“Aku tidak punya alasan kenapa aku mencintaimu, tapi aku memiliki perasaan itu, ini benar-benar aku rasakan sampai ke puncak ubun-ubunku, apa yang kemudian meragukanmu, aku rela terus
mengejarmu walau responmu tetap sama, aku rela berteriak di tepi jalan diterpa hujan deras dan disangka oleh orang-orang gila hanya demi kau tau perasaanku, aku rela menutup hatiku demi perempuan mana pun, aku rela ditatap sinis oleh abangmu setiap kali aku berkunjung kerumahmu walau tak pernah kau gubris sama sekali, lalu
apa lagi yang kau ragukan? apa perlu aku menyeberangi lautan, mendaki gunung tinggi supaya kau bisa melihat pengorbanan cintaku Inayah...!” emosi Aldi mulai tak karuan.
“ Cukup Aldi…aku bahkan tidak pernah meminta kau melakukan hal-hal bodoh itu, mengapa kau tak pergi saja waktu aku menolakmu mentah-mentah”? balas Naya.
“ Kau tak pernah sekali pun berkata kau menolakku Naya, kau hanya bilang sudahlah, kau hanya butuh waktu, itu kan yang sering kamu katakan, aku mohon Naya katakanlah sejujurnya, kau juga
mencintaiku kan”? pekik Aldi. “ Ia aku juga memang mencintaimu Aldi, tapi aku pikir jika aku membuka hatiku, itu berarti aku juga membuka pintu kesusahan untukmu” Naya mencoba memperbaiki kestabilan emosinya.
“ Apa maksudmu dengan pintu kesusahan itu? Justru aku menderita kalau aku tak memilikimu”. “Kamu memang bisa bilang seperti itu karena kau belum mengalaminya denganku, lupakan aku Aldi…” ujar Naya. “Aku tidak mau, dan takkan pernah mau, kenapa aku mesti
melakukan itu ha...?”pekik Aldi, suaranya menggema di ruangan beraroma obat itu.
“Karena aku bukan wanita yang tepat, aku sakit Aldi, leukemia telah menggerogoti tubuhku umurku tinggal beberapa waktu lagi, jika aku tidak mendapatkan donor sum-sum tulang belakang dan tidak segera melakukan operasi transpalsi, nyawaku tidak akan tertolong, perempuan seperti aku kah yang kau inginkan?” Naya menjadi histeris
Seperti ada badai di siang hari, Aldi tertegun mendengar penuturan Naya, ia tak percaya tentang apa saja yang baru didengarnya, perempuan itu, perempuan yang selalu mengacaukan pikirannya ternyata tak lebih dari seorang perempuan sekarat yang tinggal menunggu ajal “separah itu kah?” batinnya bergejolak.
“ Aku sendiri yang akan mendonorkan sum-sum tulang
belakangku untukmu dan hiduplah denganku dengan baik”.
“Jangan gila kamu, tidak semudah itu Aldi, aku harus
mendapatkan donor yang cocok, abangku pun sebagai saudara kandungku bahkan tidak memiliki sum-sum tulang belakang yang
cocok untukku apalagi kau tahu aku sudah tidak punya sanak saudara, tapi aku sudah bisa tenang karena aku sudah mendapatkan pendonornya, dan laki-laki yang bersama abangku tadi itu adalah calon suamiku. Ia mau memberiku pendonor dengan syarat aku mau
menikah dengannya dan dia bersedia membantuku dan membiayai semua perawatanku kami sudah membicarakannya tadi sebelum kau datang”. Ucap Naya lemas. “Jangan bilang kalau kamu mengiyakannya Naya, kamu menolaknya kan? Aku bisa membantumu. Aku yang akan melakukannya”. desak Aldi dengan mata yang berkaca-kaca.
