"Saat jodoh sudah ditakdirkan, Sekuat apapun kamu ingin lepas. Akan ada cara lain untuk mengikatmu kembali. Jika kamu memiliki 100 cara untuk lari, akan ada 1000 cara untuk menjeratmu kembali."
Eza Rahman, Seorang yang bekerja disebuah pertambangan di kalimantan. Eza tinggal di sebuah Kabupaten yg mulai berkembang. Sebuah daerah yang tidak ramai namun tidak bisa dikatakan sepi juga. Namun Eza merasa tempat ini cocok untuk mengalihkan pikiranya tentang sosok yang sampai saat ini belum bisa dia lupakan.
Eza duduk dikursi taman pinggir jalan. Duduk tenang mendengarkan musik yang mengalun melalui headset, merasakan udara pagi yg menyegarkan. Pagi yang damai dengan kendaraan berlalu lalang, embun pagi juga bertebaran diudara dan menempel di dedaunan.
Sekelilingnya beberapa kelompok manusia berkumpul. Ada yang sedang membeli sarapan nasi kuning, nasi campur, nasi pecel atau makanan lain yang sedang dijajalkan sejak jam 5 subuh. Selain membeli makan, beberapa juga bercakap gembira dengan kawanya yang juga memakai setelan serupa.
Eza tetap fokus menunggu bus yang akan membawanya menuju tanah tempatnya mencari nafkah. Bahkan, Eza tidak memperhatikan sudah ada orang lain yang menempati kursi disebelahnya.
"Sudah lama ya?, apa harus mengasingkan diri sampai sejauh ini?" suara merdu wanita mengalun ke telinganya.
Eza menoleh dan menemukan sosok mempesona dengan senyum manis yang menghangatkan jiwanya. Seketika Eza mematung, seperti tidak percaya apa yang ada dihadapannya.
Pikirannya terlempar bersama dengan kehangatan tatapan mata wanita itu, membuat ingatannya kembali mengenang masa lalu.
Masa SMP
Eza memandangi gadis kecil yang sedang menangis di atas dahan pohon. Sedangkan di bawah pohon seekor anjing duduk mengawasi. Eza menghembuskan napas, merasa kasihan dengan gadis kecil itu. Dengan membawa ranting kecil, Eza mengusir anjing itu pergi kemudian berlalu pergi.
Mengetahui Eza pergi begitu saja si gadis kecil kesal. Sebenarnya dia masih memiliki sebuah masalah saat ini. Dia masih berpikir bagaimana caranya turun dari pohon ini.
Beberapa waktu berlalu, tahun ajaran baru dimulai. Eza sedang duduk bercerita sampai wajah cantik itu mulai menjeratnya dalam perangkap cinta.
Cinta monyet?, ya begitu banyak orang berkata. namun entah bagaimana perasaan itu terus bertumbuh. Saat Eza memasuki tahun ketiga, Eza secara aktif mulai mengejar gadis kecil yang saat ini bermetamorfosis menjadi gadis cantik yang sangat didambakan semua siswa laki-laki.
Manda Niara gadis cantik yang senyumnya selalu menghangatkan jiwanya. Eza sangat tergila-gila denganya. Berusaha semaksimal mungkin mengambil hatinya. Namun sikapnya padaku semakin hari justru semakin membenci Eza.
6 tahun kemudian.
Eza menyusuri lorong kampus sebelum seseorang menghadang jalannya. Wanita cantik yang selalu memancarkan aura bidadari dimatanya. Saat ini menghadang jalannya dan mencoba bicara padanya.
"Kenapa Ra?" Eza bertanya bingung.
Semua orang memanggilnya Manda hanya Eza dan orang tuanya yang memanggilnya Ara. Karena Eza dekat dengan keluarganya. Bahkan Eza rela menjadi guru private adiknya dengan gratis demi bisa dekat denga Ara. Eza rela belajar masak saat dengar dia menyukai cowok yang bisa masak. Bahkan Eza berusaha menjadi pemain basket untuk bisa membuat dia menjadi pacarnya. Padahal Eza tidak suka olah raga permainan seperti basket, sepak bola dan voli.
Namun sampai saat ini hatinya tetap tidak bergerak. Dia masih gak menempatkan Eza dimatanya. Sampai saat kemarin Eza melihat Ara dekat dengan seorang cowok yang membuatnya galau.
Ara memandangku dengan wajah ragu-ragu. Sampai akhirnya dia menghembuskan napas, sepertinya sudah membulatkan tekad untuk berbicara.
