Pasti kalian semua pernah mengalami sesuatu yang tidak bisa kalian lupakan sewaktu kecil, sesuatu yang memiliki kesan tersendiri yang membuat kalian susah melupakan-nya. Pasti Ada bukan?.
Nah, kali ini aku akan menceritakan sebuah kejadian yang dulunya pernah aku alami, dan sampai sekarang aku masih mengingatnya dengan jelas.
Waktu itu aku bersama ke empat teman-ku tengah naik sepeda bersama-sama, kami berjajar rapih kebelakang sambil menyusuri jalanan desa.
Kegiatan menggoes sepeda pada sore hari seperti ini sudah menjadi kegiatan wajib kami dalam beberapa hari ini, dan ada sebuah jalan yang paling sering kami lewati dari semua jalan yang ada di desa. Jalan ini berada tepat didepan ruang Bu Ani -Guru Ngaji Kami-, jalan ini sudah menjadi tempat wajib yang harus kami lewati ketika bersepeda sore seperti ini. Jalannya itu dari ketinggian seperti itu, dan juga sedikit cukup terjang dengan sebuah belokan setelah kita menuruni jalan tersebut.
Diwajibkan bagi siapa saja yang melewati harus segera berbelok, karena jika kita sampai kelepasan lurus, maka kita akan menabrak sebuah kandang sapi milik warga setempat.
Disaat itu, aku yang mengenakan sepeda milik kakak sepupu yang tidak memiliki rem mengalami sebuah insiden. Dan insiden inilah yang akan selalu aku ingat untuk selamanya.
"Fa, mending kamu turun terakhir aja kalau kamu takut buat meluncur"
Itu suara Mbak Alya, dia adalah yang paling tua di antara kami dan dialah yang mengatur rute bersepeda kami setiap sorenya.
"Bener tuh kata Alya, mending kamu turun paling terkahir aja" Timpal Nana yang adalah teman sebaya ku.
Aku hanya berikan anggukkan saja, jujur jika melewati jalan ini aku benar-benar takut, apalagi sekarang yang aku gunakan adalah sepeda tanpa rem milik Mas Rudi.
Teman ku sudah turun satu persatu dan menyisakan diriku disana sendirian. Ku ambil nafasku, kemudian aku menatap kebawa dimana jalan itu terlihat begitu menyeramkan di mataku.
"Oke Ifa, tenang, jangan takut, nanti kamu di ejek Bapak kalau takut"
Aku menarik nafas, meyakinkan diriku bahwa aku bisa. Mengumpulkan segala keberanian yang tersisa dalam diriku, aku pun mulai meluncur kebawah dengan sepeda yang aku bawa.
Untung saja, aku selamat dan semua berjalan dengan mulus.
Tak hanya sekali, kami selalu memutari jalan itu sampai berkali-kali, dan aku yang mulai berani pun mencoba untuk tidak menge-rem sepeda kakakku. Meski sepeda itu tidak ada rem di tempat pegangnya, tetapi di ban sepeda itu sudah terpasang sendal putus yang bilang kita injak dengan sedikit tekanan akan membuat sepeda itu berhenti, dan aku dengan sok nya malah tidak menginjak sendal itu yang mengakibatkan sepeda itu melaju dengan kencang tanpa kendali.
"Aaaa!!!" Aku jelas menjerit ketakutan, aku segera membelokkan sepeda itu ketika sepeda itu hampir saja membawaku untuk menabrak Kandang sapi milik Pak De Suana.
BRUK.
Memang benar aku tidak menabrak kandang sapi tersebut, tetapi tidak ada jaminan jika aku tidak akan menabrak benda lain di sekitar sana. Buktinya aku sekarang malah menabrak tembok rumah salah seorang warga yang tidak aku ketahui namanya.
Sepeda bagian depan ku rusak, sedangkan perutku menabrak stang sepeda dan lutut-ku menabrak tembok rumah itu cukup keras.
"Ifa!!"
Teman-teman ku datang dengan tergesa-gesa ketika mendengar dan melihat sebuah kecelakaan kecil yang baru saja menimpa ku.
Aku hanya bisa menangis di sana, menangis memanggil Bapak.
"Bapak Hiks... Bapak..."
Beberapa warga Mengerubuni ku bersama teman-teman ku, dan salah satu dari mereka yang mengenal Bapak pun pergi untuk memanggil Bapak kemari.
"Kok bisa nabrak gini sih? emang tadi nya kalian ngapain?" suara seorang wanita yang bertanya.
"Kita kayak biasa kok De, kita cuma bersepeda sore" Mbak Alya menjawab.
