Evanganss:
gimana guys!
Grupnya udh gw ganti.
Izin!✔✔
Elangwafee:
Lo gimana sih curut.
Lo yang buat eeehh lo juga.
Yang ubah..Aneh!✔✔
Genovvarrttss:
Dmn Rian?✔✔
Adrn.ense:
Sorry, nnti gw tlt.✔✔
Genovvarrttss:
Oh ok, Sans.✔✔
Evanganss:
lo berdua ngomong apaaansi
gak ngerti gue sumpah✌🏻✔✔
Elangwafee:
Jangankan lo gue juga.
Tapi nggak usah heran kan namanya
juga Es berjalan.✔✔
Back.
Adrian masih fokus ke dalam benda pipih itu sebelum menaruh kembali ke dalam saku sekolahnya.
Yapp!
Ia sedang dalam perjalanan menuju sekolah untuk terakhir kalinya, ia berharap bisa lulus dengan tenang aman dan tentram tentunya.
Untuk ukuran lelaki yang dingin, cuek, dan irit bicara sama sepertinya, suasana hening dan tenang saja membuat ia senang bukan main.
Adrian menyenderkan kepalanya pada landasan kursi mobil sambil memejamkan matanya, ia sedang di mobil bersama sopirnya yang sering di sebut pak 'Anto' olehnya,
Tapi sayangnya ada saja yang mengganggu waktunya seperti sekarang ini.
TOK.
TOK.
Adrian mengernyit kesal, dengan orang yang menganggu ketenangannya.
TOK.
SIALAN!
Makinya dalam hati.
TOK.
Kalau sampai ada yang mengetuk kaca mobilnya sekali lagi maka dia akan marah.
TOK.
TOK.
TOK.
CUKUP SUDAH!
Adrian segera memencet tombol untuk menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Sang pengetuk langsung menatap Adrian dengan cengiran khas-nya.
"Ehh, Rian! Udah nyampe nih, nggak kangen apa sama babang Evan yang ganss ini?" wajah lelaki bernama Evan itu sungguh menjengkelkan bagi Adrian, apalagi cengiran bodoh milik nya itu.
Hah.
Ia menahan amarahnya, bagaimanapun Evan adalah sahabatnya.
"Knp?"
serunya malas sambil merotasikan matanya.
"Elah.. Jangan datar datar juga!"
Evan mempoutkan bibirnya ngambek dengan Rian.
Sedangkan Rian yang melihatnya hanya bergidik jijik dengan Sahabat sengkleknya yang satu itu.
"Ehh lo ngapain ganggu Eren aja!" tiba tiba ada seorang lelaki yang merangkul Evan akrab, ia sahabatnya juga, Elang.
"Jngn pnggl gw Eren." Adrian menatap Elang datar yang dibalas senyum tengil Elang.
"Sensi amat si Ren," Elang menaik turunkan alisnya.
Sedangakan Genova hanya menyimak sesekali membuang napas lelah mengahadapi keduanya.
☆☆☆
Tiba saatnya penyerahan raport, kepala sekolah selaku yang bertanggung jawab mulai buka suara.
Halaman sekolah hari ini dijadikan sebagai acara kelulusan kelas 12, sebenarnya yang diundang hanyalah orang tua wali, murid kelulusan yang bersangkutan, dan juga anggota Osis.
Tapi masih saja ada adek kelas yang ikut, 'katanya sih biar rame' padahal malah jadi beban.
Anggota Osis pasti sudah berusaha keras merangkai desain, maupun panggung yang sudah dihias dengan berbagai macam pernak pernik.
"Baiklah, hari ini adalah hari kelulusan kelas 12, terimakasih kepada para wali orang tua yang hadir dan terimakasih juga pada murid maupun walas yang hadir, hari ini saya akan membagikan nilai rata rata murid yang mendapat nilai tertinggi selama di sini. Baiklah kita panggil.." Kepsek dengan wajah seriusnya, sesekali tersenyum formalitas sebagai pembukaan acara, memegang mikrofon dengan menenteng kertas hasil nilai para siswa kelulusan.
"Adrian Ceferense Sylver." lanjutnya dengan senyum bangga menghiasi wajah kepsek yang mulai keriput itu.
PROK..
PROK..
PROK..
Tepuk tangan riuh membahana mulai bersaut sautan mengisi acara tersebut.
Tapi ada yang aneh dengan Adrian.
Ia memegangi kepalanya yang tiba tiba saja terasa pusing dan sakit.
"Ehh, Ren lo nggak papa?" dapat dilihat raut Elang yang cemas sambil memandanginya.