"Za, apa kamu bisa bantu sesuatu?" Ara masih ragu-ragu untuk bicara.
"Bantu apa?" tanya Eza penasaran.
"Kalahkan Dimas di lomba 3 point Shoot agustusan nanti?" kata Ara sedikit memohon.
"Emm.. gimana ya? aku juga gak bisa jamin soalnya aku sudah lama gak main basket lagi" Kata Eza dengan keraguan.
Dulu Eza memang menjadi salah satu pemain basket saat SMP. Namun, karena ada suatu hal Eza tidak ingin bermain basket lagi.
Wajah Ara sedikit sedih, dia tahu betul alasan Eza berhenti main basket. Namun dia juga tahu kemampuan Eza, jadi menurutnya hanya Eza yang bisa membantu dia.
"Za.. Pleasee...., Aku udah taruhan sama Dimas kalo dia bisa juara aku harus jadi pacarnya." Ara memohon.
Eza sedikit kesal mendengar penjelasan Ara, kenapa dia harus bermain taruhan bodoh seperti itu.
Mendapati Eza yang masih belum menjawab, ara berkata lagi. "Kalo kamu bisa ngalahin Dimas, aku mau jadi pacarmu."
Bukannya senang, Eza semakin kesal dengan kata-kata Ara dan pergi dengan menahan emosi. Ara juga tercengang melihat Eza marah padanya. Ini pertama kalinya dia melihat Eza marah, bahkan meninggalkannya tanpa berkara apapun.
Eza mengingat setiap keindahan yang terpancar dari Ara, yang selalu membuatnya tidak mampu melupakannya. Tapi beberapa hari ini setiap kali keindahannya tepampang di pikirannya, kata-kata yang Ara lontarkan seperti black hole yang menghancurkan semuanya.
Eza menatap dirinya di cermin, uap air bertebaran bersamaan guyuran air hangat yang jatuh di kepalaku. Mandi air hangat membantunya mengurangi ketegangan di hatinya. Eza hanya bisa menguatkan tekad, menghembuskan napas. Satu kalimat yang kini terpikirkan 'Mungkin ini saatnya menyerah.'
***
Agustus gelaran lomba banyak diadakan di kampus dalam menyambut HUT RI. Di lapangan basket, banyak mahasiswa berkumpul dengan beragam niat. Sebagian kecil mengantri untuk melakukan pendaftaran ulang, setelah sebelumnya sudah mendaftar seminggu lalu. Sebagian lagi hanya ingin menonton perlombaan atau hanya sekedar mencari calon jodoh yang barang kali nyasar diantara orang-orang yang hadir.
Eza duduk memandangi nomor urut peserta yang bertuliskan 15. Memang tidak banyak peserta lomba 3 poin Shoot karena mereka yang mendaftar kebanyakan lomba 3 vs 3.
"Wowww..., sikutu buku juga ikut lomba." Dimas mengambil nomor pesertaku. "Kamu daftar lomba 3 poin shoot, memangnya kamu bisa main?" Pertanyaan meremehkan Dimas terlontar keras, membuat semua mata teralihkan memandang kearah kami.
"Cihh..., Baiknya lo ke perpus ajah. buang-buang waktu panitia ajah" teman Dimas menimpali.
Aku tidak perduli kata mereka, bagiku mereka hanya tong sampah yang hanya berisi kotoran. Melihat aku yang tidak menanggapi Dimas mulai emosi dan ingin melayangkan pukulan kearah kepalaku.
"Stop..., Dimas! kalau kamu berani bikin ulah lagi, kamu akan kami diskualifikasi. Cepat kembalikan nomor pesertanya, menggagu peserta lain itu pelanggaran" Roy kapten tim basket.
Dimas hanya bisa pasrah dan melemparkan nomor peserta ke arahku kemudian bergegas menjauh.
"Tanks Roy" Aku berterimakasih.
"Hanya hal kecil, ini juga tugasku Bro. Btw..., aku senang akhirnya kamu mau bermain basket lagi" Roy tersenyum kemudian pergi menjalankan tugasnya.
Roy dan aku adalah rival saat masih SMP. Dia adalah bintang yang sudah bersinar sejak tahun pertama SMP. Namun ditahun ketiga dia akhirnya menyadari ada seseorang yang lebih baik darinya.
