Pernikahan kita yang ku kira akan penuh dengan kebahagiaan, ternyata malah sebaliknya.Seperti kata pepatah, jauh panggang dari api. Kini harapan dan ada ku itu malah sebaliknya lah yang terjadi.
Tak kusangka, hubungan yang sudah kita jalin 8 tahun lamanya sebagai pasangan kekasih, dengan segala kendala dan juga banyaknya air mata yang telah kita lewati bersama kini jadi seprti ini. Dimana kekuatan cinta kita dulu.
Hari itu tepat ditanggal 20 Juli 2002 kamu datang menagih jawaban dari pernyataan cintamu beberapa hari yang lalu.
Aku ga menyangka, orang yang selalu ku comblang kan dengan salah satu teman sekelasku malah menyatakan cintanya padaku.
Perkenalkan,namaku Reyna.Kala pertama kali jadian sama pacarku yang sekarang menjadi suamiku, aku saat itu masih duduk di kelas 11.Aku Terima pernyataan cintanya karena bujukan teman-teman genk ku.Karena pacarku yang sesungguhnya tinggal di desa tetangga, dia jadi tidak pernah bisa mendampingiku pergi ke mana-mana. Karena jarak yang jauh, kala itu kendaraan pun dia belum punya karena masih usia sekolah.
Ya,kalian benar.Kini aku sedang berkhianat, bisa dibilang punya pacar dua,yang pertama bernama Rio dan yang kedua yang baru kuterima ini bernama Ryan.
Ryan berkata padaku agar aku segera memutuskan Rio karena dia ingin aku hanya jadi pacarnya saja. Selama ini aku dan Ryan memang sering bertemu di masjid tempat kami belajar mengaji.
Kebetulan juga,Ryan dan teman-temannya sering nongkrong dirumah tetangga sebelah rumahku.Pernah beberapa kali teman-temannya yang juga kukenal,menyampaikan salam dari Ryan padaku tapi tak ku gubris karena aku sudah punya pacar.
Sejak malm itu,kami resmi jadian. Sesuai permintaan Ryan aku harus memutuskan hubunganku dengan Rio yang memang jarang sekali bertemu. Selama pacaran Rio hanya dua kali menjemputku di sekolahku, karena sekolah kami berbeda. Aku, Rio, dan Ryan memang bersekolah ditempat yang berbeda.Aku dan Rio bertemu di SMP, tapi SMa kami tidak memilih tempat yang sama. Sedangkan Ryan, dia bersekolah disekolah yang sama dengan kakak perempuan ku mbak Sisi.
Di hari itu, aku mengirimkan surat permintaan putus kepada Rio melalui temanku yang juga tetangganya, aku tidak berani kalau harus berhadapan langsung dengannya karena aku sangat merasa bersalah padanya.
Walau bagaimana pun aku sudah melukai hatinya,dan akan membuatnya membenciku mulai hari ini.
Rio yang dari SMP sudah menaruh hati padaku baru kuterima cintanya setelah SMA. Kami jadian hanya melalui surat.
Lucu memang,saat itu aku belum pernah pacaran, dan ini pertama kalinya.Rio adalah pacar pertamaku.
Tapi kalau boleh jujur, aku tidak tau apa itu cinta atau bukan.Perasaanku biasa saja, apalagi kami sangat jarang bertemu. Hanya lewat surat saja.
Akhirnya kuterima surat balasan dari Rio, dia benar-benar marah dan tidak Terima kalau hubungan kami berakhir tanpa alasan yang jelas dan hanya keputusan sepihak seperti ini.
Rionteurs bertanya apa alasanku memutuskan dirinya. Aku sangat bingung waktu itu, karena seringnya aku bertemu dengan Ryan di masjid membuat kami semakin dekat, darin mengaji bersama dan juga mengajari adik-adik santri bersama.
