“ Aduh sakit..sakit..lepas, lepas, lepas, apa-apaan sih abang… sakit tau”. Keluh Naya, Naya mengelus-ngelus pipinya yang merah karena cubitan abangnya yang tiba-tiba muncul dari balik kamar,Ferdi hanya bisa tersenyum puas.
“Lagian kamu juga masa bikin kue sebegitu menghayatinya, mikirin apa sih kamu ?”.
“ Ih abang mau tau aja, tunggu yah aku akan siapkan makanan untuk abang, ini sudah jam makan siang kan?” Naya bergegas menyiapkan makanan untuk abangnya, sementara Naya masuk ke dapur mengambil makanan, Ferdi duduk dimeja makan mengamati sisa-sisa adonan kue Naya yang masih
berserakan, tiba-tiba ia menemukan sebuah kertas terselip diantara tumpukan plastik kue yang membuatnya penasaran. Belum sempat Naya meletakkan makanan di meja, Ferdi sudah menyodorkan kertas yang dibacanya dengan mata berkaca-kaca. “Ini apa Naya?”. Ujar Ferdi setengah emosi. Naya tertegun ia lupa kalau kertas hasil check upnya ia taruh di meja dan tak sempat menyembunyikannya. “ Jawab abang Naya….! Kenapa kamu diam?” teriak Ferdi penuh emosi sembari menarik keras lengan Naya, memaksa adiknya untuk bicara . “Apa yang mesti Naya jelaskan bang? Semua tertulis jelas, iyah Naya mengidap penyakit leukimia stadium akut, dalam waktu beberapa bulan kalau Naya tidak mendapatkan donor sum-sum tulang belakang dan segera melakukan operasi transpalasi, dokter bilang Naya Cuma bisa menunggu Tuhan memanggil Naya”. Naya tertunduk lemas, pikirannya mulai tak karuan ia menyeka air matanya yang mulai membasahi pipinya, jelas sekali gurat kesedihan mendalam menggerogoti perempuan bertubuh semampai itu. “Kamu keterlaluan, sakit sperti ini kamu tak pernah katakan pada abang”? kata Ferdi penuh amarah. Semenjak kepergian orang tua mereka tiga tahun lalu, Ferdi merasa didunia ini hanya memiliki Naya, satu-satunya amanah dari
orang tuanya yang harus ia jaga dan lindungi, ia tidak peduli bekerja siang malam demi membiayayi hidup mereka walaupun itu tidak pernah cukup karena pendapatannya yang hanya seorang buruh pabrik kertas, itulah mengapa Naya juga bekerja keras menjual kue kering demi mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka yang semakin hari
semakin meningkat. Ferdi murka ia tak habis pikir mengapa adiknya tega menyembunyikan kejadian ini, ia merasa gagal menjadi seorang kakak kalau sesuatu terjadi pada adiknya itu. Dilain pihak Naya pun merasa bersalah, ia hanya tidak ingin mempersulit keadaan, namun cara ini ternyata justru hanya memperumit masalah. Seperti sinar ultraviolet yang menyengat, suasana makin
memanas dengan bentakan keras Ferdi pada Naya, Ferdi tak peduli lagi dengan suara-suara sumbang yang mulai terdengar dari tetangga sebelah mendengar perseturuan kakak beradik itu. Ferdi kemudian menarik lengan adiknya, mengemas barang keperluan Naya dan bergegas menuju rumah sakit, Ferdi segera mengambil langkah seribu,
kekhawatiran terhadap kondisi adiknya membuatnya mendidih. Naya hanya bisa menurut, kali ini ia benar-benar sudah pasrah ia sangat tahu
kalau abangnya begitu temperamental .
“ Apa Naya dirawat di rumah sakit? Jangan bercanda Dim, aku baru saja bertemu dengannya dua hari yang lalu?” pekik Aldi setengah tak percaya atas kabar yang baru didengarnya itu.
“Di… jangankan baru bertemu dua hari yang lalu, orang kemarin aku
baru ketemu sama si Togar preman pasar dekat kampus kita ini, tahutahu sejam kemudian dia mati ketabrak tiang listrik, kita tidak pernah tau rencana Tuhan Aldi…”Dimas menepuk pundak Aldi.
“ Apa-apaan sih kamu Dim, aku sedang tidak ingin bercanda, darimana kamu tau kabar itu, terus Naya dirawat di rumah sakit mana?
dia sakit apa? keadaannya baik-baik saja kan?”.ujar Aldi.