Dia tidak pernah menyangka timnya yang menjadi juara 2 kali berturut-turut hancur di final kejuaraan saat itu. Tim yang mengalahkan mereka adalah tim yang tidak pernah menang selama 10 tahun. Hanya karena satu orang yang mendapat julukan Raja 3 poin. Dan pemain tersebut adalah Eza.
Saat di SMA Roy kaget saat Eza berhenti bermain, Eza beralasan bahwa Eza punya cedera yang sering kambuh. Namun alasan sebenarnya, Eza memang tidak suka basket dan tidak punya pikiran untuk menjadi pemain basket. Hanya saja seseorang menantangnya bertaruh. Setelah memenangkan kompetisi Eza memilih berhenti, karena tidak ingin terjebak rutinitas yang tidak dia sukai.
Waktu perlombaan segera dimulai, 5 bola diletakan di beberapa titik mengikuti garis 3 poin. Kriteria penilaian didasarkan waktu banyak bola masuk dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lemparan ke 5 bola.
Eza menonton Dimas yang maju dengan percaya diri dan wajahnya dipenuhi kesombongan. Pluit berbunyi dan Dimas bergerak cepat untuk melakukan lemparan. Menurut Eza, Dimas memang memiliki skil untuk sombong. Dia berhasil memasukan 5 bola dam waktu 58 detik.
Satu persatu peserta menunjukan penampilan mereka. Tiba giliranku, aku bergegas memasuki lapangan. Semua penonton memandangiku tidak percaya. Mungkin dalam pikiran mereka bertanya-tanya, apa mahluk kutu buku ini bisa main basket. Hanya Roy yang tahu kemampuan Eza, dan Ara yang sedari tadi cemas apakah Eza akan ikut lomba atau tidak.
"Cihh..., buang-buang waktu ajah" celetuk Dimas meremehkan
Aku hanya tersenyum sambil melepas kacamataku menyimpannya dalam tas dan memberikannya pada Ara yang menonton di pinggir lapangan. Mata Dimas memancarkan kemarahan melihat tindakanku. Dia sudah mengejar Ara selama setahun tapi Ara gak pernah meresponnya sedikitpun. Tapi hari ini Ara dengan santai memegangi tas milik laki-laki lain dan tersenyum hangat.
Saat pluit berbunyi Eza segera melempar bola dan bergerak cepat untuk melempat bola yang ada dititik berikutnya. Bola kedua, bola Ketiga, bola ke empat hingga bola kelima, Eza berhenti kemudian menunggu dan melihat Dimas dengan mengejek, saat waktu yang sudah kuperhitungkan tiba dengan tanpa ragu melempar tanpa melihat ring basket.
Semua penonton tercengang, dengan kecepatan dan ketepatan lemparan Eza. Panitia juga masih terpaku melihat kemampuan Eza, 5 bola masuk dalam waktu 57 detik. Mungkin jika dia tidak sengaja mengulur waktu dia bisa mendapat waktu 30an detik. Hanya Roy yang masih mengagumi kemampuan Eza karena tidak luntur setelah beberapa tahun tidak bermain.
Ara sangat gembira bahkan segera berlari untuk memeluk Eza. Tapi Eza segera menatapnya tajam membuat dirinya terkejut dan mundur.
"Masih ada babak final, jangan senang dulu" Kata Eza lalu mengambil tasnya yang ada ditangan Ara lalu menjauh dari Ara. Eza telah membulatkan tekad untuk menyerah dan harus menjauhi Ara agar tidak memikirkannya lagi.
Setelah 5 menit istirahat babak selanjutnya dimulai. Peserta hanya menyisakan 5 orang yang memenuhi kriteria. Untuk aturan babak final, peserta diberikan waktu 2 menit untuk melempar 30 bola. Dimas menjadi peserta ke 4, dia memasuki lapangan sambil memandangiku dengan tatapan kesal.
Tapi sebelum memulai, dia menghampiri Ara. "Ingat perjanjian kita, hari ini kamu bakal jadi pacarku."
Ara hanya diam dengan wajah cuek, tidak memperdulikan Dimas sama sekali. Disisi lain Eza duduk sambil membaca buku. Ara sedikit cemas dengan sikap Eza yang dingin. Dia memikirkan apa yang membuat Eza berubah, hingga sebuah pemikiran muncul dikepalanya. 'Apa Eza sudah punya cewek lain? gak mungkin! aku gak pernah lihat Eza dekat wanita lain.' pikir Ara dalam hati.