Entah mengapa, aku mulai merasakan ada getaran-getaran di hatiku untuk Ryan. Tatapan matanya mengisyaratkan cinta yang tulus padaku, tapi aku tidak mau terkecoh.Keputusanku untuk menerima cinta Ryan adalah karena anjuran teman-teman, bukan keinginanku sendiri. Itu awalnya, tapi sekarang perlahan cinta itu benar-benar tumbuh dihatiku dan juga mungkin dihati Ryan.
Lambat laun hubungan kami diketahui oleh ayahku, beliau begitu marah dan tidak suka aku menjalin hubungan dengan Ryan karena latar belakang keluarga Ryan yang notabene bukan orang berpunya, ditambah lagi orang tua Ryan pernah mengambil sesuatu tanpa izin dari kebun orang tua ku.
Aku dan Ryan terpaksa Backstreet, bahkan disaat semua teman genk ku pergi menonton acara orgen tunggal di lapangan saat acara tujuh belasan, aku dikurung didalam rumah agar tidak bertemu lagi dengan Ryan.
Tragis memang, beberapa kali ada acara di kampungku, tapi aku tidak diperbolehkan hadir oleh ayahku.Bahkan saat akan merayakan pergantian tahun baru, Ryan disuruh pulang oleh ayahku karena dia sudah gerah melihat Ryan masih kekeh datang kerumahku.
Menyedihkan memang,pada akhirnya Ryan memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri hubungan kami.
Setelah lulus SMA Ryan bekerja diluar kota dan kami hanya berkirim surat saja,kala itu belum ada handphone seperti sekarang ini.
Hubungan kami semakin renggang,semakin lama surat darinya pun juga jarang kuterima.Sepertinya dia sudah melupakan aku.
Malam itu, ada pesta di kampungku. Acara nikahan salah satu gadis di kampungku. Bisa dibilang kakak kelasku dulu waktu di SD.
Aku bersiap untuk pergi ke pesta, malam ini aku dijemput oleh teman sekelasku yang juga masih sepupuku kak James.Karena teman-teman genk ku sudah punya pasangan semua dan hanya aku yang ga ada pasangan karena cowokku lagi diluar kota, aku fikir ga papa lah kalau aku Terima ajakan James buat berangkat bareng ke acara itu.
Saat kami sedang berjalan menuju acara pesta, aku melihat Ryan sedang ngobrol dengan sepupunya dari kota, yaitu Jo.
Tatapan mata kami bertemu, Ryan sepertinya sangat marah melihat aku berjalan bersama James disampingku.Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku.
Aku rasa ga ada salahnya, toh James adalah sepupu jauh ku dari sebelah ibuku.Kenapa juga Ryan harus marah padaku.
Tadinya aku kira kalau Ryan akan menghanpiriku dan James,tapi ternyata dia malah cuek. James bertanya padaku
"Apa kamu mau menemui Ryan?. "
"Kayaknya dia lagi sibuk sama sepupu dan juga teman-temannya. Mending ga usah ganggu dia, yuks jalan. " jawabku sambil melangkah menjauhi Ryan dan teman-temannya dan menyusul rombongan genk ku yang berada didepan kami.
Terus terang hatiku kecewa sekali, karena Ryan mengabaikanku.Bahkan dia tidak memberitahuku kalau dia akan pulang ke kampung ini.
Rasanya tiba-tiba saja hatiku terasa pedih,ada luka disana.Rasanya sangat 💔.
Suasana dipesta begitu ramai, setelah menaruh kado dan juga mengisi buku tamu aku dan teman lainnya dengan pasangan masing-masing mencari tempat nongkrong dipinggir jalan sambil duduk disendal.
Karena semua orang sudah ada pasangan,mau tidak mau aku terus bersama James. Ga enak juga kan kalau dia aku tinggal, lagian aku juga hanya sendirian.Sementara Ryan entah dimana sekarang aku tidak tau sama sekali dia dimana.Daritadi tidak nampak lagi barang hidungnya.
