Desember kelabu, seperti hujan disepertiga Desember ,ia penasaraan bagaimana nanti semua hanya bisa dikenang.Pertanyaan itu hampir selalu ada dibenaknya tiap kali merasakan air hujan turun membasahi atau hanya sekedar melihatnya…
Pertanyaan yang belum ia dapati jawabannya hingga detik ini, sementara sisa waktu yang ia miliki di dunia ini yang entah kapan berakhirnya ia pun juga tidak tahu … ..
Diantara keheningan malam rupaya Naya bersekutu dengan hujan membasahi jiwa dan perasaan Aldi, bus kota yang lalu lalang menjadi saksi bisu dari reka adegan yang sedang mereka lakukan.
Malam begitu pekat, hanya sedikit bias cahaya yang dibagi oleh langit. Dengan napas tersengal-sengal Aldi terus mengikuti Naya, mulai dari perjalanan kampus hingga di depan halte bus kota, ia terus saja mengejar perempuan itu. Aldi benar-benar sudah kehilangan akal, berulang kali ia menyatakan cinta pada Naya, tapi Naya tetap tak menggubrisnya
“ Naya…aku mencintaimu aku tidak akan menghentikan hujan sebelum kau bilang kau juga mencintaiku”. Teriaknya
“ Gila kamu Di…kamu bukan pawang hujan apalagi Tuhan yang bisa bicara seperti itu, Aku juga bisa pulang walau hujannya
tidak berhenti”. Timpal Naya sembari menggeleng-gelangkan kepalanya, ia tak percaya mengapa pria itu begitu tergila-gila padanya,
Sesaat kemudian ia menyadari darah mengucur pelan dari hidungnya. “Ya Tuhan..berdarah lagi, ini pasti karena kecapean”. Buru-buru ia mengusap darah dari hidungnya, ia tidak ingin Aldi melihat apalagi sampai mengetahui kondisinya saat ini.
“Pulang sana..aku tidak mau tahu kalau sesuatu terjadi padamu ”. Teriak Naya Lalu kemudian bergegas pergi menaiki bus kota yang sedari
tadi menunggunya dan berlalu begitu saja meninggalkan Aldi. Air tawar itu tumpah seperti hujan yang membasahi malam. “Tuhan kirimkan aku badai sekarang juga aku tak sanggup melawan
perasaanku hanya dengan hentakan butiran-butiran air ini”. Ujar Aldi setengah kedinginan sedingin sikap Naya padanya.
ANUGERAH INAYAH REZKY …. Terlalu indah nama
perempuan itu andai saja mencintainya itu adalah pahala mungkin akulah orang pertama yang masuk surga” Aldi membatin. Kalau diingat lagi bagaimana proses perkenalannnya dengan perempuan itu ia terkadang tergelitik sendiri. Bagaimana tidak, dari
sekian juta perempuan yang didekatinya hanya Naya yang mampu menolaknya mentah-mentah, padahal semua orang tahu perempuan mana yang bisa menapik pesona seorang Aldi? selain tampan, dia juga aktifis di kampusnya. Tak heran kalau Aldi sendiri merasa Naya adalah perempuan langka yang mesti didapatkannya. Pertama kali melihat perempuan itu Aldi sudah mulai merasakan debar-debar berbeda. Selain paras yang ayu, tutur lembut dan laku khasnya membuatnya tidak bisa tidur semalaman memikirkannya. Berkenalan
dengannya pertengahan tahun lalu di acara bakti sosial yang diadakan di kampus mereka adalah hal tak pernah terduga sebelumnya. Bagi Aldi Anugerah terindah dari Tuhan adalah bertemu dengan
Inayah Rezky.
“Aldi… mana proposal yang aku minta kemarin”?
Tiba-tiba Dimas datang menghampiri Aldi yang sedang terpaku dengan lamunannya di bangku kayu. Ia tersenyum sendiri tak ada yang menemaninya, ia bahkan tidak mengubris teman-temannya yang lalu
lalang dihadapannya. Aldi masih tenggelam dalam lamunannya.
“Di…Davi Revaldiano…!!!” teriak Dimas setengah kesal
“Heii Dim, sejak kapan kamu disini?” pekiknya yang kemudian
terdasar kalau sedari tadi Dimas ada didekatnya.
“ Sudah dari seabad yang lalu” umpatnya kesal. “Aku heran belakangan ini kau terlihat sering merenung sendiri, ada apa sih? Jangan bilang kamu sedang mengimajinasikan wanita itu lagi, ayolah Di… lihat dunia dengan nyata, terlalu lama berkutat dengan alam imajinasimu itu malah membuatmu akan terhempas sakit saat kau sudah terbangun dan tersadar di alam nyata”. Dimas adalah sahabat Aldi yang paling tahu segala hal tentang Aldi. Tak heran jika ada sesuatu hal yang terjadi pada sahabatnya itu, ia pasti tahu. “ ini bukan imajinasi Dim perempuan itu begitu nyata
dihati dan pikiranku.” Sanggah Aldi.
“Ah sudahlah sekarang aku mau ambil proposalnya”. Dimas kemudian membuka tas Aldi dan menemukan apa yang dicarinya.
“Nah ini dia… eh aku duluan yah ada kelas nih, jangan menghayal terus kamu”. ucap Dimas menepuk pundak sahabatnya itu kemudian
berlalu pergi.
“ Tapi Dim, aku belum cerita soal Naya” teriak Aldi. “ Naya, Naya, dan Naya lagi, makan tuh Naya hahahah”. Dimas membalas teriakan Aldi sembari tertawa renyah . Aldi tak tahu lagi harus berbuat apa, ia kini sendirian di pojok kampus, kali ini Dimas bahkan tidak bersedia meminjamkan telinganya untuk sekadar mendengarkan isi hatinya yang bergemuruh. Peristiwa semalam terus menghantui pikirannya. Sudah ribuan kali ia menyatakan cinta pada Naya, tapi respon perempuan itu tetap sama,
menggantung tanpa kejelasan, menolaknya tidak, menerimanya pun tidak.
“ Hmmm Tuhan mengapa kau menciptakan unsur bernama wanita
yang lemah tapi sangat kuat pengaruhnya, lagi-lagi cuma bisa curhat sama Tuhan”. Desah Aldi pelan .
Disudut lain perempuan yang membuat Aldi benar-benar gila kini tengah berkutat dengan cetakan kue-kue keringnya yang dibuat sendiri untuk keperluan dagangnya, siang itu terasa begitu menyengat kulit. Sinar ultraviolet masuk kelubang-lubang kecil dari dindingdinding yang kayu yang mulai merapuh. Naya membasuh peluh
keringat yang membasahi jidatnya, meskipun lelah tapi ia tidak memiliki pilihan lain, ia harus bisa membiayayi keperluan sehariharinya tanpa terus merepotkan kakak semata wayangnya. Dia tak
peduli lagi dengan tubuhnya yang semakin kecil karena terus bekerja dan sakit yang dideritanya belakangan ini. Sesaat pikirannya kemudian
melaju pada Aldi, pria yang belakangan mengobrak abrik hari, hati, dan pikirannya tapi ia terlalu takut dengan perasaannya.
“Suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti Di, mengapa aku melakukan ini”. Desahnya pelan sembari mengemas kue-kue mungilnya, ia merasa lelah, entahlah lelah karena pekerjaannya atau lelah dengan perasaannya sendiri.