Dimas memulai lomba, dengan cepat dia memasukan satu demi satu. Dan setelah 2 menit dia berhasil memasukan 24 bola. Dia memiliki kemampuan yang baik, dalam 2 menit dia berhasil melakukan 25 tembakan, masuk 24 bola dan menyisakan 5 bola karena kehabisan waktu. Poin yang diraih Dimas saat ini adalah yang tertinggi, karena 3 peserta sebelumnya hanya bisa memasukan kurang dari 20 bola.
Setelah Dimas kembali Eza segera menutup buku dan memasukannya ke tas. Eza berjalan menuju Ara untuk memberikan tasnya. Berdiri diposisi peserta, Eza melirik Dimas dan tersenyum mengejek. Menunjuk kedua mataku memberi isarat perhatikan baik-baik.
Wajah Dimas memerah karena emosi. Sedangkan Eza langsung fokus untuk memulai perlombaan. Saat suara pluit berbunyi, Eza segera melakukan lemparan. Sebelum bola menyentuh ring atau tanpa melihat bola yang dilempar masuk, Eza sudah melakukan lemparan berikutnya.
Semua mata terpana melihat bola masuk satu persatu tanpa jeda yang lama. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh seorang profesional. Hanya dalam 59 detik 30 bola masuk tanpa hambatan. Semua orang yang menonton bertepuk tangan dan bersorak karena penampilan Eza yang mengagumkan.
Eza tidak perduli dengan kemeriahan tersebut. Eza bergegas mengambil tasnya dari tangan Ara dan berkata, "Kedepanya jangan memainkan taruhan bodoh lagi. Apalagi berjanji sesuatu yang tidak ingin kamu lakukan. Ohh ya.., masalah janjimu kemarin tidak perlu kamu penuhin. Aku gak mau kamu nerima aku karena terpaksa. Mulai sekarang aku gak akan ganggu kamu lagi"
Ara terpaku menatap Eza yang pergi dengan wajah dingin. Entah kenapa hatinya merasakan sesuatu yang menyakitkan. Dia benar-benar tidak bisa percaya pria yang selalu tersenyum hangat dan sangat peduli padanya tiba-tiba berubah dingin.
Rani sahabat Ara melihat kondisi sahabatnya itu segera tau ada sesuatu yang salah. Dia bergegas membawa Ara pulang.
Disisi lain Dimas masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia benar-benar terpukul dan malu hingga Roy mendatanginya.
"Gak perlu berkecil hati, kalian ada di level berbeda. Dia bisa memadukan kekuatan dan otaknya dengan sangat baik, hingga memiliki tingkat akurasi dan timing lemparannya sangat tinggi. Dia pemain yang mengejutkan saat SMP, tapi entah kenapa dia milih berhenti. Kalian harus berlatih lebih giat dan tetap rendah hati, banyak monster berwajah lucu didunia ini. Kita gak tau kapan kita bakal ketemu." Kata Roy mencoba memberi nasehat.
****
Di rumah Ara, didalam kamar dengan dekorasi khas kamar wanita. Ara duduk dengan berbagai macam pikiran. Dia terus mencari alasan kenapa Eza berubah.
"Ra, kamu kenapa sih?" Rani mencoba mencari tahu.
"Aku gak tahu, aku cuma merasa Eza bersikap dingin, dia juga gak pernah lagi cari-cari perhatian seperti dulu" Ara mencoba bercerita.
"Loh.. bukannya harusnya kamu senang? kan selama ini kamu selalu kesal sama sikap Eza." Rani sedikit bingung.
"Iya aku senang, tapi kenapa harus bersikap dingin juga coba" Ara sedikit bingung
"Ra! kamu benar gak punya sedikitpun perasaan sama Eza. Jujur kalo aku jadi kamu, aku bakal klepek-klepek sama Eza" Rani mencoba meyakinkan perkiraannya.
"Ni! kamu tau sendirikan, aku dari dulu gak pernah suka sama dia. Dia itu suka banget pamer, sampai orang tuaku suka bandingin aku sama dia. Pake acara disuruh belajar sama dia. Malah mama sampai bilang dia calon menantu idaman didepan teman-teman arisannya, bikin malu banget. satu komplek ngira aku pacaran sama dia. bikin kesal bangt! ... " Ara bercerita, sedang Rani mendengarkan tanpa membantah. Rani sudah mendengar keluhan ini sejak SMP.