“ Pernikahanku minggu depan, dan operasinya akan dilakukan besok. Aku hanya butuh beberapa hari untuk proses pemulihan kemudian melangsungkan pernikahanku, ini memang terlalu terburuburu tapi inilah kenyataannya” sanggah Naya. Hujan turun di petang itu, petir menyambar-nyambar seolah
menggambarkan perasaan dan hati Aldi yang tersayat-sayat. Naya mencoba menggenggam tangan Aldi yang kini tertunduk lesu disampingnya.
“Kalau kau mencintaiku, ikhlaskan aku, pelan-pelan saja Aldi seperti rinai hujan itu, semua kan baik-baik saja” bisiknya pelan, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan perkataannya.
“ Mengapa akhir-akhir ini sering sekali turun hujan dan anehnya, kau mengutarakan cintamu setiap kali hujan turun, lucu yah”? Naya tersenyum kecut.
“Cuaca Desember memang cuaca yang buruk dan kali ini lagilagi kau dan Desember sedang bekerjasama mengirim badai padaku Naya… dan aku kedinginan sendirian, sambil menduga-duga kapan badai ini berhenti. Petir menggelegar,angin kencang, seperti ada banjir aku jadi berpikir, mungkin aku butuh perahu untuk mencapaimu kembali, sebab kau sudah menjadi pulau yang bersendiri. Di sana, jauh di sana, dan semakin menjauh kesana.” Ungkap Aldi. Bau bunga kamboja terus menusuk indra penciuman Naya, gundukan tanah itu kini basah oleh hujan air matanya, seperti hujan yang turun pelan-pelan pagi itu.
Naya, Ia hampir tak percaya Aldi pergi meninggalkannya, masih
terasa betul semangat Aldi yang selalu mengejarnya, tingkah kocaknya
yang seringkali membuatnya resah semalaman.
“Naya…aku mencintaimu, selamanya mencintaimu,
hahahhahahahah”. Perkataan itu berdenging terus di telinganya.
“ Cintaku ikut mati bersamamu Aldi, mengapa kau pergi
sebelum aku menyambut ketulusan cintamu”. Kembali lagi air matanya mengalir deras.
“ Naya…jiwanya mungkin akan pergi, raganya mungkin akan hancur namun cintanya akan tetap utuh bersamamu, seperti yang ia katakan beberapa waktu lalu. cuaca Desember memang cuaca yang
buruk, kau tahu itu dan badai akhir tahun selalu lebih dahsyat dari badai-badai sebelumnya. Tapi diluar semua itu, akan ada pelangi yang muncul setelah badai percayalah. Seperti kau mesti percaya pada
cintanya”. Naya tertegun seseorang menepuk pundaknya dari belakang kemudian duduk di sampingnya. “ Itu kutipan kata-kata Aldi untukmu Naya”. Ungkap Dimas. Ia duduk disamping Naya memandangnya penuh arti. “Ada satu hal yang mesti kau tahu Nay, beberapa minggu yang
lalu sebelum operasimu berlangsung, Aldi berlari menemui abangmu, memohon dengan amat sangat untuk membatalkan perjanjian abangmu dengan bosnya itu. Kemudian ia mengajukan diri untuk melakukan transpalasi sum-sum tulang belakang untukmu, ini keajaiban cinta karena ternyata sum-sum tulang belakangnya cocok untukmu, namun dalam proses operasi itu nyawanya tak bisa diselamatkan, kami baru memberitahumu karena kami juga menghawatirkan kondisimu pasca
operasi. Dialah yang menyelamatkan hidupmu. Aldi pergi dalam keadaan tenang Naya, dia bahagia bisa mengorbankan segalanya supaya kau benar-benar percaya ketulusan cintanya”. Tangis Naya meledak seketika. “Tanpa melakukan semua ini aku sudah percaya padanya Dim…”pekik Naya. Dimas memeluk Naya “Hiduplah dengan baik, dan bahagialah selamanya, seperti yang selalu diinginkan oleh Aldi, seseorang yang begitu mencintaimu”. Hujan perlahan turun mengiringi kepergian Aldi bersama Desember kelabu.