Tidak ada yang tau, kalau Xiao De Jun alias Xiaojun adalah seorang mafia paling ditakuti oleh seluruh dunia. Penampilannya yang biasa seperti mahasiswa pada umumnya, membuatnya mudah untuk menyembunyikan identitasnya. Terlebih, dia juga tidak ingin orang sekitarnya terlibat dalam bahaya yang selalu dihadapinya.
Seorang gadis bernama Huang Xia Na yang merupakan pacarnya. Dirinya sudah mengetahui siapa sebenarnya pacarnya yang dia panggil dengan nama Jun Jun, namun selalu pura-pura tidak tahu agar dirinya mudah untuk menyelamatkan Xiaojun. Xiana sebenarnya adalah anggota mafia dari kelompok yang diketuai oleh Xiaojun, hanya saja dia menyamarkan namanya dengan inisial Huang.
Disaat kencan mereka berdua selalu batal karena Xiaojun harus pergi menjalankan tugas tapi selalu memberikan alasan ada urusan keluarga kepada Xiana, gadis itu juga mengatakan kalau dia ada urusan juga. Padahal, Xiana tau kalau Xiaojun akan menjalankan tugas. Hali ini diketahuinya kala dia mendapat pesan dari salah satu rekannya sesama anggota mafia yang tak lain adalah Dong Si Cheng, atau akrab disapa Winwin. Hanya pria berwajah imut tapi bisa galak secara bersamaan itulah yang tau kalau Xiana & Huang adalah orang yang sama.
Inilah kisah mereka...
๐ฒ๐๐๐ ๐ป๐๐๐๐๐๐๐
(๐ฟ๐๐๐๐๐๐ ๐ฝ๐๐๐.)
๐
ข๏ธ๐
ฃ๏ธ๐
๏ธ๐
ก๏ธ๐
ฃ๏ธ ๐
๏ธ๐
๏ธ๐
ฆ๏ธ
"Jun Jun!!"
Xiaojun yang sedang berjalan ke kelasnya pun menoleh ke arah sumber suara & mendapati Xiana berlari menuju dirinya.
"Oh, Xiana? Tumben kamu berangkat pagi? Apa kau masuk kelas pagi?" tanya Xiaojun.
"Nggak, Jun. Hari ini aku masuk kelas siang. Aku memang pengen berangkat pagi aja. Biar nanti bisa sekalian ke perpustakaan." Jawab Xiana membuat Xiaojun hanya ber-oh ria.
"Ya udah. Aku ke perpus dulu ya, Jun? Dadah!!" Ujar Xiana lalu meninggalkan Xiaojun yang tersenyum tipis karena tingkah imut pacarnya itu.
๐ฆ๐ฅ๐ป
Xiana ke perpustakaan buat baca buku? Salah besar.
Xiana ke perpustakaan cuma buat nanya ke Winwin apakah ada laporan untuk Xiaojun.
___________________________________________________
๐๐๐๐ข๐ ๐๐ข๐ฒ๐ข๐ค, ๐๐ข๐ง-๐๐๐ฃ
๐ป๐๐๐ ๐๐๐
๐๐ช๐๐ฃ๐_๐ญ๐๐
๐๐ฆ๐จ๐ฆ!!
07.55
๐๐๐ฃ2_๐ฟ๐จ๐
๐๐ข๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ?
07.56
๐๐ช๐๐ฃ๐_๐ญ๐๐
๐
07.56
๐๐๐ฃ2_๐ฟ๐จ๐
๐๐ถ๐ด๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ
๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ
๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
07.56
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ
๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ค๐ข๐ณ.
07.57
๐๐ช๐๐ฃ๐_๐ญ๐๐
๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข?
07.57
๐๐๐ฃ2_๐ฟ๐จ๐
๐๐ข๐ถ.
07.57
๐๐ช๐๐ฃ๐_๐ญ๐๐
๐
07.58
___________________________________________________
'Aku? Tapi kenapa?' batin Xiana.
Karena sepertinya dia yang diincar saat ini, dia pun harus berhati-hati dikala sendirian maupun bersama Xiaojun.
๐ฆ๐ฅ๐ป
Kelas siang telah selesai, dia pun langsung keluar kelas. Untuk perihal laporan tadi, Xiana sudah melaporkannya ke Xiaojun.
Gimana caranya? Mudah.
Dia memakai nomor lain.
Nomor yang biasa dia gunakan untuk memberikan laporan ke Xiaojun.
Ada rasa was-was di benak Xiaojun kala mendengar bahwa Xiana bakalan diincar, tapi ada juga rasa curiga kenapa mereka tau tentang Xiana.