"Ra! kayanya Eza mulai menyerah sama kamu, dia jauhin kamu biar bisa cepat ngelupain kamu. Aku cuma mau sedikit kasih masukan, kalo kamu punya perasaan sama dia sebaiknya kamu jujur sama dia. Soalnya cowok kaya Eza kalo sudah suka sama seseorang dia bakalan pantang menyerah ngejar. Tapi kalau dia sudah nyerah, peluangmu dapetin dia lagi 0%. Aku gak mau sahabatku menyesal seumur hidup." Rani mencoba menasehati
"Siapa juga yang suka sama dia." Ara mencoba mengelak.
"Huff... bagus juga sih kamu gak suka sama dia, sebenarnya aku sempat beberapa kali lihat Eza ngobrol asik sama Sely anak fakultas bahasa asing. Dan kemarin waktu di cafe aku gak sengaja dengar Sely sama teman-temannya ngobrol..." Rani terputus
"Mereka ngobrol apa?" Ara langsung penasaran, entah kenapa ada perasaan panas diahatinya.
"Kamu kenapa sih gak sabar banget, ini mau ku ceritakan. Coba dengarin dulu!,"Rani kesal kemudian melanjutkan "Eza kebetulan beberapa kali nyumbang kegiatan amal, terus bantu-bantu juga. Yaa.. mereka ngobrol goda-gadain Sely sudah sampai mana hubungannya sama Eza. Kayanya..." cerita Rani kembali terputus karena kaget
"Mereka punya hubungan apa?" kali ini suara lebih keras hingga mengagetkan Rani.
"Ra!! kamu bisa tenang gak sih? macam dengar cerita pacar selingkuh ajah" Rani marah
"Maaf" Ara hanya bisa mengucapkan maaf dan terdiam.
"Intinya Sely suka sama Eza, sekarang dia lagi coba PDKT. Tapi sampai sekarang Eza masih nganggap dia hanya sebatas teman. Kalo kupikir-pikir sejak Eza ngejar-ngejar kamu dia selalu cuek sama wanita. Jadi Sely bisa ngobrol asik sama Eza itu sudah perkembangan bagus. Yaa.. mudahan mereka bisa jadian, jadi Eza bisa bahagia. Dan sahabatku ini gak perlu kesal setiap hari dan bisa dapat pria idamannya." kata Rani sambil mencubit pipi Ara dan tersenyum. Ara juga tersenyum menanggapi sahabatnya itu. Namun di balik senyum itu, tersimpan rasa cemas.
***
Malam harinya Ara berbaring dikasur, dia masih memikirkan kata-kata Rani tadi. Dia membayangkan melihat Eza tersenyum hangat. Namun senyuman itu bukan untuk dia, melainkan untuk wanita lain.
Tiba-tiba hatinya panas, matanya berkaca-kaca, setelah beberapa lama air mata itu menetes dari kedua sudut matanya. Ara tidak paham untuk apa dia menangis, namun setiap kali wajah dingin Eza terlintas, pikirannya langsung teralihkan. Seolah-olah melihat Eza berjalan bersama dengan wanita lain tanpa perduli padanya. Dan seketika itu juga dia merasakan hatinya seperti tertusuk-tusuk membuatnya menderita kesedihan yang mendalam.
Dia hanya bisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "apa aku sudah jatuh cinta sama Eza?" gumam Ara. Ara tidak bisa tidur semalaman, dia takut kalau dia sudah membuat keputusan yang salah. Dia takut menyesal setelah Eza benar-benar pergi.
Keesokan paginya, Ara sarapan bersama keluarganya. Suasana sangat tenang hingga ibunya tiba-tiba bertanya.
"Ra! apa kamu benar-benar gak punya perasaan sedikitpun sama Eza?" Bu Ratna bertanya.
"Ma sudah berapa kali sih Ara bilang, Ara itu gak suka sama Eza." Ara menjawab dengan tegas.
"Huff..." Bu Ratna hanya bisa menghembuskan napas.
"Karena kamu gak punya perasaan sama Eza, ayah akan bicara sama Eza supaya dia nyerah dan cari wanita yang benar-benar suka sama dia" kata Pak Juno.
"Iya juga. Jangan sampai dia nolak kesempatan bagus. Mungkin memang bukan jodoh" kata Bu Ratna.
"Kesempatan bagus apa?" Ara bingung.
"Bukan apa-apa." jawab pak Juno.