"Gue...gk papa." Ia berusaha mengulas senyum tipis diwajahnya, agar memudarkan rasa khawatir Elang.
Saat berjalam menuju podium panggung, ia tiba tiba saja memberhentikan langkahnya,
Adrian merasa seluruh tubuhnya tersengat aliran listrik, seperti ada yang berusaha keluar dari tubuhnya.
Seperti di gerakkan.
Ia berbalik menatap teman temannya,
Teman temannya, Evan dan Elang yang sebelumnya tersenyum riang sambil ikut bertepuk tangan mendukungnya dengan Genova yang bersidekap tangan mengulas senyuman tipis seketika hilang digantikan Tatapan tak percaya ketiga sahabatnya.
Baju mereka yang semula rapi, menjadi terkoyak
di penuhi darah, jalan menuju podium panggung yang sebelumnya asri, dan hijau menjadi dikelilingi genangan darah.
Mata Adrian membelalak tekejut,
'Apa maksudnya?apa yang terjadi?'
Banyak pertanyaan yang bersarang pada kepalanya apa yang sebenarnya terjadi.
Terdapat tulisan darah yang lumayan mengering di lantai kabin samping lapangan bertuliskan
'I'M MAFIA'
Terus kenapa semua orang menatapnya takut, gemetar, penuh dendam, dan ketidakberdayaannya.
Semuanya penuh darah, orang tua siswa siswi pun menatapnya penuh amarah dengan baju formal yang dipenuhi darah.
Adrian merasakan tangannya lengket, ia menatap tangannya lamat sebelum membeku dengan netra hitam pekatnya menatap nanar tangannya.
Di tangannya terdapat pisau, tangan yang bermandikan darah, ia menatap sesuatu yang menetes di bagian wajahnya, mengelapnya dengan tangan kiri yang masih lumayan bersih dan melihatnya, d-darah?
Ia menggelengkan kepalanya panik,
'itu bukan dirinya!'
Apa yang terjadi, sebelumnya ia akan menerima raport dari kepsek..
Tunggu Kepsek?!
NGINGG..
kepalanya sakit, telinganya seakan tuli, mulutnya yang akan membuka suara seakan kelu.
Saking sakitnya ia mulai menjambak jambak rambutnya sendiri, memukul mukul bahkan sampai berteriak keras tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"LO PEMBUNUH!"
"EREN APA YANG LO LAKUIN?!?
itu suara Elang yang sering memanggilnya Eren?
"RIANNN!"
Suara Evan?
"AP YG LO LKUIN!"
suara si irit bicara Genova?
"ARGGHH..."
"TOLONGGG.."
"NAK RIAN APA YANG TERJADI?"
Wali kelasnya yang lemah lembut, Bu Shinta? Terdengar kecewa, tak percaya?
Bayangan bayangan mulai muncul di kepala Adrian satu persatu mulai dari ia yang menusuk Evan, Elang, Genova dll, mendorong kepsek, membenturkan kepala bu Shinta, sampai menginjak injak Wali ortu?!
SEBENARNYA APA YANG IA PERBUAT?!
DIMANA LETAK KESALAHANNYA?
SIAPA BEDEBAH SI*LAN YANG MELAKUKANNYA!
APAKAH DIRINYA....DIRINYA..
TAK MERASA...
Tiba tiba ada seseorang yang berdiri di hadapannya.
Wajahnya...wajahnya.. Sangat persis bahkan sama dengannya, juga memakai seragam sama sepertinya.
Waktu seakan berhenti, teriakan ketakutan, dan ucapan tak percaya maupun kecewa sudah tak di dengarnya lagi.
Tidak ada manusia yang bergerak sedikitpun, Adrian menatap lurus ke mata hitam pekat orang di depannya, mungkin bila ada seseorang yang melihatnya akan mengatakan mereka kembar atau satu orang yang sama.
EEH SATU ORANG YANG SAMA?!
Ia tercengang dengan pemikirannya sendiri, dirinya yang lain?
Apakah benar?
Sisi lain dirinya?!
Orang di depannya berbicara dengan nada tegas dan dingin, dengan tatapan matanya yang memicing tajam ke arahnya.
"Gue Adalah Lo, Lo adalah gue,
gue sisi lain lo, Sylver sang mafia.
I'M MAFIA!?!" Sylver menatap pemuda yang sama persis seperti dirinya menyeringai.
DENGAN KATA LAIN.
YANG MEMBUAT LAUTAN DARAH INI ADALAH DIRINYA?!
SANG MAFIA!
#Mafia
~Seira_Ojjeee