Musim panas di kota pelabuhan ini tak berarti apa-apa. Apalagi setelah dua tahun berada di Negri ini. Pertama kali menginjakan kaki di tanah ini saat itu aku tidak tahu harus bagaimana. Padahal, aku tidak terpikirkan untuk tinggal di sini dan meninggalkan tempat kelahiranku.
Aku tidak tahu apakah ini takdir ataukah ujian bagiku berada di tempat ini. Bahkan, keluarga baruku ini baru mengenal agama islam yang kuanut beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang yang harus aku terima saat ini adalah kenyataan bahwa kehidupan baruku ada di Negri sakura.
Yokohama ibukota Prefektur kanagawa, Jepang. Sebuah kota pelabuahan besar tempatku memulai kehidupan baru dan hubungan baru. Mungkin ini terdengar repot karena selama dua tahun dari pertama kali aku ada di Negara ini, aku berusaha menyesuaikan segalanya walaupun itu cukup sulit saat dilakukan karena aku tidak terlalu nyaman tinggal di sini.
***
Satu hari di musim panas ini mulai membuatku merasa benar benar hidup. Karena untuk pertama kalinya aku bisa bebas dari segala hal persiapan melanjutkan studi di Negara ini. Minggu pagi ini sangatlah hangat dan tenang bagiku, setidaknya itulah yang kurasakan setelah dua tahun terakhir mempersiapkan kehidupan baruku ini.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, Hal yang paling tak terduga kali ini telah datang dalam hidupku. Untuk pertama kalinya adik tiriku itu mengajakku berbicara panjang lebar dan berbelit belit, padahal sebelumnya dia tak pernah begitu. Selama dua tahun ini aku betul memahaminya dan perubahan drastis ini sangat membuatku terkejut.
***
“Kak, setelah apa yang aku katakan tadi apa Kakak mengerti?” ucapnya dengan tatapan tajam kepadaku.
“Jadi maksudmu, aku harus berpura pura menjadi kakak idaman bagi semua orang?” jawabku dengan bertanya hal lain kepadanya.
Aku sama sekali tidak percaya adikku itu akan dengan mudahnya mengangguk dan memintaku untuk berpura pura. Sejujurnya, aku kurang paham dengan sosok kakak idaman yang dia maksud.
“Kurang apa coba, selama dua tahun ini aku mencoba jadi kakak yang baik bagimu!” batinku.
“Jadi Kak, apa jawabanmu?” tanya adikku singkat.
“Tentu, tapi jangan terlalu berharap banyak pada Kakakmu ini ya!” jawabku dengan senyum ramah padanya.
Aku tidak terlalu banyak memikirkan permintaan tak masuk akal adik tiriku itu. Tapi tidak kusangka setelah semua yang dijelaskan olehnya pagi hari tadi, pada sore harinya mereka benar benar muncul.
“Yang benar saja. Jadi cerita panjang dari mulutnya itu benar ….” gumamku.
***
Malampun tiba, aku sedang berada di kamar. Awal musim panas pada hari itu, aku lewati dengan hanya berpura-pura kepada teman temannya Hana yang datang ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Selama beberapa jam aku berinteraksi dengan mereka layaknya seseorang yang berwibawa, menjadi kakak idaman semua orang.
Tak kusangka, hanya menyambut dan melayani tamu rumah dengan baik seperti ibu dan ayahku membuatku merasa lelah. Terlebih lagi mungkin aku lelah karena lebih menggunakan tenagaku untuk menghidangkan beberapa masakan malam untuk mereka makan sebelum pulang.
“Tok tok tok. Kakak, aku boleh masuk?” Hana mengetuk pintu kamarku.
“ Ya, boleh. Masuk saja.” Aku berteriak kecil, menjawabnya.
“Baik kak, terimakasih ….”ucapnya.
Tidak lama dari itu, adikku masuk ke kamarku. Sedangkan aku sedang berbaring di kasur karena lelah menjalani hari yang mengejutkan ini. Aku sudah malas jika harus di hadapkan dengan sikap adikku yang lainnya kali ini. Terlebih setelah apa yang dia minta padaku tadi.
“Haaah … Sikap kakak kali ini benar benar deh!” Hana menghela napas, dan menggerutu tentang sikapku.
“Hei kak. Kakak. Oi … Kau dengar tidak!” Hana mulai berteriak.
Aku masih saja barbaring di kasurku memejamkan mataku, menghiraukan sikapnya yang seperti itu. Sejujurnya mungkin akan menarik jika aku tetap seperti ini dan membiarkan sikapnya yang egois itu. Tapi nyantanya itu adalah hal yang salah, adik tiriku Hana langsung memegang bajuku dan menjatuhkanku ke lantai kamar.