Saat aku sedang asyik ngobrol dengan James, Tiba-tiba Ari datang memanggilku. Ari adalah salah satu temannya Ryan,sahabat kentalnya hingga saat ini.
"Reyna, Ryan mencarimu. Dia ingin berbicara denganmu empat mata.Dia menunggu mu disebelah situ. " kata Ari .
"Ha!?, apa?. " kataku bingung, bukannya dia tadi ga peduli ya dengan ku, dalam hatiku.
"Cepetan, nanti dia marah. Apalagi lihat kamu sama James. " Ari kembali menakutimu.
Aku benar-benar ga enak sama James.Bagaimana aku bilangnya, aduh pusing kepalaku.
Tetapi, ternyata James sangat pengertian, dia pun menyuruhku untuk segera menemui Ryan.
"Maaf ya James aku tinggal dulu." kataku ga enak hati.
"Ya tenang aja, ga pa pa kok. hehe. " ujar James dengan senyum yang sedikit terpaksa.Dapat kulihat gurat kecewa diwajahnya.
Akhirnya aku mengikuti Ari yang membawaku menuju tempat dimana Ryan berada.Hatiku deg-degan, rasanya mau melompat dari dadaku.
Sampai ditempat itu yang cukup sunyi, kulihat Ryan sedang berdiri sendirian sambil memasukkan kedua tangannya disaku jaket tebal yang ia kenakan.
Aku ikut berdiri disampingnya tanpa berani menyapanya, mataku mengabsen bintang-bintang dilangit, mengalihkan pandanganku darinya.
Dapat kurasakan aura kemarahan dari sudut matanya,'apa dia cemburu' fikirku.
Selang beberapa menit, Ryan membuka suaranya.
"Ekhem." ucapnya berdehem.
Aku hanya diam tak menjawabnya,hanya bisa sedikit melirik kearahnya yang ternyata sekarang sedang menatapku dalam-dalam, seolah sedang menyelidiki kejujuran dari mimik wajahku.
Aku tak bergeming, dan terus menata otakku untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menyapanya,tapi payahnya otakku tiba-tiba terasa buntu.
Tadi dijalan menuju kesini, Ari sudah memperingatkan ku kalau sahabatnya itu marah karena aku bersama dengan James,dan mengabaikan dirinya.Tapi bukan kah dia yang sudah mengabaikan aku.
"Apa kabar?. " Kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"ya beginilah, kamu kapan pulang. Kok ga ngabarin aku?. " tanyaku.
"Tadi sore, tapi kelihatannya kehadiranku tidak diharapkan. " katanya penuh penekanan.
"Tidak diharapkan bagaimana,kamu aja nyuekin aku. " jawabku sebisanya.
"Kayaknya kamu udah ada penggantiku, yang lebih ganteng, lebih putih, lebih kaya dariku. " tukasnya sedikit menyindirku.
"James maksudmu?. " tanyaku balik.
"Siapa lagi kalau bukan dia, kelihatannya kamu asyiik sekali ngobrol dengannya sampai melupakan aku dan pura-pura ga lihat tadi. " ujarnya lagi.
Loh, bukannya dia yang langsung buang muka saat aku melihatnya, ya aku juga buang muka lah.
"Kamu tau kan, kalau aku dan James itu masih saudaraan. Ya ga mungkinlah aku sama dia ada apa-apa, aneh. " jawabku ketus.
"Ga usah bohong, kalian terlihat sangat mesra tadi." Ryan mulai menampilkan raut wajah yang menahan amarah.
Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, aku memberitahunya kalau aku ga ada temannya malam ini karena semua teman genk ku, sudah ada cowoknya masing-masing yang menemani mereka kondangan, sedangkan aku hanya sendirian.
Untung ada James yang menawarkan diri untuk menemaniku, kalau ga aku pasti sudah jadi kambing congek di acara ini.