Saat Xiaojun ingin menawarkan Xiana untuk pulang bersamanya, gadis itu malah mengatakan bahwa dia akan dijemput ibunya agar bisa menemaninya pergi ke luar kota.
Xiaojun semakin curiga, namun tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari Winwin yang mengatakan kalau mereka harus bertemu di suatu tempat.
Pada akhirnya, Xiaojun pun meninggalkan Xiana dengan perasaan tak menentu.
Disaat Xiana sudah di Halte untuk menunggu bus, dia merasa ada yang mengawasinya.
Dia pun bangun & berjalan cepat ke gang sempit dekat kampusnya. Orang yang mengikutinya juga ikut ke gang itu.
Tapi saat mereka sudah berada di mulut gang, para penguntit itu kehilangan targetnya. Gang itu ternyata buntu.
"Heh?! Dia menghilang? Kemana dia?" Ucap salah satu dari mereka panik.
"Dia pasti tak jauh dari sini, cepat cari." Ujar yang lainnya, lalu mereka mencari di seluruh tempat. Mulai dari dalam bak sampah, di antara tumpukan kayu, bahkan sampai di sudut gang yang gelap. Namun mereka tidak menemukannya.
"Kita hentikan pencarian ini untuk sementara. Kita harus ke rumahnya. Kau tau kan?" Ujar salah seorang dari mereka lagi.
"Iya, ikut aku." Ucap orang itu lalu pergi ke mobilnya diikuti mereka.
๐ฆ๐ฅ๐ป
Kemana Xiana sebenarnya?
Sebelumnya saat Xiana sampai di gang itu, dia meloncat dari tutup bak sampah menuju ke balkon dengan ketinggian 80 meter. Lalu dia melompat ke atap yang 2ร lebih tinggi dari jarak tanah & balkon yang dia loncati tadi. Dia melakukannya dengan cepat, sehingga mereka tak bisa menemukannya dengan mudah.
Lalu dia berlari dengan cepat di atas atap & meloncat ke atap lainnya.
Namun...
"Hey!! Bukankah dia yang kita cari? Bagaimana bisa ada di atap?"
'SIAL, AKU KETAHUAN!!' Batin Xiana. Dia pun mengambil masker & juga airpods nya untuk menghubungi Winwin dari dalam sakunya. Xiana memakai maskernya dengan cepat sambil berlari & meloncati atap demi atap.
Orang-orang yang tadi ingin ke rumahnya untuk mengepung Xiana pun kembali mengikuti gadis itu agar bisa ditangkap, baik hidup atau mati.
Akhirnya telepon itu dijawab oleh sang oknum.
"Halo, Xiana?" Ucap Winwin di seberang sana. Terdengar ribut di sana, suara teriakan Xiaojun yang kesakitan.
"Halo, Win! Apa ada keributan di sana?" Tanya Xiana yang diiyakan oleh Winwin.
"Apa ada sesuatu dengan mu?" Tanya Winwin.
"Iya, orang-orang itu mengikuti ku." jawab Xiana.
"Mereka mengikuti mu?! Sekarang kau dimana?" Tanya Winwin panik.
"100 meter menuju ke markas kita. Apa rombongan mereka yang lain ada di sana?" Jawab Xiana.
"Iya, rombongan mereka yang lain juga disini. Sepertinya mereka ingin mengulur waktu agar Xiaojun tidak bisa melindungi mu. Tapi syukurlah kau sebentar lagi sampai ke sini. CEPATLAH!! XIAOJUN TIDAK BISA MELAWAN MEREKA LEBIH LAMA LAGI!!" Ujar Winwin panik lagi.
Xiana mendadak kaget, tapi dia tetap fokus untuk pergi ke markas milik Xiaojun.
"Aku akan ke sana. JANGAN KEMANA-MANA!" Ucap Xiana cepat, lalu menutup telponnya.
Dia pun mempercepat langkahnya menuju ke markas Xiaojun lewat jalur loncat atap.
๐ฆ๐ฅ๐ป
"Hai, Rival abadi ku!! Sudah lama kita tidak bertemu." Ucap seorang pria berjalan ke arah Xiaojun.
Xiaojun & Winwin yang sedang menunggu anggota yang lain pun terkejut mendengar suara itu.
Ketika mereka menoleh, dengan cepat mereka mengubah ekspresinya menjadi datar. Meski dalam hatinya, mereka bertanya-tanya mengapa orang itu bisa tau letak markasnya.
"Yibo..." Ujar Xiaojun pelan dengan tangan yang mengepal.