Ara semakin penasaran karena orang tuanya juga tidak mau membahas, kedua orang tuanya seperti sengaja menyembunyikan sesuatu.
Di kampus, Ara berjalan menyusuri koridor. Namun dia segera berhenti saat dia menatap seorang wanita cantik sedang berbincang-bincang dengan Eza. Senyum mempesona terpancar dari wajah wanita itu. Eza juga tersenyum hangat pada wanita itu. Sely adalah wanita tercantik dikampus. Dia mendapat predikat tersebut setelah beberapa poling yang dibuat oleh IMKM (ikatan mahasiwa kreatif dan modern).
Perkumpulan tersebut mengembangkan kreatifitas dan memanfaatan tehnologi dan sosial media. Dan Sely berhasil terpilih menjadi Ratu kampus 3 tahun berturut-turut.Ara sendiri berada diurutan ke 4.
Hati Ara seperti terbakar, dia mencoba untuk tidak perduli. Dia berjalan bergegas melewati Eza, Eza juga memasang wajah tidak perduli. Setelah sedikit melewati dua orang yang sedang asik bercerita, Ara berhenti lalu mengambil Hpnya. Setelah beberapa detik dia kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian Ara berhenti dan menulis catatan di Hpnya. 'Besok Jam 4 sore, XX1 Mall Kuning'. "Aku gak boleh telat, aku harus ngawasin mereka." gumam Ara dengan emosi
Ara duduk di kursi bioskop tidak jauh dari dua orang yang sedang mengobrol di deretan depannya. Dia sudah mengikuti Eza sejak berangkat. Kemarin dia mendengar Sely mengajak Eza nonton. Awalnya Eza ragu, namun Sely mengatakan kalau bukan mereka berdua saja yang akan nonton. Bahkan Seli menunjukan 7 tiket film untuk meyakinkan Eza.
Saat sampai di lokasi, Ara sangat kesal. Karena teman-teman Sely tidak ada yang hadir. Ara melihat sendiri teman-teman Sely sengaja bersembunyi agar Sely bisa berduaan dengan Eza. Yang membuat Ara tambah kesal, Eza justru tetap melanjutkan nonton berdua.
Selama film diputar, Ara hanya fokus memperhatikan dua muda-mudi yang duduk bersebelahan. Semakin dia memperhatikan mereka, rasa sakit di hatinya semakin terasa jelas.
Film usai Eza dan Sely menuju pantai. Eza merasa sangat galau sehingga dia sengaja pergi ke tempat biasa dia menenangkan diri. Ara juga mengikuti mereka dan mencari tempat strategis untuk menguping.
"Sepertiya perasaanmu kacau banget hari ini?" Tanya Sely.
"Maaf ya tadi aku sering gak fokus, jujur pikiranku kacau banget berapa hari ini" Eza menjelaskan.
"Ada masalah apa? coba cerita siapa tau aku bisa bantu atau sekedar kasih saran" Sely
"Gimana ya!, agak malu juga sih mau cerita" Eza bingung mau mulai dari mana.
"Gak perlu malu, aku ini tipe pendengar yang baik, siapa tahu dengan cerita bisa ngurangin sedikit beban pikiran" Sely
"Hufftt..., Sebenarnya aku lagi galau banget. Aku suka sama seseorang selama 8 tahun. Aku berusaha sekuat tenaga buat luluhin hatinya. Tapi dia gak punya perasaan suka sedikitpun sama aku. Dan juga entah kenapa beberapa bulan ini aku mulai berpikir buat menyerah" Eza mulai bercerita.
"Apa dia tau kamu suka sama dia?" tanya Sely mencoba tenang meskipun dia merasa sedih karena Eza ternyata sudah menyukai orang lain.
"Ya dia tau, aku juga sudah 3 kali ditolak" Eza sedikit menunjukan wajah malu. "Biar sudah ditolak aku juga gak mau menyerah. Aku yakin suatu saat dia bisa tau kalo aku tulus cinta sama dia. Tapi ada sesuatu yang bikin aku memikirkan kembali semuanya" Eza
"ohh, terus apa masalahnya?" Sely penasaran.
"Dia memintaku melakukan sesuatu ..." Eza
"Apa dia menyuruh melakukan sesuatu yang gak kamu suka?" tanya Sely sambil meminum minumannya.
"Bukan, tapi dia berjanji akan menerimaku menjadi pacarnya" Eza menjelaskan.
"Ohh..., bukannya bagus. kan kamu bisa pacaran sama dia" Sely sedikit bingung.