“Apa kau sudah bisa mendengarkanku sekarang, Kakak!” ucapnya tajam.
Seketika itu juga, aku langsung bangun dan duduk bersila memperhatikan Hana. Aku tidak percaya dia juga bisa bersikap seperti ini padaku. Ya, memang wajar sih dia menjatuhkanku seperti itu.
“Jadi … Ada perlu apa, biasanya tidak mengunjungiku seperti ini?” tanyaku.
“Haah …Kenapa kakak tidak tetap seperti tadi, cara kakak menjamu teman-temanku itu bagus. Bahkan mereka senang karena sikap kakak!” ucapnya.
“Begitu ya. Tapi Hana sosok tadi bukanlah Kakak, lagipula yang suka sikap itu hanya teman-temanmu. Bukan kamu sendiri.” bantahku.
Aku pergi meninggalkan Hana sendiri di kamar itu. Saat aku mengatakan itu, terlihat eksprsi wajahnya sangat terkejut.
Malam ini, pukul 9 malam. Namun di daerah tempat tinggalku ini masihlah ramai akan lalu lalang orang orang. Menghadapi dinginnya udara malam. Aku masih terpikirkan akan perkataanku padanya. Aku sudah tidak tahu harus bersikap apa lagi jika nanti dia marah padaku. Bahkan kemungkinan suasana di rumah ini akan canggung.
***
Hari berganti, satu pekan telah berlalu. Sejak kejadian itu sikap adikku padaku sedikit berubah. Namun aku bersyukur karna perubahan sikapnya sekarang lebih kearah positif. Dia kini lebih mudah di ajak bicara dan aku cukup lega akan hal ini.
Aku berada di teras rumah menikmati pagiku dengan secangkir kopi hangat di pagi hari yang belum terisolasi oleh orang orang. Hal ini sudah menjadi rutinitasku setelah melaksanakan solat subuh.
“Kak, apa Kakak tahu sebentar lagi akan ada pertunjukan kembang api loh!” Hana menghampiriku dengan riang.
“Lalu, emangnya kenapa. Hanya kembang api kan.” balasku singkat.
“Inilah jadinya jika Kakak hanya belajar di rumah dan tidak keluar saat ada acara besar!” ejek Hana sambil tertawa kecil dan duduk di dampingku.
“Mau bagaimana lagi. Aku baru bisa bebas dari semua persiapanku melanjutkan hidup itu baru tahun ini.” ucapku kepadanya.
“Ya, aku tahu itu. Pasti cukup susah bagi Kakak untuk tinggal di sini. Apalagi Kakak harus meninggalkan segalanya di sana. Tapi tenang saja akan aku pastikan Kakak mendapatkan kenangan manis di sini!” ucapnya riang, lalu terseyum manis di depanku.
Pada saat itu juga aku hanya tersenyum membalas apa yang dia katakan kepadaku. Namun sikapnya ini sangatlah aneh, aku tidak mengerti kenapa satu kalimat yang kulontarkan kepadanya bisa membuatnya berubah sederastis ini.
“Hana boleh aku tanya satu hal padamu?” tanyaku singkat.
“Boleh, tanyakan saja. Aku akan menjawabnya!” balasnya riang.
“Apa kau sedang sakit, sikapmu tiba tiba berubah seperti ini, wajahmu juga merah.” Aku menatap wajah adikku. Saat aku melihatnya dia hanya terdiam sejenak dan langsung tersenyum manis kepadaku.
“Tidak kok, aku baik baik saja. Hanya saja aku ingin memulai hal yang baru. Sama seperti Kakak yang berusa menjalani hidup baru Kakak di sini. Karna itu aku mulai merubahnya dari sikapku kepada Kakak.” Hana tersenyum kembali.
“Begitu ya. Aku kira kau sedang sakit!” balasku padanya.
“Tentu saja tidak, mana ada kan sakit yang seperti itu. Jadi kakak apa kakak menyukai sikapku ini?” tanya Hana riang.
“Entahlah, tapi aku ingin kamu apa adanya. Tidak perlu merubah sikap sedrastis ini. Jujur saja itu membuatku takut untuk pertama kalinya,” jawabku singkat.
Sejenak setelah mendengarkan perkataanku Hana langsung tertawa terbahak bahak. Aku hanya diam melihatnya yang tertawa seperti itu. Tak lama kemudian entah apa yang menyamabar pikirannya, dia langsung berbaring dan menjadikan pahaku sebagai bantal.