"Kenapa? Kaget ya kenapa aku bisa tau markas mu? Hahahaha!!!" Ejek Yibo sambil tertawa jahat.
'Sudah ku duga.. Inilah yang akan dia katakan.' Batin Xiaojun kesal.
"Sebenarnya cukup mudah bagiku. Aku menaruh kamera kecil di salah satu barang mu." Ucap Yibo sambil smirk. Dia menepuk tangannya, diikuti beberapa orang yang merupakan anggotanya muncul di sekeliling mereka berdua.
"Dasar. Mainnya kok keroyokan. Tapi kayaknya seru sih." Ujar Winwin dengan smirk nya. Dia pun meregangkan otot-ototnya sebelum memulai permainan ini, bersamaan dengan Xiaojun yang melakukan hal yang sama.
Mereka pun memulai permainan ini. Xiaojun dengan pisau lipatnya Winwin dengan pistol FN 57 kesayangannya, menghadapi anak buah Yibo yang bisa dikatakan tidak sedikit.
Baru 15 menit mereka berdua bertarung melawan mereka semua tiba-tiba....
DUAR!!
SREETT!!
CRAKK!!
"ARGH!!"
BRUKK!!
Xiaojun mendadak meringis karena sebuah peluru yang tertanam di punggungnya diikuti goresan pisau yang mengenai dadanya (untung pisaunya gak sampai ke jantung :") ) hingga membuat tubuhnya terkulai & membentur di lantai dengan darah yang menggenang di sekitarnya.
Xiaojun melihat Winwin bergumam sendiri secara tidak jelas karena dia juga sedang bertarung.
"Apa ini? Selemah inikah dirimu? Katanya kau seorang mafia paling ditakuti?" Ejek Yibo membuat Xiaojun mendengus & memandangnya dengan dingin. Yibo pun menghampiri Xiaojun sambil memutar-mutar pistolnya.
Saat pemuda dengan nama lengkap Wang Yibo itu hendak menarik pelatuk nya, tiba-tiba...
SREETT!!
JLEBB!!
CRAKK!!
DUAR!!
SYUUNG~~!!
SREETT!!
CRAKK!!!
DUAR!!
Suara goresan & tancapan pisau yang kemudian ditarik lagi bersamaan dengan suara darah yang mengucur deras. Lalu diikuti dengan suara ledakan pistol. Suara-suara tersebut terjadi secara berulang kali diluar bangunan, membuat Yibo bersama anggotanya terkejut & menoleh kearah belakang.
Bahkan Winwin yang selesai bertarung pun menoleh ke sumber suara ribut itu dengan smirk nya.
Pemuda itu melihat seorang perempuan berambut panjang dengan masker hitam, hoodie hitam, serta celana kulot jeans abu-abu gelap, menghampiri mereka sambil membawa cutter yang sudah basah oleh darah & sebilah pistol jenis Desert Eagle. Sneaker putih yang dikenakannya bahkan sudah penuh dengan bercak darah.
"Huang?" Tanya Xiaojun.
"Iya. Tapi bukan cuma Huang, aku juga..." Cewek yang dipanggil Huang itu pun membuka maskernya & tudung jaketnya. Akhirnya terpampang jelas itu wajah siapa.
"XIANA?!" ucap Xiaojun & Yibo berbarengan.
"Hai, Jun Jun. Maaf aku berbohong padamu. Tapi ini juga demi keselamatan mu." Ucap Xiana bersalah walau pun wajahnya menampilkan ekspresi datar. Dia pun melempar maskernya asal. "Terima kasih karena telah menjaga Xiaojun disaat aku tidak ada, Win-ge."
"Apa? Win-ge? Jadi kau sudah tau kalau dia tuh Xiana?" Tanya Xiaojun bingung yang hanya dijawab dengan senyum yang penuh arti.
"Sudah sejak lama malah. Sebelum kau menjadikannya pacar, dia sudah bergabung duluan. Kau aja yang kurang mengamati. Untung dulu dia masih belum punya perasaan padamu." Lanjut Winwin sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Xiaojun bangun, & uluran itu pun dibalas. Dalam hatinya, Xiaojun lega sekaligus bangga karena Xiana ternyata adalah Huang, orang yang selama ini berada disekitarnya saat dirinya berada di dunia mafia. Soalnya saat Xiaojun bersama Huang, dia merasa seperti sedang bersama Xiana.
Xiaojun pun bangun & berjalan menghampiri Xiana bersama dengan Winwin. Xiaojun dengan senyum bangga nya & Winwin tetap dengan smirk nya yang menyeramkan (sampe bikin para Sijeuni hampir mati muda gara-gara jantungan pas liat smirknya :") ).