“ Astaga kamu nanya apa nyembur, pelan-pelan dong, begini menurut informasi dari si Wita anak psikologi tetangganya Naya, yang bodinya aduhai bikin melek, katanya Naya sekarang dirawat di rumah sakit Budi Kusuma,dan soal penyakitnya masih belum jelas karena konon kabarnya ia tampak sehat walafiat tapi dipaksa abangnya masuk rumah sakit, ini sebenarnya Naya yang sakit atau jiwa abangnya yang sakit
yah?” ucap Dimas. Tanpa memperdulikan Dimas yang terus saja bicara, Aldi segera menyalakan motornya, kali ini giliran dia yang meninggalkan
sahabatnya itu.
“ Woi Di aku belum selesai bicara, main pergi saja tuh anak,” Teriak Dimas setengah kesal.
Tidak ada seorang yang ingin berada atau sekadar menjamah ditempat itu. Rumah sakit Budi Kusuma, yah di tempat itulah Naya kini berada, tempat yang mematikan harapan Naya. Motor Aldi melaju
dengan kecepatan tinggi. Setelah memasuki gerbang rumah sakit itu, Aldi memarkir motornya dan segera berlari menuju bangunan rumah
sakit. Ia pun mencari informasi tentang ruang rawat Naya, lalu kemudian mempercepat langkahnya.
“ Lantai 2 kamar 204, nah di pojok sana …”ujarnya.
Tanpa mengetuk pintu ia segara masuk kedalam ruangan itu dan mendapati Naya tergolek lemah tak berdaya. Ada dua orang pria disana, yang satunya ia tahu kalau itu Bang Ferdi kakak Naya yang sering ia lihat tiap kali ia ke rumah Naya dan yang satunya lagi seorang pria bertubuh tambun, berkulit hitam dan perutnya buncit, lagaknya seperti seorang bos.
“ Apa dia om Naya, ah rasanya Naya tidak punya om, di Jakarta ini ia tidak memiliki sanak saudara”.
“ Masuk Al…”suara lembut Naya menghamburkan
pikirannya.
“Untuk apa kamu kesini? kami tidak butuh belas kasihmu, keluar sekarang juga”! bentak Ferdi pada Aldi. Sejak dulu Ferdi memang tidak suka pada Aldi, baginya Aldi adalah salah satu dari sekian banyak lelaki kaya yang sombong dan hanya akan mempermainkan hati adiknya. Setiap Aldi datang
berkunjung ke rumah Naya, Ferdi selalu menampakkan wajah sinis, entah karena apa ia memperlakukan Aldi seperti itu, mungkin karena
Ferdi tidak ingin Naya didekati oleh pria dan dibuat sakit hati. “Tolong bang, izinkan kami bicara, Naya mohon kali ini saja sama abang.” Ucap Naya memelas. “awas kamu kalau macammacam”. Bentak Ferdi sekali lagi. “Baik bang” jawab Aldi pelan. Pria disamping Ferdi hanya bisa tersenyum kecut melihat peristiwa itu, lalu mereka kemudian berlalu keluar. “ Ayo pak, kita biarkan mereka bicara” kata Ferdi kemudian meniggalkan Naya dan Aldi yang disusul oleh Pak Tomo, pria yang
sedari tadi bersamanya. Setelah mereka pergi Aldi kemudian mencari posisi yang baik dan menggenggam jemari Naya .
“Kamu baik-baik aja kan ? kamu sakit apa Nay? Tidak parah kan? ucapnya memulai pembicaraan, Naya mengangguk pelan. Aldi tak mau lagi membuang-buang waktunya, ia merasa kalau
ini adalah saat yang tepat untuk lagi-lagi menyatakan perasaannya pada Naya, walau ia tahu kemungkinan besar ia ditolak pasti masih
ada tapi ia sudah tak peduli semua itu.
“ Nay…mungkin kamu sudah bosan mendengarkan
perkataanku ini, tapi demi Tuhan Nay… aku sangat mencintaimu, tidak bisakah sedikit kau membuka hatimu untukku, aku ingin menjagamu hingga akhir hayatku, aku ingin melindungimu hingga
akhir waktuku, bersedia kah kau mendampingiku dan membentuk masa depan denganku”? kata Aldi mantap. “Jangan bercanda Aldi… ini sama sekal tidak lucu” ucap Naya yang mencoba menyembunyikan perasaannya. Padahal ia tahu betul hatinya ingin sekali menjerit mengatakan iya, tapi ada hal lain yang mesti ia pertimbangkan selain hanya sekadar kata hati dan perasaannya. “Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang, aku serius Naya, aku mencintaimu dengan tulus” tukasnya mencoba meyakinkan Naya. “ Kenapa kau mencintaiku, kenapa mesti aku Di, kenapa tidak orng lain saja,aku bukan wanita yang baik untukmu”. air mata Naya
mulai meleleh.