Ryan sepertinya tak mau mengerti,larangan ayahku buat bertemu memaksanya untuk tidak menjemputku dirumah,dan dia bilang kalau dia tidak mengabari kepulangannya karena dia ingin memberiku kejutan.
"Tapi malah aku yang terkejut!. " katanya. Rahangnya mengeras, sepertinya dia sangat marah malam ini.
Aku berusaha setenang mungkin agar tak memancing amarahnya,aku coba menjelaskan sekali lagi padanya bahwa aku dan James hanya berteman saja.Tak ada hubungan lebih selain saudara, itu yang kurasakan.
"Halllah, orang awam juga bisa tau kalau James itu kayaknya suka sama kamu. " kolah Ryan, nadanya udah meningkat beberapa oktaf sekarang dan aku jadi sedikit gemetar mendengarnya.
"Sungguh,tapi terserah kamu mau percaya atau ga! " Aku pun akhirnya tak bisa mengendalikan emosiku.
"Baiklah, kalau begitu sepertinya kita akhiri saja semua ini. Kita berteman saja. " ucapnya, Rasanya seluruh duniaku runtuh, hatiku (ಥ﹏ಥ)
Apa dia bilang? maksudnya kami putus??? 😢
"Oke, kita berteman saja, toh dulunya juga berteman kan. " jawabku sok tegar, padahal hatiku hancur berkeping-keping.
Kenapa dia memutus cinta disaat hati ini sedang cinta-cintanya, sedang sayang-sayangnya.Hubungan yang kami bina kurang lebih satu tahun lima bulan depan hari itu pun kandas untuk pertama kalinya.
Di malam itu, terkhir dia memberanikan diri mengantarku pulang sampai kedepan rumahku dan menjabat tanganku tanda perpisahan.
Rasanya aku ingin teriak dan memintanya jangan pergi dari sisiku.I'am nothing Without you😭😭😭😭😭.
Aku mengetuk pintu rumahku sepeninggalan Ryan,ternyata mbak Sisi yang membukakan pintu, rupanya dia sudah pulang duluan bersama pacarnya kak Yudi yang sekarang juga sudah pulang kerumahnya setelah mengantar mbak sisi.
Aku berhamburan kekamar dan ku abaikan suara ayahku yang bertanya aku dari mana saja, kenapa ga pulang bareng sama rombongan ku tadi.
Aku menangis mengenang setiap ucapan yang tadi Ryan ucapkan. Sakit sekali rasanya😭😭😭, tak kusangka sekarang hubungan kami telah berakhir.
Sejak hari itu kami sudah tidak pernah bertemu lagi, sekalipun bertemu hanya melihat sekilas dan langsung berpaling muka seolah tidak saling mengenal.
Keesokan harinya disekolah, aku terdiam duduk dibangku ku. Saat teman-teman ku sedang istirahat dikantin, aku hanya diam dikelas tak bersemangat.
Semua selera makanku sirna entah kemana,hanya kesedihan yang nampak diwajahku dan tak bisa aku usir meski aku ingin.
James duduk dibangku sebelahku dan menanyakan keadaanku,dia tanya padaku bagaimana cerita semalam aku dan Ryan bertemu.
"Apa Ryan marah, karena aku jalan sama kamu?. " tanya James.
"Kayaknya iya. " Jawabku tertunduk lesu.
"Tapi kenapa mukamu se kusut ini?. " tanya James lagi.
"Dia ngajak putus. " ujarku sambil terisak.
Kali ini aku sudah tak bisa menahan air mata ku lagi, aku tak sanggup membendung nya, rasa perih dihatiku membuatnya mengajak sungai. 😭😭😭😭.
"Semua ini gara-gara aku,aku bisa bantu kamu buat jelasin ke Ryan kalau kita hanya temanan. " ujar James.
"Percuma James, semalam aku juga sudah jelasin kedia, tapi dia ga mau mengerti. " jawabku sambil tetap menangis.