Ketiga teman ku yang lain masih mencoba menenangkan ku yang terus saja menangis sesegukan, seperti nya mereka merasa bersalah atau sebagai nya, aku tidak tahu, yang ku tahu saat itu hanya menangis.
Tangisan ku itu bukan karena sakit di perutku bukan, bukan juga karena lututku yang lecet.
Aku itu menangis karena malu, apalagi semakin banyak warga yang datang semakin membuat aku Malu.
Tak butuh waktu lama, suara Bapak yang baru saja datang pun terdengar.
"Ada apa ini?"
Seorang pria bertubuh tak terlalu tinggi dengan kumis tebal di atas bibirnya itu membelah keramaian.
Dia Bapak-ku, pria yang jarang memakai atasan itu adalah bapakku yang datang dari warung dengan sebatang rokok menyala di tangannya.
"Bapak Hiks... "
Melihat aku yang menangis, Bapak malah tergelak.
"Hahaha, cah gede kok nanges iku opo toh?"
"Moso anak e bapak nanges gono?"
"Goro-goro sepedehan lagi ceritanya?"
Aku hanya mengangguk sambil menunduk tanpa melihat bapak yang tengah menggeleng kan kepala nya.
"Ya udah, pulang aja gitu ya? nanti biar di obatin Ibu di rumah"
Aku hanya mengangguk, karena aku juga memang ingin segera pulang dan menutupi wajah maluku ini dengan bantal.
Bapak menarik ku untuk berdiri, kamudia di gotong nya sepeda yang bagian depan nya sudah tidak berbentuk itu.
"Nanti langsung di masukin rosokan aja sepeda nya, itung-itung nambah uang dari jual rosokan"
"Mubadzir kalau di biarin karatan di rumah"
Sebenarnya saat itu aku ingin sekali menertawai perkataan bapak, tapi aku tentu saja gengsi. Masa lagi nangis malah ketawa sih, mau di taruh di mana muka ini.
"Yok, kita pulang. Ibu buat Nasi goreng katanya"
Bapak menggandeng tangan ku dengan salah satu tangan nya, kemudian dia menuntunku berjalan pulang dengan aku yang masih menunduk tentunya.
"Loh, kok nangis kenapa?"
"Nabrak rumah nya si Udin dia"
Beberapa tetangga yang kami lewati selalu bertanya kenapa aku menangis dan bapak selalu menjawab nya dengan enteng. Apakah dia tidak tahu jika aku ini sedang menahan malu?! kenapa enteng sekali dia menjawab nya?!.
❄❄❄❄
Sesampainya di rumah, aku langsung berlari masuk kedalam meninggalkan bapak yang meletakkan sepeda di depan rumah. Aku masuk kedalam kamar tak menghiraukan paman yang mencoba menyapa ku.
"Hiks... Hiks... "
Aku menangis di kamar sendirian dengan sesegukan, entah kenapa aku saat itu menangis, yang pasti itu bukan karena rasa sakit yang aku rasakan. Bukan sama sekali.
Tidak ada yang masuk kedalam kamar, seperti nya ibu tahu bahwa aku butuh waktu ingin menangis. Tapi tak selang beberapa lama, terdengar suara nyaring ibu dari depan pintu.
"Nasi goreng nya udah jadi loh, gak mau makan dulu nih sebelum nyambung nangis-nya?"
Sebuah godaan yang tidak bisa ku tolak ketika menangis, itu adalah nasi goreng buatan ibu. Akhirnya mau gak mau aku pun keluar dari kamar dan berjalan melewati ibu menuju di depan TV, dimana di sana sudah ada satu piring nasi goreng yang tersedia.
Aku mulai memakan nasi goreng sambil meracau tak jelas dengan sebuah kartun yang terputar di TV.
"Padahal mau nangis jugak, malah disodorin nasi goreng"
Racau ku yang mungkin tak di dengan jelas oleh ibu, tetapi ibuku itu malah tertawa seakan ia mengerti kata-kata yang aku lontarkan dengan mulut yang penuh.
"Hahaha, dasar Anaknya Koko"
Ibuku pergi kedapur setelah mengatakan hal itu kepadaku.
Aku pun melanjutkan makanku meski harus sedikit terisak, dan disaat itulah aku merasa bahwa tangisan ku adalah sebuah berkah.
Kakek ku datang, dengan sebuah kertas berwarna biru di tangannya.
"Nih, buat jajan. Jangan nangis lagi"
Ucap kakek ku yang sudah berusia kurang lebih setengah abad itu.
Aku menerima uang berwarna biru itu dengan senang hati, kemudian mengangguk dan melanjutkan makan ku dengan lancar tanpa kendala apapun.
❄❄❄❄❄
Jadi cucu yang paling kecil itu enak banget loh, nangis dikit dapet uang😋🤣🤣.