“Kau sedang apa?” tanyaku kesal.
“Tiduran, memangnya kenapa. Bukannya kakak suka sikapku yang egois dan apa adanya ini kan!” Hana tertawa riang.
“Itu, haah … Lupakan saja yang kukatan,” balasku lemas.
***
Hari ini tanggal 1 Juli tahun 2020. Sudah beberapa kali Hana mengajakku untuk pergi bersenang senang menikmati festifal kembang api di kota. Bahkan yang paling parah adalah pada saat ada kerja kelompok tugas kampusku. Saat itu dia begitu lengket padaku sambil membisikkan tentang kembang api itu, tanpa memikirkan disekitarnya ada orang lain.
“Ikut aku lihat kembang api yuk,” bisiknya, sambil memegang lenganku,
“Hehe … Kalian cukup akrab ya. Aku senang melihatnya!” Salah satu temanku kampusku mengejekku seperti itu.
“Apa kau puas, melihatku seperti ini?” tanyaku padanya.
“Tentu saja, kini aku paham kenapa kamu menolak perasaanku kemarin. Ya, dia juga cukup manis kok. Aku suka pilihanmu, tapi cukup menyakitkan juga ya melihatmu bermesraan dengannya sekarang,”jawabnya tanpa ragu.
Saat dia mengatakan hal itu secara terang terangan, itu membuatku merasa terkejut dan sedikit malu. Untuk pertama kalinya waktu itu dalam hidupku, aku mendapatkan sebuah pengakuan dari seorang gadis. Tapi memikirkan berbagai hal lainnya, yang bisa aku lakukan hanyalah menolaknya waktu itu. Dan sekarang gadis itu barusaja mengejekku dengan kesalahpahaman ini.
***
Malamnya, setelah makan malam bersama keluarga Hana langsung menemuiku. Dia terus berkata ingin mengajakku untuk pergi melihat festival kembang api dan bersenang senang di kota. Sejujurnya pada tanggal perayaan itu aku ada waktu luang. Namun, aku tidak terlalu suka mengurangi waktuku hanya untuk melihat pertunjukan.
“Kak, aku mohon. Sebentar saja tolong temani aku ke sana!” ucapnya memohon dan memelas dengan egoisnya.
“Bukannya tahun kemarin juga kau pergi dengan teman-teman mu?” tanyaku singkat.
“Tahun ini meraka tidak bisa pergi denganku. Aku mohon sebentar saja,” ucapnya lebih memelas dengan ekspesinya yang sok manis membuatku merasa kesal.
Aku tertegun diam. Sebetulnya aku mungkin tahu alasan teman temannya tidak bisa pergi bersama Hana. Mereka sudah memiliki kehidupan pribadi masing masing terlebih lagi mereka genap berumur 18 tahun, dua tahun lebih muda dariku. Hanya dengan sekali lihat dan mendengar pembicaraan saat menjamu mereka, aku tahu hanya hana yang masih polos dan menjaga dirinya.
Sebetulnya aku merasa ini adalah ujian bagiku. Tinggal di lingkungan baru, memiliki hal baru yang harus di jaga, dan tetap kuat menghadapi derasnya perubahan kebiasaan yang ada di negri ini. Karna itu aku cukup bersyukur, setidaknya Hana dan ibu tiriku itu tidak main main soal agama.
***
“Bagaimana kak, apakah aku terlihat cocok mengenakannya?” tanya hana sambil berputar putar memperlihatkan yukata miliknya.
Saat itu aku hanya diam, dan mengingat kembali dua tahun kebelakang apakah dia selalu menggunakan pakaian seperti itu saat pergi ke festival. Namun kesadaranku teralihkan kembali saat hana berteriak memanggilku.
“Kakak, kok diam. Tidak sopan loh jika tidak menjawab pertanyaan dari seorang gadis!” tegurnya
“Begitu ya, baiklah akan aku jawab. Pakaian itu terlihat cocok untukmu, jadi cepat ganti sana dan cobalah kali ini pakai kerudung!”
Hari ini Sabtu 13 juli 2020. Aku menunggu adikku itu selesai mengganti pakaiannya kami berencana akan pergi ke tempat festival itu untuk melihat pertunjukan kembang api. Sebetulnya jika melihat di brosur, festivalnya sudah di mulai dari siang tadi. Tapi karna aku malas menghabiskan waktu kami setuju untuk pergi setelah shalat magrib dan melihat pertunjukan utamanya yakni kembang api.