"Maafkan aku ya kalau begitu, sudah kamu jangan sedih lagi." James mengambil gitar di mejanya dan menghiburku dengan sebuah lagu yang kala itu sedang hits,milik Piter pan "Mimpi Yang Sempurna."
Perlahan ku hapus air mataku, mataku yang mulai merah,tak ku pedulikan kalau disamping mejaku ini juga ada mantan pacarnya Ryan waktu SMP, namanya Nila.Dia tersenyum kepadaku, seolah sedang mengejekku.
Selama ini dia memang tau kalau aku menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu, tapi kami tetap bersikap biasa saja.
Tanpa kusadari, disudut kelas itu ada juga seseorang yang sedang memperhatikan diriku.Dia adalah Nic,teman sekelasku sejak kelas 11,berita tentang aku yang sekarang menjomblo pun menyebar di kelas ini.
Singkat cerita, setelah dua minggu putus dari Ryan. Nic mendekatiku dan berkata padaku bahwa dia menyukai dan juga menyayangiku.
Sungguh tawaran cinta yang tak diduga-duga.Tadinya banyak yang mengira kalau James yang suka padaku,perubahan sikap James sangat terasa sekali setelah aku bilang putus dari Ryan, dia sering ikut-ikutan ke perpus dan duduk tepat didepanku yang sedang membaca buku.
Persis seseorang yang sedang PeDeKaTe.Wajar saja kalau teman-teman dekat ku disekolah mengira kalau James itu punya rasa padaku, tapi bukan cuma teman-temanku disekolah, bahkan genk ku yang di kampungku juga bilang begitu.
Terlihat saat aku menyuruhnya potong rambut saat disekolah, malamnua dia kerumahku dan memperlihatkan rambut barunya, anehkan🤔.
Tapi sudahlah, kita abaikan saja James yang entah apa didalam benaknya aku tak pernah tau sampai saat ini. Aku pun menerima Nic atas saran teman-temanku, katanya agar aku segera bisa move on dari Ryan.
Disini baru terungakap kalau sebenarnya Nic sudah menyukaiku sejak dikelas 11,kala itu aku pernah datang ke sebuah acara dan disitu ada Nic.Kami sempat berdansa bersama, hari itu Nic juga tau kalau aku sudah punya pacar yaitu Ryan, dia juga bertemu dengan Ryan.Oleh sebab itu, dia tak berani mengungkapkan perasaannya padaku dan hanya memendamnya saja. Bahkan teman akrabnya bilang kalau sebenarnya Nic itu rela pindah kelas agar sekelas denganku pas naik kek kelas 12.Sungguh aku baru tau, kalau selama ini aku punya beberapa pengagum rahasia.
Bulan berganti, mendekati kelulusan. hasil ujian pun akan segera dibagikan dan akan diadakan acara besar-besaran di aula sekolah minggu depan.
Hari itu Nic mengantarku kedepan, karena sekolah kami terletak dipedalaman, jauhnya sekitar 1km dari jalan raya. Banyak sekali pasangan disekolah ini yang memakai waktu menuju ketepian jalan bersama pacar mereka satu sekolah ini.
Apalagi sebentar lagi akan perpisahan.Dan saat aku tengah asyik ngobrol bersama Nic pinggir jalan raya itu, Tiba-tiba aku melihat Ryan dan teman-temannya menaiki motor dan berhenti didekat kami.
Nic masih ingat itu adalah Ryan mantanku, dia bertanya apakah aku dan Ryan masih berhubungan.
Aku jawab 'tidak'. Karena memang sudah semenjak putus kami loss contact dan tidak pernah lagi berkirim kabar masing-masing.
Kulihat wajah Nic kembali berbinar, hari ini Nic tidak bersama genknya, bagaimana kalau Ryan dan genknya mau berbuat macam-macam sama Nick😢Aku tiba-tiba jadi cemas.