"Jadi gimana, Yibo? Sudah siap untuk menghadapi permainan yang sesungguhnya?" Tanya Xiana, Xiaojun, & Winwin bersamaan. Tentu dengan smirk andalan mereka. Tangan mereka memegang senjatanya masing-masing. Winwin dengan pistol FN 57, Xiaojun dengan pisau lipatnya, serta Xiana dengan pistol Desert Eagle & cutter dengan noda darah yang mendominasi.
"Aku tidak menyangka akan ada bantuan yang datang, tapi itu tidak akan mempengaruhi permainan kita. Baiklah, mari kita mulai." Ucap Yibo, lalu memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi mereka bertiga.
Xiana pun maju duluan untuk membantai orang-orang itu, diikuti Xiaojun & Winwin. Dengan lihainya Xiana melempar pistolnya ke atas, lalu menghabisi nyawa korbannya dengan menggores wajahnya secara diagonal menggunakan cutter dari jarak dekat. Xiana pun melompat & menggantungkan dirinya ke rantai yang ada diatasnya & menangkap pistolnya hingga jatuh ke tangannya, lalu....
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
DOR!!
Xiana menembak yang lainnya dengan posisi mereka yang berada di belakang korban yang sudah di habisi nya.
Ketika Xiana meloncat turun & akan menghabisi korban kesepuluh, ada anggota musuh yang lain ingin menyerang gadis itu dari belakang. Namun...
SREETT!!
CRAKK!!
"AARRGGGHH!!" Ringis orang itu kala sebuah sayatan paksa menggores punggungnya hingga mengucurkan darah dengan derasnya, membuat Xiana menoleh ke arah orang yang melindunginya itu.
"Xiaojun.. Makasih!" Ucap Xiana bersemangat dengan senyum khasnya yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Xiaojun.
Lalu....
DOR!!
Seseorang menembak mati anggotanya Yibo yang bersiap menyerang Xiaojun dengan pisau.
Xiaojun pun menoleh ke arah orang itu & tersenyum tipis.
"Untung jarak kita deket, jadi mudah buat melindungi kalian walaupun kehalang para tikus ini." ucap Winwin lalu kembali fokus untuk menghabisi orang-orang itu. Begitu pula dengan Xiaojun & Xiana.
Baru 3 menit mereka kembali menyerang setelah kedatangan Xiana, anak buahnya Yibo sudah banyak yang tumbang dengan luka yang bermacam-macam. Yibo yang melihatnya lantas mendengus kesal, lalu mengeluarkan sebuah pistol FN P90 miliknya. Namun....
SYUUNG~~!!
JLEB!!
DOR!!
Sebuah cutter terbang hingga mendarat ke kepala Yibo, disusul sebuah peluru yang tertancap di dadanya. Lebih tepatnya di dada kirinya, tempat jantung berada. Membuat Wang Yibo jatuh tersungkur & tewas ditempat.
Jangan tanya siapa yang melakukannya. Pasti lah Huang Xiana.
"Bagus, Huang Xiana. Sekarang anak si tua bangka itu ikut menyusul ayahnya." Ucap Winwin sambil menepuk pundak Xiana dengan bangga.
"Kita pergi dari sini, nanti aku akan minta anak-anak (serigala) untuk membereskan mereka semua." Ucap Xiaojun.
Xiana pun mencabut cutter nya dengan kasar sampai darah dari kepala mayat itu muncrat ke bajunya.
Mereka bertiga pun pergi dari tempat itu..
"Xiana..."
"Hmm..?" Xiana menoleh ke Xiaojun dengan tatapan bertanya.
"Terima kasih." Ucap Xiaojun dengan senyum nya yang dibalas dengan senyum juga oleh Xiana.
"Ekhem.. Tolong kalau mau bertatapan sama sayang-sayangan jangan sekarang, ada yang masih jomblo soalnya." Sungut Winwin dengan wajah kesalnya yang justru terlihat imut bagi mereka berdua.
Mereka berdua pun tertawa melihat tingkah Winwin.
๐ฒ๐๐๐ ๐ป๐๐๐๐๐๐๐
(๐ฟ๐๐๐๐๐๐ ๐ฝ๐๐๐.)
๐
๏ธ๐
๏ธ๐
๏ธ ๐
๏ธ๐
๏ธ๐
ฆ๏ธ
๐๐ญ๐จ๐ซ๐ฒ ๐๐ฒ : ๐๐๐ข ๐๐ฅ๐ข๐๐๐ก
๐๐๐ฌ๐ก๐ญ๐๐ ๐๐ฒ : ๐๐ฒ๐ซ๐