"Hufffttt..., dia berjanji seperti itu sudah 2 kali dan akhirnya dia mencari alasan untuk mengelak. Itu juga alasan aku berpikir kembali" Kata Eza
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Sely
"Dari situ aku paham, aku benar-benar gak ada dimatanya. Jadi aku benar-benar menyerah" kata Eza dengan lesu.
"Terus kenapa harus galau?" tanya Sely
"Entahlah, susah banget buat ngelupain dia" kata Eza
"Kamu harus membuka hatimu buat wanita lain. Kamu bisa coba berpacaran, mungkin ajah ada wanita yg diam-diam ngefans sama kamu tapi kamu gak tau." kata Sely
"Saat ini saya lagi berusaha, tapi rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal. Lagian siapa juga yang ngefans sama aku?" kata Eza menjelaskan.
"Ada, kamu ajah yang gak pernah peka" kata Sely
"ada? siapa coba?" Eza penasaran
"Aku" jawab Sely santai lalu meminum minuman coklatnya.
Disisi lain Ara mendengar jawaban itu hampir tersedak saat minum. "Dasar penyihir gak tau malu..." Ara mengumpat dalam hati.
"Hahahah...., kamu bisa ajah. Makasih sudah menghibur aku. Tapi aku gak bisa mencoba-coba, aku takut malah bikin sakit hati orang lain. Lagian kalo sampai para fans kamu tau kita jalan berdua bisa diteror netizen aku." kata Eza tertawa
"Loh kenapa harus perduli sama mereka, penting aku bisa bahagia" kata Sely
Mereka berbincang sebentar sebelum pulang. Sesampainya dirumah Eza langsung melemparkan dirinya ke kasur lalu menutup matanya. Dia membayangkan setiap langkah perjuanganya mengejar Ara sampai dering telpon mebangunkannya.
"Ara??, kenapa dia nelpon?" gumam Eza sebelum mengangkat telpon.
"Kamu tadi pergi kemana?" Ara dengan nada tinggi
"nonton, kenapa?" Eza
"Nonton sama siapa?" Ara
"Kamu kenapa sih, aku ngapain ajah selama ini kamu gak perduli" Eza mengeluh
Ara terdiam sejenak menyadari kalau dia terbawa emosi. "ya gak apa-apa tadi gak sengaja lihat dijalan" Ara
"Aku nonton sama Sely tadi. Rencananya rame-rame tapi gak tau temannya tiba-tiba berhalangan jadi kami nonton berdua ajah" Eza menjelaskan
"Bisa-bisanya kamu tertipu. Itu alasannya ajah supaya bisa dekatin kamu. pokoknya aku gak..." Ara emosi
"Dia mau dekatin aku, kenapa kamu mesti marah-marah gitu. Ingat Ra! kamu bukan pacarku. Lagian aku juga gak macam-macam sama dia" Eza memotong perkataan Ara.
Ara terdiam, dia menyadari tingkahnya yang kelewatan. Punya hak apa dia buat ngelarang-larang Eza jalan sama wanita lain. Dia mulai menyadari saat ini dia takut kehilangan Eza.
"Aku bingung sama kamu Ra, kamu gak pernah kasih aku kesempatan sedikitpun. Tapi kamu juga ngelarang aku dekat dengan wanita lain. Sebenarnya apa sih mau mu? bukannya aku sudah janji gak bakal gangguin kamu lagi. Tapi aku selalu merasa kamu gak pernah mau ngelepasin aku. Pleasee... tolong biarkan aku menjauh dengan tenang" kata Eza lalu menutup panggilan telepon
Ara terpaku sesaat hingga air mata itupun mengalir deras tanpa bisa ditahan. Akhirnya Ara menyadari bertapa menyedihkannya dirinya saat ini. Dia benar-benar menyesali pilihannya.
Satu minggu berlalu, Ara mencari keberadaan Eza namun tidak menemukan keberadaannya. Tidak menemukan Eza membuatnya uring-uringan, tidak nyenyak tidur, tidak enak makan, tidak konsen di kampus. Hingga Ara membulatkan tekad untuk datang ke kosan Eza. Namun Ara harus kecewa, karena ternyata Eza sudah pindah 3 hari lalu.
Ara pulang dengan wajah lesu dan menghabiskan waktu merenung di kamar. Sore itu Ara merasa sangat haus sehingga dia bergegas pergi ke dapur. Orang tua dan adiknya sedang bercerita sambil menonton film. Ara tidak tertarik jadi hanya berlalu mengambil minum.