Oji, salah satu teman Ryan memanggilku dari tempat mereka berkerumun yang tak begitu jauh dariku.
"Reyna, ayyy sombong ya sekarang.lain lah yang sudah ada penggantinya. " ujarnya.
Nic bergeming, dia memang tinggi tapi postur tubuhnya lebih kecil dari anak seusianya, bisa dibilang dia ini kurus dan imut.
Usianya juga lebih tua aku beberapa bulan darinya.Aku takut kalau-kalau yang aku khawatirkan terjadi.
Teman-teman Ryan terus saja memanggilku, membuat Nic jadi sedikit ciut. Anak kos seperti dirinya dan tanpa teman-teman genknya bukanlah hal yang baik kalau sampai harus berhadapan dengan genknya Ryan.
Aku meminta izin sama Nic untuk bicara sama Ryan dan teman-temannya.Meski berat akhirnya Nic mengizinkan ku.
Aku pun berjalan mendekat kearah Ryan dan teman-temannya yang seolah sedang tertawa girang menyambut kedatangan ku.
Ryan hanya duduk diam diatas motornya dan terus menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang tadi aku sudah mengganti seragam sekolah lu dengan kaos lengan panjang warna putih yang memiliki dada lebar kesamping, tapi tetap sopan.
Aku tau Ryan tak berhenti melihat kearahku, tapi aku pura-pura tidak tahu.
Ku beranikan bertanya kepada mereka, apa maksud dan tujuan mereka datang kemari.Kesekolahku dan mengapa mereka dari tadi terus menggodaku, padahal jelas-jelas aku sedang jalan sama cowok.
"Siapa itu Reyna, cowok lo ya?. " tanya Oji yang paling selengek an.
"Iya, dia memang cowokku. Kenapa emangnya?. " tanya ku balik.
Ku lirik sekilas wajah Ryan yang pias seketika, aku tersenyum penuh kemenangan. Aku menoleh kearah Nic yang sedang menungguku.
"kok lo malah pacaran sama anak kecil.Balikan aja sama Ryan noh, dari tadi ngajakin kita nemuin elo disini. " Sambung Ari.
Aku tersenyum lirih kearah Ryan,😏😏
"Masa',kami kan udah ga punya hubungan apa-apa lagi.lagian aku udah punya yang baru,tuh. " aku sengaja memamerkan Nic di hadapan mereka.
Nic tersenyum kearahku,aku membalasnya dengan senyuman termanis ku.
Kurasa hati Ryan sekarang meradang, tapi coba ditahannya, terlihat dari matanya yang berpendar seperti kala itu ia cemburu pada James malam itu.Tatapan matanya menembus jantunku,tapi dia takkan bisa berbuat apa-apa.Dialah yang sudah menginginkan perpisahan ini, bukan aku.
Dan pantang bagiku untuk bersikap manis lagi pada orang yang sudah menyakitiku meski rasa itu masih ada, aku akan berusaha keras untuk membunuhnya dan mengabaikannya serta menggantikannya dengan cinta ❤yang Nic berikan padaku meski aku belum mencintainya.
"Maaf ya guys, aku harus segera kembali ke pacar aku. Takutnya nanti dia salah paham. byeee. " aku melangkah tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Kulihat Ryan menyalakan motor dan mengajak teman-temannya pergi dari sana.Kelihatannya mereka menuju arah kampung kami dan itu artinya mereka akan pulang.
Bodoh amatlah fikirku😁😁😁, bagaimana? sakit kan?? sakitnya tuh disini
🤣🤣🤣🤣🤣
Hari itu aku merasa kalau aku sudah menang telak dari Ryan, ternyata ada untungnya aku menerima Nic sebagai pacarku. Setidaknya hati ini aku bisa memberitahukan pada Ryan kalau aku bahagia setelah lepas darinya, walau sebenarnya aku masih sangat mencintainya.
TBC