“Kakak, bagaimana menurutmu kali ini?” tanya Hana singkat.
Saat aku melihatnya, aku sangat terkesan pakaian muslim yang aku belikan sangat cocok untuknya. Warna baju oren cerah dengan kerudung biru muda yang tak pekat membuatnya tampil sangat cantik.
“Kak, kok diam … Apa tak cocok? Tanya Hana ragu.
“Maaf … Ini membuatku terkesan hingga hanya diam saja. Pakaiannya sangat cocok terimakasih!” jawabku sambil tersenyum ramah.
“Aku juga, terimakasih karna telah membelikannya. Lain kali tolong antar aku beli pakaian seperti ini ya kak!”
“Tentu saja, kapanpun itu.” Aku tersenyum dan tertawa kecil di hadapanya.
***
Malam yang dinantikan tiba. Tepat pukul 7 malam selama satu jam penuh ribuan kembang api di luncurkan. Kami berdua mendapatkan tempat cukup bagus untuk melihat pertunjukan kembang api itu. Meluangkan waktu untuk melihat kembang api bersinar dan menghilang cukup terbayarkan.
“Bagaimana menurutmu kak, cukup indah bukan?” tanya Hana pelan
“Ya, syukurlah kita bisa melihatnya ….” balasku singkat.
Saat aku menjawab perkataanya, aku mulai merasa Hana tidak lagi disampingku. Melihat ke segala arah, berjalan mencarinya di ribuan orang yang sedang berdiri melihat kembang api sambil berteriak memanggil namanya berulang ulang adalah hal yang kulakukan kala itu.
“Hana …Hana Hana!” Aku berteriak keras beberapa kali memanggilnya.
Hilangnya dirinya dari sisiku cukup membuatku cemas dan khawatir sesuatu akan terjadi padanya. Namun saat aku hendak berjalan jauh keluar dari kerumunan ini, tiba tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang. Aku langsung berhenti saat itu juga kala mendengar suaranya.
“Aku menyukaimu!” teriaknya
Satu kalimat yang membuatku berhenti saat itu. Kalimat itu tidak terlalu berarti bagiku jika itu datang dari mulut orang lain. Tapi kali ini berbeda, kalimat pengakuan itu keluar dari suara yang ku kenal. Suara itu berasal dari Hana adik tiriku.
“Aku menyukaimu, Kak Mita tidak perlu menjawabnya sekarang. Kapanpun itu perasaanku takan berubah!” ucapnya riang.
“Kau kemana saja. Dan juga tiba tiba bilang seperti itu padaku. Apa kau sedang mempermainkan ku Hana?” tanyaku lemas karna aku lega dia tak hilang.
Pelukannya semakin kuat melingkar di badanku. Kini aku tahu seberapa seriusnya akan perasaanya padaku. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan pelukan ini karna akan melukai perasaanya. Bahkan mungkin jika aku melapaskan tangannya, aku tidak tahu kapan akan bisa melihat sosok hana yang tersenyum riang kala itu.
“Perasaanku ini serius, tolong terimalah. Jadikan pengakuan dan diriku ini sebagai kenangan baru kakak di negri ini.” ucapnya serius.
“Aku tak menyangka ini terjadi padaku. Untuk kenangan ini aku ucapkan terimakasih banyak hana.” ucapku pelan.
“Terimakasih juga telah menerima perasaanku. Kak, apakah kamu akan memberikan judul untuk kenangan pertama ini?” ucapnya riang.
“Karna akan aku jamin, akan aku buat kakak memiliki kenangan manis yang lainnya!” ucapnya melanjutkan.
“Begitu ya, judul kenangan ini …” balasku.
“Iya, tidak terlalu susah bukan. Karna aku ada bersamamu.” ucapnya riang.
Saat aku mendengar pertanyaan tadi, satu kalimat yang terus terbayang di kepalaku setelah semua yang dia lakukan padaku. Dia membuatku kesal akan sikap egoisnya, membuatku terpana akan kecantikannya. Bahkan, membuatku hampir nengis berteriak teriak memanggil namanya ketika dia hilang.
“Satu kalimat untuk mengenang semua perasaan dan hal yang terjadi sampai hari ini …” ucapku pelan, kemudian menggenggam tangan Hana yang memelukku.
“Apa itu, aku harap akulah yang memenuhi kenangan pertama Kakak!” balas Hana singkat, menguatkan pegangan tanganya yang menggenggam tanganku.
“Tetesan kenangan di langit Yokohama …”ucapku riang, sambil tersenyum.