Saat Ara sedang minum hal yang sedang dibicarakan keluarganya membuatnya terkejut hingga menjatuhkan gelasnya. Dia bergegas menuju menuju ruang keluarga.
"Ayah sama ibu tahu kalo Eza mau pindah?" Ara memandang kedua orang tuanya tidak percaya.
"Iya, sebulan yang lalu Eza cerita dia mendapat tawaran kerja di kalimantan. 3 hari lalu dia datang untuk pamitan. Karena kamu lagi dikamar seharian jadi kami gak mau ganggu" Ayah Ara
"Iya, lagi pula kamu juga gak bakal mau ketemu sama Eza. jadi kami sengaja gak kasih tau kamu" Ibu Ara.
Ara langsung terduduk lemah di kursi, sampai tangisan keras pecah. Kedua orang tua Ara bingung sampai saling memandang.
"Kenapa gak ada yang kasih rau Ara? Kenapa? Ara beberapa hari ini mencari Eza" Ara menangis penuh penyesalan.
"Ayah dan ibu sebelumnya sudah menanyakan perasaanmu sebelumnya. Bagaimanapun ayah juga tidak bisa menahan Eza karena kamu jelas bilang tidak suka dengannya. Sekarang sudah seperti ini kamu harus bisa menerima dengan lapang dada" Ayah Ara.
"Ini juga pelajaran nak. Mungkin memang kalian tidak berjodoh. Mungkin juga ini jalan terbaik untuk kalian berdua. Kamu sudah membuat Eza menunggu terlalu lama. Sekarang sudah waktunya kamu membiarkan dia mencari kebahagiaannya" Ibu Ara.
"Tapi bu, Ara suka sama Eza, Ara sebenarnya juga sayang sama dia. Tapi Ara pernah berjanji gak akan pacaran sampai lulus kuliah. Ara takut gak bisa nepatin janji, makanya Ara selalu nolak dia" Ara masih meneteskan air matanya.
"Jika memang seperti itu, harusnya kamu memberitahu Eza, Ayah yakin dia pasti bisa paham keinginanmu" Ayah Ara
Ara hanya bisa menangis dan mendengarkan nasehat ayah dan ibunya.
Di kamar, Ara mencoba menghubungi Eza namun tidak bisa terhubung. Kesokan harinya Ara masih mencoba menelpon Eza dan tetap tidak bisa terhubung. Ara mencari Aryo sahabat Eza, untuk meminta nomor telpon Eza. Aryo bersikukuh tidak mau memberi tahu.
Keesokan harinya, Ara membawa beberapa sahabatnya dan mencegat Aryo. Aryo adalah cowok cupu kutu buku. Setelah di kepung beberapa wanita Aryo memberikan nomor telpon Eza. Namun nomor tersebut masih sama. Ara akhirnya tahu jika nomor tlpnya telah diblokir. Ara mengambil handphone Aryo untuk menghubungi Eza.
"Halo Yo. ada info apa?" Suara Eza terdengar dari spiker telpon.
Ara langsung menangis, "Kamu jaahhaaattt...! kenapa kamu pergi gak pamit? Apa kamu sengaja mau balas dendam?" Ucap Ara sedangkan Eza terdiam tanpa suara.
"Eza! Aku minta maaf karena selama ini sudah mengabaikan kamu. Pliss.. kembali, Aku janji gak akan mengabaikan kamu lagi. Aku sayang sama kamu. Aku benar-benar sayang sama kamu." Ucap Ara dengan air mata yang masih mengalir deras.
"Maaf, Aku tidak bisa kembali. Mungkin ini jalan buat kita. Waktu tidak bisa diputar kembali, jadi kamu harus terus maju. Jika kita memang berjodoh, waktu juga yang akan menunjukan jalan untuk kita bertemu." Ucap Eza.
"1 tahun, tunggu aku 1 tahun lagi. Jika kita bertemu dan masih ada tempat untuk aku. Kamu harus menjadi suamiku." Ucap Ara.
*****
"1 tahun, sudah 1 tahun, jadi sudah waktunya aku menemuimu kan?" Ucap Ara.
"Kapan jadwal cutimu?" Tanya Eza
"Kenapa tanya jadwal cuti?" tanya Ara
"Biar aku bisa catat jadwal pernikahan kita." Ucap Eza dengan senyum manis