"Harusnya kita bahagia, Putri.." ucap pangeran yang memandang peti mati dengan kaca yang menampilkan sosok wanita yang selama ini telah lama ia cari, siapa lagi kalo bukan Putri Salju.
Karena merasa lelah mencari sang putri, pangeran pun mengistirahatkan badannya untuk duduk sejenak sambil memandang danau yang terbentang di hadapannya.
Kuda yang menjadi tunggangan pangeran memilih mendekati danau dan minum air danau untuk melepas dahaganya.
Pangeran duduk bersandar di bawah sebatang pohon yang tumbuh dengan daun yang rindang.. hembusan angin rupanya membawa pangeran dalam lelap.
"Maaf pangeran, kami telah lalai menjaga Putri Salju." sesal yang di utaran kurcaci tinggal lah hanya sebatas kata.
Ihiiiiiik.. iiihiiiiiik
Suara ringkikan kuda menyadarkan pangeran dari mimpi buruknya akan sosok Putri Salju, wanita yang sudah bersemayam dalam sanubari pangeran.
"Astaga, rupanya aku tertidur." pangeran bangun dari duduknya dan menghampiri kudanya yang terus bersuara.
"Tenang kawan, tenang..sudah tidak apa-apa.." ucap pangeran yang berusaha menenangkan kuda putihnya, ceritanya kuda pangeran warna putih.
Setelah kuda putih pangeran tenang, pangeran pun melanjutkan perjalanannya dalam pencarian Putri Salju dengan menunggangi kuda putih, terkesan gagah dong.
"Kemana lagi aku harus mencarimu, Putri Salju." ucap Pangeran yang telah berjam-jam, berhari-hari mencari Putri Salju tapi belum ketemu.
Hingga pangeran berhenti di depan rumah yang terbuat dari kayu tapi namun terlihat hangat dan di halaman rumah tersebut terdapat bangku kayu yang berukuran mini dengan jumlah 5 bangku dan 1 bangku kayu di buat seukuran manusia.
"Mudah-mudahan Putri Salju ada di dalam rumah ini." batin pangeran yang penuh harap.
Dengan ragu, pangeran membuka pintu rumah dan nampak ada seorang wanita yang sedang terbaring di atas kasur.
"Putri, apa itu kamu?" ucap pangeran dengan semangat mendekati wanita yang entah itu tidur atau mati?
"Akhirnya aku menemukanmu putri, bangun putri, ini aku.." ucap pangeran sambil menggenggam tangan sang putri dan bertubi-tubi memberikan kecupan di cemari sang putri.
Rupanya tindakan pangeran membangunkan Putri Salju dari tidurnya, dan dengan terkejut sang putri langsung duduk dari posisinya.
"Putri, ini aku!" seru pangeran yang langsung memeluk tubuh Putri Salju.
"Pangeran, kau kah itu?"
"Iya ini aku, Putri.. jawab aku, apa kau memakan apel pemberian dari nenek sihir?" serang pangeran yang langsung memberikan pertanyaan pada Putri Salju yang sudah melepas pelukannya.
"Tadi memang ada yang memberikan aku apel, tapi tidak aku makan, aku menyimpannya di sana --." Putri Salju menunjuk ke arah jendela tempat ia menyimpan apelnya, tapi tidak ada.
Putri menghampiri jendela itu, "Perasaan tadi sebelum aku tidur, aku menaruh apel itu di sini." jelas Putri Salju memberi tahu Pangeran.
"Jika Putri Salju tidak memakan apel beracun itu, lalu siapa yang memakannya?" tanya Pangeran yang berjalan mendekat ke arah Putri Salju.
"Apa? apel itu beracun?"
"Putri.. Putri Salju." teriakan kurcaci dari luar rumah.
Pangeran dan Putri Salju berlari keluar rumah dan menghampiri para kurcaci.
"Ada apa? kenapa kalian ribut sekali? tanya Putri Salju.
"Kera.. itu Putri.. ada kera yang mati." ujar salah 1 kurcaci.
"Apa kalian melihat apel, di dekat kera itu?" tanya Pangeran pada kurcaci.
"Sepertinya aku melihat apel di dekat kera itu." jawab kurcaci yang lain.
"Berarti benar dugaan ku, kera itu lah yang memakan apel itu." jelas pangeran.
"Aiiiih, putri kita harus merayakannya kalo gitu." ujar kurcaci yang lain.
"Untuk apa?" tanya kurcaci yang lodingnya lama.
"Untuk bersatunya Pangeran dan Putri Salju." ujar kurcaci yang pandai.
Jadi lah mereka merayakan sambil bernyanyi dan memakan buah segar..